ICE

ICE
Calon Imam


"Bu, Ais enggak sarapan soalnya udah hampir jam setengah enam, takut enggak keburu." Ais berpamitan ke ibunya yang tengah sarapan di meja makan.


"Kamu itu kebiasaan tiap pagi jarang sarapan. Makanya jangan tidur malem-malem. Udah tau kerjanya habis shubuh tapi malah begadang. Bekal kamu Ibu taruh di meja tamu." Bu Sarah mengomeli kebiasaan Ais yang kadang membuatnya cemas, takut kalau anaknya kelaparan di jalan.


"Iya, Bu. Ais berangkat kerja dulu." Ia mencium tangan ibunya sebagai tanda hormat.


"Is, nanti jangan pulang telat, ya, soalnya anaknya temen Ayah kamu mau ke sini."


"Anaknya temen Ayah? Hubungannya dengan Ais?"


"Kamu lupa kalau kamu mau dikenalin sama calon imam kamu?"


"Nanti?" Ia bahkan lupa dengan agenda keluarganya hari ini. Entahlah, sejak memutuskan hal terkonyol dalam hidupnya ia seperti terbang bebas, tidak memikirkan harus bagaimana dikemudian hari saat ada lelaki mulai menjelajahi hidupnya.


"Iya, Is, hari ini. Makanya nanti kamu jangan pulang malem-malem. Jam enam harus udah di rumah. Paham?"


"Iya Bu, Ais berangkat dulu." Ais menyalami bu Sarah dan mencium punggung tangan ibunya lagi.


"Hati-hati di jalan, jangan ngebut."


"Iya, Bu. Wassalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Ais mengambil bekalnya. Tidak memikirkan acara nanti malam. Ia berangkat mengumpulkan pundi-pundi rupiah.





"Jadwal gue?" tanyanya setelah selesai mengajar siswa yang jam enam pagi.


"Ini, Mbak." Sasha menyodorkan kertas jadwal ke Ais. Ia melihat jadwalnya yang penuh. "Mbak Ais, Mas Nues tadi telepon katanya gak bisa masuk karena banyak banget kerjaan yang harus diurusin terus barusan ada anak Sma daftar minta jam enam malem trus tak kasih ke Mbak Ais," lanjutnya.


"Mulai kapan? Hari ini?"


"Iya Mbak mulai hari ini." Ais terdiam. Kehadiran siswa di waktu yang tidak tepat. Padahal tadi ibunya sudah berpesan untuk tidak pulang larut malam tapi kalau ditunda juga tidak enak dengan siswa barunya.


"Kenapa, Mbak? Mbak Ais gak bisa, ya?"


"Bisa, gak masalah. Yang jam lima gak bisa dimajuin?"


"Gak bisa, Mbak, rencana yang jam tiga mau aku dobel."


"Ya udah. Lo udah makan?"


"Belum, Mbak. Hehe."


"Buat lo sama Luna." Ais mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu yang diberikan ke Sasha. "Gue makan dulu," lanjutnya.


"Makasih, Mbak Ais!" seru Sasha senang mendapat pemasukan buat dompetnya. Lumayan bisa beli jajan.


Ais duduk di meja makan. Membuka bekal makanannya. Nasi santan rasa serai jahe serta tumis kangkung.  Sehabis berdoa dan minum, ia menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan lahap.


"Sarapan apa, Lo?" Tiba-tiba Pak Dani duduk di depan Ais.


"Daging Naga."


"Awas nyembur api." Ais terkekeh.


"Ini pada ke mana? Kok sepi banget. Pada belum balik ngajar?"


"Pak Key dobel, kalo Pak Agus sama Pak Cahyo lagi makan di warung Pak Sela."


"Begaya banget makan di warungnya Pak Sela."


"Beli sayurnya doang, Pak."


"Orang fakir ketemu orang miskin ya gitu. Ha ha."


I'll search the universe


Sampai temukan mu lagi


Takkan lepaskanmu


Bahkan kenangan kita


Kenangan terukir


Mereka datang dan pergi


Namun diriku tetap akan memanggilmu


   (Exo-Universe, Indonesia version)


Hati Ais seketika adem mendengar suara Pak Dani.  Sudah menjadi kebiasaan Pak Dani kalau lagi sendiri atau tidak ada kerjaan menjadi musik dadakan karena suaranya baguuuuus banget. Tiap kali pak Dani nyanyi, apalagi lagu yang mellow bikin hati Ais mendadak jadi adem banget.


"Lagunya siapa, Pak? Kayaknya bagus."


"Itu lagunya Exo boyband Korea itu loh, Is, yang judulnya Universe tapi di cover ke dalam bahasa Indonesia. Gue kemarin baru nonton di youtube, emang bagus lagunya."


"Udah punya lagunya, Pak?"


"Udah dong."


"Kirimin, ya, Pak."


"Bayar dulu, dong." Ais terkekeh.


"Gampang, ntar gue mintain ke Luna biar di potong BBM lo, Pak."


"Suara lo bikin hati gue adem, ayem, tentrem, damai, dan sentosa, Pak."


"Gak usah gitu. Biasa aja. Ngobrol-ngobrol, gimana sama challenge, Lo? Kurang banyak gak?"


"Mayan, Pak. Ini lagi gue kebut biar akhir semester gak keteteran. Lo, sendiri?


"Gue kurang dikit. Kayaknya semua bakal dapet kali ini."


"Pak Dan, siswanya udah dateng," ucap Sasha sedikit keras di ambang pintu.


"Gue ngajar dulu." Ais mengangguk sebagai jawaban.


Saking asiknya ngobrol dengan Pak Dani, Ais sampai lupa meneruskan sarapannya. Baru saja ia mau makan eh ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa yang nelfon Ais langsung menggeser tombol hijau.


"Halo," sapanya.


"Halo Is, saya Nues. Hari ini saya gak masuk dulu ya soalnya lagi sibuk banget, kerjaan gak bisa ditinggal. Tapi besok saya udah masuk lagi kok."


"Udah tau." Ais langsung matiin hapenya dan menaruh di meja. Bodo amat banget mau masuk apa enggak, Ais gak peduli. Malah alhamdulillah kalau tidak masuk.





Gemericik hujan membasahi jalanan. Malam ini hujan turun enggak lebat banget tapi bisa bikin baju basah. Hawa dingin bisa menembus sampai tulang kering. Ais melihat jam yang melingkar di tangannya. Tidak terasa sudah jam tujuh malam.


"Mbak Ais, belum pulang?" Ais menoleh ke sumber suara.


"Eh pak No, ini mau pulang, Pak."  Pak No ini pemilik warung kopi yang ada di sebelah kantor tempat Ais kerja. Tongkrongannya para bapak-bapak dan juga orang yang di percaya buat ngejagain kantor Natuna.


"Biar saya aja, Mbak, yang ngunci gerbangnya."


"Makasih, Pak, kalau gitu saya pulang dulu, Pak No."


"Hati-hati, Mbak Ais. Jalanan licin." Ais hanya mengangguk dan tersenyum dibalik kaca helm yang ia pakai.


Empat puluh lima menit mengendarai motor akhirnya Ais bisa meregangkan otot-otot tangannya ketika sudah sampai di halaman rumahnya. Ia melepaskan helm. Sedikit dingin sih tapi ya namanya kerja tetap harus semangat walaupun badan Ais sudah basah kuyup dan kedinginan.


"Assalamu'alaikum." Ais membuka pintu rumahnya yang langsung di sambut Bu Sarah yang sudah dandan cantik banget.


"Kamu dari mana aja, Ais? Ya ampun, kamu kok basah kuyup begini? Abis nyebur di kolam ikannya siapa?" Ais cuma tersenyum mendengar pertanyaan sang ibu disela-sela dingin yang menyerang tubuhnya.


"Assalamu'alaikum." Ais memberi salam karena belum dijawab oleh ibunya.


"Ibu sampe lupa. Waalaikumsalam. Ayah sama Ibu udah nungguin kamu dari tadi. Ya udah kamu buruan mandi sana, udah kedinginan banget itu. Kita tunggu di meja makan. Jangan lama-lama. Sana." Bu Sarah sedikit mendorong Ais agar cepat bergerak. Ais yang diperlakukan seperti itu hanya memutar kedua bola matanya malas. Pasti ada sesuatu yang membuat ibunya bertingkah seperti itu.


Tanpa menjawab sepatah katapun Ais berjalan ke kamar karena Ais sudah capek banget dan juga sedikit kedinginan. Habis mandi ia langsung turun ke ke meja makan.


"Ais, kamu dari mana saja? Kita nungguin kamu dari jam tujuh tapi kamu jam delapan baru nyampe rumah."


"Maaf, Yah." Ais tidak bisa menjawab karna hari ini ia benar-benar capek banget karena jam ngajarnya padet banget. Tidak ada istirahatnya ditambah sedikit masih kedinginan.


"Yah, ngintrogasinya dipending dulu, oke?" Bu Sarah menyuruh suaminya untuk diam terlebih dahulu. Bu Sarah berdiri dan menunjukkan Ais ke Nues. "Nues, ini anaknya tante,  namanya Nuraisyah tapi panggil aja Ais, pokok jangan ayang beb, gak keren." Nues tersenyum sambil mengangguk.


"Sekarang kamu duduk sana di sebelah Nues." Ais menatap lelaki yang tengah menatapnya. Dahinya mengerut, kenapa lelaki itu ada di rumahnya, lagi? Pertanyaan itu liar di pikirannya. Tidak mau berlama-lama mengandaikan sesuatu yang tak semestinya, Ais nurut saja apa kata Bu Sarah walaupun dalam hatinya kaget luar biasa.


"Diminum dulu tehnya supaya kamu enggak kedinginan." Bu Sarah memberikan teh hangat dan Ais langsung menerima dan meminumnya pelan-pelan.


"Kenapa kamu pulangnya telat, Is?" tanya Bu Sarah.


Ais meletakkan gelas teh. "Ais tadi masih ngajar."


"Ngajar? Bukannya jam ngajar kamu cuma sampai jam enam?" kali ini gantian Pak Edi yang bertanya.


"Sengaja ngambil jam enam karena Ais mau ngejar target, challenge kurang sedikit."


"Harusnya kamu ngomong sama Ayah atau Ibu jadinya kita enggak khawatir."


"Maaf. Ais lupa."


"Terus kenapa kamu bisa kedinginan? Kamu kehujanan?" Ais hanya ngangguk.


"Bukannya kamu punya jas hujan? Kenapa enggak kamu pakai? Males? Gak mau ribet?" Ais menggelengkan kepalanya. Sungguh ia sebenarnya malas banget kalau harus ditanya detail seperti ini. Ia lapar, sangat.


"Ais pinjamkan ke siswa Ais."


"Kamu pinjamkan dan ngebiarin diri kamu sendiri hujan-hujanan?"


"Dia lebih membutuhkan daripada Ais karena besok dia ada ujian. Gak mungkin dia ujian dengan baju yang sedikit basah." Ais mencoba memberi penjelasan.


Nues tersenyum mendengar penjelasannya Ais. Baru kali ia melihat seseorang yang rela berkorban untuk orang yang baru ia kenal.


"Ternyata kamu peduli juga sama orang lain, Ayah kira enggak." Pak Edi tersenyum. Untung ia tidak dimarahin lagi.


"Oh iya, Ibu sampai lupa. Dia Nues, calon imam kamu dan bakal jadi menantu gantengnya Ibu," ucap Bu Sarah dengan senang hati. Ais menoleh ke Nues yang sedang tersenyum kepada Bu Sarah. Sebentar, Ais seperti tidak familiar dengan pakaian yang digunakan Nues. Keningnya berkerut. Bukannya itu pakaian yang kemarin ia pilihkan buat dia. Oh Ais jadi ingat, jadi yang dimaksud calon istrinya itu Ais? Fix, dunia memang sempit. Tapi kalau dilihat lihat Nues ganteng juga dengan pakaian yang simple gini. Eh apaan sih. Ais segera menggelengkan kepalanya.


"Nues, ini Ais anaknya tante."


"Iya tante, Nues sudah kenal sama Ais karena saya juga kursus di tempatnya Ais dan kebetulan dia yang jadi pengajar saya." Ais hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Beneran? Berarti kalian udah saling kenal? Malah bagus ya, Bu, kalau mereka sudah saling kenal jadi gak ada rasa canggung dan sungkan."


"Iya. Jadi kalian bisa lebih cepat akrabnya. Duh, Ibu--" Ais langsung memotong ucapan ibunya. Tidak sopan, memang tapi Ais sudah jengan dengan pembahasan ini.


"Kapan makannya?"


"Ya ampun, Is, yang lebih anggun sedikit gitu, lho. Masak ada calon imam kayak gitu, sih, gak cantik tau." Ais menatap ibunya malas. Acara seperti ini saja rempongnya gak karuan.


"Kamu udah laper, Is? Ya udah, sekarang mari kita makan, kasian anak Ayah udah kelaperan. Nues  jangan sungkan sungkan ya disini. Anggap saja rumah sendiri," ucap Pak Edi. Ais cuma tersenyum garing. melihat ibunya yang tengah rempong melayani Nues. Mengambilkan ini itu, ribet. Sepertiya hidup Ais berikutnya sedikit rada rada gimana dengan kehadiran Nues.