NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Selaras Rindu Menepi


Ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Ikhlasnya orang tua, insyaallah menjadi pintu kebaikan dalam mengarungi bahtera rumah tangga yg mawadatan warahmah.


Khumairah Zeynasha Khairunnisa


------------------------------------------------------


Syurganya seorang anak terletak dibawah kaki seorang ibu.


Kendati demikian, ketika seorang anak telah menikah, jika ia seorang laki-laki (Ikhwan) maka syurga tetap terletak di bawah kaki ibu, namun jika ia seorang perempuan (akhwat) maka syurga terletak ditangan suaminya (ridho suami).


Panik dan khawatir kini mengiringi zeyna, hatinya tak henti-hentinya berdoa dan berikhtiar kepada Allah tentang keadaan Ali, keadaan ini membuat Risna bingung atas kepulangan zeyna beberapa menit lalu dengan wajah gelisah.


Tok.. tok.. tok..


Ketuk Risna pada pintu kamar zeyna, ia ingin tau apa yg membuat zeyna memiliki beban pikiran yg berat hingga merenggut senyuman yg biasanya menghiasi wajah cantik zeyna.


"Assalamualaikum dek, boleh ummi masuk?" Tanya Risna didepan pintu kamar zeyna.


"Wa'alaikumsalam ummi, tafaddholi mi" Tutur zeyna mempersilakan Risna masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa ummi?" Tutur zeyna menuntun Risna untuk duduk di tempat tidurnya.


"Ummi yg seharusnya bertanya seperti itu, adek ada apa ? Ada masalah sama Ali ?" Tanya Risna beruntun.


"Tidak ummi, adek tidak ada masalah dengan kak Ali, adek cuma sedikit khawatir aja" Tutur zeyna jujur.


"Khawatir? Khawatir kenapa sayang? Khawatir sama siapa?" Tanya Risna ingin tau masalah yg tengah zeyna hadapi.


"Ummi ingat seseorang yg adek ceritanya tempo lalu, CEO yg terobsesi ingin adek jadi istrinya? Dia murka tau adek akan menikah dengan kak Ali ummi, dia bilang dia sedang mengirim orang suruhannya untuk memberi pelajaran pada kak Ali karena sudah berani melamar adek menjadi istrinya, Adek khawatir dia nekat sama kak Ali ummi, adek harus gimana, adek sudah minta tolong Abi untuk hubungi kak Ali tapi handphonnya mati kata Abi mi." Tutur zeyna menjelaskan dengan lirih.


"Astaghfirullah, coba adek terus hubungi Ali pakai ponsel Abi ya, adek do'ain Ali supaya gak terjadi apa-apa, adek juga harus bisa mengingatkan kepada CEO itu, jika pernikahan tidak boleh atas dasar dipaksakan, jika dia memang benar-benar mencintai adek bukan sebatas obsesinya ummi yakin dia akan menggunakan cara shahih untuk mendapatkan adek atas izin Allah" Tutur Risna memberi petuah.


"Na'am ummi, do'ain adek selalu ya, supaya adek selalu dalam jalan yg benar atas perintah dan irrodah Allah" Tutur zeyna memeluk Risna.


"Tidak ada seorang ibu yg tidak mendo'akan anak-anaknya, ummi pasti selalu mendo'akan adek setiap saat" Tutur Risna membalas pelukan zeyna sambil mengusap sayang kepada zeyna.


"Ya udah, adek istirahat besok kita harus pulang ke Lampung, ummi mau lanjut packing buat besok" Tutur Risna mengingatkan.


"Na'am ummi." Patuh zeyna melepas pelukannya pada Risna yg melangkah meninggalkan kamar zeyna.


"Bismillah.. aku coba hubungi kak Ali lagi aja, siapa tau ada jawaban" Tutur zeyna meyakinkan hatinya sambil mengambil handphonenya yg ia letakkan di meja dekat tempat tidurnya.


"Abi.." panggil zeyna melihat Arkam sedang duduk di teras rumah sewaannya.


"Iya sayang ada apa? Mau hubungi Ali lagi?" Tanya Arkam.


"Na'am Abi, apa kak Ali sudah bisa dihubungi?" Tanya zeyna.


"Coba Abi hubungi lagi ya" tutur Arkam mengambil ponselnya dan menghubungi Ali kembali.


"Alhamdulillah tersambung." Tutur arkam membuat zeyna lega.


"Hallo, assalamualaikum bi, ada apa bi?" Tutur Ali dengan nada menahan perih diseberang telpon.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Ali, ini zeyna Ingin berbicara dengan mu." Tutur arkam memberikan ponselnya pada zeyna.


"Na'am bi." Tutur Ali sebelum Arkam memberikan Ponselnya pada zeyna.


"Hallo.." sapa zeyna memberi kode meminta izin menjauh untuk menerima telpon dari Ali pada Arkam yg diangguki oleh Arkam sebagian tanda mengiyakan.


"Hallo.. assalamualaikum zey, ada apa?" Tanya Ali.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh kak Ali, kak Ali baik-baik saja?" Tanya zeyna khawatir.


"Alhamdulillah.. aku baik-baik saja zey, hanya tadi ada sedikit insiden kesalahpahaman yg terjadi." Tutur Ali.


"Sudah zeyna duga terjadi sesuatu pada Kak Ali kan? Kak Ali maafkan zeyna" lirih zeyna.


"Zeyna tau sesuatu atas insiden ini?" Tanya Ali.


"Seseorang mengancam zeyna, jika tidak membatalkan pernikahan zeyna dengan kak Ali, maka orang itu akan melukai kak Ali, dan orang itu tidak main-main, sekarang kak Ali terluka kan? Apa parah sekali kak? Afwan kak Afwan" lirih zeyna sambil meneteskan air mata yg tidak dapat dilihat Ali.


"Astaghfirullah zey, ini bukan salah anti, Syukron anti mau mempertahankan niat suci kita untuk menikah, Syukron anti tidak meminta ku membatalkannya, insyaallah ini mungkin ujian dari Allah menuju mahligai bahagia pernikahan kita nanti, insyaallah. Jadi udah ya anti jangan merasa bersalah.


"Ya Allah kak, sekali lagi afwan ini semua karena zeyna." Tutur zeyna lirih.


"Sudah zey, tidak papa jangan jadi beban ya, lagian aku sudah lebih baik." Tutur ali meyakinkan.


"Kak Ali serius?" Tanya zeyna lagi.


"Iya zey, udah ya jangan khawatir lagi." Pinta Ali.


"Na'am kak, klk gitu zeyna tutup ya telponya, sudah mau adzan ashar, assalamualaikum." Pamit zeyna.


"Na'am, wa'alaikumsalam.." tutur Ali mengakhiri telponya.


Sebuah keadaan yg lillah tak akan pernah menggoyahkan keimanan, termasuk sebulir cinta karena Allah.


Flasback on


Mengurus berkas-berkas untuk melanjutkan studi menuju gelar magister bukanlah hal sepele, banyak berkas yg harus dipersiapkan, tidak hanya berkas melainkan juga biaya. Ia, Ali beruntung bisa menyelesaikan studi sarjananya tepat waktu, meski ia di jurusan pertanian namun ia tak ingin berkecimpung didunia pertanian untuk masa depannya, ia ingin menjadi seorang pengajar disebuah universitas, ya dosen.


Rencana menjadi dosen diusia muda sudah ia persiapkan, bahkan sejak semester 4 studi sarjananya ia sudah aktif menjadi asisten dosen (asdos) sampai ia lulus, kini ia tak ingin lagi menjadi asisten, ia ingin menjadi dosen sungguhan.


"Assalamualaikum fik, antum dimana ?" Tanya Ali pada Fikri diserang telpon.


"Wa'alaikumsalam, ente yg dimana, gue cari'in lu di antero kampus kagak ada, lo dimana sih, gue di kantin dekat surau nih, buruan kesini bentar lagi kajiannya dimulai" Tutur Fikri.


"Ane lagi di ruangan pak Arif, ngurus berkas, antum tunggu ya ane kesana" Tutur Ali meminta.


"Oke kita tunggu Lo" Tutur Fikri memutuskan sambungan teleponnya.


"Kak Ali.." panggil seseorang dibelakang Ali ketika ia hendak meninggalkan ruangan pak Arif, dosen agroteknologi yg mengangkat Ali menjadi asistennya.


"Assalamualaikum kak" sapa seorang wanita yg tadi memanggilnya.


"Wa'alaikumsalam.. siapa ya? Ada perlu apa?" Tanya Ali pada wanita itu.


"Saya Karina kak, anak MIPA saya cuma mau tanya klk mau gabung ke komunitas surau yg kakak kelola gimana ya?" Tanya Karina pada Ali.


"Ohh, anti silakan hubungi ketua akhwat surau ya, beliau yg akan membimbing anti" tutur Ali menjelaskan.


"Siapa ya kak ketuanya" tanya Karina.


"Zeynasha, anak fakultas kedokteran" Tutur Ali membuat hatinya berdesir menyebut nama zeyna.


"Ohh gitu, terimakasih kak infonya" Tutur Karina.


"Kalau gitu saya pamit dulu kak, assalamualaikum" pamit Karina.


"Tafaddholi, wa'alaikumsalam" Tutur Ali.


Namun ketika karina hendak melangkah pergi meninggalkan Ali, ia tersandung kakinya sendiri hingga ia limbung, membuat Ali reflek memegang tangan Karina agar tidak jatuh.


"Astaghfirullah maaf, lain kali hati-hati" Tutur Ali mengingatkan.


"Ehh iya kak, makasih kak udah bantuin, saya pamit dulu, Permisi." Tutur Karina berlalu pergi meninggalkan Ali.


"Na'am." Tutur Ali kembali melangkah melanjutkan yg menjadi tujuannya tadi, mengikuti kajian rutin bersama teman-teman.


Tanpa Ali sadari, aktivitasnya telah diintai dan kejadian ia memegang tangan Karina telah tersimpan rapih di memori kamera seseorang yg sedari tadi mengikuti gerak-gerik Ali.


Langkah kaki membawa Ali menuju tempat yg diinfokan Fikri tadi, kali ini ia memilih melewati fakultas hukum dari pada seperti biasanya melewati fakultas tempatnya belajar, fakultas pertanian. Bukan karena apa-apa Ali hanya ingin cepat sampai tujuannya dan mengikuti kajian bersama teman-temannya, karena pada kajian kali ini dia lah yg mengisi jadi tidak baik jika dia terlambat.


Ali terus berjalan kaki menyusuri jalanan yg sepi berbeda dari biasanya, ini dikarenakan mahasiswa lebih suka menghabiskan waktu sorenya dilapangan untuk sekedar olahraga dan aktivitas lainnya.


Ia mempercepat langkahnya, sebelum sebuah mobil Avanza hitam berhenti tepat disampingnya, hampir menyerempetnya.


"Astaghfirullah.." kejut Ali sembari mengusap dadanya terkejut.


Orang yg menumpangi mobil tersebut turun, namun aneh menurut pandangan Ali, mereka semua menggunakan pakaian serba hitam, rapih menggunakan jas, dan mereka berjumlah empat orang, mereka semua kompak mendekati Ali.


"Lo yg namanya Ali, anak fakultas pertanian" tutur salah satu orang misterius itu menunjuk Ali.


"Ya saya Ali, ada yg bisa saya bantu." Tanya Ali.


"Hajar dia!" Perintah salah satu orang misterius yg berada dekat didepan Ali.


Mendengar perintah orang itu membuat Ali memundurkan langkahnya was-was.


Satu persatu orang misterius itu maju menyerang Ali, Ali berusaha mengajak orang-orang itu berdamai namun apa daya mereka tetap kekeuh menyerang Ali, Ali melawan namun kekuatannya tidak sebanding dengan ketiga orang yg menyerangnya hingga Ali babak belur, bibirnya sobek mengeluarkan darah, rahangnya seperti ada retakan yg ia rasakan.


"Dengar! Ini baru awal, jika Lo masih berani macam-macam, kita habisin Lo dan keluarga Lo juga!" Tegas salah satu orang misterius yg tidak ikut memukuli Ali.


"Apa salah saya? Aww..." tutur Ali menahan sakit di bibirnya.


"Lo gak sadar apa salah Lo yg sampai membuat bos kita murka sama Lo, itu semua karena Lo udah merebut milik bos kita. Ingat jauhi apa yg bos kita miliki maka Lo selamat!" Tuturnya lagi sembari mendorong Ali kembali terjatuh dari sebelumnya berusaha untuk berdiri.


"Kita pergi!" Perintah orang itu lagi kepada anak buahnya.


"Ingat!! Lo akan hidup tenang jika Lo jauhi milik bos kita!" Tutur orang itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ali yg terkapar.


"Aww.. astaghfirullah, ada apa ini ya Allah, apa salah saya." Lirih Ali berusaha bangkit sembari menahan sakit.


Drett... Drettt..


"Hallo.. Li, Lo dimana lama Amad kita udah jamuran nih" tutur Fikri to the point begitu telponya diangkat oleh Ali.


"Fik, tolong.." lirih Ali menahan sakit.


"Li, Lo kenapa? Lo sekarang dimana, bilang sama gue" tutur Fikri mulai panik mendengar Ali meminta tolong dengan lirih.


"Didepan gang sebelah fakultas hukum, tolong ane Fik " tutur Ali lagi masih dengan nada yg sama.


"Gue kesana sekarang Lo tungguin gue" pinta Fikri bergegas sambil mematikan telepon tanpa aba-aba.


Tak lama setelah Fikri memutuskan telponnya, ia datang bersama dua orang temannya, yg Ali kenal sebagai teman satu kajiannya.


"Li, Lo gak papa, apa yg terjadi sebelumnya." Tanya Ali beruntun saat ia melihat Ali babak belur dipinggir gang sempit yg memang jarang dilalui mahasiswa.


"Udah Fik, nanyanya nanti dulu, kita bantu Ali obatin lukanya dulu" tutur Rifky salah satu teman yg ikut membantu Ali.


"Rifky bener Fik, ayo Li kita obatin luka Lo" tutur Dhika menimpali.


"Oke oke, ayo Li." Ajak Fikri membantu Ali berdiri.


Flashback off


--------


Ketika masalah menjadi titik goyah, ingatlah bahwa landasan yg dibangun sebelumnya adalah karena Allah.


Maka ikhlaskan yg terjadi dan teruslah bertumpu pada sang illahi Robbi.


Jam menunjukkan pukul 05:30 setelah selesai menjalankan sholat subuh berjamaah, zeyna dan keluarganya bersiap untuk pergi ke bandara, karena hari ini ia dan keluarganya akan pulang ke Lampung.


"Dek, sudah semua?" Tanya Hisyam.


"Sudah A', tinggal nunggu Billa yg lagi rempong siap-siap" Tutur zeyna sembari tertawa.


"Hallo semua, Billa ready.. yuhuhh yuk otw" Tutur bila sumringah turun dari lantai dua dengan semangat.


"Semangatnya putri ummi, ya sudah kita berangkat sekarang ya biar tidak tertinggal pesawat." Tutur Risna merangkul Billa.


"Siap ummi.." patuh semuanya kecuali Arkam yg hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Keluarga zeyna adalah keluarga Billa, ini sudah terjalin sejak pertama kali Billa ikut zeyna mudik ke Lampung tiga tahun lalu, Billa yg notabene adalah anak yatim-piatu yg orang tau, padahal sudah atau belum meninggalnya orang tua Billa tidak ada yg tau. Keadaan ini membuat Risna dan Arkam menyayangi Billa seperti anaknya sendiri.


"Ehh zey Lo udah pamit sama kak Ali?" Tanya Billa tiba-tiba.


"Billa, zeyna kan gak kontekan sama kak Ali" Tutur zeyna tersenyum.


"Ohh iya lupa" Tutur Billa sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.


"Sudah tenang aja Abi udah telpon papahnya Ali, insyaallah sudah di samping ke Ali nya" Tutur Arkam menyambar obrolan zeyna dan Billa.


"Alhamdulillah.." seru zeyna pelan.


Perjalanan ke bandara jendral Ahmad Yani Semarang memakan waktu kurang lebih 30 menit lamanya, itu jika jalanan lancar tidak ada kendala, jika jalanan macet bisa sampai 45 menit.


Dilanjutkan dengan menaiki pesawat dengan jarak waktu 30 menit untuk sampai ke bandara Raden intan Lampung.


Dilanjutkan dengan menaiki mobil selama tiga jam untuk sampai dikediaman orang tua zeyna, perjalanan mereka tempuh dengan nyaman tanpa beban kecuali zeyna yg tiba-tiba memikirkan sesuatu yg membuat kepalanya berdenyut nyeri.


"Alhamdulillah sudah sampai." Tutur Risna membuat zeyna Sadar dari lamunannya.


"Alhamdulillah.." tutur zeyna begitu menyadari bahwa ia sudah berada tepat didepan rumahnya.


"Adek, bangunkan Billa." Perintah Risna yg melihat Billa masih pulas tertidur.


"Na'am mi, billa... bill.. udah sampe bangun yuk." Panggil zeyna membangunkan Billa.


"Hemm.." tutur Billa masih setengah sadar.


"Ayo bangun, kamu mau dibawa mobil balik kebandara lagi." Ancam zeyna membuat Billa membulatkan matanya seketika.


"Ihhh ogah, jauh, capek lagi" tutur Billa bangun langsung keluar mobil.


Setelah semua barang selesai diturunkan dari mobil mereka bergegas memasuki rumah zeyna untuk mengistirahatkan tubuhnya yg lelah karena perjalanan panjang.


"Langsung istirahat ya, adek ajak Billa istirahat, ummi mau siapkan makan malam." Tutur Risna pada zeyna.


"Na'am ummi biar zeyna bantu ya" tutur zeyna.


"Adek istirahat aja, temenin Billa, ummi cuma mau masak yg simpel aja, udah sana istirahat." Perintah Risna kekeh melarang zeyna membantunya.


"Ya udah deh mi, zeyna temenin Billa istirahat ya" tutur zeyna melenggang pergi memasuki kamarnya yg sudah ada Billa didalamnya.


"Nyamannya kembali kerumahnya ini" tutur Billa merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Cieee yg mulai nyaman di Lampung," tutur zeyna meledek Billa yg kali keduanya mudik ke Lampung.


"Mandi dulu gih bill terus kita sholat magrib berjamaah." Suruh zeyna pada Billa.


"Lo duluan deh zey yg mandi, gue mau nikmati kasur empuk dulu" tutur zeyna memejamkan matanya sambi memeluk bantal.


"Ya udah aku mandi duluan ya" tutur zeyna melenggang memasuki kamar mandi yg ada di kamarnya.


---------


Ketika cinta bertasbih memang luar biasa mustajab membuat seseorang lupa akan dunia yg fana dan hanya fokus pada sang illahi Robbi.


Sudah hampir satu bulan zeyna berada di Lampung bukan berarti ia lepas dari bayang-bayang Alfran yg terus mengganggu. Alfran justru makin gencar mendekati zeyna dan berusaha memisahkannya dari Ali, calon suaminya.


Alfran terus mengancam akan menyakiti Ali lebih dari apa yg pernah ia lakukan, bahkan ia mengancam akan menghabisi orang-orang yg menghalanginya dekat dengan zeyna. Namun lagi-lagi zeyna tak pernah merespon, bukan berarti zeyna tak takut, dia takut hingga saat Alfran mengancamkan ia tak dapat tidur ia hanya akan duduk di atas sajadah meminta perlindungan atas orang-orang yg dikasihinya pada Allah sang maha segalanya.


Zeyna yakin bahwa Allah lah sebaik-baiknya tempat meminta perlindungan.


Kini ia berusaha melupakan ancaman Alfran dan fokus pada rencananya menikah dengan Ali, saat ini ia tengah sibuk mengurusi undangan pernikahannya dengan Ali, dan Ali juga ikut dibuat sibuk mengurusi mahar untuk zeyna.


Ia kini tengah sibuk menata undangan pernikahannya dengan Ali sebelum dibagikan kepada semua orang yg dikenal mereka, ditemani Risna yg tiba-tiba datang dan duduk disebelah zeyna.


"Ehh Ummi, undangan adek sudah jadi seperti ini desainnya mi, bagus gak mi?" Tanya zeyna menunjukkan sebuah undangan dengan aksen ukiran sederhana berwarna coklat dan dipadukan dengan warna coksu, terlihat sederhana tapi indah dipandang.


"Masyaallah cantik sekali sayang." Tutur Risna melihat undangan yg disodorkan zeyna.


"Alhamdulillah kalau ummi juga setuju sama desain undangan ini" tutur zeyna lega.


"Billa dimana sayang?" Tanya Risna ketika tak melihat Billa bersama zeyna.


"Billa sedang riweh mencari gaun untuk akad zeyna mi, padahal zeyna yg mau nikah aja masih santai malah Billa yg repot dari sekarang." tutur zeyna menertawakan kerempongan Billa yg sibuk ikut andil mempersiapkan pernikahan.


Drett.. Drettt..


Ponsel zeyna berdering menandakan seseorang menelponnya membuatnya memfokuskan pandangan pada layar ponselnya.


"Pak Alfran, mau apa lagi dia" tutur zeyna membatin.


"Siap yg menelpon dek" tanya Risna penasaran.


"Emm.. pak Alfran ummi, adek gak tau dia mau ngapain lagi hubungi adek mi, adek harus apa ummi?." Lirih zeyna tergganggu dengan Alfran yg terus berusaha menghubunginya.


"Ya udah adek angkat aja, ada clearin semuanya sebelum adek menikah sama nak Ali, biar gak jadi kesalahpahaman buat kedepannya." Tutur Risna memberi nasehat.


"Na'am ummi, kalau gitu adek angkat telpon dulu ya." Pamit zeyna menjauh dari Risna.


"Hallo, assalamualaikum ada apa lagi pak, mau mengancam lagi, atau mau nekat datang menghancurkan pernikahan saya?" Tuduh zeyna sudah muak atas semua ancaman yg diberikan Alfran.


"Santai zey, aku tidak akan melakukan apa-apa tenang aja, aku cuma mau bilang selamat karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan si brengsek Ali" tutur Alfran menekankan kata brengsek.


"Aku cuma mau kamu buka email yg aku kirimkan di email mu, semoga kamu segera tersadar siapa Ali sebenarnya." Tutur Alfran dingin.


"Jangan coba-coba menjelek-jelekkan kak Ali karena itu tidak akan mengubah keputusan ku untuk menikah dengannya" tutur zeyna tegas.


"Silahkan saja, tapi ingat kamu akan menyesal menikah dengannya!" Tutur Alfran mematikan telponnya secara sepihak.


"Ak..tuttt.." tutur zeyna terpotong.


"Apa lagi yg dia rencanakan ya Allah" lirih zeyna muak dengan semua yg Alfran lakukan padanya.


Ting..


Sebuah chat dari Alfran, mungkin sesuatu yg Alfran katakan tadi, zeyna sedikit ragu dan was-was apa pesan tersebut, namun ia beranikan untuk membukanya.


Zeyna terkejut dan sedikit nyeri yg ia rasakan dihatinya, pasalnya ia melihat Ali dan seorang wanita berpegangan tangan dan. Saling menatap, yg ia tau Ali adalah orang yg shalih yg taat beragama, bahkan ia sendiri bisa pastikan itu karena memang ia dan Ali merupakan rujukan dimintai pendapat karena ia dan Ali merupakan ketua dari masing-masing komunitas surau yg juga anak Didik dari seorang guru yg di ta'dzimi banyak orang.


"Astaghfirullah ya Allah, tidak tidak, mungkin ini hanya akal-akalan pak Alfran untuk memfitnah kak Ali, aku yakin dan insyaallah selalu percaya jika kak Ali baik lahiriyah dan batinnya serta akhlakul Kharimah yg senantiasa melekat padanya, ya Allah tenangkan hati yg berontak ini, yakinkan zeyna bahwa ini hanya sebuah kesalahpahaman semata." Tutur zeyna menyemangati dirinya sendiri.


"Aku coba clearin sama kak Ali deh sebelum terjadi kesalahpahaman yg berkelanjutan." Tutur zeyna mengambil sikap yg ia yakini.


Zeyna kembali ke ruang tamu dimana ia dan Risna tadi membicarakan mengenai undangan pernikahannya dengan Ali.


"Ummi, Abi dimana?" Tanya zeyna.


"Abi sudah ke masjid dengan Aa'mu barusan dek, ada apa?" Tanya Risna.


"Zeyna mau pinjem ponsel Abi, adek mau ada urusan yg penting yg harus diclearin sama kak Alfran mi, boleh?" Tanya zeyna pada Risna.


"Ada masalah apa dek?" Tanya Risna.


"Ada sedikit kesalahanpahaman mi." Tutur zeyna.


"Ya sudah, ponsel Abi ada di meja kamar ummi, ambil aja." Tutur Risna.


"Na'am ummi, terimakasih." Tutur zeyna berjalan menuju kamar Risna dan Arkam.


Dengan tetap memegang teguh pada NO KHALWAT UNTIL AKAD, zeyna tetap berkomunikasi dengan Ali lewat Abinya sebagai pembatas untuk tidak terjadi khalwat online.


"Assalamualaikum kak, inj zeyna, zeyna mau bicara sesuatu boleh?" Tulis zeyna lewat chat WA kepada Ali.


"Wa'alaikumsalam zey, boleh tafadholi, ada apa zey?" Tanya Ali yg kebetulan sedang online.


"Zeyna dapat kiriman foto ini kak, zeyna gak mau salah faham sehingga nanti menjadi fitnah, bisa kak Ali jelaskan?" Ketik zeyna bertanya sambil mengirim pict gambar yg ia terima dari Alfran tadi.


"Astaghfirullah.. zey, afwan sebelumnya ya. Seinget kak Ali kejadian ini sebelum insiden kak Ali dihajar orang-orang yg mengancam kak Ali waktu itu, bukan kak Ali mau memfitnah tapi mungkin ini merupakan strategi mereka untuk memisahkan kita, dan akhwat itu merupakan orang yg ingin bergabung di komunitas surau yg kita pimpin, dan kak Ali sempat mengarahkan nya untuk menghubungi zeyna, kejadian difoto itu tidak seperti apa yg dilihat, demi Allah kak Ali hanya membantu akhwat tersebut yg hampir jatuh, tidak ada maksud selain itu." Tulis Ali menjelaskan yg sebenarnya.


"Zeyna juga gak percaya kak Ali mau berbuat seperti ini, insyaallah zeyna percaya sama kak Ali, afwan ya kak zeyna bertanya seolah-olah gak percaya sama kak Ali." Tutur zeyna.


"Tidak mengapa zey, justru ini sebuah moment yg harus disegerakan agar ketika kita sudah sah berumahtangga nanti ada masanya kita saling menyelesaikan masalah tanpa menunda dan mencurigai jangan sampai dipendam yg hanya akan menjadi penyakit hati." Tutur Ali lagi.


"Na'am kak, Syukron telah memberi penjelasan, barakallah sa jazakallah khairan, zeyna tutup ya telponya, assalamualaikum.." tutur zeyna menyudahi chatnya dengan Ali.


"Na"am ya ukhtifillah, barakallah wa jazakillah khairan, wa'alaikumsalam." Ketik Ali mengakhiri chat.


Setelah mengakhiri chatnya dengan Ali, ia tak lupa untuk menghapus foto yg ia kirim ke Ali tadi, untuk mengindari kesalahanpahaman terhadap Abi dan keluarganya yg lain.


Sebuah hubungan harus dimulai dengan kejujuran yg Haq dan shahih.


Karena sebuah landasan sebuah hubungan adalah kejujuran, keterbukaan, saling percaya dan saling mengasihi.


-------


Qobiltu merupakan kalimat suci, dimana sang calon mempelai laki-laki menjabat tangan wali mempelai perempuan, dengan segenap keikhlasan dan keridhaan atas sebuah tanggung jawab besar yg akan segera dipikulnya.


Dua Minggu menjelang pernikahannya dengan Ali, zeyna dibuat khawatir dan lelah akibat teror-teror yg terus ia terima, mungkin sebuah bunga Lily dan sebuah coklat adalah dua hal yg disukai wanita, namun bagi zeyna ini merupakan hal yg ia benci, bukan ia tak suka bunga dan coklat, bahkan bunga Lily adalah Bunga favoritnya, hanya saja setiap kiriman bunga dan coklat yg ia terima selalu terselip sebuah surat yg mengancamnya.


Tinggalkan Ali dan batalkan acara pernikahan ini, atau Ali akan mati ditangan ku.


Begitulah isi pesan tersebut, ia sudah faham betul siapa yg menerornya, sebenarnya ia tak ingin su'udzan namun bukti kuat adalah keberadaan Alfran yg ingin menyingkirkan Ali dari hidungnya.


Hal itu membuat zeyna sulit untuk istirahat dengan nyaman, bahkan sudah tiga hari ini ia tidur larut malam tanpa sepengetahuan Billa, ia juga sering bermimpi mengenai ancaman-ancaman dari Alfran yg membuat dirinya khawatir akan keselamatan Ali.


"Zey kenapa lagi sih? Masih kepikiran tentang Bunga sama coklat itu lagi? Atau grori mikirin pernikahan Lo sama kak Ali?" Tanya Billa saat ia melihat zeyna tak kunjung tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 22:35.


"Ehh Bill, kamu belum tidur? Enggak kok, cuma gak tau kenapa malam ini susah tidur aja, udah gak usah khawatir ya, aku gak bakalan gubris masalah bunga dan coklat lagi, ya udah yuk tidur aku jadi ngantuk nih, denger suara cempreng kamu hehhe." Tutur zeyna sedikit berbohong dan mengalihkan pembicaraan kemudian langsung merebahkan tubuhnya dan menutup mata seolah-olah tertidur, membuat Billa melakukan hal yg sama namun Billa tertidur sungguhan.


"Tante.. Tante.. bangun Tante." Panggil seorang anak kecil dengan gaun putih serta kerudung putih indah yg melekat ditubuhnya.


Panggilan anak kecil itu membuat zeyna perlahan membuka mata mata dari tidurnya, membuatnya mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan silaunya siluet didepannya.


"Tante.." panggil anak kecil itu Lagi.


"Aluna!" Seru zeyna ketika pengelihatan telah fokus mengenali sosok anak kecil itu yg merupakan Aluna.


"Iya Tante cantik ini Luna, Tante bolehkan Luna meminta sesuatu sama Tante biar Aluna tenang di sana sama mama papa." Pinta zeyna.


"Aluna.. ini beneran Aluna? Iya sayang Aluna mau minta apa insyaallah Tante bantu" tutur zeyna sumringah bertemu Aluna.


"Tante Luna mohon Tante nikah sama Om Alfran ya, kasihan Om Alfran sering sedih dimakam Oma Mira, karena Tante cantik mau nikah sama orang lain." Tutur Aluna meminta.


"Aluna cantik, tau dari mana kalau Tante mau nikah sama orang lain? Tapi Tante gak bisa nikah sama Om Alfran sayang." Tutur zeyna menolak permintaan Aluna dengan lembut.


"Tante cantik gak boleh nikah sama orang lain, pokoknya Tante cantik harus nikah sama Om Alfran!." Teriak Aluna lari menjauhi zeyna sembari menangis keras.


"Aluna... sayang.." panggil zeyna mengejar Aluna.


"Aluna maafin Tante.." tutur zeyna lagi ketiak melihat Aluna berhenti berlari dan memeluk seorang wanita cantik bergaun senada dengan Aluna.


"Luna gak mau maafin Tante kalau Tante gak nikah sama Om Alfran." Teriak Aluna lagi dengan tangis yg semakin keras.


"Aluna.. Tante.." lirih zeyna tak sanggup menyela perkataan Aluna lagi.


"Zeyna.." panggil seorang wanita yg dipeluk Aluna.


"Menikahlah dengan Alfran, dia tulus mencintaimu, dia membutuhkan mu untuk melanjutkan hidupnya, kamu harus bisa merubah dan mengembalikan Alfran seperti Alfran yg dulu, menikah dengan Alfran kami mohon." Tutur wanita itu dan bersamaan dengan itu cahaya putih merenggut mereka sehingga zeyna tak dapat lagi melihat mereka yg semakin menjauh dibawa cahaya putih itu.


"Tapi.. Aluna.. Aluna.." panggil zeyna yg terus berusaha mengejar Aluna dan wanita itu.


"Aluna!!.." teriak zeyna kemudian terbangun.


"Zeyna ada apa?" Tanya Billa yg tiba-tiba bangun mendengar teriakan zeyna.


"Lo mimpi buruk?" Tanya Billa yg dibalas gelengan kepala oleh zeyna yg masih terlihat syok.


"Ya udah Lo minum dulu nih" tutur Billa memberikan air putih yg ia ambil dari meja dekat tempat tidurnya dan memberikannya pada zeyna.


"Terimakasih bill." Tutur zeyna terlihat murung.


"Lo kenapa sih, Lo mimpi apa'an, dan Aluna itu siapa? Lo sampe teriak-teriak manggil nama itu." Tutur Billa penasaran.


"Ceritanya panjang, intinya Aluan itu pasien aku dirumah sakit tempat co-*** ku dulu, tapi sekarang ia sudah tidak ada." Tutur zeyna lirih.


"Innalilah, terus urusannya sama Lo apa'an? Tanya Billa masih penasaran.


"Aluna memintaku untuk membatalkan pernikahan dengan Ali dan dia memintaku untuk meniakan dengan Alfran, pamanya." Lirih zeyna.


"Alfran itu siapa?" Tanya Billa membuat zeyna jengah dengan ke kepoan Billa.


"Intinya ceritanya panjang banget, nanti kapan-kapan aku ceritain deh, aku mau tidur lagi ini masih jam setengah 12, dahh" tutur zeyna langsung merebahkan tubuhnya dan kembali tidur untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Billa.


"Yahh Lo mah" kesal billa kemudian melakukan hal yg sama dengan zeyna, kembali melanjutkan tidurnya.


Sebuah masa mungkin akan berlalu, tapi sebuah cerita takkan mungkin cepat berlalu.


Sebab hal yg paling jauh dari seorang hamba adalah masalalunya dan yg terdekat sedekat nadi dari seorang hamba adalah kematian.


Tetap tawwakal menciptakan cerita berkesan yg membekaskan pahala untuk bekal melewati suatu hal yg terdekat dari seorang hamba.


NO Khalwat UNTIL Akad


See you next part...😇


Jangan lupa vote ya shalihah😊