Trapped In Love With My Enemy

Trapped In Love With My Enemy
14. Sehari Bersama Aldito


Sekarang cimberly pun sudah berada di ruang tamu, ada ayah,ibu dan dito. Cimberly pun melihat dito seketika cimberly terpesona dengan ketampanan seorang aldito. Aldito menggunakan hoodie berwarna putih dan celana jeans berwarna coklat dan menggunakan topi berwarna putih itu semua membuat seorang aldito semakin cool. Aldito pun melihat cimberly juga terpesona karena dito gak pernah melihat cimberly dandan ini pertama kalinya cimberly dandan. Ya walaupun cuma natural tapi cimberly terlihat cantik. Cimberly pun tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya begitu juga dengan aldito.


" Yauda apa kalian mau pergi Sekarang" ucap ayah


" Iya om, saya izin bawa berly dulu ya om tante" ucap dito ramah


" Iya nak dito tapi inget jangan pulang lewat dari jam 7 malam, satu lagi jagain anak bontot om ya jangan sampe lecet" pesen ayah ke dito


" Hehe iya om saya jagain berly kok" ucap dito tertawa


" Ihh ayah ini berly uda besar tau yah, malu tau sama dito" ucapku malu


" Yah kan bagi ayah adek tetep gadis kecil ayah" ucap ayah tersenyum


" Emm ayah" ucapku memeluk ayah


" Yauda ayah, ibu berly pamit dulu ya" ucapku mencium kedua tangan orang tua ku dan diikuti oleh dito


" Iya kalian hati-hati ya" ucap ibu


" Iya bu" ucapku


" Iya tante" sambung dito


Saat keluar rumah aku terkejut kok tumben dito bawa mobil gak bawa motor. Aku pun bertanya


" Buaya" ucapku berhenti


" Ya napa tub" jawab dito ikut berhenti


" Lo bawa mobil?motor lo emang kemana?" tanyaku


" Ada kok dirumah motor gue tapi gue pengen naik mobil aja, lagian gak denger kata ayah lo tadi "jagain anak bontot kesayangan om ya nak dito" ucap dito mengejekku


" Isss lo ya nyebelin" ucapku memukul dito


" Hahha ya kan bener" ucap dito tertawa


" Ya tapikan gak gitu juga kali" ucapku manyun


" Yauda jangan manyun-manyun gitu sayang uda cantik-cantik gini masa manyun" ucap dito mencubit hidungku


" Apaan sih buaya sakit tau hidung gue" ucapku


" Heheh yauda maaf, yok nanti keburu kesiangan" ucap dito membukakan pintu mobil untukku


" Silahkan masuk tuan putri" ucap dito


" Apaan sih buaya lebay lu" ucapku memukul lengannya


" Hehe" ucap dito tertawa, dito pun masuk mobil juga dan mulai menyetir


Ditengah-tengah perjalanan dito memulai pembicaraan.


" Tub" ucap dito yang fokus menyetir


" Hah, napa" ucapku melihat dito


" Emm gak jadi deh" ucap dito


" Iss gak jelas lo" ucapku beralih menatap keluar jendela


Tanpa cimberly sadari dito melihat berly dan tersenyum, senyuman aldito tidak bisa di artikan


" Buaya" ucapku


" Lo uda izin sama veril?" tanyaku


" Emm ehh itu ya uda kok" ucap dito gagap, padahal dito belum izin ke veril tapi dia gak ngomong ke berly


" Emm syukur deh, dia marah gak" tanyaku lagi


" Gak kok, uda ah lo tenang aja ini urusan gue" ucap dito


" Emm" ucapku mengangguk


" Oh iya kita mau kemana sih" ucapku penasaran


" Uda lo duduk aja, nanti juga tau" ucap dito


" Emm iya-iya, btw masih lama" ucapku


" Sekitar setengah jam lagi" ucap dito


" Hem" ucapku menarik nafas. Beberapa menit tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur. Setengah jam berlalu akhirnya sampai juga, tapi saat itu aku masih tertidur dito pun membangunkan ku.


" Tub uda sampek nih" ucap dito tapi gak ada jawaban dari ku, dito pun menoleh dan melihat aku tertidur


" Ya elah pakek tidur segala nih kutub utara" ucap dito tersenyum. Dito pun ingin membangunkan berly tapi tiba-tiba dia berhenti tepat di samping wajah berly. Dito pun melihat berly tertidur dengan posisi yang dibilang cukup dekat. Dito pun tersenyum dan berkata


" Tub loh kok dingin banget sih jadi cewek" ucap dito tersenyum dan mencoel-coel pipi berly, dito pun tertawa


" Lucu juga nih anak kalau tidur " ucap dito, saat dito mencoel-coel pipi berly, berly pun merasa terganggu dan mulai sadar tapi dito langsung berpura-pura membangunkannya


" Woy tub bangun uda sampek nih kita, kebo banget sih lo" ucap dito


" Hem uda sampek" ucapku mengucek-ngucek mataku, aku pun melihat dito dan tertawa


" Hehe uda sampek ya, maaf ya buaya gue ketiduran" ucapku cengengesan


" Iya uda sampek, ayo turun" ucap dito sedikit ngegas


" Yaelah yauda gak usah ngegas juga kali" ucapku sinis dan turun dari mobil. Saat aku turun dari mobil aku terpesona dengan pemandangan yang ada di depan mata gue. Begitu sejuk dan asri banyak pohon-pohon hijau dan sangat indah.


" Buaya ini dimana, masyaallah cantik banget tempatnya" ucapku memutar bola mataku menelusuri yang ada di tempat itu


" Iya tempatnya emang enak, sejuk dan adem" ucap dito menghirup udara


" Ini adalah tempat favorit gue waktu gue lagi ada masalah dan gak ada orang yang tau tempat ini selain gue dan sekarang lo" ucap dito


" Gue?" ucapku heran


" Kenapa lo malah ajak gue bukan veril, veril kan pacar lo" ucapku


" Gak papa gue mau ajak lo aja" ucap dito tersenyum


" Yauda ayok di dalam lebih bagus lagi" ajak dito dan menarik tanganku. Aku pun mengikuti langkah dito. Tapi tiba-tiba dito berhenti secara mendadak dan membuat aku menabrak punggungnya.


" Aduh, lo ya buaya kalau berhenti itu bilang-bilang" ucapku memegang kepalaku


" Hehe ya maaf" ucap dito cengengesan


" Oh iya lo harus tutup mata lo dulu tub" ucap dito menutup mataku dengan kain


" Lah lah kenapa mata gue ditutup gini" ucapku heran


" Uda lo nurut aja " ucap dito dan mulai membimbing aku berjalan.