NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Next Rencana 1


Hari ini kau menang, hari ini kau lolos dari jerat pelukan ku, namun ketahuilah, aku tak pernah lelah sedikit pun.


kau tau, aku sedang menyusun rencana indah dengan Tuhan, dan aku yakin Tuhan tak pernah mengkhianati ku.


Refanza Alfrando Aldrian


------------------------------------------------------


'Allahumma yassir walaa tu'assir' ini adalah mantra segala masalah, emban lah maka kau akan tenang.


Hari ini terhitung 31 hari menjelang sumpah dokter yg akan dijalani zeyna, itu artinya sebentar lagi namanya akan bergelar 'Dr.' ia bahagia? Tentu. Itu artinya perjalanan liku selama 5 tahun terbayar sudah, namun sedih, ya kini zeyna sedih, memikirkan bagaimana nasib umminya, di benaknya hanya terfikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk operasi pencangkokan jantung umminya.


Kini sudah 15 menit ia berjalan kaki menuju toko bunga Billa, sahabatnya.


"Assalamualaikum.." sapa zeyna membuka pintu toko.


"Wa'alikumsalam.. hei buk dokter kemana aja, sibuk ya." Tutur Billa antusias yg dibalas senyum terpaksa yg di tunjukan zeyna.


"Hei.. hei.. ada apa ini kok muka Lo masem banget dah." Tanya Billa dengan nada mengejek.


"Hmm..." dehem zeyna pilu.


"Hei girl, why ?. Lo ada masalah, cerita sini sama gue." Tutur Billa menepuk pundak zeyna.


"Bill,.." panggil zeyna lirih.


Membuat Billa terenyuh hatinya, membuatnya mendekat, memeluk zeyna.


"Ada apa, cerita sama gue, siapa tau gue bisa bantu masalah Lo." Tutur Billa lagi.


"Ummi.. hiks..." lirih zeyna menangis.


"Ummi Risna kenapa zey." Tanya Billa sembari menenangkan zeyna.


"Ummi.." lirih zeyna lagi.


"Iyaa.. ummi kenapa." Tanya Billa gemas karna zeyna tak kunjung menjawab.


"Ummi masuk rumah sakit, sekarang kritis. Aa' bilang harus operasi pencangkokan jantung, hiks.." Tangis zeyna tumpah seketika ketika kembali mengingat apa yg dikatakan Hisyam.


"Astaghfirullah.. zey, terus sekarang gimana, udah operasi?." Tanya Billa pilu yg di balas gelengan oleh zeyna.


"Kenapa zey, kenapa ummi Risna belum di operasi ada kendala kah." Tanya Billa lagi.


"Uang, Abi dan Aa' sedang mengusahakan uang buat operasi ummi." Tutur zeyna sendu.


"Astaghfirullah.. gue bantu ya zey, Lo butuh berapa, gue bisa bantu tapi gak banyak." Tanya Billa.


"Gak usah bill, Aa' udah dapet sebagian biayanya, tinggal sebagai lagi, mungkin Abi akan jual peternakan bebeknya." Ungkap zeyna lirih.


"Loh loh, Lo bilang peternakan bebek itu kesayangan Abi Lo, kenapa mesti di jual, udah gue bantu aja ya, Lo tau kan ummi Risna udah gue anggep kayak ibu gue sendiri, Lo tau gue udah gak punya ibu." Tutur Billa pilu.


"Tapi beneran gak usah bill, Abi udah ikhlas kok peternakannya di jual, kamu do'ain aja ya, semoga nanti operasi nya berjalan lancar." Tutur zeyna tersenyum lemah.


"Gue pasti do'ain yg terbaik buat ummi, gue kangen sama ummi, kapan sih Lo pulang ke Lampung lagi, gue mau ikut lagi ya." Tanya Billa.


"Insyaallah pas sumpah dokter nanti mereka bakalan kesini, kalau ummi udah sembuh." Lirih zeyna.


"Fighting girl, kita do'ain semoga ummi cepet sembuh tanpa sakit lagi, biar bisa nemenin Lo sumpah dokter, okee.." hibur Billa menyemangati zeyna.


"Makasih ya bill, kamu memang sahabat sesuka seduka." Peluk zeyna pada Billa.


"Ahhh, bisa aja Lo zey." Billa tersipu.


"Udah ah, jangan sedih-sedih terus, ada pembeli tuh." Tutur Billa.


"Biar aku yg layani ya." Pinta zeyna.


"Okeee." Ucapan Billa sembari menunjukkan jari berbentuk huruf O.


-------


Sepulang dari toko Billa, zeyna bergegas ke rumah sakit, lantaran ia mendapat kabar dari dokter ibran yg telah kembali dari tugas pusat bahwa keadaan Aluna kini kritis.


"Ya Allah apa pun keadaannya terus lindungi dan beri kekuatan Aluna melewati penyakitnya, beri dia kesembuhan, hanya pada-Mu hamba memohon dan meminta. Allahuma yassir walaa tu'assir." Tutur zeyna membatin.


~Rumah sakit~


"Gimana keadaan Luna dok." Tanya Alfran dingin namun tersirat kepiluan didalamnya.


"Kami akan segera melakukan kemo lanjutan, do'akan yg terbaik untuk Aluna." Tutur dokter ibran.


"Ya Allah, Luna.. yg kuat nak, nenek selalu mendo'akan kesembuhan buat Luna." Lirih Fatma pilu.


"Munafik, Anda bahagiakan Luna sekarang, karna memang itu tujuan Anda, menyingkirkan siapa saja yg menghalangi Anda mendapatkan harta papa." Tutur Alfran emosi setelah dokter Alfran pergi dari depan ruang rawat Aluna.


"Alfran.. Mama gak pernah berfikir untuk mengambil sedikit pun harta papa, apalagi sampai harus mengorbankan nyawa orang-orang yg Mama sayang, itu gak akan pernah terjad, percayalah." Tutur Fatma sedih.


"Haah alibi Anda tak palsu, cukup tidak perlu Anda bersandiwara lagi, semuanya memuakkan." Tutur Alfran tersenyum mengejek.


"Ya Allah, nak..." lirih Fatma.


"Assalamualaikum.. Bu." Sapa zeyna.


"Wa'alikumsalam salam nak zeyna." Sapa Fatma sembari mengusap air matanya.


"Ibu gak papa, gimana keadaan Aluna bu?." Tanya zeyna menatap tajam ke arah Alfran kemudian menatap Fatma lembut.


"Hiks... dokter ibran bilang, Aluna harus menjalani kemo lanjutan nak,." Lirih Fatma kembali menangis.


"Ya Allah Aluna.., kalau gitu zeyna mau temui dokter ibran dulu ya Bu," pamit zeyna yg diangguki oleh Fatma.


Zeyna berjalan berpapasan dengan Alfran, ia melihat wajah datar Alfran, yg kali ini tanpa menyapa nya seperti biasa.


Zeyna berpaling, melanjutkan tujuannya ke ruangan dokter ibran.


"Assalamualaikum.. dok," sapa zeyna.


"Wa'alikumsalam.. masuk." Sapa dokter ibran menyuruh zeyna masuk.


"Dok.." panggil zeyna.


"Ehh zey, duduk zey." Perintah dokter ibran yg diangguki oleh zeyna.


"Dok, bagaimana dengan Aluna?, zeyna dengar dari Bu Fatma, Aluna harus menjalani kemo lanjutan." Tanya zeyna.


"Iya zey, Aluna harus menjalani kemo lanjutan, karna prasait dalam darah Aluna menyebar hingga ke otak, jika tidak dilakukan kemo lanjutan dikhawatirkan parasit ini akan merusak bagian syaraf otak, tentu itu berbahaya." Jelas dokter ibran pada zeyna.


"Kapan kemo itu akan di lakukan dok?." Tanya zeyan.


"Nanti malam, sekitar jam 8. Kita harus menunggu keadaan Aluna stabil, dia harus melewati masa kritisnya dulu." Tutur dokter ibran yg diangguki oleh zeyna.


"Dan kamu juga ikut andil dalam proses kemo nanti zey, ini sebagai uji akhir sebelum kamu meraih gelar dokter mu." Tutur dokter ibran lagi.


"Saya dok?, Apa dokter yakin saya mampu ?." Tanya zeyna.


"Tentu, kamu sudah banyak menangani pasien tanpa saya maupun dokter yg lain, kamu pasti bisa." Tutur dokter ibran menyemangati zeyna.


Kalau gitu saya permisi menemani Aluna dulu dok." Pamit zeyna yg diangguki dokter ibran.


"Assalamualaikum.." ucap zeyna.


"Wa'alikumsalam.." dokter ibran.


------


"Assalamualaikum... Aluna," sapa zeyna pada Aluna yg kini memejamkan kan mata dengan tubuh dibalut alat kesehatan.


"Allahuma yassir walaa tu'assir, Aluna yg kuat ya, Allah bersama Aluna disini, dihati Aluna." Lirih zeyna pilu menguasap kening Aluna.


"Zey.." panggil Alfran yg masuk tiba-tiba ke ruang ICU, membuat zeyna menolehkan wajah pada seseorang yg memanggilnya.


Mata itu, mata yg membuatnya jatuh cinta, mata itu kini tengah berkaca sedih, rasa yg sama yg kini tengah ia rasakan.


Mata itu, yg membuat nya ingin mengurung nya di dalam ikatna suci pernikahan.


Mata itu, mata yg kini menatapnya, mata yg selalu menghindar dari sebuah pinta menjadikan nya milikku.


"Aku ingin bicara!" Pinta Alfran dingin.


"Bicaralah." Lirih zeyna.


"Tidak disini, bicara disini akan mengganggu bidadari kecil yg kini terbaring lemah, kita ke taman." Tutur dan pinta Alfran.


"Pak, jika Anda ingin membicarakan hal yg tidak penting, sebaiknya tidak perlu, saya disini sedang bertugas sebagai dokter. Saya mohon jangan ganggu saya." Pinta zeyna.


"Ini mengenai ibu mu, kamu anggap ini tidak penting?." Tutur Alfran dingin yg membuat zeyna mengerutkan dahi.


"Tentang ummi ?, Ada apa dengan ummi saya ?." Tanya zeyna penasaran.


"Ikut saya sekarang!." Perintah Alfran.


Mau tak mau zeyna mengikuti Alfran ke taman, sebenarnya ia tak ingin, tapi laki-laki dingin itu bilang ini tentang ummi nya, tentu saja ia penasaran apa yg ingin Alfran bicarakan mengenai umminya, yg ia tau Alfran bahkan tak mengenal umminya maupun keluarganya.


"Duduk lah!." Perintah Alfran begitu sampai di bangku yg ada di taman rumah sakit.


"Tak perlu basa-basi pak, saya hanya ingin tau apa yg ingin bapak bicarakan mengenai ummi saya." Tanya zeyna menggebu.


"Santai sayang, tak perlu terburu-buru seperti itu." Kekeh Alfran membuat zeyna memalingkan wajah muak.


"Aku tau saat ini kamu sangat butuh uang untuk operasi ummi mu, benar kan." Terka Alfran membuat zeyna mengerutkan dahi.


"Dari mana bapak tau perihal ummi saya?." Tanya zeyna penasaran.


"Aku tau semua tentang mu zey, dirimu dan keluargamu!." Tutur Alfran menekankan kata 'dirimu' sembari menyeringai, membuat zeyna terkejut akan fakta itu.


"Apa maksud bapak?." Tanya zeyna menggebu.


"Santai sayang.. hmm.. aku juga tau jika bisnis kakak mu sedang mengalami kerugian." Tutur Alfran berhenti sejenak ingin mengetahui reaksi yg di tunjukan zeyna. yup, Tepat sasaran sebelum kini zeyna menampilkan ekspresi terkejut yg menurutnya lucu. Hingga ia melanjutkan tujuannya.


"Kamu tau siapa yg menipu kakak mu hingga omset restauran mengalami kerugian?." Ucap Alfran menyeringai.


"Apa maksud bapak. siapa, siapa yg menipu Aa' saya." Tanya Aluna menggebu.


"Siapa pak, siapa yg menipu Aa' saya, siapa pak yg tega membuat ummi terkejut hingga masuk rumah sakit. Siapa pak, katakan pada saya siapa orangnya." Tanya zeyna berteriak marah.


"Saya." Ucap Alfran datar,


Membuat zeyna terkejut bukan main.


Menyesal, hancur dan benci mengapa ujian seberat ini harus ia lewati, mengapa beban berat ini bersumber dari orang yg menurutnya tak terduga.


Detik ini lah ia benci akan takdir yg membawanya bertemu dengan Alfran, orang yg menghancurkan ketenangan dan menggantikannya beban berat yg harus di pikul keluarganya.


"Apa maksud bapak haah. Mengapa, mengapa bapak lakukan ini pada keluarga saya, apa salah saya sama bapak, katakan, katakan!." Tutur zeyna berteriak marah pada Alfran yg menampilkan wajar datar dan tenangnya.


"Jawab saya pak, kenapa bapak tega lakukan ini sama keluarga saya, jawab!!." Tutur zeyna lagi kembali berteriak marah membuat Alfran menyeringai.


"Coba kau ingat, berapa kali aku meminta mu untuk menikah dengan ku secara baik-baik, tapi kau selalu menolak mentah-mentah. Ayo zey jawab, sudah berapa kali. Jika diperhatikan ini salah mu sendiri, membangunkan singa yg sedang tidur, kau menolak permintaan ku yg orang lain saja bahkan takut dan tunduk padaku." Tutur Alfran dingin.


"Saya dan mereka berbeda, tidak ada alasan yg membuat saya memenuhi keinginan bapak, termasuk menerima pinangan bapak, saya tidak mencintai bapak itu sebabnya saya selalu menolak bahkan menghindari bapak, saya rasa juga bapak sama, bapak tidak mencintai saya." Tutur zeyna emosi.


"Bagaimana jika faktanya aku mencintaimu!." Tegas Alfran.


"Bapak mencintai saya, bapak yakin itu cinta, bukan nafsu atau obsesi bapak?, Jika bapak mencintai saya bapak tidak akan pernah melakukan hal itu pada keluarga saya." Marah zeyna pada Alfran yg ditanggapi dengan seringai olehnya.


"Sudah ku katakan kan, jika aku sudah melamarmu secara baik-baik tapi dengan entengnya kau selalu menolaknya, aku muak dengan sikap menolak mu itu zey, hinggaku fikir untuk menggunakan hal licik ini untuk membuat mu menerimaku." Tutur Alfran dingin.


"Lalu apa dengan cara ini membuat saya menerima pinangan bapak ?, Tidak, Tidak akan, ini malah semakin membuat saya ingin menjauhi bapak." Tutur zeyna lelah.


"Oh ya, apa kau tau jika uang yg digunakan untuk operasi ibumu adalah uang ku ?." Seringai Alfran membuat zeyna terdiam membisu.


Zeyna teringat, jika tadi abinya menelvon memberitahunya bahwa biaya operasi umminya sudah dibayarkan secara lunas beserta biaya yg lain oleh seseorang yg dengan suka rela membantunya, apa itu Alfran? Fikirnya.


"Tidak mungkin, Abi saya memang bilang bahwa biaya operasi ummi sudah lunas, tapi itu berkat orang yg dengan rela membantu kami, itu tentu bukan bapak, orang itu tak meminta imbalan apapun." Kekeh zeyna lirih tersirat kekhawatiran dalam dirinya.


"Jika aku meminta imbalan secara blak-blakan tentu Abi mu tidak akan menyetujui nya sayang, maka dengan itu aku menggunakan cara halus untuk menarik simpati Abi mu." Seringai Alfran membuat zeyna panik.


"Bapak pasti bercanda, Anda tidak mengenal keluarga saya. Jadi mana mungkin, tidak, tidak. Lelucon bapak sama sekali tidak lucu, saya mohon hentikan." Lirih zeyna frustasi.


"Jika kamu tidak percaya, silakan saja tanyakan pada keluarga mu, Abi mu atau Aa' mu, mereka pasti bilang aku yg membantu mereka." Tutur Alfran datar.


"Argghhh, Jadi apa yg sebenarnya bapak inginkan." Teriak zeyna marah.


"Kau tentu tau aku tak akan memberikan uang itu secara percuma, tanpa imbalan apapun, menikah lah dengan ku, maka semua masalahmu selesai." Seringai Alfran senang.


"Apa tidak ada cara lain selain saya menikah dengan bapak ?" Lirih zeyna pilu seraya menunduk kepalanya.


"Tidak!." Sergah Alfran tegas.


"Tidak, saya tidak ingin menikah dengan bapak, saya akan kembalikan uang bapak, saya janji, saya mohon beri saya waktu untuk mengembalikan nya." Pinta zeyna menggebu.


"Tidak!." Tegas Alfran terluka dengan perkataan zeyna.


"Saya mohon!." Lirih zeyna sembari mengatupkan kedua tangannya.


"Zey... ahh, baiklah aku berikan waktu satu Minggu dari sekarang untuk kamu mengembalikan semua uang yg digunakan untuk biaya ibumu tanpa terkecuali, jika dalam satu Minggu kamu tidak dapat mengembalikan nya maka sesuai keinginan ku yg pertama, kita menikah. Bagaimana, kamu setuju." Tutur Alfran datar.


"Satu minggu? Mana mungkin, uang 300 juta terkumpul, lalu bagaimana dengan kerugian omset restauran Aa' saya yg bapak buat, apa bapak tidak ingin bertanggung jawab?." Tutur zeyna marah.


"Bukan 300 juta, tapi 450 juta. Saya tak peduli dengan bisnis kakak mu yg tak penting, tapi kau tak perlu khawatir jika kita menikah nanti, aku akan berikan modal besar untuk memajukan restu kakak mu itu." Tutur Alfran dingin.


"Yaa mungkin bisnis Aa' ku memang kecil dan tak penting bagi Anda pak, tapi sangat menunjang perekonomian keluarga saya. Saya bisa saja menuntut atas perbuat bapak yg merugikan bisnis Aa' saya, ya mengapa tidak." Tutur zeyna menemukan pencerahan.


"Hahhha zeyna, zeyna. Silakan saja jika kamu punya bukti." Seringai Alfran tertawa lepas membuat zeyna geram membuatnya menendang tungkai Alfran.


"Awwww.. kau!." Teriak Alfran menahan sakit yg kemudian ditinggal pergi zeyna.


"Tak masalah, tunggu pembalasan ku jika kita sudah menikah sayang, aku tak akan membiarkan mu pergi sedetikpun dari ku, camkan itu." Seringai Alfran tersenyum.


~NO Khalwat UNTIL Akad~


See you next part๐Ÿ˜š