NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Rencana 2 (Alfran)


Sudah lama ku beri tahu, bahwa aku dan Tuhan sedang menyusun rencana untuk aku bisa memilikimu lewat takdir-Nya yg kupinta setiap hela nafas ini.


Refanza Alfrando Aldrian


------------------------------------------------------


Kini, bolehkah semua bahagia menyambut hari penuh suka, bolehkah semua tersenyum haru bahagia dari banyaknya haru pilu yg selama ini dirasakan.


Sudah hampir mendekati hari akad dan resepsi antara Ali dan zeyna, namun undangan tak kunjung dibagikan kepada mereka yg dikenal kedua calon pasangan ini, alasannya mereka berdua ingin menunggu tepat satu Minggu sebelum akad undangan itu dibagikan, namun kendala lain membuat keduanya kalang kabut, pasalnya mereka mendapat kabar bahwa undangan belum selesai dicetak, dengan alasan terlalu banyak menerima pesanan yg lain.


Entahlah mendekati hari dimana tepat 10 hari sebelum pernikahan itu terlaksana dengan khusyu' dan lancar ada banyak sekali masalah yg terjadi pada persiapan pernikahan keduanya, mulai dari WO yg tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan yg jelas, membuat Ali dan zeyna berusaha keras mencari WO yg baru dengan waktu yg sangat mepet, ditambah dengan masalah gaun akad dan resepsi yg tiba-tiba tak bisa mereka sewa dengan alasan karena Tempo jarak yg mereka ajukan bersamaan dengan penyewa lain, padahal sebelum itu sudah ada perjanjian dan kedua belah pihak telah menyetujuinya.


Hal ini membuat zeyna hampir frustasi jika saja Risna tak memberinya dukungan agar ia tetap sabar dan menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT.


Zeyna sempat berfikir mungkinkah ini rencana Alfran karena ia selalu mengancam tak akan membiarkan nya dan Ali sampai pada hari akad mereka, atau memang sebuah hambatan semata, namun ia menepisnya ia yakin ini mungkin sebuah ujian sebelum ia benar-benar menapaki syurga ditangan suaminya nanti.


--------


Pria berjas hitam dengan gaya cool kini tengah tenang menyusun rencana diantara anak buahnya yg berjumlah lima orang, ia Alfran kini tengah berada di sebuah restoran di lobi hotel horison Lampung, ya.. Alfran kini berada di Lampung demi melancarkan aksinya untuk menggagalkan pernikahan zeyna sekaligus menjadikan zeyna miliknya seutuhnya.


"Bereskan hari ini juga!" Perintah Alfran yg diangguki ke-lima anak buahnya yg dipimpin oleh Rian.


"Baik pak, apa kita perlu siapkan bodyguard perempuan hari ini juga?" Tanya Rian pada Alfran.


"Ya, siapkan secepatnya." Tutur Alfran tenang.


"Baik pak, semua bergegas menuju lokasi." Tutur Rian memerintah anak buahnya.


"Kami permisi pak." Pamit Rian yg diangguki Alfran kemudian berlalu.


--------


Sebuah Kenyataan mungkin adalah sebuah kepahitan, namun inilah hidup keras dan fana.


Jika cinta tak kau dapat di dunia yakinlah banyak cinta telah menunggu di Jannah-Nya.


Hari ini merupakan jadwal keberangkatan Ali berserta rombongan keluarganya untuk menjadikan zeyna seorang ummu warobatul bait, seorang istri dan seorang ibu yg akan menjadi penyejuk syurga dunia diantara keluarga kecil mereka nanti.


"Bismillah nak, Tante yakin ini akan menjadi sebuah kebahagiaan untuk masa depanmu nanti." Tutur Fatma pada Ali.


"Syukron Tante, selalu do'akan lancar hingga hari H" pinta Ali pada Fatma.


"Mah ayo, Ali harus segera masuk kedalam mobilnya." Tutur Hendrawan menghampiri keduanya, Ali dan Fatma yg tengah mengobrol.


"Iya pah, ya udah nak kamu masuk ke mobil gih, mama sama papa kamu sudah menunggu." Tutur Fatma yg menyuruh Ali segera menaiki mobil bersama orang tuanya.


"Iya Tante, Ali masuk duluan." Pamit Ali.


"Ayo mah," ajak Hendrawan mengajak Fatma menaiki mobilnya untuk mengikuti Ali.


Fatma adalah Tante dari Ali Abdurrauf, kakak dari Farhan, ayah Ali.


Kini mereka dan anggota keluarga yg lainya tengan dalam perjalanan menuju Lampung untuk mengantarkan Ali mengucap janji suci qobiltu dengan gadis pujaannya.


Meski pernikahan Ali dan zeyna masih 10 hari lagi namun keluarga Ali sudah harus sampai di Lampung segera guna kembali melamar zeyna secara resmi dihadapan semua keluarga besar keduanya.


"Pah, kenapa kita gak ajak Alfran untuk ikut dalam acara ini?" Tanya Fatma di kursi penumpang pada Hendrawan yg duduk disebelahnya.


"Tidak perlu mah, anak keras kepala sepertinya tidak akan mau diajak keacara sakral seperti ini, dia hanya akan menyusahkan." Tutur Hendrawan dingin karena Fatma menyinggung nama Alfran.


"Tapi pah.." Tutur Fatma terpotong.


"Sudahlah mah, jangan membicarakan anak kurang ajar itu lagi." Tutur Hendrawan membuat Fatma diam.


------


Mungkinkan Allah tak ridho hingga Ia memisahkan angannya serta memutuskan harapan sucinya, kini.. hanya kesabaran yg dapat diembannya.


"Assalamualaikum Abi.." sapa Ali disebrang telpon.


"Wa'alaikumsalam nak Ali, bagaimana? Sudah mendaratkah?" Tanya Arkam menelpon Ali, calon menantunya.


"Alhamdulillah bi, Ali sekeluarga sudah mendarat sekitar satu jam lalu, sekarang sedang menuju hotel." Tutur Ali.


"Alhamdulillah ya Allah, ya sudah hati-hati ya salam untuk orang tuamu, Assalamualaikum" Tutur Arkam.


"Na'am bi.. wa'alaikumsalam." Akhiri Ali.


"Mah, pah Abi Arkam titip salam untuk mamah dan papah." Tutur Ali kepada Farhan dan Farah yg sedang bersamanya didalam mobil.


"Wa'alaikumsalam.. papah merasa beruntung kamu akan segera menikah dengan zeyna, gadis shaliha dengan latar belakang keluarga yg kental agamanya, MasyaAllah." Tutur Farhan terkagum.


"Mamah juga merasa begitu, gak sabar lihat Ali sah menjadi suami zeyna, mamah sudah care banget sama zeyna, dia itu cantiknya natural, dengan akhlak dan sikapnya yg baik, MasyaAllah." Sambung Farah.


"Alhamdulillah mah, pah." Tutur Ali menimpali.


Srettt...


"Astaghfirullah ada apa pak?" Tanya Farhan pada Dani orang yg menyupiri mereka untuk ke hotel.


"Anu pak maaf, itu didepan ada mobil yg tiba-tiba berhenti mendadak, mungkin mogok." Tutur Dani merasa bersalah.


"Ali lihat dulu pah," pamit Ali yg diangguki orang Farhan.


"Hati-hati nak," Tutur Farah merasa khawatir.


Tokk.. tokk..


Ketukan di kaca mobil yg sedang mogok didepan mobil yg ditumpangi Ali,


"Pak, bisakah tepikan sedikit mobilnya, mobil saya tidak bisa lewat." Tutur Ali begitu kaca mobil terbuka menampilkan 2 laki-laki dikemudi depan dengan perawakan tegap seperti bodyguard.


"Ya, bisa bantu saya" Tutur salah seorang laki-laki turun dari mobil mendekati Ali.


Namun tanpa Ali sadari, laki-laki itu memberi sebuah kode kepada rekan-rekan yg ternyata menggunakan mobil lain, sehingga mereka semua keluar dan menyeret Ali masuk kedalam mobil.


"Ali pah.." teriah Farah melihat Ali dipaksa masuk kedalam mobil oleh orang-orang misterius.


Farhan, Farah, Hendrawan dan Fatma serta keluarga Ali yg lain, masing-masing keluar dari mobil yg berbeda mencoba menolong Ali, namun terlambat Ali sudah dibawa pergi oleh mobil itu.


"Ali... nak.." teriak Farah syok membuatnya pingsan.


"Farah.. Farah.. bangun Farah.." Tutur Fatma Panik melihat Farah pingsan.


"Mah.. bangun mah.." Tutur Farhan juga panik.


"Biar aku Lapor polisi, mama, Farhan dan yg lainnya langsung ke hotel biar Farah bisa istirahat." Perintah Hendrawan.


"Iya mas, saya minta tolong temukan Ali." Pinta Farhan yg diangguki Hendrawan.


------


"Lepaskan saya.. lepaskan." Teriak Ali didalam mobil dengan kedua tangannya dicekal orang-orang misterius yg memaksanya masuk kedalam mobil.


"Diam, atau kami buat Lo babak belur." Seru seseorang yg dengan dinginnya duduk dikemudi depan dengan kacamata mata hitam yg ia kenakan, dia Rian.


"Anda.." lirih Ali pelan, tatkala melihat Rian yg tak asing baginya.


"Ya, perkenalan saya Rian, beberapa waktu lalu kita bertemu di kampus," Tutur Rian dengan seringainya.


"Apa maksud semua ini, siapa Anda dan ada urusan apa dengan saya?." Tegas Ali bertanya.


"Bukankah sudah saya peringatankan untuk menjauhi milik bos saya, tapi Lo tetap ngeyel mau merebut dia dari bos saya." Tutur Rian tegas.


"Apa yg saya rebut dari bos kalian, siapa bos kalian pun saya tidak kenal." Tutur Ali mencoba tenang.


"Nona zeynasha adalah calon istri bos kami, dan Lo mau menikahinya, tentu itu membuat bos kami murka!" Tutur Rian dingin.


"Zeyna? Apa maksud kalian, siap bos kalian." Tanya Ali lagi.


"Lo akan tau nanti." Tutur Rian memberi instruksi, dan salah seyg mencekal lengan Ali langsung membius Ali, membuatnya tak sadarkan diri.


"Hallo pak," sapa Rian menelpon Alfran.


"Musuh anda sudah ditangan kami, kami segera menuju lokasi." Sambung Rian.


"Bagus, segera lancarkan rencana berikutnya." Tutur Alfran dingin.


"Baik pak." Patuh Rian mengakhiri telpon.


-------


Sebuah rencana yg menurut sebagian orang tak indah, namun jika rencana itu merupakan salah satu qodarullah, manusia manapun dan siapapun tak akan sanggup mencegahnya.


"Zeyna, kita akan segera hidup bahagia, tunggulah beberapa langkah lagi." Tutur Alfran menyeringai.


Tokk... tokk.. tokk..


"Ya, ada apa?" Tanya Alfran dingin pada petugas hotel yg menurutnya mengganggu.


"Maaf pak, sebuah mobil menunggu bapak dilobi." Turut petugas hotel itu.


"Sampaikan, saya akan segera turun dalam beberapa menit." Tutur Alfran yg diangguki petugas hotel.


Alfran bersiap pergi dengan mobil yg menunggunya di lobi.


"Jalan sekarang pak?" Tanya sopir yg mengemudikan mobil yg ditumpangi Alfran.


"Ya." Tutur Alfran dingin.


Mobil itu membawa Alfran kesebuah villa yg ia sewa untuk memuluskan rencanannya.


30 menit perjalanan ditempuh Alfran, letak Villa itu lumayan jauh dari hotel yg Alfran singgahi.


"Selamat siang pak," sambut Rian membukakan pintu mobil Alfran.


"Dimana dia?" Tanya Alfran pada Rian setelah keluar dari mobil.


"Ada di dalam pak, mari saya antar." Tutur Rian.


Sebuah rencana mungkin saja membuat kerugian pada orang banyak, tapi untuk si pembuat rencana, keberhasilan adalah kebahagiaan.


-------


Mungkin saja memang takdir-Nya, atau mungkin ujian dari-Nya, dan mungkin pula memang keinginan-Nya agar kau tegar atas kehendak-Nya.


"Abi...hiks.." tangis zeyna pecah tatkala orang tua Ali memberi kabar bahwa Ali diculik orang misterius saat hendak menuju hotel.


"Adek yg sabar, ini ujian dari Allah.. adek berdoa agar Ali baik-baik saja, adek harus kuat dan minta agar Allah selalu melindungi Ali dari kejahatan." Tutur Arkam menasehati zeyna yg terkulai lemas mendengarnya kabar Ali diculik.


"Benar kata Abi, adek gak boleh begini, adek berdoa saja yg terbaik semoga polisi segera menemukan Ali dalam keadaan baik-baik saja." Sambung Risna menasehati zeyna.


"Ini gara-gara zeyna ya mi, bi.. hiks.." lirih zeyna sambil terus menangis di pelukan Arkam.


"Hushh adek gak boleh ngomong gitu, semua yg terjadi dimuka bumi ini, baik atau buruk itu semua sudah qodarullah, kita sebagai manusia harus bisa menerima dengan lapang dada dan tawakal, jadi gak boleh nyalahin diri sendiri." Nasehat Arkam lagi pada zeyna yg masih enggan lepas dari pelukan Abinya.


"Sekarang adek ke kamar, adek istirahat tenangin hati dan pikiran adek ya." Pinta Risna yg disetujui Arkam.


"Billa, ajak zeyna ke kamar ya nak." Pinta Risna pada Billa yg juga sedih akan keadaan zeyna.


"Iya ummi, ayo zey." Tutur Billa sembari menuntun zeyna menuju kamar.


Segores luka di hati, membuat zeyna merasa bersalah, zeyna takut sangat takut jika orang-orang disekitarnya menderita karena ia, ia hanya ingin orang-orang disekitarnya tertawa bahagia tanpa duka.


Kabar diculiknya Ali membuatnya syok, pasalnya ia takut ini karena dirinya.


"Ini salah zeyna ya bill." Lirih zeyna kembali menagis begitu sampai dikamar.


"Astaghfirullah zey, Lo bandel banget sih, kan Abi Arkam udah bilang ini semua terjadi karena kehendak Allah bukan salah Lo, udah ya please Lo jangan salahin diri Lo lagi, kan gue jadi ikut melow." Tutur Billa mencoba bijak untuk menghibur zeyna.


"Tapi..."


Drettt... Drett...


Perkataan zeyna terpotong dengan bunyi ponsel zeyna.


"Handphone Lo zey," Tutur Billa mengambil ponsel zeyna dan membaca nama yg tertera dilayar, namun nihil yg ada hanyalah deretan angka.


"Gak ada namanya, mungkin nomor baru, nih Lo angkat siapa tau penting" Tutur Billa lagi yg mendapat gelengan kepala dari zeyna.


Drettt... Drettt...


"Zey, orangnya nelpon lagi, mungkin penting coba Lo angkat, atau siapa tau telpon dari penculik kak Ali." Tutur Billa namun tetap diabaikan zeyna.


"Kamu saja yg angkat." Lirih zeyna masih dengan nada sedih dan diangguki oleh Billa.


"Hallo.. siapa ya?" Tanya Billa to the point.


"...."


"Ingin bicara dengan zeyna, maaf tapi orangnya sedang tidak bisa diganggu." Sambung Billa.


"....."


"Okeoke saya coba bujuk." Tutur Billa menarik ponsel dari telinganya.


"Zey, ada yg mau ngomong sama Lo katanya penting." Tutur Billa namun tetap mendapat gelengan dari zeyna.


"Tapi ini perihal kak Ali." Sambung Billa lagi dengan intonasi menggebu membuat zeyna menatap Billa dan mengambil alih ponselnya dari tangan Billa.


"Santai sayang, tak perlu terburu-buru." Tutur seseorang disebrang telpon, Alfran.


Suara Alfran dengan mudah zeyna kenali, membuatnya syok dan terdiam seketika.


"Pergi menjauh dari orang-orang, aku ingin berbicara serius berdua denganmu mengenai si brengsek yg mencoba merebut mu dari ku." Tutur Alfran dingin.


"Bill, aku angkat telponnya diluar ya, ada hal penting." Pamit zeyna langsung berlari keluar kamar.


"Ehh zey.." panggil Billa yg diabaikan oleh zeyna.


"Apa yg anda inginkan, lepaskan kak Ali dia sama sekali tidak ada urusannya dengan Anda." Tutur zeyna tegas menahan Isak tangis.


"Apa yg aku inginkan masih sama zey, ini kesempatan terakhir mu, jika kamu tidak membatalkan acara pernikahanmu dengan Ali, maka aku akan melakukan hal yg tidak di duga kepada si brengsek ini!" Ancam Alfran membuat zeyna terdiam.


"Tidak akan pernah, saya yakin saat ini polisi sedang menuju tempat Anda untuk menyelamatkan kak Ali, dan saya yakin Allah senantiasa menjaga kak Ali." Kekeh zeyna mengabaikan ancaman Alfran.


"Hahahha.. zeyna.. sayang.. aku bukanlah orang bodoh yg meninggalkan jejak dengan mudah, semua sudah aku manipulasi agar jejak ini tidak terindra polisi." Tutur Alfran menyeringai.


"Lepaskan kak Ali aku mohon, jangan sakiti dia, dia sama sekali tidak bersalah." Lirih zeyna pasrah.


"Sebegitu khawatirnya kah kau dengannya cihh. Aku akan melepaskannya dan tidak akan menyakitinya, kau bisa datang dan menjemputnya di villa puncak Tirtayasa, sendiri tanpa membawa siapapun. Jika kau membawa seseorang apalagi polisi maka nyawa Ali taruhannya." Tutur Alfran tenang.


"Jangan, jangan sakiti kak Ali aku mohon, aku akan ke sana sekarang tunggu aku." Tutur zeyna menutup telpon dan berlalu menuju kamar.


"Zey, sudah selesai. Siapa sih yg nelpon." Tutur Billa penasaran ditambah dengan wajah zeyna yg panik.


"Nanti aku jelaskan, aku harus pergi sekarang, tolong bilangin ummi sama Abi ya bill, assalamualaikum." Pamit zeyna meninggalkan Billa menuju pangkalan ojek.


"Tapi mau kemana, zey.. zeyna.." Panggil Billa melihat zeyna pergi terburu-buru.


"Wa'alaikumsalam.. mau kemana sih zeyna, duhh jadi khawatir nih, bilang ke ummi Risna gak ya, nanti kalau ditanya zeyna dimana gue jawab apa, duhhh zey Lo mah bikin gue puyeng." Tutur Billa berargumen dengan isi kepalanya.


--------


Sebuah detik yg merubah segalanya, selamat tinggal harapan indah, selamat datang duka.


"Kak hilya, assalamualaikum."panggil zeyna.


"Ehh zeyna wa'alaikumsalam, apa kabar, kapan pulang dari Semarang." Tutur hilya, tukang ojek akhwat langganan zeyna di Lampung.


"Alhamdulillah kabar baik kak, kak bisa antar zeyna ke villa puncak Tirtayasa, sekarang." Tanya zeyna berharap.


"Lohh mau ngapain zey, villanya kan jauh banget, ada perlu penting." Tanya hilya yg diangguki zeyna.


"Ya udah ayo naik." Perintah hilya.


"Kak ngebut ya, zeyna benar-benar buru-buru." Pinta zeyna menaiki motor dan memakai helm yg diberikan hilya.


"Oke.. siap." Tutur hilya.


Meskipun hilya adalah tukang ojek wanita tapi sikap dan power tubuhnya menyerupai laki-laki, tak dominan hanya sebatas tegas dan tak mudah putus asa, pasalnya hilya adalah seorang kakak dari tiga adiknya yg menjadi tulang punggung keluarga.


"Kak lebih cepat lagi." Pinta zeyna.


"Kamu tenang saja zey, pegangan ya." Pinta hilya pada zeyna dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


Hampir satu setengah jam zeyna lalui dengan motor berkecepatan tinggi, kini ia sudah berada di gerbang Villa dan sedang berdiskusi dengan satpam agar mengijinkannya masuk.


"Saya sudah membuat janji dengan penyewa villa ini, izinkan saya masuk pak." Pinta zeyna.


"Mba zeyna ya, silakan masuk saja mba, pak Alfran sudah menunggu didalam, tapi tukang ojek mba harus pergi dari sini." Perintah satpam yg menjaga villa tersebut.


"Baik pak." Tutur zeyna, kemudian menghampiri hilya.


"Kak hilya ini ongkosnya, zeyna ditinggal saja tidak papa, nanti zeyna pulang sama temen zeyna." Tutur zeyna.


"Beneran?." Tanya hilya yg masih agak ragu dengan yg zeyna katakan.


"Iya kak, gak papa zeyna ada urusannya urgent yg gak tau kapan kelarnya, jadi gak pasti kapan pulangnya, kasian nanti kalau kak hilya kelamaan nunggu, apalagi kalau sampai sore, kasian adik-adik kakak." Tutur zeyna meyakinkan.


"Ya udah kalau gitu, kak hilya pamit ya, assalamualaikum." Pamit hilya.


"Wa'alaikumsalam.. hati-hati kak." Tutur zeyna dan hilya berlalu pergi dari hadapannya.


"Silakan mba saya antar, pak Alfran sudah menunggu." Tutur satpam diangguki zeyna.


"Bismillah ya Allah lindungilah zeyna dan kak Ali." Tutur zeyna dalam hati.


"Silahkan tunggu disini mba, saya panggilkan pak Alfran." Tutur satpam berbaju serba hitam yg lagi terlihat seperti bodyguard.


Zeyna patuh dan mencoba tenang dalam situasi apapun meski hatinya berontak takut dan tak tenang, tapi ia harus lawan ini semua untuk menyelamatkan Ali dari Alfran.


Ia duduk di kursi ruang tamu, cukup lama dengan segala gundah yg ia rasakan.


-------


"Ya saya dalang dibalik semua yg terjadi." Tutur Alfran dingin.


"Apa maksud anda dengan semua ini, anak buah Anda selalu menuduh saya merebut milik Anda, apa yg saya ambil dari Anda, bahkan saya sama sekali tak mengenal Anda." Tutur Ali menahan sakit di kepalanya.


"Zeyna, kau merebutnya dari ku, sudah lama aku mencintaimu zeyna dan melamarnya, namun ia selalu menolak dan lebih memilih mu menjadi calon suaminya." Murka Alfran.


"Zeyna? Astaghfirullah asal Anda tau, pilihan zeyna itu murni karena keridhaan dirinya dan orang tuanya, Anda tidak berhak memaksakan kehendak zeyna untuk memilih Anda." Tutur Ali mencoba tetap tenang..


"Diam!! Zeyna adalah milikku selamanya, dan siapapun termasuk kamu tidak akan bisa memiliki zeyna, tinggalkan zeyna dan batalkan pernikahan kalian, atau nyawa keluarga kamu terancam." Ancam Alfran mencekal rahang Ali.


"Tidak akan, Allah yg menentukan takdir hidup dan matinya setiap manusia, ancaman Anda tidak mempan bagi saya dan zeyna." Tegas Ali menahan sakit di rahangnya.


"Kau.."


"Pak, nona zeyna sudah menunggu dibawah." Tutur bodyguard Alfran memotong perkataan Alfran.


"Zeyna ada disini?" Tanya Ali khawatir dan panik.


"Tentu saja, karena zeyna sendiri lah yg nantinya akan membatalkan acara pernikahan kalian." Tutur Alfran menyeringai dan berlalu meninggalkan Ali menghampiri zeyna.


"Ya Allah lindungilah zeyna." Lirih Ali.


-------


Sebuah kata menyakitkan dan membahagiakan terungkap bersama, sebuah duka dan suka untuk dua orang berbeda.


"Selamat datang sayang.." Tutur Alfran membuat zeyna muak mendengarnya.


"Dimana kak Ali, lepaskan dia dan izinkan kami pergi." Lirih zeyna.


"Aku memang akan membebaskan Ali kamu tenang saja." Tutur Alfran menyeringai.


"Lalu dimana kak Ali, biarkan saya bertemu dengannya." Pinta zeyna.


"Bawa Ali turun." Perintah Alfran pada dua bodyguard dibelakang Alfran.


Suara hentakan ramai terdengar dilantai atas, terlihat banyak kerumunan orang turun dari tangga, ada sekitar... dua belas orang berpakaian serba hitam dan satu orang berbeda dengan pakaian kemeja Koko berwarna navy, itu Ali.


"Kak Ali." panggil zeyna hendak menghampiri Ali yg lemah tak berdaya dengan luka dibibir dan rahangnya.


"Bukankah kalian bukan muhrim sayang.. untuk apa kau menghampirinya." Tutur Alfran dingin, tersirat nada cemburu didalamnya melihat zeyna yg khawatir dengan Ali.


"Izinkan saya membawa kak Ali pergi dari sini, saya mohon." Pinta zeyna memohon kepada Alfran.


"Ali memang akan pergi dari sini, tapi tidak denganmu sayang." Tutur Alfran menyeringai.


"Apa maksud Anda pak?" Tanya zeyna mulai waspada.


"Aku akan memberikan sebuah penawaran yg menarik." Tutur Alfran.


"Batalkan pernikahan dengan Ali dan menikah dengan ku atau.." Tutur Alfran menimang-nimang perkataannya.


"Atau apa?" Tanya zeyna.


"Atau nyawa Ali akan dihabisi didepan mata indah mu, sayang." Tutur Alfran menekankan kata 'sayang'.


"Astaghfirullah, apa yg anda katakan sama sekali tidak pantas keluar dari mulut Anda pak, hidup dan mati seorang hamba hanya ditangan Allah, hentikan dan sudahi semua, saya selalu berdoa Anda menemukan wanita yg lebih baik dari saya yg tentu akan Anda cintai, saya Mohon lupakan saya dan biarkan saya hidup bersama kak Ali." Tutur zeyna menolak permintaan Alfran.


"Tidak ada penolakan, atau... habisi dia sekarang." Murka Alfran memerintah bodyguard untuk memukuli Ali.


Zeyna yg melihat Ali babak belur dipukuli oleh bodyguard-bodyguard Alfran berteriak histeris.


"Cukup!!! Saya mohon cukup." Teriak zeyna sembari menangis.


"Kak Ali... Afwan jiddan." Lirih zeyna menatap Ali sendu.


"Jangan zey, jangan.. Allah bersama kita." lirih Ali menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Habisi dia!" Murka Alfran lagi muak melihat drama antara Ali dan zeyna.


"Jangan, sudah cukup. Baik.. baik.. saya akan menuruti perintah Anda." Lirih zeyna pasrah.


"Zeyna.." lirih Ali menggeleng-gelengkan kepalanya membuat zeyna semakin keras mencoba menahan Isak tangis agar tak tumpah didepan Ali.


"Lepaskan dia, dan pastikan dia dan keluarganya pergi dari Lampung." Perintah Alfran pada bodyguardnya.


"Kak Ali.." panggil zeyna mencoba menolong Ali yg lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Bawa zeyna." Perintah Alfran kepada beberapa bodyguard wanita untuk membawa zeyna menjauhi Ali.


"Lepaskan.. lepaskan saya.. kak Ali.. biarkan saya menolong kak Ali dulu." Tutur zeyna memberontak.


Alfran muak dengan rasa khawatir zeyna terhadap Ali, ia memerintahkan bodyguardnya untuk membawa zeyna disebuah kamar yg ada di villa tersebut dan memerintahkan penjagaan ketat.


Sementara Ali kini telah kembali kepada keluarganya dengan ancaman terus memenuhi kepalanya, tidak hanya Ali, keluarganya pun turut diancam.


Ali mencoba berkali-kali menjelaskan kepada keluarganya untuk tetap tinggal di Lampung dan melanjutkan pernikahannya dengan zeyna, namun dengan ancaman Alfran yg membuat keluarga Ali khawatir mereka terpaksa menolak permintaan Ali dan meminta Arkam membatalkan pernikahan Ali dan zeyna.


--------


Sebuah bahagia ataukah penderita yg akan zeyna hadapi nantinya? Hanya doa orang tua yg akan mengiringi zeyna.


Kini Alfran datang dengan Amar Aldrian, Kakek Alfran, menemui orang tua dan keluarga zeyna untuk melamar, namun apa yg terjadi sungguh mengejutkan.


"Pak, Amar!" Seru Arkam terkejut.


"Arkam, jadi kamu ayah dari gadis cantik yg Alfran cintai, MasyaAllah sungguh sebuah kejadian tak terduga." Tutur Amar.


"Silakan duduk pak." Tutur Arkam.


"Dimana Hendrawan pak, bagaimana kabarnya?" Tanya Arkam basa basi.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, semenjak istri dan anak perempuannya meninggal, dia sudah menikah lagi." Tutur Amar menjelaskan.


"Ini Alfran cucuku, anak Hendrawan." Tutur Amar memperkenalkan Alfran yg diangguki oleh Arkam.


"Saya datang kesini dengan beribu maaf nak, karena ulah cucuku yg menyandra putrimu membuatmu khawatir, tapi dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya ingin meminang putrimu untuk cucuku." Tutur Amar to the point dengan tujuananya menemui arkam yg tak terduga ternyata adalah teman dari anaknya sewaktu kecil dulu, Hendrawan.


"Tapi pak, saya mohon maaf tapi saya tidak bisa menyerahkan Putri saya kepada cucu bapak, ini mengenai adab beragama pak, apa yg dilakukan cucu bapak sama sekali tidak mencerminkan kepribadian yg baik, apa yg dilakukan cucu bapak merugikan banyak orang." Tutur Arkam berusaha tetap tenang.


"Saya tau apa yg dilakukan Alfran memang salah, tapi jika Alfran dan putri mu tidak dinikahkan maka kamu sendiri yg menjerumuskan putrimu ke lubang maksiat, Alfran tak jauh berbeda dengan Hendrawan, kau tentu faham sikap Hendrawan yg harus mendapatkan apa yg ia mau, bapak mohon padamu nak Arkam izinkan Alfran menjadi suami zeyna." Tutur Amar lagi.


"Tapi pak.."


"Abi.. sudah, apa yg dibilang pak Amar ada benarnya, kita serahkan semua keputusan ini pada zeyna." Tutur Risna menenangkan arkam yg dirundung keraguan.


"Hisyam, panggilkan adikmu." Tutur Risna memerintahkan.


"Baik ummi." Patuh Hisyam berlalu menuju kamar zeyna.


Tokk... tokk... tokk..


"Dek, ini Aa' buka pintunya." Tutur Hisyam.


"Na'am a'." Tutur zeyna membuka pintu.


"Ada apa a'?." Tanya zeyna dengan ekspresi datar dengan kesedihan masih setia menghiasi, sejak kejadian beberapa hari lalu membuat zeyna tertekan, pernikahannya dengan Ali Batal, dan ia ditahan Alfran di villa selama beberapa waktu hingga zeyna benar-benar mau menuruti kemauannya baru ia bisa bebas dan kembali kepada keluarganya.


"Ayo ke depan, Abi panggil." Tutur Hisyam.


"Na'am a'." Patuh zeyna mengikuti Hisyam kerm ruang tamu, tentu ia terkejut melihat Alfran duduk dengan tenang disamping laki-laki berumur.


"Zeyna, duduk sini nak." Perintah Risna menyuruh zeyna duduk diantara dirinya dan Arkam.


"Adek tentu sudah tau apa yg terjadi, ini Kakek Amar, beliau melamar adek untuk menjadi istri cucunya, Alfran. Bagaimana? Apakah adek bersedia." Tutur Arkam.


Diam, itu yg kini dilakukan zeyna, ia tak sanggup dengan apa yg didengarnya, ia tau ini akan terjadi namun ia tak menyangka jika Arkam dengan mudahnya luluh untuk mengizinkan laki-laki seperti Alfran menjadi suaminya.


"Adek, bagaimana?" Tanya Arkam lagi.


"Zeyna.." lirih zeyna menahan air matanya agar tak jatuh.


Muhasabah cinta, akan selalu berusaha mengiringi setiap langkah lembar baru kehidupan, karena apapun atas ridho orang tua, adalah ridho dari Allah SWT.


NO Khalwat UNTIL Akad


See you next part😉


Comment yuk seberapa feel sih baca cerita ini dan boleh beri kritikan membangun untuk lebih menyemangati.


Jangan lupa votenya😍