ICE

ICE
Keputusan


Matanya memicing. Kerutan di dahi muncul sembari menatap seorang lelaki bertubuh tinggi yang membuka pintu kiri mobilnya. Ia lebih terlonjak lagi saat mengetahui siapa lelaki itu.


"Hai, Nona Jutek," sapa lelaki itu sedikit membungkuk agar terlihat oleh Ais. Tak lupa dengan seulas senyum yang membuat lelaki itu terlihat tampan.


"Ada perlu apa anda di sini?" tanyanya dengan tatapan lurus ke mata lelaki yang masih di luar mobil.


"Saya? Di sini? Mau belajarlah, Non, ya kali mau makan."


Belajar? Mana mungkin lelaki itu belajar. Pasti lelaki itu hanya bercanda. Atau mungkin lelaki itu masih menyimpan dendam dengannya gegara insiden menabrak beberapa hari lalu? Begitu pikirnya.


"Kartu saya." Lelaki itu memberikan kartu belajar ke Ais. Tanpa pikir panjang langsung Ais terima dan ia baca nama dan jadwal di kartu itu.


Instruktur : Nuraisyah Stefani.


Nama : Nuesta Andreawan.


Alamat : Purwokerto,


Ngadiluwih


Mulai : Sabtu, 19-10-'19


Jam : 16.00 (18-094)


Mata Ais reflek mendelik. Jadi lelaki nyebelin ini akan menjadi siswanya? Dia tidak bercanda? Terus yang katanya Luna cakep itu dia? Oh Tuhan ... dunia sempit sekali. Kenapa ia harus bertemu dengan lelaki itu lagi? Seperti tidak ada stok siswa lainnya saja. Lalu kenapa harus Ais yang menjadi instrukturnya? Ngambil tiga belas kali pula. Sialan.


"Kok diem, Non?"


Ais mengerjap saat Nues melambaikan tangan di depan mukanya.


"Duduk. Saya akan jelaskan."


"Jangan jutek-jutek banget, Non."


"Saya minta ke anda untuk duduk dan saya jelaskan. Saya tidak menanggung waktu anda yang terbuang karna perdebatan yang tidak penting ini!" tegas Ais dengan sedikit rasa jengkel menyelimuti hatinya.


"Gak pa-pa kok asal bareng kamu," balasnya sembari masuk ke dalam mobil. Nues mencoba melucu namun Ais tidak memperdulikannya. Percuma saja menggombali Ais seperti apapun, toh gadis itu tidak akan pernah baper.


Sejujurnya Ais paling malas kalau dapat siswa modelannya kayak gini, suka ngegombal. Bikin darah naik. Ais iya-in saja daripada ribet. Gadis yang berseragam kaus merah berkerah itu melihat Nues sudah di posisinya. Ia menjelaskan sedikit dan kemudian mereka bertukar posisi. Ais di kursi samping kemudi, Nues gantian yang pegang kemudi.


"Sekarang praktikkan apa yang saya jelaskan tadi. Kalau kurang paham bisa anda tanyakan."


Lima meter pertama lumayan bagus cara mengemudinya, namun ada satu hal yang bakal bikin emosi orang lain terutama emak-emak.


"Bapak gimana, sih?! Kan tadi sudah saya jelaskan kalau mau belok itu lima puluh meter sebelum tikungan Bapak kasih tanda sign belok kanan atau kiri, bukannya mendadak gini!! Kalau sampe yang belakang kaget terus nabrak emang Bapak mau tanggung jawab apa?!" Seketika Ais langsung meradang. Bagaimana tidak meradang kalau siswanya tidak mendengarkan apa yang ia jelaskan tadi. Ais benar-benar dibikin kaget, sumpah. Untung saja di belakang tidak ada pengendara lain. Misalkan ada, mungkin Ais sudah menerima sumpah serapah pengguna jalan yang lain.


"Berhenti."


"Kenapa, Non?" Nues bertanya dengan wajah sok polosnya membuat Ais tambah emosi.


Ais menghela napas agar kembali tenang. "Saya kan sudah jelaskan dan kalau Bapak gak paham bisa tanya ulang."


"Maaf, Non, aku lupa." Nues nyengir kuda.


"Jalanin mobilnya. Kita pelan-pelan aja."


Lima puluh menit akhirnya terlewati. Kini Ais sudah di depan kantor lagi.


"Mana kunci mobilnya?"


"Saya gak bisa nyabut." Nues nyengir gak jelas.


"Bapak bisa turun biar saya yang nyabut." Nues hanya menurut saja. Sehabis nyabut kunci mobil, Ais masuk ke kantor.


"Mbak Ais, jam limanya libur jadi Mbak Ais udah selesai atau kalau mau Mas Nuesnya ditawarin belajar lagi," ucap Sasha saat Ais sudah masuk ke kantor.


"Gak usah." Ia langsung menolak. Lima puluh menit saja sudah terasa lama dan membuatya emosi apalagi ditambah lima puluh menit lagi, bisa kena serangan jantung dadakan dia. "Gue pulang aja." Ais pergi ke loker untuk mengambil barang bawaan seperti tas dan jaket.


"Sha, lu udah dikasih tau Luna?" tanya Ais yang hendak pulang.


"Belum, Mbak, emang ada apa? Mbak Ais ngundang kita makan-makan?" tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.


"Makan mulu. Ntar kalo ada yang nanya jam enam sore, lo kasih ke gue aja soalnya gue mau kejar target." Sama halnya seperti Luna, Sasha juga kaget mendengar ucapan Ais.


"Seriusan, mbak Is?"


Ais langsung cabut ke halaman depan untuk ngambil motor.


"Mau pulang, Nona Jutek?" Tanpa menoleh pun Ais sudah tahu siapa yang ngomong. Siapa lagi kalau bukan siswanya yang nyebelin itu. Tanpa memedulikan siswanya, Ais mengambil sarung tangan di jok depan motor dan memakainya.


"Eh, lu mau ke mana jam segini?" tanya Pak Cahyo yang melihat Ais duduk di atas motor maticnya.


"Mau pulang."


"Lu udah kelar ngajar?" Ais mengangguk. " Jangan pulang dulu napa. Temenin gue nyari makan, yuk? Laper gue," lanjutnya.


"Gak sudi." Ais menghidupkan mesin motornya. "Minggir, gue mau pulang," lanjutnya. Pak Cahyo minggir agar Ais bisa keluar dari parkiran.


"Hati-hati!" Teriak Pak Cahyo. Ais yang mendengar samar-samar hanya mengangguk.


"Yang jutek-jutek gitu tuh yang bikin hati pengen merjuangin," ucap Nues yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua.





Akhirnya Ais sampai rumah juga. Setelah memarkirkan motor kesayangannya digarasi, Ais langsung masuk ke dalam rumah yang sudah disambut ayah sama ibunya di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum." Salamnya dan kemudian mencium punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.


"Waalaikumsalam. Is, Ayah mau ngomong tapi kamu mandi dulu. Ayah tunggu kamu di meja makan."


Dari nada bicaranya,  Ais sudah bisa menebak ini bakal ngebahas hal yang paling penting. Satu hal yang harus kalian tahu, ayahnya Ais bukan tipikal orang yang suka marah-marah, ngebentak anaknya dan juga kasar. Beliau jauh dari itu semua. Beliau baik, ramah, dan gak pernah marah. Selama Ais hidup bareng sama kedua orang tuaya, ia belum pernah ngelihat ayahnya marah. Kalau misalkan anak-anaknya buat salah, beliau hanya mendudukkan anaknya di ruangan dimana terlihat sunyi. Bukan memaki dan membentak melainkan berbicara pelan, tidak ada urat yang keluar, cara bicaranya tenang tapi menohok dihati sampai bikin nangis. Contohnya dulu waktu Ais pernah ngatain bapak temennya, ia bilang ke temennya kalau bapaknya gede item trus namanya ia plesetin. Pulang dari main Ais langsung disuruh duduk diruang tamu. Ayahnya memberi nasihat yang sampai bikin Ais hampir nangis.


Seusai mandi, Ais langsung menemui ayah sama ibunya di ruang makan. Suasana ketika makan hening. Hanya ada dentingan sendok yang bersuara. Semua sedang menikmati hidangan yang tersedia.


"Ayah mau bicara," ucap Pak Edi setelah semua menyelesaikan makan malam.


"Apa, Yah?"


"Masalah perjodohan. Kamu sudah punya keputusan?"


Ais menghela napas. Sampai sekarang pun ia belum punya keputusan sama sekali. Bahkan ia masih belum berpikir bagaimana kedepannya kalau mengiyakan atau menolaknya.


"Ibu tau kalau kamu masih memikirkannya tapi, selama apapun kamu berpikir Ibu yakin kamu tidak akan bisa memutuskannya."


Tepat sekali. Entah dari mana terkadang ibunya bisa menebak apa yang Ais pikirkan. Mungkin ikatan batin mereka terlalu kuat.


Seketika Ais jadi ingat omongannya Pak Key beberapa hari yang lalu. Dia bilang kalau orang tua itu tidak akan menjerumuskan anaknya ke hal yang gak bener. Sama seperti jodoh, orang tua mencarikan jodoh anaknya bukan asal-asalan. Mereka mencari orang yang bisa dipercaya untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakan anaknya. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


"Ais, kok malah diem? Gimana?" Ais langsung tersadar dari lamunannya.


"Ayah, ibu." Ais melihat kedua orang tuanya bergantian. "Ais udah mutusin bakal nerima orang yang ayah usulkan," lanjutnya.


Pak Edi dan Bu Sarah sedikit kaget lantaran mereka mengira Ais akan menolaknya, namun malah berlawanan. Mereka tersenyum. Melihat mereka senyum membuat Ais juga ikut senang. Mungkin ini cara Ais membuat kedua orang tuanya bahagia.


"Ayah mau tau alasan kamu kenapa kamu mau menerimanya."


"Karna Ais tau Ayah dan Ibu ingin yang terbaik buat Ais." Lagi-lagi mereka tersenyum atas jawabannya.


"Kalau begitu nanti Ayah akan telfon temen Ayah kalau kamu mau."


"Besok Senin, Ayah mau ngundang mereka makan malam di sini."


"Makan malam?"


"Iya, Is, makan malam, apa sekalian tunangan?" Ais hampir saja menyemburkan air yang ada dimulutnya.


"Tunangan, Yah? Gak. Ais gak mau." Pak Edi dan Bu Sarah hanya tertawa.


Ais bangkit dan mengambil piring-piring kotor bekas makan malam untuk dicuci. Setiap selesai makan sudah menjadi tugas Ais untuk mencuci piring.


"Kalau gitu Ais ke kamar dulu Ayah, Ibu." Pamitnya selesai mencuci piring yang dijawab anggukan dari mereka.


Sampai di kamar Ais langsung merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Mata, hati, otak, dan badannya sudah capek. Ingin tidur. Besok biar fresh. Bye semuanya.