
Selesai mandi, Nues kembali bermanja dengan laptopnya. Mengoreksi bahan presentasi meeting besok untuk pengembangan hotel dan pembangunan tempat wisata di kota Kediri.
Matanya beralih ke ponsel yang menyala. Membuka kunci layar. Menampilkan sebuah pesan.
Calon Istri
Good rest. G prlu di bls.
Nues tersenyum membacanya. Ia tidak menyangka balasan dari Ais seperti itu. Biasanya setiap Nues mengirim pesan ke gadis itu hanya berakhir dengan WA-nya centang biru saja, tiada balasan. Nues meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Balasan dari Ais menambah semangat yang baru bagi Nues. Mata yang mulanya sedikit mengantuk kini terbuka lebar. Efeknya mengalahkan kopi, ngantuk seketika sirna.
♥
♥
♥
Jam lima pagi Nues sudah rapi dengan setelan baju kerjanya. Berdiri di depan rumah seorang gadis yang mampu membuat jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya saat melihat wajah cantiknya.
Ia memilih duduk di kursi yang ada di teras rumah Ais. Menunggu gadis pujaannya keluar. Bukannya tidak sopan untuk tidak mengetuk pintu, tapi Nues tahu kalau Ais dari kemarin sore ditinggal kedua orang tuanya karena Pak Edi yang memberi tahunya.
Lima belas menit menunggu, Ais keluar. Sedikit kaget. Ini manusia pagi-pagi sudah di sini, ngapain? Jadi hansip? batinnya.
Nues segera berdiri dan tersenyum kala mendegar pintu terbuka, menampilkan sosok yang ia tunggu.
"Pagi," sapanya.
"Ngapain?"
"Mau nganterin kamu berangkat kerja. Oh iya, aku bawa bekal buat kamu." Nues mengangkat kotak bekal yang ia bawa agar Ais bisa melihatnya.
"Gak perlu. Saya bisa berangkat sendiri." Ais melewati Nues begitu saja. Namun Nues tidak tinggal diam. Ia mengikuti Ais dan menghalangi Ais. Langkah gadis itu terhenti. Aura kesal sudah nampak di wajah Ais namun Nues pura-pura tak menyadarinya.
"Aku rela bagun jam tiga pagi hanya untuk masakin kamu karena aku tahu kamu belum sarapan." Nues mencerocos tanpa diminta.
"Gak ada yang nyuruh," dinginnya.
"Emang gak ada, sih, tapi kan rejeki gak boleh ditolak. Hargai perjuanganku dong, Non. Kalau gak mau makan gak masalah tapi tolong diterima." Ais terpaksa menerimanya. Entah nanti bekalnya ia abaikan atau ia berikan untuk teman-temannya.
"Sekarang aku anterin kamu kerja, ya?"
"Gak perlu," tolaknya. Ia melanjutkan langkahnya, namun lengannya ditahan Nues.
"Lepasin." Nues langsung melepas cekalannya. Lelaki itu menatap mata Ais dengan memohon. Pandangan Ais terkunci. "Kamu tahu balasan kamu semalam? Itu membuat aku semangat ngelembur sampai tengah malem untuk meeting hari ini. Aku rela pagi-pagi buta bangun, bikinin kamu bekal, nungguin kamu di sini semata-mata karena aku ingin melihat kamu, melihat mata indah kamu dan senyum kamu agar aku bisa lancar untuk presentasi nanti siang. Dengan senyummu aku merasa tenang, aku merasa semangat, aku merasa yakin. Kamu semangatku, Is."
Ais tidak tahu harus merespon bagaimana. Sebegitu pentingnya, kah ia bagi Nues? Atau terkesan lebay? Ais merasa jijik dengan apa yang Nues ucapkan barusan.
"Ya, udah." Nues tersenyum. Dengan segera ia melangkah ke motornya.
♥
♥
♥
Ais turun dari motor Nues dan buru-buru masuk. Tanpa berpamitan pula. Nues paham kenapa Ais seperti itu. Ais tidak mau semua orang yang di kantornya mengintrogasinya. Dan untungnya tidak ada yang melihatnya. Aman.
"Pagi, Mbak Ais," sapa Luna dengan senyum yang sok imut.
"Pagi," jawabnya.
Ais melihat jam di dinding. Jam enam kurang lima belas menit. Cepat juga Bapak itu naik motornya. Ais berlalu pergi ke ruang makan. Menaruh bekal dari Nues di atas meja. Duduk. Diam. Menatap bekal tersebut. Ia bingung mau diapakan bekal itu. Entah kenapa ia jadi tidak tega kalau makanan itu ia abaikan, dikasihkan ke yang lain, lebih parahnya ia buang. Perlahan ia membuka paper bag berisi kotak bekal itu.
Diatas bekal ada sebuah note kecil.
Kalau tidak gak tidak usah di makan. Di buang aja. Kasihan perut kamu. Nanti sakit.
Ais jadi penasaran dengan masakan yang di buat Nues. Ais membuka kotak bekal itu. Isinya nasi goreng dengan telur dadar berbentuk hati. Ais hanya menggeleng, ia heran kenapa ada lelaki tua yang alay seperti Nues.
Ais menyendok nasi goreng dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyah untuk merasakan bagaimana masakan Nues.
"Ternyata bisa masak juga," ucapnya setelah menelan nasi goreng.
Ia jadi teringat dengan ucapannya Nues tadi pagi kalau ia adalah semangatnya. Ais mengambil kertas dan bolpoin di dalam tasnya. Menulis sebuah kata. Dan mensejajarkan dengan note dari Nues. Memotonya dan mengirimkan hasil jepretannya ke Nues. Setelahnya Ais menaruh ponsel dan melanjutkan sarapannya, sayang kalau dikasihkan ke yang lain karena sangat bisa dimakan, lumayan bisa ngehemat kantong.
♥
♥
♥
"Masuk." Nues mempersilakan masuk saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.
"Pagi, Pak. Pak Raka baru saja mengabari kalau meetingnya di majukan jam sembilan pagi karena kalau siang beliau ada meeting di kantor lain."
"Tidak masalah. Semuanya sudah beres. Ada hal lain lagi?"
Nues mendengarkan apa yang di katakan sekretarisnya dengan seksama. Memahaminya. Karena ini menyangkut meeting penting dengan perusahaan yang besar jadi ia tidak mau malu di depan orang lain.
Nues memberi aba-aba sekretarisnya untuk diam sejenak saat ia merasa ada pesan masuk di ponselnya. Ia membuka pesan itu. Pesan yang lagi lagi membuatnya tersenyum simpul.
Sebuah foto kertas yang bertuliskan 'enak' yang disandingkan dengan notenya tadi. Pesan itu dari Ais. Singkat, memang, tapi bagi Nues itu sangat berarti.
Sekretaris Nues hanya mengerutkan keningnya. Bingung. Baru kali ini bosnya bisa tersenyum. Dalam hati sekretaris itu bersyukur bisa melihat bosnya senyum jadi tidak terlihat menyeramkan.
"Iya, Pak. Kalau begitu saya mohon iji untuk keluar." Wanita itu melangkahkan kakinya. Namun belum ada tiga langkah, wanita itu berhenti karena Nues memanggilnya.
"Yuli." Sekretaris yang bernama Yuli itu membalikkan badannya dan melangkah mendekat di depan meja Nues.
"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Makan siang yang paling cocok apa?"
"Kalau saya sendiri suka ayam geprek, Pak, buat makan siang. Sensasi pedasnya bikin napsu makan naik." Yuli sudah membayangkan betapa enaknya makan ayam geprek di siang hari dengan satu cup teh poci yang begitu dingin. Pasti sangat enak sekali.
Nues menulis sesuatu di sebuah kertas. Dan memberikan ke Yuli.
"Ini apa, Pak?"
"Tolong kamu suruh siapa saja untuk memesankan tiga porsi ayam bakar yang menurut kamu paling enak dan yang sehat tapi sambalnya dipisah, kirim ke alamat yang ada di kertas yang kamu pegang di jam makan siang. Ini uangnya. Jangan sampai telat." Nues mengeluarkan uang satu lembar seratus ribuan. Yuli melongo, tadi nanya makanan yang ia suka, tapi pesannya berbeda. Rasanya ia ingin sekali mengumpat.
"Buat pacarnya, Pak?"
"Banyak nanya. Calon istri." Yuli sedikit kaget. Ternyata bosnya diam-diam sudah ada yang punya. Syukurlah, setidaknya bosnya tidak menjadi perjaka tua yang menyeramkan. "Jangan bilang ke siapa-siapa atau kamu saya pecat."
"Siap, Pak, siap. Ya sudah kalau begitu saya nyari Joko buat memesankan pesanan, Pak Nues. Mari, Pak." Nues hanya mengangguk.
♥
♥
♥
"Mbak Luna, aku lagi sebel banget tau!" Sasha memanyunkan bibirnya.
"Kamu ada apa lagi, sih? Sebel kenapa?"
"Pacar aku, Mbak, masa aku ajakin jalan susahnya minta ampun tapi kalau main sama temen-temennya siap delapan enam. Ih, sebel aku!" Sasha meluapkan kekesalannya dengan mencoret kertas yang ada di depannya.
"Kamu tanyain aja kenapa susah banget di ajak jalan," saran Luna.
"Lo ikutan aja kumpul sama mereka." Ais muncul dari balik pintu, bersandar di tengah pintu.
"Nah, saran Mbak Ais masuk tuh, Sha. Kalau enggak mau juga, introgasi sampe ke akar-akarnya."
"Permisi. Mbak-mbaknya, ada orderan atas nama Ais." Gadis yang namanya disebut memasang muka sedikit bingung. Perasaan ia tidak order apapun, kenapa ada orderan datang dengan atas nama dia?
"Dari siapa, Pak?"
"Di keterangannya hanya tertulis nama Bapak, Mbak." Ais mengangguk paham. Pasti ini kelakuan lelaki alay itu.
"Makasih, Mas."
"Bisa tanda tangan di sini untuk penerimaannya, Mbak." Ais menurut. Kurir itu pergi setelah ia menuruti apa yang dia katakan.
"Buat lo berdua."
"Emang dari siapa, Mbak?"
"Dari ayah."
"Ayah? Kok ganti bapak?"
"Mana gue tau." Ais melenggang pergi. Mending ia makan daripada harus berdebat dengan dua manusia itu. Lagian ia juga sudah merasa lapar. Pas banget ada yang mengiriminya makanan.
♥
♥
♥
"Mbak Ais, aku mau cerita," ucap Sasha yang udah memasang muka sebalnya.
"Apa?" Ais memilih duduk di kursi customer yang berhadapan dengan Sasha.
"Aku sebel banget, Mbak."
"Hobi banget sebel. Pacar lo lagi?"
"Beda lagi, Mbak, jadi tadi tuh masa ada orang dateng yang ditanyakan gak njalur banget." Sasha mengeluarkan semua unek-uneknya. "Masa nanya di sini di ajarin kayak balapan apa enggak. Coba aja kalo Mbak Ais ada di sini, kan bisa bikin itu orang kicep."
"Sore, Mas Nues, di tunggu dulu, ya," sapa Sasha saat melihat Nues sudah datang dan duduk di kursi tunggu.
"Nah gitu, Mbak. Rasanya pengen aku bejek-bejek, Mbak. Emosi aku. Sok-sok an mau balapan, dikira sini tempat latihan balapan apa!" dengus Sasha.
"Orang kayak gitu belum tentu bisa nyetir mobil." Ais meremehkan orang yang diceritakan Sasha. Nues yang melihat Ais jadi tersenyum. Setiap melihat Ais, ada rasa syukur yang ia panjatkan. Melihat Ais membuatnya bisa melupakan masalah dan lelah yang ada di hidupnya.
"Moga aja deh, Mbak, dia gak ke sini lagi. Sebel aku tuh kalo ada yang begitu." Sasha melihat Nues yang tengah memperhatikan Ais dengan kerutan di dahinya. Nues langsung melemparkan pandangannya ke tempat lain.
Baru saja Ais mau membuka mulutnya, sudah terhalang oleh sapaan orang.
"Selamat sore."
Deg
Ais terdiam. Tak berkutik sama sekali. Seolah jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Saat mendengar suara itu. Ia tahu siapa pemilik suara itu.