
Nues bertempur dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Masih banyak laporan yang harus ia cek. Sesekali menghela napas berat. Kepalanya terasa berat kala harus melihat angka-angka yang tercetak rapi di kertas yang ada dihadapannya. Dari pagi, setelah mengantar Ais dan bertemu Jojo sampai sekarang yang ia lihat hanya angka-angka di lembaran-lembaran putih hingga membuat matanya panas.
Matanya melirik ke ponsel yang sedang menyala menandakan ada pesan yang masuk.
Tangannya meraih ponsel yang ada di dekatnya. Membuka kunci kayar dan membuka pesan yang masuk.
Calon istri :
G perlu jemput.
Hanya dengan membaca pesan yang baru saja ia terima, kedua sudut bibirnya terangkat. Pesan singkat yang mampu menghilangkan semua rasa penatnya.
Sebenarnya ia ingin menjemput Ais tapi, pesan singkat itu mendahului niatnya. Alhasil ia hanya bisa diam di kantor, bercinta dengan semua lembar putih. Memaksa Ais pun percuma karena Nues yakin gadis yang sekarang menyandang sebagai calon istrinya sudah pulang setelah mengiriminya pesan.
Jarinya dengan lincah membuka menu galeri. Membuka sebuah foto yang sempat ia tangkap kemarin secara diam-diam. Siapa lagi kalau bukan Ais.
"Bagaimana bisa aku berhenti menyukai mata itu kalau mata itu terlalu indah untukku." Nues jadi teringat pertemuan pertama karena kejadian di lampu merah beberapa hari yang lalu. Menu yang semula galeri kini berpindah ke menu pesan. Membuka pesan dari Ais barusan. Ia berniat untuk membalasnya.
"Permisi, Pak." Suara ketukan pintu membuatnya mendesah kesal. Ia ingin beristirahat sejenak namun, selalu saja ada yang mengganggunya.
"Masuk."
Seorang wanita masuk dengan membawa berkas yang cukup banyak.
"Ada apa?" tanya Nues seraya meletakkan hapenya di atas meja.
"Ada beberapa berkas yang harus bapak cek."
"Taruh saja di meja. Kalau tidak ada yang di perlukan kamu bisa keluar." Wanita itu menuruti apa yang diperintahkan oleh atasan yang terkenal dengan sikap dinginnya.
Bahkan saat memasuki gedung kantornya saja aura dingin dan menyeramkan sudah terpancar di wajah tampannya itu sehingga para karyawan enggan untuk berpapasan dengan lelaki itu agar tidak mendapat tatapan tajam dari Nues. Berpapasan dengan Nues sama dengan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa.
Nues merentangkan ke dua tangannya untuk meregangkan otot-otot tangannya. Akhirnya pekerjaan yang membuat matanya panas telah selesai juga.
Nues melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Belum terlalu malam. Ia berpikir sejenak. Kemudian merapikan mejanya dan bergegas keluar. Bukan untuk langsung pulang melainkan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Pak Nues." Nues berhenti dan menoleh. Menatap lelah sekretarisnya.
"Pak, besok pagi Bapak ada meeting dengan Pak Raka dan ini file untuk presentasi besok. Bisa Bapak cek kalau ada yang kurang." Nues menerima file itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Thanks." Setelahnya Nues kembali melanjutkan langkahnya.
♥
♥
♥
Ais mondar-mandir di dalam kamarnya. Baru kali ini ia merasa sangat bosan. Entah kenapa gadis itu hari ini merasa sendirian sekali. Apalagi sekarang ia di rumah sendirian karena ke dua orang tuanya sedang ke rumah nenek dari ayahnya.
Semua hal sudah dilakukan. Mulai dari menonton tv yang acaranya tidak ada yang menarik sama sekali. Mencoba tidur, matanya tidak mau terpejam. Ia mendesah pelan. Melihat ke arah jam dinding. Masih jam setengah delapan. Jarinya mengetuk-ngetuk dagu. Mencoba berpikir. Tak lama kemudian ia tahu harus berbuat apa.
Langsung saja ia mengambil hape, jaket, dan kunci motor. Bergegas keluar mengambil motor.
Selesai mengunci pagar rumah, ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. Andai ia bisa menikmati suasana seperti ini setiap hari. Tidak ada suara klakson yang terlalu sering memekakkan telinga, tidak ada orang yang mengendarai motor dengan kebut-kebutan hanya untuk menghindari telat. Kadang ia heran kenapa banyak sekali manusia yang telat. Padahal mereka bisa berangkat lebih awal untuk tidak telat dan juga tidak membahayakan diri mereka juga, tapi itu semua dibuat ribet oleh diri sendiri. Ais menggeleng memikirkan hal yang menurutnya menyia-nyiakan diri manusia itu sendiri.
Ais memasuki kafe. Kafe yang tidak terlalu besar. Didesain sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang nyaman. Malam ini kafe tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak muda yang sedang ngobrol dengan teman bahkan pasangannya. Mungkin karena bukan hari libur makanya kafe terlihat sepi.
Ia duduk di kursi kafe dekat jendela setelah memesan capucino. Sembari menunggu pesanannya datang, ia merogoh saku jaketnya mengambil earphone yang selalu ada di sana. Memasangkan ke telinga dan mencolokkan ke ponsel. Memutar lagu yang ia suka. Ais memejamkan matanya sejenak. Menikmati alunan lagu yang mengalir lewat headset. Suasana seperti ini lah yang ia butuhkan sekarang. Sedikit tenang.
Ais membuka matanya kala seorang pelayan mengantar pesanannya. Mengaduk kopinya dan menyesapnya sebentar. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Mengulangi hal yang ia lakukan tadi.
Ia menoleh saat earphone di telinga kirinya dilepas secara sengaja. Namun ia kembali pada posisi semula. Diam. Menikmati suasana diluar jendela. Lelaki pengganggu yang harus Ais abaikan. Siapa lagi kalau bukan Nues. Lelaki itu sebenarnya tidak menyangka kalau akan bertemu Ais di sini.
Sampai kapankah aku menanti.
Sedang hatiku merintih sudah.
Ingin kulupakan segalanya.
Agar jiwaku tak terhimpit lagi.
"Sampai kamu bisa membuka hatimu dan menutup luka lama." Nues seolah mengerti apa yang ada di benak Ais melalui sebuah lagu.
Sanggupkah aku melupakanmu.
Sanggupkah berpaling darimu.
Sanggupkah musnahkan cintaku.
"Kamu sanggup jika kamu mau berusaha, ada aku yang akan membantu kamu untuk keluar dari masa lalu yang membelenggu di hati kamu."
Ais menghentikan lagu yang berputar. Melepas headsetnya. Menikmati kopi yang sempat ia abaikan.
"Kamu udah dari tadi di sini?" Ais hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kok sendirian aja?"
"Lagi pengen." Pandangan Ais masih tertuju pada langit malam diluar kafe yang dipenuhi kelap-kelip ribuan bintang dan didampingi rembulan yang bersinar terang. Sungguh perpaduan yang Tuhan ciptakan sangatlah indah.
"Kamu buru-buru pulang enggak?"
"Gak tau."
"Mau nemenin aku makan bentar gak?"
Ais menoleh ke arah Nues. Masih menggunakan pakaian kantor dengan dasi yang sudah sedikit longgar dan rambut yang acak-acakan. Ia melirik jam tangannya. jam delapan malam.
Ais diam. Membiarkan lelaki di sebelahnya menunggu jawaban.
Lima menit berlalu dan Ais masih belum memberi jawaban. Nues menunggunya.
"Bagaimana, Non?" Nues tidak tahan dengan kata menunggu. Lelaki itu butuh jawaban.
"Iya."
Tidak ada perasaan yang lebih bahagia selain Ais mau menuruti keinginan Nues walaupun harus menunggu lima menit. Baru kali ini Ais menuruti apa yang ia mau.
"Jangan lama-lama."
"Kamu mau pesan apa, Non?"
"Gak perlu."
"Kapan terakhir makan?" tanya Ais tiba-tiba diluar skenario otaknya. Nues tersenyum. Perhatian secara tak langsung mampu membuat bunga kuncup di hati Nues mekar seketika.
"Tadi siang."
Sushi pesanan Nues sudah datang. Nues melahap sushi itu dengan segera. Ais yang melihat Nues dengan pakaian orang kantoran, walaupun sudah acak-acakan, lelaki itu tetap terlihat tampan, untuk sedetik Ais terbuai akan pesona Nues. Selang beberapa detik, ia kembali ke posisinya, melihat area luar kafe.
"Dulu aku sering banget menghabiskan waktu disini, tempat yang paling aku suka karena aku bisa melihat rintik hujan yang membuat hatiku menjadi tenang. Malam. Melihat gelapnya langit yang diterangi sinar rembulan dan bintang di tempat ini. Dulu dan sekarang beda. Dulu aku duduk sendiri. Menikmati semua itu sendiri. Namun, sekarang aku melihat langit malam dengan kamu. Seseorang yang aku sayangi." Ais hanya diam. Diam karena terkejut. Hal yang disukai Nues adalah hal yang ia sukai juga. Ia suka melihat hujan. Ia suka melihat langit di malam hari. Apakah ini sebuah kebetulan? Hanya Tuhan yang tahu.
"Buruan dimakan. Keburu larut." Nues hanya menurut dan terjadi keheningan. Nues yang fokus menghabiskan sushinya, sedangkan Ais yang memilih diam, namun sesekali gadis bermata sedikit elang itu melirik ke arah Nues yang tengah makan dengan lahap seperti orang kesetanan. Ada secuil rasa kasihan di hati Ais namun secepat kilat, ia menghilangkan rasa itu.
"Saya pulang duluan." Ais berdiri, berpamitan saat Nues selesai makan.
"Aku anterin aja kalau gitu. Udah jam segini."
"Gak perlu." Ais berlalu meninggalkan Nues. Lelaki itu langsung melesat mengejar Ais setelah membayar tagihan menu.
"Kalau gak mau dianter, hati-hati di jalan kalau ada apa-apa jangan ragu untuk telepon aku karena aku ada untuk kamu."
Ais tak mengindahkan apa yang Nues katakan. Ia mendengar namun ia pura-pura tuli. Nues masih setia duduk di atas motor menunggu Ais hilang dari pandangannya.
♥
♥
♥
Ais merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya tanpa melepas jaket terlebih dahulu. Memejamkan matanya untuk mengusir lelah yang hinggap di tubuhnya.
Ia mengambil ponsel karena berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Nues :
Aku udah nyampe rumah. Alhamdulillah masih utuh. Udah gitu aja, aku mau lanjut kerja. Jangan tidur larut. See you calon istriku.
Ais tidak tahu harus mengetik apa. Sudah lebih dari sepuluh menit Ais memandangi layar ponselnya tanpa ada satu huruf yang ia ketik. Tiba-tiba jemarinya mengetik sesuatu yang akan di kirimkan ke Nues.