
Aku disini datang sebab panggilan hati atas jawaban di sepertiga malam yg selalu ku pinta pada sang illahi Rabbi.
Yaa, sebuah pinta untuk menimang mu dengan ridho Allah SWT.
Ali Abdurrauf
------------------------------------------------------
Kulihat telah banyak kepedihan dalam hidup mu dari sudut pandang mataku, aku berharap Allah berkenan memilihkan ku untuk mengubah pilu mu menjadi canda tawa.
Duduk gelisah dan tak sabaran, itulah yg kini tengah Ali rasakan, tak seperti biasanya, kini hatinya berdebar hebat oleh rencana yg bahkan ia sendiri yg menyusunnya.
"Sabar bro, zeyna pasti bentar lagi sampe" hibur Fikri, teman akrab sekaligus teman seangkatan Ali di fakultas pertanian.
"Hmm.. " gumam Ali.
"Sabar Ali, tenangkan hati dan pikiran antum, insyaallah jika Allah memberkahi pasti akan dipermudah" Tutur Syam, ustadz sekaligus musrif (guru dalam kajian intensif) yg juga turut menemani Ali.
"Na'am ustadz, Syukron katsiran wa jazakallah khairan" Tutur Ali menanggapi dengan senyum ketenangan.
"Jazakallah khairan" Tutur ali sembari mengangguk.
Obrolan terus berlanjut antara Ali dan ustadz Syam, dimana ustadz Syam memberi petuah untuk masa depan yg akan Ali jalani nantinya. Hingga mereka mengalihkan pandangan ketika Fikri berbicara dan menunjuk kearah pintu masuk restauran.
"Nahh itu zeyna sama Billa dan .." Tutur Fikri tidak melanjutkan perkataannya.
"Alhamdulillah.." seru Ali lega.
"Loh ummi" Tutur ustadz Syam pelan nyaris tak terdengar.
"Fighting bro, Lo pasti bisa." Tutur Fikri menepuk pundak Ali, menyemangati yg diangguki oleh Ali.
"Assalamualaikum.." sapa zeyna, Billa dan seseorang lainnya berbarengan.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Ali, Fikri dan ustadz Syam.
"Afwan ya kak, zeyna terlambat, Soalnya Billa lama nih." Sesal zeyna pada Ali.
"Yakk, kok gue sih zey, gue kan cuma mampir ke toko buku bantaran doang, gak sampe 30 menit." Tutur Billa menyela sambil memanyunkan bibirnya, ngambek.
"Udah, udah gak papa zey, lagian kita gak lama kok nunggunya" Tutur Ali tersenyum mendengar perdebatan antara zeyna dan Billa.
"Loh Abi kok disini" Tutur ustadzah Arumi yg bersama zeyna dan Billa tadi, yg ternyata adalah istri dari ustadz Syam.
"Hehhe ummi, jadi ini darisah ummi" Tutur ustadz Syam memberi kode yg hanya dimengerti antara dirinya dan istrinya, ustadzah Arumi.
"Hussh Abi" seru ustadzah Arumi memberi isyarat ustadz Syam agar diam.
"Udah ummi, zeyna, Billa silahkan duduk" Tutur ustadz Syam.
"Aduhh ustadzah Arumi nih bikin baper, kalau udah nikah tuh enak ya zey, bisa romantis-romantisan sama my husband, seperti ustadzah tadi" Tutur Billa ngelantur sembari bersandar di pundak zeyna.
"Billaaa" seru zeyna.
"Hehehe.." tawa Billa membuat ustadzah Arumi gemas kemudian mencubit pipi Billa.
"Ustadzah.." Tutur Billa protes pada ustadzah Arumi karena telah mencubit pipinya yg dibalas senyuman oleh ustadzah Arumi.
"Sekali lagi maaf ya kak zeyna telatnya lama banget" Tutur zeyna kembali menyesal akibat keterlambatannya yg diangguki oleh Ali.
"Ali nunggunya memang belum lama sih zey, tapi lumayan bikin Ali keringat dingin hahhha." Goda Fikri.
"Memangnya kenapa kak" tanya zeyna heran.
" Lo tanya aja Ali" Tutur Fikri sambil cengengesan, membuat zeyna tambah bingung.
"Ada apa kak Ali" tanya zeyna mengalihkan perhatian pada Ali.
"Ehmm.. biar ustadz Syam yg akan menyampaikan zey." dehem Ali menetralkan rasa gugup.
"Begini zey, To the point aja ya, supaya berkumpulnya kita disini gak menyebabkan kesalahpahaman, dan mohon kamu dengan baik-baik tanpa menyela terlebih dahulu apa yg akan ana ucapkan" Tutur dan pinta ustadz Syam berhenti sejenak.
"Khumairah zeynasha Khairunnissa, ana disini mewakili Ali Abdurrauf dengan maksud untuk mengkhitbah anti, Ali ingin anti untuk menjadi istrinya, menemani seluruh aktivitas yg insyaallah akan berbuah pahala nantinya, serta menyempurnakan separuh agama.
Zeyna Ali tidak akan mengajak anti ta'aruf, karena jawaban atas hati dan niatnya selama ini selalu terfokus pada anti, itu yg selalu Ali bicarakan pada ana, karena itu ana mewakili Ali ingin bertemu ayah anti guna menyambung tali silaturahmi, bagaimana zeyna ?." Tutur ustadz Syam menjelaskan dengan tenang.
Ada 2 buah kabar, kabar baik yg membuat orang lain bahagia dan kabar buruk yg membuat orang lain menangis pedih,
Berusaha menjadi sebuah kabar baik di segala kesempatan yg membahagiakan.
Entahlah saat ini hati zeyna berdesir menghangatkan mendengar penuturan Ali yg zeyna yakin akhwat manapun yg mendengarnya akan terenyuh luluh hatinya, namun dibalik itu semua ada sebuah perasaan ganjil, ada sebuah hati yg berontak, ada sebuah hati dengan keraguannya, namun zeyna menepisnya, ia berusaha kuat untuk melibatkan iman dalam menentukan calon imamnya bukan hanya mengandalkan hati.
"Hmm.. bismillahirrahmanirrahim ustadz, ustadzah, kak Ali.. afwan, zeyna tidak bisa memutuskan ya atau tidak untuk saat ini, zeyna mau Abi zeyna yg langsung memutuskan atas keridhaannya, zeyna juga membutuhkan waktu untuk istikharah menentukan semuanya, bisakah ?" Tutur zeyna dengan tangan yg menggenggam dingin.
Ali beralih menatap zeyna sekilas setelah zeyna menyelesaikan kata-katanya, membuat Ali membuang nafas setelah sebelumnya menahannya menunggu jawaban zeyna yg membuat hatinya sedikit kecewa dengan jawaban zeyna.
"Bagimana Ali?" Tanya ustadz Syam pada Ali yg termenung.
" Ehh.. ya ustadz, insyaallah Ali siap menunggu" Tutur Ali melegakan hati.
"Lalu anti zeyna?, Mau minta waktu berapa lama ?" Tanya ustadzah Arumi.
"Hmm.. begini ustadz, ustadzah hari ini insyaallah orang tua zeyna sampai di Semarang, mungkin kak Ali bisa langsung menemui orang tua zeyna disini, tak perlu di Lampung, untuk mempersingkat waktu dan amanah dakwah" Tutur zeyna memantapkan hati.
"Alhamdulillah ini berita bagus, Ali, antum hubungi orang tua antum sekarang untuk mencari waktu yg tepat bertemu dengan orang tua dari zeyna." Tutur ustadz Syam.
"Na'am ustadz, Syukron wa jazakumullah Khair ustadz, ustadzah" tutur Ali lega.
"Wa iyyaki ya akhifillah" Tutur ustadz Syam.
"Sah..... sah sah yuhuuu" Tutur Fikri semangat dengan berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, membuat semua orang geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Ente ada-ada aja fik, zeyna menerima Ali saja belum, hahha" tawa ustadz Syam tidak terbentuk dengan tingkat Ali yg semangat.
"Kumat dia ustadz, salah saya juga lupa mengingatkannya minum obatnya ustadz, hahhaa" sambung Ali membuat semua orang kembali tertawa.
"Sa'e lu bro" maki Fikri.
"Sudah, sudah" lerai ustadzah Arumi menengahi Ali dan Fikri.
"Sekarang saatnya makan-makan" seru Billa berteriak semangat, membuat semua orang memusatkan perhatian pada dilla.
"Anak kecil mungil kayak Lo mau makan semangat amat" ledek Fikri pada Billa.
"Ihhh kak Fikri apa'an sih, Billa itu gak kecil mungil ya tapi proposional" sela Billa menggelak.
"Idihh proposional dari mana Lo itu kecil mungil kayak anak kemaren sore" Tutur Fikri terus bercanda.
"Ihhhh... ustadzah liat nih lintah darat item masa ngejek fisik orang, kan gak boleh ya ustadzah." Tutur Billa mencari pembelaan.
" Apa!!! Lintah darat item, nih anak kecil ngejek nih, sini-sini gue jotos" Tutur Fikri mengambil ancang-ancang.
"Sudah-sudah kalian ini Fikri, Billa lama-lama kalian ustadz nikahin nanti" Tutur ustadz syam membuat semua orang terus tertawa melihat kelakuan Fikri dan Billa.
"Ihhh ogah ustadz, bisa gila Billa kalau nikah sama lintah darat item ini" Tutur Billa dengan ekspresi pura-pura jijik.
"Wuiiihh, gue juga ogah kali, anak kecil mungil gak ada body kayak dia mana ada yg mau ustadz, gue sih NO!" Tutur Fikri tak mau kalah.
"Sudah Bill" sela zeyna yg hendak beradu mulut kembali dengan Fikri.
"Tapi zey, ni anak ngeselin banget, rasanya gue pengen.." Tutur Billa dipotong zeyna.
"Billaaa udah" pinta zeyna lagi.
"Sudah-sudah Billa, Fikri udah gak baik saling mengejek, siapa tau Tuhan punya rencana indah dengan mempersatukan kalian untuk saling melengkapi kekurangan yg kalian ributkan tadi" nasehat ustadzah Arumi membuat Billa kembali memasang muka masam.
"Ustadzah..." Tutur Billa dengan nada pura-pura ngambek.
"Hahhha, Afwan, Afwan, tapi gak ada yg mau ngaamiinin nih" tanya ustadzah Arumi.
"Aamiin..." Tutur ustadz Syam, Ali, dan zeyna.
"Ihhhh kalian" Tutur Billa frustasi.
"Semangat menaklukkan jodoh bro" Tutur Ali menyenggol lengan Fikri.
"Apa'an sih Lo" sengit Fikri pada Ali yg ditertawai semua orang kecuali Billa.
"Hahhha..." tawa semua orang menghangatkan suasana.
Dretttt.. Dretttt..
Ditengah kehangatan obrolan dan candaan tiba-tiba handphon zeyna berdering menandakan adanya panggilan masuk.
"Abi.." Tutur zeyna pelan begitu melihat nama yg tertera dilayar handphonnya.
"Afwan semuanya zeyna izin angkat telpon sebentar" pinta zeyna sambil berdiri hendak menjauh dari tempat mereka bercengkrama.
"Tafadhol.." Tutur ustadzah Arumi dan ustadz Syam dengan yg lainnya hanya menganggukkan kepala.
Atas izin semuanya, zeyna keluar dari restauran agar nyaman berbincang dengan Arkam di telpon.
"Hallo, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Abi" sapa zeyna sumringah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh sayangnya Abi, apa kabar nak? Lagi dimana?" Sapa sekaligus tanya Arkam.
"Alhamdulillah bi Khoir Abi, adek lagi di restauran Abi, bagaimana Abi, Abi sudah sampai bandara jendral Ahmad Yani?" Tanya zeyna.
"Alhamdulillah sayang, Abi, ummi, dan yg lainnya baru saja mendarat dengan selamat, adek mau jemput kita atau kita naik taksi aja dek?" Tanya Arkam.
"Alhamdulillah bi, ehh bi jangan naik taksi, biar adek yg jemput sama Billa pake mobil Billa, Abi dan yg lainnya tunggu disana bentar ya, makan-makan dulu aja bi sambil nunggu adek sama Billa." Tutur zeyna menjelaskan.
"Oh gitu, ya sudah Abi tunggu di restauran bandara ya" Tutur Arkam.
"Okee Abi sayang, adek jalan sekarang, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" pamit zeyna.
"Iya sayang Abi tunggu, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Arkam memutuskan telponnya.
Zeyna bergegas masuk kembali kedalam restauran untuk pamit dan memberi tau Billa mengenai kedatangan keluarganya dari Lampung.
"Afwan semua, zeyna lama" sesal zeyna.
"Gak papa zey, memangnya siapa yg menelpon?" Tanya ustadzah Arumi.
"Abi zeyna ustadzah, ini sekalian zeyna pamit pulang duluan soalnya mau jemput Abi sama ummi yg di bandara" Tutur zeyna menjelaskan.
"Alhamdulillah ummi Risna sama Abi Arkam udah sampe bandara zey, ya udah yuk kita jemput, gue kangen sama ummi Risna" Tutur Billa sumringah yg diangguki zeyna.
"Tapi ustadzah Arumi?" Tanya zeyna.
"Udah, ustadzah Arumi kan udah punya suami gak perlu di khawatirkan ada suaminya yg senantiasa menjaganya, ya kan mi?" Tutur ustadz Syam yg diangguki ustadzah Arumi.
"So sweet" ledek Billa terpukau.
"Billa jadi pingin nikah secepatnya deh, ya kan zey" sambung Billa lagi.
"Hahhha ada-ada aja kamu Billa" Tutur ustadzah yg ditertawai semua orang.
"Ihhh dasar ..." Tutur Billa terpotong.
"Stop!!! Kalau Billa berantem sama kak Fikri bakalan lama, ayok bill kita pergi sekarang!" Tutur zeyna sambil bergegas berdiri memegang tangan Billa.
"Ustadz, ustadzah, kak Ali, kak Fikri, kita pamit duluan ya , assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" pamit zeyna menarik tangan Billa.
"Ehh ehhh zey, assalamualaikum semua" pamit Billa sambil mengikuti tarikan tangannya oleh zeyna.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati" Tutur ustadzah Arumi dan yg lainnya mengikuti.
Kebahagiaan Haq adalah kebahagiaan yg berasal dari sebuah kasih tulus karena sang illahi robbi.
-------
Susana mencekam masih menyelimuti ruangan Alfran akibat insiden beberapa jam lalu yg membuat emosi Alfran muncak hingga barang-barang di ruangannya hancur berantakan.
Flasback on
Fokus kembali bekerja setelah masa duka atas kepergian Aluna dan masalah penolakan yg dilontarkan zeyna berkali-kali membuat Alfran harus berusaha keras untuk fokus demi memajukan perusahaan lebih dari yg lain, termasuk perusahaan yg ingin ditaklukkannya, perusahaan papahnya.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu membuat Alfran mengalihkan perhatian pada seseorang yg menganggu fokusnya yg membuatnya sedikit geram.
"Masuk!" Tutur Alfran dingin.
"Maaf pak Alfran, ada pak Hendrawan diluar yg memaksa Ingin masuk keruangan bapak" Tutur sekertaris Alfran.
"Cegah dia! jangan biarkan dia menemui saya" tegas Alfran.
"Baik pak, saya permisi" pamit sekertaris Alfran yg di balas anggukan olehnya.
-------
"Maaf pak, pak Alfran sedang tidak tidak bisa di ganggu, mohon bapak menemuinya lain waktu saja" Tutur sekertaris Alfran berusaha terus menghalau Hendrawan.
"Anak kurang ajar!!" Geram Hendrawan atas sikap Alfran yg tidak mau bertemu dengannya.
"Biarkan saya masuk!!, saya ini papah dari bos kalian, dan perusahaan ini masih dalam kepemilikan saya" tegas Hendrawan.
"Tapi pak.." Tutur sekertaris Alfran terus berusaha menghalau namun Hendrawan tetap Keukeh ingin bertemu Alfran.
"Pak, pak Hendrawan" panggil sekertaris Alfran ketika melihatnya menerobos masuk keruangan Alfran.
"Anak kurang ajar, kenapa papah mau bertemu dengan mu kau halang-halangi haah!!" Murka Hendrawan membanting pintu ruangan Alfran.
"Sangat tidak sopan" remeh Alfran dingin pada Hendrawan.
"Kau.. " marah Hendrawan langsung maju menuju Alfran dan melayangkan bogem mentah di wajah Alfran, yg membuat bibir kanannya sobek mengeluarkan darah.
"Kenapa hanya sekali?, kenapa hanya diwajah?, Kenapa hanya menggunakan tangan kosong??, Kenapa tidak menggunakan pistol kebanggaanmu yg pernah kau gunakan untuk membunuh Mama ku? Kenapa tidak kau lakukan itu juga padaku?" Tutur Alfran murka.
"Kau!!" Marah Hendrawan lagi dengan gerakan hendak memukul Alfran lagi namun ia urungkan.
"Kenapa diam, benar kan?" Remeh Alfran dingin, melepas tangan Hendrawan pada kerah bajunya.
"Papah tidak akan lama dan berbasa-basi dengan mu, papag ingin menyampaikan sesuatu" Tutur Hendrawan berusaha mengontrol emosi dan kembali tenang untuk menyampaikan maksudnya bertemu dengan Alfran.
"Papah mau kamu menikah dengan Sandra, anak teman papah, supaya dia bisa merubah sikap tempramenmu" Tutur Hendrawan tenang.
"Anda tidak perlu bersusah payah mencari seseorang yg bisa merubah sikap saya, bukankah sikap tempramen saya warisan Anda, yg memaksa saya menyaksikan adegan tragis atas meninggalnya Mama!!" Seringai Alfran.
"Alfran!! Kematian Mama mu bukan karena papah, itu sudah takdirnya" Tutur Hendrawan terpancing emosi.
"Pokoknya papah mau kamu menikah secepatnya dengan Sandra, dia itu gadis pesantren yg baik dan cantik, papah yakin kamu pasti akan menyukainya" Tutur Hendrawan berusaha tenang dan kembali membujuk Alfran.
"Saya tetap tidak akan menikah dengan siapa pun pilihan Anda, camkan itu!!" Tegas Alfran emosi dan membanting barang-barang yg ada di mejanya.
"Kamu harus.." Tutur Hendrawan terpotong oleh perkataan Alfran dan membuat Hendrawan melongo tak percaya.
"Aku akan menikah dalam waktu dekat dengan gadis pilihan ku!, Bukan dengan pilihan mu!" Tutur Alfran dingin.
"Siapa dia?" Tanya Hendrawan penasaran.
"Anda tidak perlu tau, Anda hanya perlu menunggunya!" tegas Alfran.
"Baik, jika dia yg terbaik yg kamu cintai papah akan dukung, tapi jika dalam satu bulan ini kamu tidak juga menikah dengannya, maka papah tetap akan menikahkan mu dengan Sandra." Tutur Hendrawan mempertegas membuat Alfran menaikkan bahunya tak peduli.
"Papah pergi'' pamit Hendrawan yg tidak digubris oleh Alfran.
"Lihat saja, aku akan segera menikah secepatnya sesuai keinginanmu, dan sesegera mungkin menghancurkanmu seperti dulu kau menghancurkan Mama ku" Tutur Alfran murka.
Flasback off
Dretttt... Dretttt...
Alfran mengalihkan lamunannya pada handphonnya yg berdering dan menampilkan nama Rian.
"Ada berita apa?" Tanya Alfran to the point.
"Saya ada kabar mengenai nona zeyna pak" Tutur Rian.
"Katakan!" Seru Alfran.
"Dari info yg saya dapat hari ini, nona zeyna telah dilamar Ali, kakak tingkat satu kampus dengan nona zeyna pak, mereka berencana akan menggelar pertemuan antara keluarga nona zeyna dan laki-laki itu dalam waktu dekat, dan sekarang nona zeyna sedang menuju bandara jendral Ahmad Yani untuk menjemput keluarganya."Tutur Rian menjelaskan panjang lebar.
"Sial!!!" Murka Alfran membanting handphonnya membuat telponnya terputus otomatis akibat ponsel Alfran yg hancur.
"Zeyna kau... berani-beraninya kau mau menikah selain dengan ku, tunggu saja zey, aku akan menghancurkan pernikahan mu dengan laki-laki sialan itu" maki Alfran murka.
---------
Menyambut bahagia adalah impian semua orang, meninggalkan duka adalah harapan semua makhluk.
Tertawalah bersama membagi suka bukan bersedih bersama Karen duka.
Langkah kaki terus membawa zeyna dan Billa menyusuri bandara jendral Ahmad Yani Semarang, mencari keberadaan orang tua serta kakak-kakak zeyna yg kini sedang menunggunya di restauran bandara.
"Ehh zey, itu bukan?" Tanya Billa melihat siluet yg tidak asing dimatanya.
"Masyaallah Abi, ummi, ayok bill kita samperin" ajak zeyna menarik tangan Billa mendekati keluarganya.
"Assalamualaikum ummi, Abi" sapa zeyna langsung berhambur memeluk Risna.
"Wa'alaikumsalam sayang ummi rindu adek" haru Risna balas memeluk erat zeyna.
"Zeyna lebih rindu dan khawatir sama ummi" lirih zeyna menangis.
"Adek sehat kan?" Tanya Risna melepas pelukannya.
"Alhamdulillah ummi" Tutur zeyna mengusap air matanya dan beralih memeluk Arkam.
"Abi.." panggil zeyna memeluk Arkam.
"Adek juga rindu Abi" Tutur zeyna pilu.
"Abi juga sayang" Tutur arkam menenangkan zeyna.
"Assalamualaikum ummi Risna" sapa Billa.
"Wa'alaikumsalam Billa, sayang" Tutur Risna memeluk Billa.
"Apa kabar nak" tanya Risna.
"Sama seperti zeyna, Alhamdulillah baik ummi" Tutur Billa.
"Alhamdulillah" Tutur Risna melepas pelukannya.
"Aa', uni apa kabar?" Tanya zeyna setelah melepas rindu kepada kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah sehat dek" Tutur Hisyam memeluk zeyna bergantian dengan istri Hisyam.
"Abi Arkam.." panggil Billa sambil bersalaman dengan Arkam.
"Nak Billa, sehat?" Tanya Arkam menepuk bahu Billa.
"Alhamdulillah sehat bi" Tutur Billa kemudian beralih bersalaman dengan Hisyam dan istrinya.
"Ya udah, sekarang kita langsung kerumah yg zeyna sewa aja mi, bi biar ummi, Abi, dan semuanya bisa langsung istirahat, pasti semuanya capek kan?" Tutur zeyna yg di benarkan oleh Billa.
"Yuk mi, bi, kak" ajak Billa kemudian langsung mengambil alih koper kakak-kakak zeyna ketika melihat zeyna membantu membawa koper milik orang tuanya.
"Gak usah bill, berat" cegab Hisyam.
"Gak papa kak, lagian mobil Billa deket kok" Tutur Billa kekeh yg hanya diangguki pasrah oleh Hisyam.
Zeyna dan Billa bagaimana adik kembar bagi Hisyam, Karena keduanya memiliki sifat keras kepala yg sama.
Billa memang sangat akrab dengan keluarga zeyna selain karena Billa adalah anak yatim-piatu, bukan karena orang tuanya telah tiada, melainkan karena ia tak tau siapa dan dimana orang tuanya kini, Karena itu lah Billa menganggap keluarga zeyna sebagai keluarganya juga, dan keluarga zeyna menyambutnya dengan senang hati membuat Billa mendapatkan kasih sayang yg ia idam-idamkan selama ini.
"Rumahnya asih jauh sayang?" Tanya Risna pada zeyna yg berada dipeluknya sedari naik kedalam mobil Billa.
"Sebentar lagi ummi, ummi capek ya? Ummi udah minum obatnya?" Tanya zeyna khawatir.
"Enggak sayang ummi cuma tanya, ummj udah minum obatnya kok tadi pas makan siang" Tutur Risna gemas melihat ekspresi wajah zeyna yg khawatir.
"Ada gang belok ke kanan kak, yg itu kak, maju dikit, nah Sudah sampai" seru Billa membuat Hisyam disampingnya menghentikan mobil.
"Alhamdulillah.." seru semuanya.
"Ayo masuk ummi, Abi, Aa', uni maaf ya zeyna cuma bisa nyewa rumah ini" sesal zeyna.
"Ini udah lebih dari cukup sayang, lagian kita kan gak sampai seminggu disini" Tutur Risna.
"Zeyna tunjukkan kamar ummi sama Abi ya biar bisa langsung istirahat" Tutur zeyna yg diangguki oleh Risna dan Arkam.
"Bill tolong tunjukkan kamar A' Hisyam sama Uni ya" pinta zeyna pada Billa.
"Siap bos, ayo kak ikuti Billa" Tutur Billa.
"Ini kamar ummi sama Abi, langsung istirahat ya mi, bi zeyna mau pergi sebentar sama Billa" Tutur zeyna pamit.
"Mau kemana sayang" tanya Risna.
"Nyari perlengkapan buat sumpah dokter besok" Tutur zeyna.
"Ya udah hati-hati ya" pinta Risna.
"Na'am mi, selamat beristirahat" pamit zeyna.
Sebuah bahagia sederhana adalah berkumpul keluarga dengan diiringi canda tawa, tak perlu mewah, cukup bersama-sama duduk diatas tikar dengan hidangan sederhana di antara keluarga.
NO Khalwat UNTIL Akad
See you Next part๐