
Tak pernah ada kata menyerah dan kalah dalam kamus hidup ku, kini aku dan Tuhan kembali menyusun rencana indah takdir kita.
Meski aku harus sedikit berjuang menyingkirkan duri dalam pengorbanan ini.
Tunggu, Kita pasti bersatu didalam takdir yg indah karan-Nya.
Refanza Alfrando Aldrian
------------------------------------------------------
Hembusan angin malam sedikit terasa ngilu di tulang, entahlah mungkin memang cuaca sedang tak bersahabat, sudah beberapa hari ini langit malam tak pernah menghibur dengan menampilkan bintang-bintang maupun sinar rembulan, kini langin hanya di hiasai dominan warna hitam kelabu, dan kibasan angin yg menerbangkan dedaunan, terkadang pula menggoyangkan pohon hingga terlihat hampir tumbang, membuat siapapun enggan berlama-lama di luar rumah, karna dinginnya angin malam.
Namun cuaca saat ini tak menyurutkan zeyna untuk terus berada di rumah sakit, jika orang lain berfikir, akan lebih baik di rumah bergelut dengan kasur empuk dan selimut tebal, namun ini lah tugas nya untuk meraih gelar dokter.
"Zey, ikut bersama suster menjemput Aluna di ruangannya, karna menurut saya Aluna sangat nyaman berada di dekat mu, kamu bisa memotivasi dan memberinya semangat pasti dia kuat dan tidak takut lagi." Pinta dokter ibran pada zeyna.
"Baik dok," Tutur zeyna menganggukan kepala.
-------
"Assalamualaikum.." sapa zeyna.
"Wa'alikumsalam.. Tante cantik." sapa Aluna antusias.
"Wa'alikumsalam... nak zeyna." Sapa Fatma lembut.
ruangan ini terasa kosong menurut zeyna, entahlah Karna apa, ia lihat keseluruhan penjuru ruangan tersebut namun nihil, ia tak menemukan yg memuaskan hatinya.
Mungkin kah ia mencari Alfran?, ahh itu tak mungkin. ya, tak mungkin, justru ia senang Alfran tak ada di ruangan ini, namun sepertinya hati zeyna mengkhianati, mengapa begitu hampa terasa.
Itulah gejolak yg sedang mengisi relung hati zeyna, sedikit berontak dengan keadaan yg tak jelas yg kini ia rasa.
"Nak.. sedang mencari siapa, Alfran ?." Tanya Fatma menyadari gerak-gerik zeyna seperti mencari seseorang.
"Ahha tidak Bu. oh ya Bu, kita harus bawa Aluna ke ruang kemo sekarang." Tutur zeyna sebari berjalan mendekati ranjang Aluna yg diangguki oleh Fatma.
"Hei cantik, apa kabar ?." Tanya zeyna lembut.
"Tadi Luna lemes banget Tante, tapi pas Tante cantik Dateng Luna langsung gak lemes lagi, sekarang Luna udah semangat." Tutur Aluna dengan suara sedikit serak, membuat zeyna menganggukan tersenyum.
"Sayang, Aluna gak takut kan mau kemoterapi lagi." Tanya zeyna meyakinkan.
"Enggak Tante, asalkan Tante temenin Luna ya, ya Tante. Luna gak mau sendirian ditempat gelap itu." Lirih Aluna membuat hati zeyna terenyuh.
"Iya sayang, nanti Tante zeyna temenin, Tante pegang tangan Luna seperti ini." Tutur zeyna sembari menggenggam erat tangan Aluna membuat nya tersenyum tulus.
"Aluna pasti bisa, Aluna harus ingat bahwa selalu ada Allah dan Mama Aluna yg nemenin Aluna, gak cuma Tante, inget ya sayang." Tutur zeyna memberi semangat yg diangguki Aluna dengan senyum yg menghiasi wajah pucatnya.
Dibalik mereka berdua yg sedang mengobrol serta Fatma yg menemani, mereka tak sadar jika seseorang tengah memperhatikan mereka, ya ia adalah Alfran. Ia sedari tadi menguping percakapan antara zeyna dan Aluna dengan hati pilu.
Ia tak ingin menganggu bidadari kecilnya yg sedang bahagia, ia juga masih betah melihat senyum bahagia Aluna, ia bersyukur mengenal zeyna walau dengan keadaan yg bisa dibilang tidak baik, karna zeyna adalah sumber terciptanya senyum manis dibibir Aluna kini.
"Aluna siap!" Tanya zeyna sekali lagi meyakinkan.
"Siapp Tante." Tutur Aluna.
"Suster mari bawa pasien ke ruang kemoterapi." Tutur zeyna yg diangguki oleh 3 suster dibelakangnya.
"Bu Fatma, mari" ajak zeyna pada Fatma ketika Aluna hendak dibawa menuju ruang kemoterapi.
"Mari, nak" ucap Fatma sembari tersenyum.
Ketika sampai di depan pintu ruang rawat Aluna, ada Alfran dengan wajah datarnya memperhatikan mereka,
"Om Alfran" sapa Aluna.
"Hei cantik, ciee.. udah gak takut nih" tanya Alfran.
"Udah gak dong, kan ditemenin Tante cantik terus ditemenin Mama sama Allah." Tutur Aluna polos, ucapan Aluna membuat hati Alfran mengeras kala mengingat Mama Aluna, kakaknya.
"Pinter banget sih, siapa yg ngajarin." tanya Alfran menurunkan egonya, sebab dia tak boleh emosi di waktu yg tidak tepat.
"Tante cantik donggg." Tutur Aluna antusias membuat Alfran dan zeyna secara bersamaan tersenyum tulus.
"Om Alfran sama Tante cantik nikah aja, biar nanti kalok Tante cantik punya dedek bayi, Aluna ada temennya, ya Om." Tutur Aluna membuat Alfran terkekeh, dan membuat zeyna memalingkan muka tersipu.
"Ahhahaa siapp bos, besok Om sama Tante cantik ini nikah, terus punya dedek bayi banyak biar Luna gak kesepian lagi, okeee anak baik." Tutur Alfran membuat gerakan hormat, dan semakin membuat pipi zeyna merona, ia segera mungkin mengubah mimik wajahnya ketika Alfran beralih menatapnya.
"Horeeee, Luna jadi gak sabar deh." Tutur Aluna senang.
"Sabar dong, kan lagi proses.
Okee, sekarang Luna ke ruang kemoterapi dulu ya." Tutur Alfran yg diangguki Aluna.
-------
"Dok," sapa zeyna di ruangan dokter ibran.
"Bagaimana?" Tanya dokter ibran.
"Aluna sudah siap dok." Tutur zeyna yg diangguki dokter ibran.
Saat gundah di hati menghampiri, ingatlah Allah ingin engkau menyambangi di dalam kesucian sujud pada-Nya.
Sesibuk apapun dirimu, tempat terampuh berserah diri hanyalah pada-Nya.
Sudah hampir 8 jam proses kemoterapi berjalan, namun belum ada tanda-tanda akan selesai.
Pintu ruang kemoterapi masih setia diam membisu tanpa seorang pun membukanya.
Alfran dan Fatma berdiri berjauhan namun perasaan yg sama, yakni khawatir akan keadaan Aluna yg saat ini tengah berjuang melawan penyakitnya.
Sementara didalam ruang kemoterapi kepanikan terjadi luar biasa, kemo yg seharusnya hanya memakan waktu 3-6 jam kini berubah memperlambat.
Dokter ibran yg notabene dokter spesialis anak, sudah hampir putus asa, begitu pun dengan dokter-dokter yg lain termasuk zeyna.
"Ini pasti masih ada kemungkinan lain dok, kita usahakan dulu." Tutur zeyna meyakinkan dokter ibran dan dokter-dokter spesialis yg lain.
"Bagaimana." Tanya dokter ibran pada dokter-dokter spesialis yg lain.
"Maaf dok, tidak ada upaya lagi, parasit telah merusak bagian syaraf yg merupakan bagian vital manusia, pasien tidak sulit kemungkinan untuk sembuh." Tutur salah seorang dokter spesialis syaraf membuat zeyna memundurkan langkahnya kebelakang karna syok.
"Aluna..." lirih zeyna.
"Dok pasien kritis." Tutur seorang suster membuat zeyna dan para dokter spesialis mengalihkan pandangan pada Aluna.
"Siapkan alat-alat." Seru dokter ibran.
Kini hidup Aluna hanya tinggal harapan dari Tuhan, mencoba menolak takdir pun dirasa tak ada gunanya. Karna sang illahi Robbi telah menyerukan dalam firman-Nya,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan" [al-'Ankabût/29:57]
"Bagaimana keadaan Aluna dok." Tanya zeyna gemetar.
"Keadaannya kritis, namun pasien masih sadar." Tutur dokter ibran.
"Tante...." panggil Aluna pelan, membuat zeyna mengalihkan pandangan ke Aluna dan dokter ibran bergantian yg diangguki dokter ibran, seolah memberi isyarat untuk berbicara pada Aluna.
"Iyaa sayang, ini Tante" lirih zeyna pelan.
"Tante.. Aluna capek." Lirih Aluna pelan membuat zeyna meneteskan air mata.
"luna, liat Mama sama Papa senyum ke luna.., mereka pake baju putih.. Mama.. cantik banget, Papa juga ganteng.." Tutur Aluna tertatih membuat zeyna semakin menangis.
"Tante cantik gak boleh nangis.. Luna mau ikut Mama sama Papa, luna seneng banget" Tutur Aluna sambil mengusap air mata zeyna dengan tangan lemahnya.
"Tante.. Luna mau Tante jagain Om supaya gak dimarahin terus sama Kakek, Tante harus buat Om sayang sama nenek." Pinta Aluna pelan yg diangguki zeyna dalam tangisnya tanpa mampu menyangkal omongan Aluna.
"Tante.. Luna capek, Luna mau tidur... dulu.. ya.." Tutur Aluna melemah dan memejamkan mata.
"Aluna...." panggil zeyna menangis, membuat para dokter yg menyaksikan adegan itu langsung bertindak memeriksa keadaan Aluna.
Namun hanya sebentar, sebelum akhirnya mereka saling menatap satu sama lain sembari menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat bahwa Aluna telah tiada.
"Allah lebih sayang Aluna, saya tidak tau sedekat apa kamu sama Aluna, zey. Yg pasti kamu harus sabar." Tutur dokter ibran menyemangati, membuat zeyna terdiam meresapi ucapan dokter ibran.
"Beri tau keluarganya." Tutur dokter ibran memerintah salah satu suster.
"Baik dok." jawab seorang suster didalam ruangan tersebut.
-------
Pip
Lampu ruang kemoterapi mati membuat Alfran dan Fatma bernafas lega.
Dan pintu terbuka menampilkan suster yg keluar dari dalam ruangan tersebut.
Alfran dengan sigap menghampiri suster itu.
"Bagaimana cucu saya sus." Tanya Fatma menimpali.
"Maaf pak Bu, kami sudah melakukan yg terbaik, tapi Tuhan mempunyai kehendak lain, Aluna telah meninggal dunia di tengah proses kemoterapi." Tutur suster menjelaskan membuat Fatma langsung menangis dan Alfran, ia syok bahkan tidak percaya.
"Bicaralah yg serius, jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu" tawa hambar Alfran.
"Bu.." panggil zeyna keluar dari ruang kemoterapi.
"Bu Fatma yg sabar ya, Allah lebih sayang sama Aluna." Tutur zeyna menguatkan Fatma yg lemas karna terus menangis, kemudian membawa Fatma dalam pelukannya.
"Zeyna, katakan jika ini tidak benar, Aluna baik-baik aja kan?" Tanya Alfran membuat zeyna menatap sendu kearah Alfran.
"Yg suster katakan benar pak, Aluna telah pergi selamanya." Tutur zeyna lirih menahan tangis sembari mengeratkan pelukannya pada Fatma.
"Aluna... sayang..." lirih Fatma.
"Munafik, Anda senang kan Aluna meninggal, inikan yg anda mau, menyingkirkan satu per satu keluarga kami karna Anda ingin menguasai harta papa, puas Anda sekarang. Apa setelah Aluna sekarang giliran saya yg akan Anda singkirkan haah, jawab." Tutur Alfran marah pada Fatma membuat Fatma semakin menangis, zeyna yg menyaksikan itupun terkejut.
"Pak, apa yg terjadi pada Aluna itu murni karna takdir sang illahi bukan sesuatu yg direncanakan." Tutur zeyna menyanggah.
"Zey, kamu gak tau apa-apa perihal wanita ular ini, yg perlu kamu tau bahwa hati wanita ini busuk didalamnya." Jelas Alfran menahan emosi.
"Alfran.." panggil Fatma karna merasa dipojokkan.
"Astaghfirullah... pak, ini ibu Anda, seharusnya Anda bersikap sopan, jangan menyakiti perasaan nya." Tutur zeyna menasehati.
"Dia bukan ibu ku, dia wanita ular perusak rumah tangga orang tuaku!" Geram Alfran marah, membuat zeyna kembali terkejut mengetahui fakta yg baru ia ketahui membuat ia diam seribu bahasa.
"Alfran.. maafin mama.." Tutur Fatma menangis.
"Maaf, setelah apa yg kau lakukan pada Mama dan kakak ku dan sekarang Aluna, kau masih bisa bilang maaf." Tutur Alfran murka membuat zeyna bergidik ngeri dan langsung melangkah pergi menjauhi zeyna dan Fatma.
"Maafin mama nak... hiks.." lirih Fatma.
"Ibu yg sabar ya, zeyna memang gak tau apa-apa antara ibu dan pak Alfran, tapi zeyna tau apa yg ibu rasakan." Tutur zeyna lembut yg diangguki oleh Fatma.
"Mungkin ini yg dibilang Aluna supaya pak Alfran sayang sama Bu Fatma, ternyata mereka bukan ibu dan anak kandung, Astaghfirullah.. semoga aku bisa menyatukan keduanya agar mereka saling menyayangi tanpa dendam dihati." Tutur zeyna membatin.
"Bu, jenazah Aluna akan segera dibawa kerumuh duka, sus tolong bawa Bu Fatma ke dalam." Tutur zeyna diangguki oleh suster yg sedari tadi menyaksikan adegan antara mereka.
"Iya nak." Seru Fatma.
"Saya permisi memberi tahu pak Alfran ya Bu" pamit zeyna yg diangguki oleh Fatma.
Sebenarnya ia tak ingin menemui Alfran, namun ia tak boleh membesarkan egonya dan membawa masalah pribadi ke dalam kariernya, kewajiban tetaplah kewajiban ia harus menjalankannya tanpa pandang bulu.
--------
Ia mencari Alfran ke pejuru rumah sakit, namun nihil ia tak menemukannya. Lalu Ia mencoba mencari di parkiran rumah sakit, dan mobil Alfran masih terparkir di sana. ya, ia masih ingat betul mobil yg hampir menabraknya waktu itu, sebuah mobil yg menjadi saksi pertama kalinya ia bertemu dengan Alfran.
Ia terus mencari Alfran hingga keluar lingkungan rumah sakit, dan.. ya, zeyna melihat Alfran sedang duduk bersama dua bocah pengamen jika ia tak salah duga..
Zeyna berjalan menghampiri Alfran dan kedua pengamen itu, ia sayup-sayup mendengar Alfran berkata dengan lirih, namun tak begitu jelas terdengar hingga ia terus berjalan mendekat.
"Assalamualaikum.." sapa zeyna.
"Wa'alikumsalam..." sapa Alfran dan kedua bocah pengamen itu.
"Zeyna.." seru Alfran.
"Anak-anak kalian bisa gunakan uang ng ini untuk membeli makanan, dan membeli obat untuk ibu kalian. ini, sambil." Tutur Alfran pada kedua bocah laki-laki yg benar dugaan zeyna bahwa mereka adalah pengamat.
"Ini beneran Om, makasih ya Om. Kita pamit dulu Om, Tante." Pamit kedua bocah pengamen itu.
"Maaf pak mengganggu Anda, saya hanya ingin memberi tahu bahwa jenazah almarhumah Aluna akan segera di bawa ke rumah duka." Tutur zeyna menjelaskan membuat Alfran tertunduk sembari memijat keningnya.
"Zey, bisakah kamu menemaniku sampai semua prosesi pemakaman Aluna selesai?" Tanya Alfran.
"Maaf pak, tapi saya,"
"Aku mohon zey, saat ini hanya kamu yg berarti di hidupku." Tutur Alfran meminta membuat zeyna terkejut sekaligus terheran.
"Tapi kenapa saya pak, saya bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan keluarga bapak, saya mungkin hanya akan ikut mengantarkan jenazah Aluna hingga sampai di rumah duka, saya mesti mencari uang untuk mengganti uang bapak yg digunakan untuk pengobatan ummi saya." Tutur zeyna masih menolak dengan nada dingin diakhir kalimat.
"Aku mohon untuk saat ini, tolong temani aku, hanya kamu penyemangat ku satu-satunya saat ini, untuk biaya kamu tak perlu ambil pusing, kau bisa menerima tawaran ku Tempo hari, maka semua selesai. please help me." Tutur Alfran sembari hendak memegang tangan zeyna, namun zeyna langsung sigap mengalihkan tangannya, membuat Alfran menunduk dan menarik kembali tangannya.
"Baiklah saya akan ikut sampai prosesi pemakaman Aluna selesai. tapi maaf pak, saya tetap akan mengembalikan uang bapak secepatnya. Tutur zeyna kesal dengan Alfran, namun ia tahan.
"Oke oke, kalau gitu kita pergi sekarang." Tutur Alfran menyadari mood zeyna ketika ia membahas mengenai tawarannya.
-------
Hari ini kau pergi tanpa pamit, menyisakan rasa penyesalan tiada akhir.
Hari ini kau menutup mata untuk selamanya, hari ini kau berpetualang mencari kebahagiaan di sisi Tuhan.
Pergilah sayang, sampaikan salam pada sang pencipta yang Maha Agung.
"Aluna.." tampak Fatma masih menangis jenazah Luna ketika tiba di rumah duka.
Keadaan disana sudah ramai sekali orang bertakziah, semerbak wangi bunga menyambut kedatangan jenazah Aluna, disertai gerimis yg mengiringi.
"Ibu yg sabar, ibu yg kuat. Aluna udah gak ngerasain sakit lagi sekarang, Aluna udah bahagia Bu, Allah lebih sayang sama Aluna, Allah gak mau Aluna merintih kesakitan lagi Bu, ibu ikhlas ya." hibur zeyna pada Fatma yg diangguki Fatma dalam tangisnya.
Zeyna bersama Fatma mengiringi jenazah Aluna yg hendak dimandikan dan dikafani, zeyna langsung ikut andil dalam pemandian dan mengkafani jenazah Aluna, ia sudah janji untuk mengikuti prosesi hingga selesai.
Tak lama setelah jenazah Aluna selesai dimandikan dan dikafani, terdengar suara keributan dari luar, ia dan beberapa orang yg ikut membantu mengurusi jenazah Aluna bertanya-tanya ada apa diluar sana.
"Saya permisi keluar sebentar bu, melihat apa yg terjadi diluar." Pamit zeyna yg diangguki orang-orang yg ada ditempat tersebut.
"Sekali lagi saya tanya, untuk apa anda datang kesini!. Untuk berpesta atas kematian Aluna, jawab! Untuk apa anda kemari." Murka Alfran pada laki-laki berumur di samping Fatma.
"Alfran, jaga ucapan mu pada papa, dasar anak tidak tau diri. Sudah untung kamu papa besarkan, anak tidak tau berterimakasih. Aluna itu cucu papa satu-satunya, jadi papa berhak melihat Aluna untuk yg terakhir kali." Tutur laki-laki berumur itu yg ternyata adalah Hendrawan, papa Alfran tak kalah murka.
"Omong kosong, peduli apa anda pada Aluna, haah. Pergilah bersama wanita ular ini, pergi!!" Murka Alfran lagi.
"Kau." Seru Hendrawan langsung menghadiahkan bogem mentah ke wajah Alfran, membuat Alfran terjatuh.
"Shitt.. sialan" seru Alfran menahan perih di bibirnya yg terlihat sobek.
Terlihat beberapa orang langsung melerai pertikaian di antara anak dan ayah itu. Dan beberapa orang membantu Alfran untuk bangkit dan membawa Alfran masuk.
"Nak Zeyna, tolong obati Alfran." Pinta Fatma menatap zeyna.
Dengan sigap Zeyna menyusul Alfran masuk kedalam.
"Biar saya obati pak, tidak papa silahkan bapak-bapak kembali mengurusi pemakaman Aluna." Tutur zeyna sopan pada orang-orang yg membantu Alfran.
"Tunggu sebentar pak, saya Carikan kotak obat dulu." Pamit zeyna pada Alfran yg sedang menahan sakit di bibirnya.
Sikapmu membuat ku semakin gencar meminta Tuhan menyatukan kita dalam mahligai pernikahan.
Tutur katamu yg lembut membuat jantung ku berlomba mencapai titik bahagia.
Terimakasih, hadirmu yg belum sepenuhnya milikku, membuatku merasa bahagia yg sesungguhnya.
"Maaf pak," Tutur zeyna mengobati luka di bibir Alfran, membuat Alfran leluasa memandang zeyna yg ada dihadapannya.
"Pak, saya mohon bapak menjaga pandangan bapak, jangan menatap saya seperti itu, itu merupakan zina mata" Tutur zeyna kesal karna Alfran terus-menerus memandang zeyna.
"Aww.." seru Alfran ketika zeyna menekankan kapas pada luka Alfran.
"Pelan-pelan sayang" Tutur Alfran berusaha menyeringai sambil menahan sakit membuat zeyna muak melihatnya.
"Sudah selesai, saya mau kembali membantu yg lain, sebentar lagi jenazah Aluna akan dikebumikan, saya permisi." Pamit zeyna pada Alfran yg terus-menerus memandang zeyna hingga tak terlihat di pelupuk matanya.
--------
~At pemakaman~
"Aluna yg tenang disana ya sayang, sekarang Aluna udah bisa kumpul sama Mama, Papa dan Oma, pasti Aluna bahagia banget kan" tutur Alfran memandang gundukan tanah basah tempat peristirahatan terakhir Aluna.
Hanya tersisa Alfran dan zeyna yg memayungi Alfran di tempat itu, karna pelayat yg lain sudah kembali pulang karna hujan yg kini mengguyur kota Semarang yg seolah ikut berduka atas kepergian sosok gadis kecil yg menyejukkan hati siapa saja yg pernah bertatap muka dengannya.
"Aluna, Tante senang sekarang Aluna udah gak ngerasain sakit, Aluna udah bahagia, Aluna do'ain Om Alfran supaya tabah menjalani hidup ya." Tutur zeyna dalam hati.
"Pak, ayo kita pulang, langit sudah semakin menggelap, huja. Juga semakin deras, nanti bapak bisa sakit." Tutur zeyna lembut yg entah ada angin apa ia berkata demikian.
"Baiklah, Aluna sayang Om Alfran sama Tante cantik pamit pulang dulu ya, nanti kita berdua janji akan sering-sering jengukin Aluna, oke.." Tutur Alfran dengan senyum hambar.
"Assalamualaikum.. Aluna" pamit Alfran dan zeyna serempak.
-------
~NO Khalwat UNTIL Akad~
See you next part😉