
"Aku tak paham, apakah ini yg terbaik untukku atau bukan, aku pasrah, bertawakal kepada Allah, lewat istikharah disepertiga malam terakhir, jawaban terbaik hanyalah dari-Nya"
Khumaira zeynasha Khairunnisa
------------------------------------------------------
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karna yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu".
_Ali bin Abi Thalib_
Sudah lebih dari 15 menit Zeyna menunggu di kantor perusahaan yg diarahkan dokter Ibran itu, namun seorang pegawai dari perusahaan itu memintanya untuk menunggu sampai pimpinan perusahaan tersebut datang.
keadaan ini membuat Zeyna bosan, ia putuskan untuk pergi mencari mushola atau tempat sholat terdekat, Ia ingin mengaji untuk membuat hatinya tenang dan tentu saja agar Ia tak bosan menunggu.
"Afwan Mba, apa di kantor ini memiliki mushola atau tempat sholat?." Tanya Zeyna menghampiri meja resepsionis.
"Ohh ada Bu, ada mushola di lantai paling atas, apa ibu mau sholat?, saya akan menyuruh salah satu pegawai untuk mengantar ibu." titah resepsionis yg bername tag 'winda'
"Tidak perlu Mba Winda, saya akan kesana sendiri saja, saya permisi." Tutur Zeyna sembari melenggang pergi meninggalkan meja resepsionis dan menuju lantai paling atas gedung ini.
------------
Tanamkan dalam diri itu prinsip serba Allah,
Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
Maka keberkahan dan ketentraman hidup dapat kau daki perlahan.
Sampai dilantai teratas gedung ini, membuat Zeyna bingung menentukan pintu mana yg akan membawanya pada mushola, karna ada sekitar tiga pintu pada ruangan luas lantai teratas itu.
"Afwan pak, saya mau tanya, mushola dimana ya?." Tanya Zeyna saat tak sengaja Ia berpapasan dengan seorang OB.
"Itu Bu ruangan pojok kanan." Tutur OB sambil menunjuk ruangan paling pojok.
"Ohh Terimakasih pak." setelah mengucapkan itu Zeyna langsung bergegas ke ruangan itu.
Setelah selesai mengambil air wudhu zeyna masuk kedalam mushola itu, ia begitu takjub melihat interior mushola yg di desain sedemikian indah, hingga Ia dibuat bertanya-tanya mengapa mushola seindah ini dibangun di gedung teratas perusahaan ini, mengapa tak disekitar gedung ini saja, agar orang lain bisa menikmati keindahan dan kenyamanan mushola ini, kemudian Ia kembali tersadar akan tujuannya datang kesini, langsung Ia mengambil Al-Quran dari tasnya dan mulai membacanya.
Sementara ditempat lain para karyawan sibuk menundukkan kepalanya sopan, saat pimpinan perusahaan mereka melewati mereka.
"Selamat siang pak." sapa David sekretaris Alfran yg hanya dijawab dengan anggukan kepala.
"Pak, perwakilan dokter Ibran sudah datang sejak 30 menit yg lalu." Tutur Winda.
"Dimana dia sekarang." tanya Alfran penasaran pasalnya Ia tak melihat ada orang di ruang tunggu.
"Bu Zeyna sedang di mushola lantai atas pak, saya akan panggilkan untuk segera menemui bapak." Tutur Winda sopan.
"Zeyna ?." Ulang Alfran sambil mengerutkan dahinya.
"Iya pak, dokter Ibran mewakilkan kepada mahasiswa co-*** terbaik di rumah sakit itu, yg bernama Bu Zeyna." Tutur David menjelaskan.
"Tunggu aku diruang rapat, aku akan menghampirinya di mushola." titah Alfran dengan senyum menyeringai.
"Baik pak".
•••••••••••
Alfran melangkah dengan terburu-buru hingga sayup-sayup Ia mendengar suara lantunan ayat suci Al-Quran, Al-mujadilah iya Ia ingat betul surat itu.
Sampai ia didepan mushola itu, ia takjub melihat gadis yg menolak lamarannya kemarin sedang khusyu' membaca Al-Quran, Ia memandangnya lama, membuat kedua sudut bibirnya terangkat keatas.
Shodaqollahul adzim..
Alfran terkesima saat zeyna menyudahi membaca Al-Quran tersebut.
Ia bergegas menuju ruangannya, dan menelfon.
"Hallo pak." sapa seseorang diseberang.
"Arahkan Zeyna keruangan ku, dan telfon dokter Ibran untuk mengirimkan beberapa perawat dari rumah sakitnya." perintah Alfran.
"Baik pak." sahutnya dan langsung ditutup oleh Alfran.
1 menit
5 menit
"Huh" lelah Ia menunggu Zeyna, entahlah jantungnya tiba-tiba berdebar kencang tak sabaran,
Hingga bunyi seseorang dari luar pintu ruangannya memecahkan fokusnya.
"Assalamualaikum." sapa lembut Zeyna dibalik pintu ruang yg tertutup.
"Masuk." Sahut Alfran dari dalam, Zeyna masuk atas izin sang punya ruangan tanpa melihat siapa yg tengah duduk dengan wibawa terpancar dari aura tegasnya.
"Silakan duduk Ibu Zeyna yg terhormat." Tutur Alfran dengan seringainya.
Zeyna menoleh mendengar CEO pemimpin perusahaan itu menyuruhnya duduk.
"Aa..anda." gagap Zeyna mengetahui siapa laki-laki itu, menyurutkan niatnya untuk mengikuti perintah Alfran untuk duduk.
"Sepertinya Tuhan memang menjodohkan kita." seringai Alfran.
Mendengar itu Zeyna langsung menormalkan ekspresi terkejutnya.
"Afwan pak, ada apa anda memanggil saya ke sini, bukankah kita seharusnya rapat diruangan meeting?." Tanya zeyna seformal mungkin meski ada nada panik yg mengiringinya.
"Itu tak penting, saya ingin bicara berdua denganmu." Tutur Alfran menahan gejolak aneh pada dadanya saat Ia mengatakan itu.
"Afwan pak, jika Anda ingin membicarakan masalah waktu itu, saya tidak ada waktu, saya harus melaksanakan tugas saya dari dokter Ibran." jelas Zeyna menolak.
"Tidak perlu, saya CEO disini jadi saya berhak mengatur siapapun yg berada di kantor saya, termasuk kamu!." jawab Alfran tenang dan datar walau Ia sadar dadanya tak mau tenang.
Alfran bergerak memundurkan kursi kebersaranaannya kemudian berdiri mendekati Zeyna, sedangkan Zeyna yg didekati langsung mundur menjaga jarak.
"Afwan pak, jika sudah tidak ada yg perlu dibicarakan saya permisi." Tutur zeyna panik sambil akan melenggang pergi, sebelum sebuah tangan memegang pergelangan tangan kirinya.
"Astaghfirullah pak, kita bukan mahrom!." Tegas zeyna sambil melepas pegangan tangan itu.
"Oh oke, oke." jawab Alfran sambil melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Zeyna dan mengangkat kedua tangannya tanda pasrah.
"Saya akan bersikap sopan kalau kamu mau duduk disitu dan berbicara denganku." sambung Alfran menunjuk sofa didekat jendela.
"Afwan pak, No Khalwat Until Akad, jadi saya tidak bisa berbicara berdua dengan Anda, akan banyak sekali kemaksiatan tercipta tanpa sengaja " jelas Zeyna lagi-lagi menolak ajakan Alfran.
Alfran yg mendengar itu geram dan melangkah maju mendekati Zeyna lagi, otomatis Zeyna yg didekati memundurkan langkahnya, hingga tubuhnya menabrak benda dingin, oh good, Ia terjebak antara dinding dan laki-laki posesif ini.
Zeyna mengangkat tangannya menyetop Alfran yg hendak melangkah maju mendekatinya lagi, Alfran berhenti dengan senyum menyeringai.
"Menikahlah dengan ku!." Tegas Alfran didepan wajah zeyna.
Ucapan Alfran sontak saja membuat Zeyna tergidik ngeri, mungkin jika saat ini yg melamarnya adalah seorang pria sopan dan berakhlak dengan mudah Ia akan berkata untuk menemui Abi nya di lampung, tapi kenyataannya Alfran lah yg mengatakan itu. Ia tak suka, tak suka dengan sikapnya, tak suka dengan sifat sombong dan masih banyak lagi yg Ia tak suka dari Alfran, jujur saja Ia tak mau menerima Alfran karena ia hanya ingin menikah dengan orang biasa-biasa saja yg bisa membahagiakan nya dan saling melengkapi, dan tentu saja yg bisa membimbing ke Jannah-Nya.
"Afwan pak, jawaban saya masih sama seperti di toko bunga itu." Tutur zeyna tegas.
"Kau.." ucapan Alfran terpotong karna ketukan di pintu ruangannya.
"Arghh sial!." Geram Alfran pelan.
Alfran membuka pintu itu menampilkan David dalang dibalik kegeramannya tadi.
"Ada apa!." Bentak Alfran murka.
"Ma.. maaf pak, saya hanya ingin memberi tahu kalau bapak dan Bu Zeyna ditunggu di ruang rapat." Tutur David was-was.
"Persetan dengan itu. Sudah ku bilang, aku.." ucapan Alfran kembali terpotong dengan ucapan Zeyna.
"Baik pak David saya kesana sekarang." kesempatan ini Zeyna gunakan untuk kabur dari pria pemaksa itu.
setelah mengucapkan itu Zeyna langsung melenggang pergi dari ruangan Alfran menuju ke ruang rapat.
"Arghh, pergi lah aku akan menyusul 5 menit lagi." desis Alfran marah.
"Baik pak, saya permisi." sopan David masih dengan wajah was-was.
Kesempatan mungkin tak datang dua kali, namun harapan akan selalu stay jika kamu mau berusaha.
~NO Khalwat UNTIL Akad~
See you next part😍