
"Lama amat dah lu berdua," sembur Pak Cahyo ketika melihat Ais dan Pak Key baru muncul.
"Baru juga telat lima menit," balas Ais yang tak mau kalah, ia memilih melabuhkan duduk di sebelah Pak Dani.
Seperti rencana diawal, mereka berkumpul di kafe Idealist yang tak jauh dari kantor. Di sana tempatnya cukup nyaman untuk ngumpul para anak muda, tempatnya di pinggir jalan raya dan sangat menarik. Buat anak jaman sekarang, pasti sangat betah disana. Apalagi tempatnya ada indoor dan outdoor, untuk bersua foto juga menarik.
"Udah santai aja, Is. Gak usah mikirin mereka." Pak Agus mengetahui kalau Ais sedang tidak nyaman. Efek Ais duduk dengan para pria ganteng yang membuat para gadis yang ada di sana menatapnya tajam tapi enggak setajam silet, sih. Lebih tepatnya seperti emak-emak yang lagi berantem dengan tetangga sebelah. Rasanya Ais pengin nyolok mata mereka.
"Ya gitu kalo orang gak pernah ngeliat cewek buluk ngumpul sama cowok ganteng." Tau siapa yang ngomong? Pak Cahyo yang ngomong.
"Bisa banget, ya, Bapak ngejek gue. Terus aja ejek gue sampe Naruto nolongin Dora saat negara api menyerang." Ais mendengus. Enak saja Ais dikatain buluk. Ais itu bukan buluk, hanya kurang perawatan saja.
"Gimana kabarnya Lukman?" Ais langsung menoleh ke arah Pak Dani yang tiba-tiba menyebut nama lelaki yang ingin sekali Ais hindari.
"Maksud Pak Dani apa nanya kayak gitu?" Ais balik bertanya dengan sedikit sensi. Lukman, seseorang yang ada di masa lalu Ais yang ingin sekali ia bebaskan dari penjara hatinya, namun sampai sekarang ia belum bisa membebaskannya karena apa yang Lukman lakukan enam bulan yang lalu sangatlah indah untuk dilupakan hingga membuat hatinya tergores.
"Gak ada maksud, siapa tau dia udah tewas," jawab Pak Dani yang mengaduk kopinya.
"Alhamdulillah kalau udah tewas," balas Ais santai.
"Kalau sampai lo balikan lagi sama itu anak gue mutilasi, Lo," ucap Pak Key dengan tatapan sinis seoalah menyimpan dendam ke lelaki yang bernama Lukman. Kadang Ais heran sendiri dengan Bapak satu itu, padahalkan ia yang disakiti tapi, kenapa Pak Key yang lebih marah? Apa Pak Key baperan? Entahlah, Ais malas untuk bertanya ke Pak Key.
"Hanya orang bego yang mau mungut sampah yang udah dibuang." Jika mengingat apa yang mantan pacarnya lakukan ke dia, ingin sekali ia memutilasi si Lukman dan memasukkannya ke dalam koper lalu dibuang di bawah jembatan, tapi ia masih sangat waras untuk melakukan hal keji itu. Biarlah masa lalunya berlalu, namun tidak semudah itu.
"Omongan lo, Is, pedes banget." Ais bersikap bodo amat dengan seruan Pak Cahyo.
"Move on gih, Is. Gue bantuin move on deh. Gimana?" tawar Pak Cahyo setelah menyesap kopi hitam tapi gak pakai kupu-kupu, ya. Kalau pakai kupu jadi lagu reggae. Ais tidak mengerti maksud Pak Cahyo berbicara seperti itu.
"Maksudnya?" Ais menoleh ke Pak Cahyo dengan tatapan bingung.
"Gue mau kok jadi pacar lo biar lo cepet move on dari si berengsek itu."
"Aw..." Seketika Pak Cahyo dapat jitakan dari Pak Dani yang menurut Ais sakit banget.
"Lo ya, kalo ngomong suka ngasal. Wendy mau lo kemanain? Hah? Lo duain?"
"Inget, Cahyo, lo bakal jadi calon Bapak, itu tidak bagus." Pak Agus memperingatkan layaknya seorang uztad.
"Dasar Bapak tua gak tau diri," sindir Pak Key.
"Gue yang ogah jadi selir lo, Pak," jawab Ais.
"Tadi gue sial banget, njir." Pak Agus sepertinya akan mulai curhatnya.
"Kenapa lagi lo, Pak Agus?" tanya Pak Dani.
"Tadi gue salah manggil siswa gue. Nama panggilannya kan Ghozali eh gue manggilnya Ghozila. Kan jadi malu gue." Tawa pecah di meja mereka. Pak Agus ada-ada saja. Itu akibatnya kalau suka ngejekin siswa di belakang, kena karmanya kan.
"Ya, elo sih, Pak, nama orang diganti-ganti, kena karma, kan," ucap Pak Cahyo.
"Itu juga gara-gara Ais kali," sangk Pak Agus.
"Kenapa jadi gue?" tanya Ais yang tak mengerti.
"Tiap kali gue cerita ke elo tentang siswa gue, lo selalu ngebalik-balik namanya, kan gue jadi ikut-ikutan."
"Itu, sih, salah mulut lo sendiri, Pak Gus, bukan salah gue," bela Ais yang tak mau disalahkan.
"Pak Agus, kayaknya kalo lo mau manggil siswa lo harus ngeliat kartu belajar dulu, deh, ntar namanya Titik lo ganti jadi Totok lagi," ejek Pak Key.
"Mending manggilnya aku-kamu." Pak Dani juga tidak mau kalah dengan Pak Key.
"Jangan. Mending manggilnya Seyenk. Halo Seyenk? Lagi apa, Seyenk?" ledek Pak Cahyo. Lagi-lagi tawa pecah di meja mereka.
"Hai Nona Jutek." Tawa mereka berhenti seketika kala ada suara orang lain. Mereka semua menoleh. Kerutan di dahi mereka muncul, menandakan kebingungan dengan lelaki yang tiba-tiba datang seperti jelangkung.
"Nona Jutek?" Pak Cahyo bertanya ke lelaki yang tengah berdiri di sampingnya dengan seulas senyum.
"Dia kan emang Nona Jutek." Nues menunjuk Ais. Yang di tunjuk hanya memasang muka datar.
"U cp, ye?" (U copo, ye?) tanya Pak Key ala-ala anak muda yang dapat chatt dari orang yang tak dikenal.
"Kenalin, saya temannya Nona Jutek itu." Dan semuanya langsung menoleh ke Ais dengan tatapan seperti minta penjelasan.
"Temen, Lo?" tanya mereka kompak seperti anak Pramuka sedang nyanyi yel-yel.
Ais memberi tatapan tajam ke Nues. Temen? Rasanya Ais ingin sekali melakban mulut Nues yang asal bicara.
"Gak kenal," jawabnya cuek.
"Iya, kok, saya temennya dia. Saya boleh gabungkan, ya?" Entah dari mana mereka semua mengangguk kecuali Ais. Ia hanya menatap bapak-bapak itu dengan kesal. Tamatlah riwayatnya sekarang.
"Sejak kapan, Lo, temenan sama Ais?" tanya Pak Cahyo. Manusia paling kepo seantero dunia.
"Sejak saya bertemu dengan dia."
"Is, itu temen, Lo? Beneran? Jangan-jangan gebetan lo kali."
"Gak usah ngasal deh, Pak Gus."
Makanan yang Nues pesan datang dan sangat banyak membuat empat bapak di sana melotot.
"Makan aja. Saya yang traktir."
"Seriusan, Lo?" Pak Key dan yang lainnya melotot.
"Iya, biar saya aja yang bayar. Kan saya sudah dibolehkan gabung."
Pak Cahyo menepuk bahu Nues, "Bro, panggil kita loe-gue aja jangan saya-sayaan. Gak enak banget di telinga. Lagian kita kayak seumuran juga."
Di sini yang paling di untungkan adalah sosok Pak Key yang sudah lahap dengan burgernya. Ais hanya diam dan mengalihkan pandangannya.
"Nyari temen tuh kayak Ais, temenan sama orang kaya jadi kan enak, apa-apa dibayarin, gak sama kalian mulu, kere sama kere, makan ya patungan," ucap Pak key setelah menelan habis makanan yang ada di mulutnya.
"Lagak, Lo, sok-sok an banget. Makan jarang bayar ngatain kita kere, Lo yang paling kere," sahut Pak Agus.
"Gue cabein juga tuh mulut," Pak Dani ikut menyahuti.
"Lo belum pernah, kan, kena tampolan sendalnya orang ganteng? Sini gue tampol," ucap Pak Cahyo.
Ais hanya tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan empat temannya itu. Dan Nues tersenyum melihat Ais tersenyum. Entah kenapa ada rasa yang beda setiap melihat Ais yang tersenyum.
"Eh iya, nama lo siapa?"
"Gue Nues."
"Kalo gue Cahyo, sebelah gue Pak Agus, terus itu Key, sebelahnya Dani." Pak Cahyo mengenalkan mereka semua. Nues tersenyum ramah.
"Lo kerja apa kuliah, Bro?"
Nues diam. Bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ini orang malah bengong." Pak Agus yang duduk di sebelah Nues mengenggol lengan Nues.
"O--oh gue kerja di hotel. Iya, di hotel."
"Pantesan tampilan, Lo, rapi."
"Bisa aja, Lo."
"Lo tadi manggil Ais apa? Nona Jutek?" Nues hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Pak Cahyo. "Cocok, Is, itu nama buat elo." Ais mencebikkan bibir bawahnya. Kampret.
Obrolan Ais hanya sampai di sana karena yang lain ngomongin masalah laki-laki dan ia sering menjadi pendengar saja. Bahkan tidak ada interaksi antara ia dan Nues. Sesekali mereka bercerita tentang masa kecil mereka seperti kisah konyolnya Pak Key waktu jaman Sekolah Dasar yang sering nyolong bolpoin punya temanya sampai Pak Dani yang pernah mukul kepalanya bocah pakai sapu.
"Eh, udah jam delapan nih, cabut yuk," ajak Pak Agus yang menyadari mereka sudah terlalu lama disana.
"Ayok aja, lagian gue ngajak anak perawan gak enak kalau pulang malem-malem," balas Pak Key.
"Kalau misalkan Aisnya pulang bareng gue gimana?" Nues bersuara. Ais yang mendengarnya mengerutkan kedua keningnya. Berharap Pak Key melarangnya. Ia terus merapalkan doa itu.
"Gue masih ada perlu sama dia," jelas Nues yang melihat ekspresi Pak Key sedikit bingung.
"Kalau gitu gue pergi dulu," ucap Pak Key dan berlalu meninggalkan Ais yang masih menatapnya geram. Bisa-bisanya ia ditinggal bersama lelaki yang tidak jelas ini. Ais mendengkus.
"Mau Bapak apa?" tanyanya dengan ketus.
"Ayok aku anter pulang." Nues berjalan duluan.
Ais melotot. Ia geram dengan tingkah Nues. Jadi perlunya hanya buat mengantarnya pulang? Ais rasanya ingin melempar kursi kafe ke arah Nues.
"Kok diem?" Nues menghentikan langkahnya ketika tidak ada tanda-tanda Ais menyusulnya.
"Saya bisa pulang sendiri."
"Dari pada sendiri mending berdua. Ayok." Nues meraih tangan Ais agar mereka cepat pulang, namun gadis itu segera menepis tangan Nues.
"Jangan pegang-pegang." Ais berjalan duluan meninggalkan Nues.
♥
♥
♥
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah sampai di depan rumah Ais. Ia segera turun dari motor Nues.
"Jadi ini rumah kamu?"
"Rumah majikan."
"Jangan lupa besok." Nues mengingatkan Ais yang sudah pergi dari hadapannya, meninggalkan ia yang masih diatas motor entah menunggu apa hingga belum pergi. Ais tidak peduli. Matanya memicing saat melihat motor yang cukup banyak parkir di halaman rumahnya. Namun ia segera tahu saat mendengar tawa dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan teman ayahnya yang sedang berkumpul. Ais memilih lewat pintu samping daripada harus bertemu dengan mereka dan menyalaminya satu-satu.
"Baru pulang, Is?" Ais terlonjak mendengar suara orang yang tiba-tiba muncul didepannya. Kurang kerjaan banget duduk dibawah pohon, gelap pula, batinnya.
"Iya, Mas," jawab Ais dengan seulas senyum. "Aku masuk dulu." Ais langsung melenggang pergi, namun langkahnya terhenti karena suara lelaki itu.
"Is." Ais menoleh kebelakang. "Istirahat yang cukup dan good night," lanjutnya. Ais tersenyum paksa dan pergi dari sana. Ingin segera merebahkan tubuhnya yang sudah capai dan menenangkan otaknya yang sudah lelah dengan kejadian-kejadian yang tak mengenakan hari ini. Ia berharap, besok hari yang lebih baik dari hari ini.