
"Is, gimana sama kerjaan kamu?" tanya Pak Edi -- ayah Ais, ketika ia baru saja melabuhkan duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Tumben sekali menanyakan hal seperti itu. Sesuatu hal yang sangat langka terjadi. Biasanya juga tidak pernah menanyakan hal semacam itu. Paling-paling nanya udah makan belum? sama jangan tidur malem-malem.
"Lancar. Ayah kapan sampainya?" Ia balik bertanya.
"Jam tiga sore Ayah sampai rumah." Ais mengangguk.
"Kamu betah kerja di sana?"
"Betah." Ia mengambil cookies yang ada di meja dengan sekali lahap.
"Tapi Is, jangan karena terlalu nyaman kerja, kamu lupa buat ngurus diri kamu sendiri," ucap Bu Sarah--Ibunya yang tengah mengusap puncak kepala Ais dengan lembut. Nah, ini Ais tahu ranah pembicaraan sang ibu ke mana.
"Bukannya apa-apa, Ibu sama Ayah cuma khawatir kamu lupa ngurus diri kamu sendiri. Usia kamu itu sudah cukup lho untuk membangun sebuah rumah tangga. Semua temen-temen kamu udah pada nikah, kamu kapan?" Nah, sudah Ais duga bakal menanyakan hal ini lagi. Bukannya Ais tidak memikirkannya, tapi ia masih enggan membuka hati lagi setelah kejadian silam. Menurut Ais nih ya, menikah haruslah dipikirkan dengan matang-matang, bukan hanya karena yang lainnya sudah jadi, harus buru-buru nikah biar seperti yang lainnya. Tak masuk akal sekali. Toh, jika Sang pengatur jalan kehidupan sudah menyuruhnya untuk menikah juga bakal nikah. Kalau Sang Pencipta belum merestui, sampai menangis darah pun juga tidak akan dikasih jalan untuk nikah. So, mengikuti arus kehidupan saja sembari berdo'a kepada-Nya agar disegerakan jodohnya.
"Ais tau, Bu, tapi enggak sekarang. Masih ada banyak hal yang ingin Ais lakuin. Lagian menikah itu bukan hanya nyari pendamping hidup, tapi mencari imam yang bisa membimbing Ais ke jalan lurus-Nya," tukas Ais.
"Ibu tau kamu masih belum bisa membuka hati karena Lukman, kan?" Ais memilih diam kalau membahas laki-laki itu. "Jangan menutup hati kamu, Is. Tidak semua laki-laki itu seperti Lukman. Contohnya Ayah kamu. Sebatas kenal juga gak pa-pa siapa tau kan jodoh. Iya kan, Yah?"
"Iya lah. Temennya Ayah juga banyak yang nanyain kamu, Is. Katanya mau jadi suami kamu. Bahkan kemarin ada yang langsung nanya ke Ayah buat ngelamar kamu. Gimana?"
"Siapa?" tanyanya kepo. Sebenarnya Ais sudah tahu siapa yang ayahnya maksud, ia juga kenal bahkan sempat dekat juga, dekat lewat sosial media.
"Saka." Ais hanya tersenyum samar. Dugaannya tepat. Pria yang kemarin malam menyapanya hingga membuatnya terlonjak memiliki ketertarikan terhadapnya. Bukannya GR, tapi apa yang Saka lakukan ke Ais sangatlah ketara sekali, menggombalinya lewat pesan singkat dan perhatian kecil saat mereka tidak sengaja berpapasan.
"Tapi, Ayah tolak."
"Kenapa?" tanya Ais spontan dengan kerutan di dahinya.
"Karena Ayah ingat kalau Ayah punya janji sama teman Ayah buat menjodohkan kalian."
"Jo- Jodoh?" tanya Ais terbata-bata saking kagetnya. Memangnya perjodohan masih ada di era milenial kayak sekarang ini?
"Iya. Itu pun kalau kamu mau. Ayah enggak maksa. Kamu bisa pikirkan dulu. Tapi, Ayah berharap kamu mau."
Ais tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi. Otaknya tiba-tiba blank. Jodoh? Ia bahkan tidak menyangka akan di jodohkan karena itu hal yang jauh sekali dari pikirannya.
Kling.
Anggap saja itu nada pesan. Ais ngambil ponsel dari dalam tas kecil yang ia pakai buat kerja tadi trus membuka pesan yang barusan masuk.
Yudha :
Is, gue otw ke rumah elo. Siap2.
"Yah, Bu, Ais mau pergi bentar sama temen."
"Sama siapa? Key? Cahyo? Atau siapa?"
"Bukan. Dia Yudha. Cuma nemenin dia beli kado. Ais ke kamar dulu."
Ais berlari kecil menuju kamar meninggalkan perjodohan di ruang keluarga. Sehabis mandi ia berganti pakaian yang simple, hanya sweater putih sama celana jeans hitam pendek tak lupa sepatu. Diruang tamu sudah ada Yudha yang sedang bergurau dengan ayahnya.
"Yudha culik anaknya dulu, ya, Om, Tante. Wassalamu'alaikum," pamit Yudha tak lupa menyalami kedua orang tua Ais, pun Ais melakukan hal yang sama.
Diluar sudah ada motornya Yudha. Ais kira motor Yudha itu sejenis motor sport soalnya penampilan dia yang keren banget kayak personil boyband Korea. Eh ternyata motornya motor kalong warna biru. Tau kan motor kalong? Motor tujuh lima yang kini marak dimodifikasi menjadi kekinian, warna-warni, yang jok motornya pendek kalau buat boncengan gak bisa jaga jarak aman alias mepet banget dan di sini kaum adam yang sangat diuntungkan. Gambar di mulmed.
"Is, lo pake dulu helmnya." Ais menerima helm dari Yudha. Kalian tahu helm yang Yudha kasih ke Ais helm apaan? Helm bogo dengan motif hello kitty.
"Ini?" Ais mengangkat helmnya di depan wajah Yudha.
"Iya," jawabnya dengan seulas senyum.
Ais hanya bisa menggeleng. Mau ditaruh dimana muka Ais kalau ia keluar pakai helm seperti ini. Ia menukar helm yang dikasih Yudha sama helmnya. Ogah banget Ais pakai helm dari Yudha.
"Kok gak dipake helm dari gue?"
"Mending buruan berangkat, keburu larut."
♥
♥
♥
Selama Ais berkendara, baru kali ini Ais merasa seperti bepergian yang sangat jauh, bagaimana tidak, Yudha naik motor saja kecepatannya hanya tiga puluh kilo meter per jam. Katanya kalau ngebut takut yang di bonceng jatuh karena jalannya tidak rata, alias banyak lubangnya. Saking banyaknya bisa dibuat tempat wisata, iya wisata lubang seribu, wisata jeglong sewu. Bagus, kan? Alesan saja. Padahal motornya saja yang memiliki jok pendek, pakai nyalahin jalannya. Dasar gak tau diri.
Selesai melepas helm, Ais langsung jalan duluan masuk ke dalam mall meninggalkan Yudha yang lagi melepas helm. Bodo amatlah ya emang Yudha orangnya rempong, makanya Ais meninggalkannya. Kalau nungguin dia, suka lama ngalah-ngalahin cewek yang lagi gambar alis, gak kelar-kelar.
"Ais, tungguin gue dong. Elo mah ninggalin gue mulu," protes Yudha yang berlari buat mengimbangi langkah Ais.
"Lelet. Trus lo mau beli apa?" tanya Ais ketika mereka sampai di lantai dua.
"Gak tau," jawabnya dengan wajah polos tak berdosa yang pengin Ais tampol pakai heelsny Mbak-Mbak SPG.
"Lo gak tau? Yang bener aja, Yudha!" Ais menoleh ke arah Yudha. Sarap ini anak kayaknya. Ya kali beli kado enggak tau apa yang mau dibeli. Ais jadi pengin ngulek si Yudha dijaiin ayam geprek.
"Makanya gue ngajak elo, Is, karna gue gak tau. Dulu pas gue ulang taun dia ngasih kado ke gue topi, keren gitu. Guenya suka. Gue pake terus itu topi saking sayangnya, tapi temen gue gak sayang sama gue. Kan nyebelin padahal gue udah sayang eh dia ma-" Malah curhat. Ais langsung memotong curhatan Yudha. Kalau dibiarkan, Ais jamin sampai subuh gak bakal kelar.
"Cewek apa cowok?"
Ais menghela napas. Sepertinya ngomong sama Yudha, Ais membutuh kesabaran yang tinggi.
"Elo. Ya temen elo lah, bege."
"Cewek kok. Cantik, feminim makanya gue suka."
"Oke." Ais meninggalkan Yudha lagi mengelilingi pusat aksesoris. Emang Yudha itu lama orangnya jadi kalau nungguin dia gak bakal dapat dan gak cepet pulang. Baru juga melangkah, lengannya udah tahan Yudha.
"Gak usah pegang-pegang." Ais menarik tangannya dari pegangan Yudha. "Awas aja sampe lo berani megang-megang gue lagi," lanjutnya dengan sorot mata tajam.
Ais berjalan mengintari seluruh toko. Ia berdiri didepan salah satu toko aksesoris yang terakhir ia putari. Banyak banget macamnya. Ia meliarkan pandangannya siapa tau ada barang yang cocok untuk temennya Yudha.
Benar saja, tidak butuh waktu yang lama ia menemukan jam tangan yang cukup bagus.
"Mbak coba liat jam tangan yang ini."
Ais menerima jam tangan itu. Bagus dan simple, pikirnya. Harganya pun standar, tapi kalau bagi Ais yaaaaaa tetep mahal. Haha. Tapi kalau untuk Yudha, masa bodo. Toh belinya pake uangnya Yudha dan yang penting apa yang ia cari ketemu.
"Bagus gak?" Ais memperlihatkan jam yang ia pegang. Semoga saja Yudha suka biar tidak mencari yang lainnya lagi.
"Is, gila ini mah bagus banget. Ya udah ini aja. Lo mah bisa diandelin ternyata," serunya dengan lebay. Ais hanya meringis. Ia merasa malu karena tingkah Yudha sampai dilihat orang. Boleh gak kalau Ais sekarang kabur aja? Malu, sumpah.
"Ya udah lo bayar gue tunggu di sana." Ais menunjuk salah satu tempat duduk yang ada di sana. Ia capai banget sebenarnya tapi berhubung sudah janji sama Yudha, Ais tidak enak untuk ngebatalinnya.
"Udah?" tanya Ais saat Yudha datang menghampirinya.
Yudha mengangguk. "Is, makan dulu yuk," ajaknya.
"Pulang aja, Yud."
"Ya elah, Is. Gue yang traktir deh. Gue gak enak kalo gak ngajak makan, masa cuman nemenin gue doang, itung-itung ucapan terima kasih gue. Mau ya?"
Ais hanya tersenyum samar sebagai jawaban dan bangkit berjalan menuju tangga berjalan untuk ke kedai makanan yang letaknya di lantai tiga.
"Tadi pagi, Lo, ke mana?" tanya Yudha sembari menunggu pesanan mereka.
"Tadi gue kan udah bilang, ngapain Lo tanyain lagi? Gak penting."
Yudha terkekeh mendengar jawaban cuek Ais. Gadis di depannya mengerutka keningnya bingung.
"Ngapain, Lo, ketawa gak jelas? Kesurupan?"
"Lo jadi cewek jutek banget. Fix, Lo jomblo." Yudha tersenyum ke arah pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Tau dari mana gue jomblo?"
"Lo aja jadi cewek jutek banget, dingin, irit ngomong, sekali ngomong gak ada manis-manisnya. Lo cuman manis waktu kerja doang. Siapa yang mau sama gadis modelan kayak elu," jelasnya.
"Makan, Is," ajak Yudha.
Ais menatap makanannya tanpa mau memakannya. Ia termenung atas apa yang Yudha lontarkan. Kenapa semua orang menilai dirinya sebagai orang yang jutek? Apakah sikapnya sangat berlebihan sampai ketara seperti itu? Tidak hanya Nues yang menganggap dirinya jutek, Pak Cahyo dan Yudha pun juga begitu. Eh, kenapa dirinya menyebut nama lelaki itu? Pasti otak Ais tidak beres.
"Malah bengong. Di makan, Is, bukan diliatin." Yudha mencolek tangan Ais karena sedari tadi gadis didepannya itu hanya diam. Ais mengerjap pelan dan bergerak mengambil sushinya lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Lo mikirin apaan? Kata-kata gue?"
"Gak. Udah biasa dibilang gitu."
"Gue kira." Yudha menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya, pun dengan Ais.
♥
♥
♥
Seperginya Yudha, Ais masuk ke dalam rumah. Saat ia memasuki rumahnya, ada sesuatu yang berbeda. Ada sosok yang tengah melihatnya. Bukan ayahnya bukan pula ibunya, melainkan seorang lelaki yang tengah duduk di depan kedua orang tuanya, namun ia tidak memedulikan siapa dia. Paling juga teman ayahnya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sembari menyalami ayah serta ibunya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
"Is, kenalin ini Nues. Anaknya temen Ayah."
Ais menoleh ke Nues yang tengah tersenyum kepadanya, dahinya mengernyit heran. Kenapa lelaki itu ada di rumahnya? Perasaan urusan Ais dengan dia sudah selesai. Eh, tunggu sebentar. Ia tidak salah dengar, kan? Ayahnya tadi bilang apa? Anaknya temen ayah? Ia menghela napas panjang. Apakah ini hanya kebetulan saja? Sungguh, kejutan yang sangat luar biasa. Namun, ditengah kebingungan yang melanda, Ais tetaplah Ais yang memasang wajah datar.
"Ais, tamunya di salamin bukan di liatin." Ais mengerjap. Mau tidak mau Ais tetap menyalami Nues. Ia tetap harus menjaga etika dihadapan ke dua orang tuanya. Nues menyunggingkan bibirnya ke atas. Berdiri dan mengulurkan tangannya, namun salaman itu berlangsung sangat cepat karena Ais ingin segera masuk ke dalam kamar.
"Ais ke kamar dulu," pamitnya.
"Duduk sini dulu, Is, gak sopan ada tamu ditinggal."
"Ais lelah, mau istirahat, besok ngajar jam enam." Setelah mengatakan hal itu, ia melangkah menuju kamarnya.
Ais masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya. Nama Nues muncul dalam otaknya. Entah kenapa dunia itu seolah-olah menjadi kecil. Kalau di peribahasa dunia tak selebar daun kelor, bagi Ais kini dunia memang sudah selebar daun kelor. Di mana-mana selalu bertemu dengan Nues. Ingin rasanya ia berdiam diri di kamar saja agar tidak bertemu dengan lelaki itu, namun ia juga membutuhkan uang untuk keperluannya. Daripada memikirkan hal tidak jelas, Ais memilih memejamkan matanya dan berharap hari esok tak bertemu dengan lelaki yang akhir-akhir ini menganggu hidupnya.