
Kerja tapi berasa tidak kerja. Itulah yang Ais rasakan sekarang, ia jadi pengangguran dadakan. Siswa yang harusnya belajar hari ini pada libur berjamaah, belum lagi jadwal kosong karena siswa yang lama sudah selesai belajar sejak kemarin. Belum ada cadangan pula. Ais pun bingung mau melakukan apa. Setelah berpikir lama di kamar mandi sembari memenuhi panggilan alam, akhirnya ia memilih nimbrung di warung depan kantor bareng bapak-bapak yang lain. Ais duduk disebelah Pak Key. Ais merupakan satu-satunya instruktur cewek dan instruktur cewek pertama yang bekerja di sana.
Ais mengambil ponselnya. Membuka menu musik dan memutar lagu dengan mode acak.
"Kalo ada musik pasti ada Ais," cibir Pak Dani sembari makan gorengan lima ratusan.
"Lo kayak gak tau Ais aja, Dan, hidupnya kan hampa kalau gak ada musik," sahut Pak Key. Ais hanya tersenyum. Hanya bersama merekalah Ais bisa bercanda sesuka hatinya. Kalau dengan yang lain, Ais langsung berubah menjadi muka tembok, diam dengan lirikan mata yang menyorot.
"Ini pada gak ngajar apa gimana?" Ais menggulung lengan seragamnya ke atas. Cuaca sangat panas membuat ia gerah.
"Kita lagi istrahat, Is. Capek banget habis ngajar siswa yang banyak maunya, mana langsung seratus menit," dumel Pak Key dengan wajah kesalnya.
"Lo sendiri gak ngajar?"
"Banyak yang libur berjamaah, Pak Dan. Siswa yang sore juga gak bisa dimajuin."
"Gue kesel banget kalo ada jam gak bisa dimajuin kayak gitu. Yang harusnya kita bisa pulang cepet malah nganggur kayak gini," ucap Pak Agus.
"Gue kemaren dapet siswa diem banget orangnya." Pak Dani mulai cerita tentang siswa barunya yang bikin dia naik darah.
"Diemnya gimana, Dan?"
"Gila aja, ya, masa gue ajak ngomong jawabnya cuma iya, enggak, sama hm doang, Sabyan kali ah hm hm hmmmmmm. Sekali ngomong beuuuuh pedes banget kayak bon cabe. Pengen gue getok tuh kepalanya."
"Siswa Pak Dani yang mana?"
"Emangnya lo tau siswanya Dani? Siswa sendiri aja lo sering lupa," cibir Pak Key.
"Ya enggak juga, sih," jawab Ais dengan wajah begonya.
"Baru sih, Is, orangnya. Baru dapat tiga kali hari ini. Orangnya pendek, gundul, datar banget kayak vampir berjalan tapi dia jago masak, sih. Katanya dia punya kafe juga disekitaran sini."
"Sejago-jagonya masak tapi kalau nyebelin percuma, Dan. Mending siswa gue, cantik-cantik bikin semangat ngajar."
"Lo mah ngeliat cewek bening aja, lo bilang cantik Key," ejek Pak Cahyo. "Ntar selesai ngajar nongkrong yuk," ajak Pak Cahyo.
"Heh, Yo, inget istri lu di rumah." Memang Pak Cahyo sudah menikah ya walaupun umurnya masih muda, 26 tahun. Istrinya cantik banget namanya Wendy. Bentar lagi punya dedek soalnya istrinya lagi hamil tua.
"Gue inget terus sama bini gue. Bini gue sama mama gue kok jadi gak perlu khawatir. Gimana? Setuju gak?"
"Gue oke aja kalo ada yang bayarin." Dan ucapan pak Key barusan dapat jitakan gratis dari Pak Dani.
"Lo mah gratisan mulu, Key!" Hardik Pak Dani.
"Sakit, Dan. Lo gitu banget sama temen sendiri."
"Bahkan gue lupa kalau punya temen kayak elu."
"Jahat Lu, ya, jadi orang," balas Pak Key.
"Lo sih tratiran mulu. Sekali-kali kek lo yang traktir kita."
"Gue gak punya duit," ucap Pak Key sambil nyengir.
"Iya lah gak punya duit wong duit lo aja habis buat nraktir cewek-cewek lo semua," ejek Pak Agus.
"Ya gak usah diomongin, Pak Agus. Trus kita nongkrongnya dimana?"
"Di cafe Idealist aja gimana? Gue lama gak ngopi nih. Lagian disana juga enak tempatnya."
"Bener banget tuh sarannya Dani. Mending kita ngopi aja."
"Soalnya disana murah. Ha ha, jadi gue ngebayarin kalian gak tekor-tekor amat."
"Lo yang bayarin, nih?"
"Yo'i."
Semuanya berseru ketika mereka dapat traktiran dari Pak Dani, walaupun cuma segelas kopi yang gak lebih dari sepuluh ribu. Dasar rakyat kismin.
"Duit lo kayaknya banyak, Dan."
"Tadi gue dapet tip dari siswa gue. Lumayan lah buat nongkrong. Oh iya Is lo mau ikut gak?"
"Gue ikut?" Ais tampak berpikir. Yakin ia bakal ikut? Cewek sendirian gitu?
"Gak usah sok mikir, lo. Gimana?" sergah Pak Cahyo.
"Gue gak enak, Pak, gue cewek sendiri. Ntar paling-paling pulangnya malem juga."
"Gak bakal pulang malem. Ntar pulangnya bareng gue aja, gak usah bingung."
"Tapi Pak- " ucapan Ais langsung dipotong sama Pak Cahyo. Pak Cahyo emang kebangetan banget suka motongin omongan orang.
"Gak ada tapi-tapian. Kita udah lama gak ngumpul bareng. Ntar gue yang telfon orang tua lo biar meyakinkan kalau perlu vidcall bareng-bareng sekalian. Dan lo gak boleh alesan lagi." Dengan terpaksaa Ais mengiyakan. Susah memang kalau bareng orang pemaksa seperti Pak Cahyo.
"Mbak Ais, ada siswa baru hari ini." Tiba-tiba saja Sasha datang ke ke tongkrongan para instruktur dengan wajah sumringah.
"Wajah lo sumringah banget. Ada apa?"
"Siswanya mbak Ais ganteng banget," ucap Sasha dengan malu malu.
"Cieeee Sasha suka sama cowok."
"Pak Dani kira Sasha gak pernah suka sama cowok apa!" Sungut Sasha.
"Emang mulai jam berapa, Sha?"
"Sekarang, Mbak. Orangnya juga udah nunggu." Habis itu Sasha pergi. Ais jadi penasaran sama siswa barunya seperti apa sampai bikin Sasha kayak gitu.
"Semuanya, gue ngajar dulu."
"Iya ati-ati lo. Ntar jangan kabur." Ais hanya ketawa. Ia bersyukur bisa bekerja disana dan diterima dengan sangat baik oleh semuanya bahkan sudah dianggap adik oleh para instruktur.
ㅇ
ㅇ
ㅇ
"Ini Mbak kartu belajar siswa barunya." Sasha memberikan sebuah kartu belajar ke Ais. Ia melihat nama yang tertera disana. Yudha Kurniawan. Ais melihat ke orangnya. Untung saja hanya ada dia yang duduk di kursi tunggu jadi mata Ais tidak perlu mencari yang mana orangnya. Pantas saja Sasha sumringah bukan main. Siswa barunya saja ganteng banget. Kulitnya putih, rambutnya pirang, badannya kurus, penampilannya keren lah. Ais bisa menebak kalau dia mahasiswa karena penampilannya seperti itu.
"Mas Yudha." Dia mendongak dan melihat Ais dengan kaget. Ais mengerutkan keningnya, memangnya Ais menyeramkan? Sampai-sampai pria itu melihatnya dengan ekspresi tak terduga.
"Mas Yudha." Panggilnya sekali lagi. Barulah ia tersadar dalam ekspresi tidak jelasnya.
"Eh.. I-- iya, Teh. Eh, Mbak maksudnya." Ais sebenarnya pengin ketawa melihat tingkah siswa barunya yang lucu itu, namun sebisa mungkin ia harus menahannya demi citra kantornya.
"Mas Yudha sudah pernah belajar mobil?" Dia hanya menggeleng.
"Sekarang kita ke mobil nanti saya jelaskan sedikit demi sedikit."
"Mas Yudha duduk di sebelah kiri dulu." Ais membuka pintu sebelah kiri dan mempersilakan Yudha masuk ke dalam mobil.
Ais masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi sopir sedangkan Yudha duduk di samping kursi pengemudi.
"Saya jelaskan dulu tiga komponen mobil yang paling penting. Setir, pedal, dan kopling. Di bawah kaki saya ada tiga pedal. Yang paling kanan itu namanya pedal gas untuk mengatur cepat lambatnya dari laju kendaraan. Bisa dilihat dulu." Reflek Yudha nundukin kepalanya seperti orang yang sedang bermain petak umpet supaya tidak ketahuan yang jaga. Ais tidak bisa menahan tawanya, akhirnya ia lepaskan.
"Kenapa, Mbak? Kok ketawa?" tanya Yudha yang bingung melihat Ais ketawa.
"Yang tengah itu namanya pedal rem yang digunakan untuk mengurangi kecepatan dan menghentikan dari jalannya kendaraan. Yang paling kiri itu kopling yang digunakan untuk melepas gigi persneling dari tenaga putaran roda. Kalau koplingnya Mas Yudha lepaskan penuh nanti mobilnya langsung berhenti. Biasanya untuk pedal gas sama rem menggunakan kaki kanan sedangkan pegal kopling menggunakan kaki kiri. Posisi kaki pun tumit menempel pada lantai atau dek mobil. Ada yang ditanyakan, Mas?" Yudha hanya menggelengkan kepalanya lagi.
"Kita lanjut ke kiri sebelah sini. Ini merupakan tuas perneling mobil. Nah, perneling ini berkaitan dengan kopling. Dan selanjutnya Mas Yudha pasti sudah tahu kalau lingkaran di depan saya ini adalah setir mobil. Memegang stir itu posisi tangan kiri diangka 10 dan tangan kanan diangka 2 menurut jarum jam. Ini cara mutar stir mobilnya gak boleh kayak di lempar-lempar gini." Ais mempraktikkan apa yang ia ucapkan agar siswanya lebih mudah untuk memahami dan menjelaskan cara pegang kemudi yang benar. "Sampai sini sudah jelas?" Yudha hanya mengangguk. Ais heran dengan siswanya yang satu ini, ngangguk-ngangguk mulu kayak orang lagi mabok.
"Sekarang kita praktikkan. Mas Yudha pindah ke kursi pengemudi," titah Ais setelah memberikan semua contoh awal. Yudha pun menuruti perintah Ais untuk bertukar posisi.
"Jangan lupa seatbeltnya dipasang. Pastikan Mas Yudha sudah pada posisi yang nyaman."
"Pertama, Mas Yudha nyalain mesinnya." Yudha menyalakan mesinnya dan berhasil. Ais memberikan pengarahan dengan pelan sampai siswanya paham.
Perjalanan cukup bagus untuk Yudha yang baru saja belajar tapi saat di belokan siswa itu terlonjak karena kaget melihat orang yang muncul dari belokan itu. Alhasil mobilnya berhenti begitu saja. Untung dibelakang tidak ada siapa-siapa.
"Mas Yudha jangan kaget gitu. Biasa aja kalau ada orang didepan kayak tadi." Lagi-lagi Yudha hanya menganggukkan kepalanya.
"Mas Yudha gak usah takut. Santai aja, Mas, kalau sama saya. Mas Yudha kuliah?" Tanya Ais saat mereka sudah melanjutkan belajarnya.
"Iya mbak." Ais lega karena siswanya yang satu ini akhirnta bisa berbicara juga.
"Kuliah dimana, Mas?"
"Di Uniska, Mbak, jurusan Hukum."
"Hukum karma?" Yudha tersenyum mendengar candaan Ais.
"Mbak, bisa gak manggilnya gak usah pakai Mas?"
Ais tersenyum. "Bisa. Dan gak usah pakai embel-embel Mbak juga. Anggap saja saya temen kamu." Begitulah Ais, harus sedikit ramah dengan siswanya walaupun sebenarnya ia malas, namun apa daya dia yang hanya seorang karyawan harus menuruti omongan atasannya.
"Ya udah sekarang temen nih, ya. Oh iya mending lo gue an aja lebih enak. Kalau saya kamuan mah kagak enak, Is, kayak bos sama bawahan aja." Ais melongo. Ini anak kalau udah ngomong nyerocos banget, ya. Tapi Ais juga senang karena ia tidak perlu bnyak bersuara, biar siswanya saja yang berisik, itu sudah cukup.
"Lo dari Bandung?"
"Kok tempe?"
"Logat Lo masih kental sundanya."
"Iya, ya. Ha ha."
"Ngapain lo kuliah di tempat panas kayak gini? Bukannya lebih adem sana?"
"Gue bosen di sana. Gue mau nyari suasana baru eh pengennya disini. Disini juga cukup nyaman juga, sih."
"Lo cerewet juga ternyata."
"Gimana gak cerewet, Is, kalau tiap hari gue dikerubungin cewek-cewek yang doyan gosip. Nular dah tuh ke gue."
Tidak terasa Ais mengajari Yudha sudah lima puluh menit. Berhenti dengan tepat. Ais turun dari mobil tapi tangannya di tahan oleh Yudha. Ais menoleh dan menaikkan alis kanannya seolah bertanya 'ada apa?'.
"Gue gak bisa nyabut kuncinya." Dia nyengir kuda.
"Makanya belajar. Tekan ke dalem, putar kanan trus cabut. Praktekin gih gue mau minum dulu." Tapi lagi-lagi Yudha menahan tangannya
"Apalagi? Gak bisa ngelepas seatbelt? Gak bisa bukain pintu?" tanyanya jengah.
"Bukan. Minta no wa elo dong, kayaknya lo asik orangnya. Gue juga pengin nanya-nanya kalau gak ngerti." Yudha memberikan ponselnya ke Ais. Ais mendengus tapi tetap memberikan nomer telfonnya ke Yudha.
"Kalau lo nahan tangan gue lagi awas." Ancam Ais.
Rasanya Ais bersyukur banget siswa yang yang jam tiga libur juga. Bisa buat istrahat.
Ais melihat Luna sedang makan di meja. "Tumben lo jam segini makan?" tanyanya yang langsung duduk di depan Luna.
"Kelaperan aku, Mbak," ucapnya dengan nyengir.
"Kerjaan lo banyak?"
"Akhir bulan, Mbak. Harus ngebut ngerjain laporan biar kelar. Pak Jojo kan gak nerima molor."
"Menu lo apa?"
"Sayur lodeh Mbak sama Tempe. Mbak Ais mau?"
"Lo masak sendiri?" Luna hanya mengangguk. Terkadang Ais salut dengan Luna, gadis yang menyandang sebagai staffnya itu sangatlah mandiri, sudah ngekos masak sendiri pula.
"Lanjutin makan sono." Ais merebahkan tubuhnya dikursi panjang yang ada disana. Memejamkan matanya agar beristirahat sebentar.
"Mbak Ais, gimana sama orang yang Mbak tabrak kemarin?" tanya Luna setelah meletakkan gelas yang baru saja ia minum isinya.
Ais diam ditempat. Iya juga yang dikatakan Luna. Kok dia gak meneleponnya? Ais menggeleng pelan. Harusnya ia bersyukur karena pria yang kemarin tidak menghubunginya.
Ia meraih ponselnya yang berdering di atas meja. Melihat siapa yang meneleponnya. Nomer tidak dikenal. Ia letakkan kembali ditempat semula, paling orang iseng. Namun lagi-lagi ponselnya berdering.
"Mbak Ais, berisik. Buruan angkat!" Sungut Luna yang terlihat sudah jengkel mendengar ponsel Ais berdering terus. Dengan terpaksa ia meraih kembali lalu menggeser tombol hijau di layar.
"Akhirnya kamu angkat juga. Saya cowok yang motornya kamu tabrak kemarin." Ais terbelalak dan langsung berganti posisi menjadi duduk. Baru juga dibicarakan sudah telepon saja. Sinyalnya kuat sepertinya.
"Ada apa?" tanyanya dengan ketus.
"Besok kamu dateng ke dealer Aries Motor jam sembilan pagi. Kamu harus tanggung jawab sama motor saya. Kalau sampai kamu gak dateng, kamu bakal tau akibatnya."
"Hm." Ais langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ais mendesah. Kenapa harus besok? Padahal ia pengin banget kejar target jam ngajar biar bisa dapat bonus tapi kenapa ada saja halangannya. Ais berdiri dan berjalan ke ruang staff untuk bertanya jadwal besok ke Sasha karena ia tidak ingin mengganggu Luna yang sedang menikmati bekalnya.
"Sha, besok jam sembilan gue siapa?"
"Pak Kris, Mbak, jam sembilannya."
"Jam sepuluh sebelas gue?"
"Jam sepuluhnya Mas Yudha soalnya tadi daripada kosong ya udah Mas Yudha aku tawarin jam dua terus jam sebelahnya siswa lama yang kurang satu kali."
"Lo liburin dulu jam sembilan, sepuluh, sama jam sebelasnya soalnya gue ada urusan."
"Oke Mbak, nanti aku konfirm yang punya jam."
"Is, ayok berangkat yang lainnya juga udah pada kumpul noh," ajak Pak Key yang udah ada di ambang pintu. Ais melihat jam arlojinya. Tidak terasa waktu sudah sore. Padahal ia baru saja istirahat.
"Bentar mau beres-beres."
"Cepetan"
"Masukin mobil gue kalau gitu biar cepet." Ais melempar kunci mobil ke Pak Key. Hap. Pak Key berhasil menangkap dan berjalan menjalankan tugas dari Ais.
"Ini pada mau kemana, Mbak?" Luna muncul dari balik pintu. Nampaknya dia sudah selesai makan.
"Mau nongkrong," jawabnya singkat dan berlalu pergi buat beres-beres.
Selesai beberes, ia menghampiri Pak Key yang sudah berada diatas motor. Mereka tancap gas langsung menyusul yang lainnya.
26 April 2019
Picture Yudha Kurniawan di Mulmed
Maapkeun typo dan keabsurdan ini gengs.
Salam dari mantan selingkuhannya Bang Tao