
"Tuhan Maha baik, masih memberikan ku rasa cinta kembali setelah kesakitan berulang kali"
Refanza Alfrando Aldrian
------------------------------------------------------
Allah tak mungkin takdirkan yg tak sesuai dengan catatan takdirmu di lauhul Mahfudz.
Meski kau berpikir Allah jahat dengan segala irrodah-Nya yg tak sesuai asa mu. Namun, ketahuilah yg terbaik menurut mu belum tentu baik di hadapan Allah, begitupula sebaliknya yg buruk menurut mu belum tentu buruk di hadapan Allah.
Waktu menujukan pukul 10:30 malam, dan Zeyna, gadis itu baru saja pulang dari rumah sakit, hari ini masih sama seperti hari biasanya, sangat melelahkan.
"Assalamualaikum, Na.." teriak Zeyna pelan takut mengganggu penghuni kamar kost lainnya, Ia enggan membuka pintu dengan kunci yg Ia pegang, berniat mengganggu tidur temannya yg pasti tengah nyenyak didalam sana.
"Na, Assalamualaikum zeyna pulang." ulang Zeyna,
Ceklek.. (pintu dibuka)
pintu terbuka menampilkan sosok wanita dengan piyama tidur dan kerudung biru.
"Wa'alaikumsalam Zey, Afwan tadi aku ketiduran, abis kamu pulangnya larut mulu deh!." Cecar Ana, teman satu kos'an Zeyna sambil memanyunkan bibirnya membuat Zeyna menahan tawanya.
"Huh" hela Zeyna kasar, sambil masuk kedalam kamar kost'an nya.
"Hehhe Afwan sayangku, sahabatku, shalihahku bagaimana lagi ini kan kewajiban yg aku pilih, sebenernya aku bawa kunci sih, kan tadi pagi aku yg terakhir kali ngunci pintu, hehehe.." Tutur Zeyna tertawa geli sembari mencubit pipi sahabatnya dengan gemas.
"Ihh zeyna suka banget deh ngerjain orang, lagi enak-enak tidur juga." protes Ana sambil kembali menaiki ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Ciee ngambek, Afwan dehh." ledek Zeyna sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
"Tau ah" kesal Ana sebelum kembali melanjutkan tidurnya yg terganggu.
Setelah selesai dengan urusan dikamar mandi, zeyna bersiap untuk tidur, karna besok tuntutan sederet kesibukan telah menantinya, dan mengharuskannya ke rumah sakit karna permintaan dokter ibran yg memberikan zeyna tugas tambahan.
•••••••••••
Sabar adalah sebuah keputusan, berhenti untuk bersabar juga sebuah keputusan.
Sabar menanti kebahagiaan di penghujung yg menjanjikan, atau berhenti bersabar karena asa yg mulai rapuh menghadapi ujian terjal menuju kebahagiaan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.. (Adzan subuh)
Suara azan subuh berkumandang membuat gadis bermata biru sapire yg sedang terpejam itu terperanjat kaget.
Lelah yg mendera membuatnya tidur nyenyak malam tadi, segudang aktivitas menuju gelar dokternya terasa teramat berat dan melelahkan, menyita sebagian fokus hidupnya untuk cita-citanya itu.
"Astaghfirullah, kenapa bisa kesiangan sampai tidak bangun untuk tahajjud." sesal Zeyna.
Ia menoleh kesamping, Ana sahabatnya juga belum bangun, pasalnya tak biasanya Ia bangun saat atau bahkan melewati azdan subuh, Zeyna terbiasa bangun lebih awal untuk Tahajjud, tapi hari ini bahkan Ia tak mendengar alarm ponselnya berbunyi.
"Na, bangun udah adzan." ucap Zeyna sambil mengguncangkan bahu Ana pelan,
"Hemm" sahun Ana malas,
"Na, bangun atau aku guyur pake air!" ancam Zeyna lembut namun tegas, selalu seperti itu.. Nana yg hobi tidur dan Zeyna dengan ancaman-ancaman mengerikannya.
"Iya iya aku bangun, cerewet." kesal Ana sambil bangun disusul Zeyna yg langsung masuk ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri dan mengambil air wudhu, Zeyna melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan menatap kesal melihat Ana ternyata kembali melanjutkan tidurnya.
"Ana... bangun!." Teriak Zeyna menahan kesal.
"Bentar deh zey kepalaku pusing nih." Keluh Ana, membuat Zeyna melangkahkan kakinya mendekati ranjang.
"Na, muka kamu pucet, kamu sakit?" Tanya zeyna khawatir, sambil memeriksakan tangannya ke dahi Ana.
"Demam juga ini." Tutur Zeyna merasakan suhu panas ditangannya.
"Kamu sholat gak Na." Tanya Zeyna.
"Enggak zey, belum selesai zey." Sambung Nana masih dengan mata terpejam.
"Ya udah kamu tidur aja Na, pusing gak?." Tanya Zeyna lagi.
"Pusing zey banget malahan, sepertinya vertigo ku kambuh deh." lirih Ana pelan, Zeyna yg mendengar itu langsung sigap mengambil teleskopnya dan memeriksa Ana.
"Aku sholat dulu, habis itu aku kedepan cari sarapan sama obat buat kamu, kamu istirahat aja ya." perintah Zeyna yg di jawab anggukan oleh Ana, setelah Ia selesai memeriksa keadaan Ana, kemudia bangkit dari duduknya untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh yg tertunda.
Seberapapun kuatnya manusia mengelak takdir Allah, niscaya Ia tak akan mungkin mampu.
Apa yang melewatiku tidak akan pernah menjadi takdirku,,
Dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatiku.
Hari ini matahari tengah bersinar begitu terik, sesuatu yg wajar ketika musim telah memasuki kemarau.
Hari ini dengan terpaksa Zeyna menaiki Ojek untuk pergi ke rumah sakit karena tertinggal angkot maupun bus yg biasanya selalu Ia naiki, karna tadi pagi Ia harus merawat Ana yg mendadak vertigonya kambuh, sampai keadaan sedikit membaik. karna jujur Zeyna menyayangi Ana seperti saudaranya sendiri, jadi wajar Ia sangat khawatir.
Jam menunjukkan pukul 08:45 itu artinya hambir jam 9, sebenarnya hari ini Ia tidak ada jadwal praktek lagi, karena praktek kemarin adalah praktek terakhir Zeyna, itu artinya masa Co-assnya telah berakhir, tinggal menunggu UKMPPD dan finishnya sumpah dokter.
Entah ada apa hari ini tiba-tiba Zeyna diharuskan untuk kerumah sakit seorang diri tanpa serta tim Co-assnya, dokter Ibran menyuruhnya datang kesana karena sesuatu hal yg penting tuturnya kemarin setelah selesai praktek bersama tim coass yg lainnya.
Jalanan kota lumayan lenggang karena ini bukan lagi Jam sibuk, membuat Zeyna lebih cepat sampai rumah sakit dari hari biasanya yg harus terjebak macetnya jalanan.
"Assalamualaikum, dok" ucap zeyna sopan, saat tidak sengaja bertemu dokter Ibran didepan ruang UGD.
"Wa'alaikumsalam zey, oh ya kebetulan kamu udah datang saya mau minta toling." Tutur dokter Ibran, kepala pimpinan RSIA tempat Zeyna melakukan co-*** bersama timnya.
"Iya dok, apa yg harus saya lakukan." tanya Zeyna sopan menimpali.
"Saya mau kamu mewakili RSIA, rapat di perusahaan milik keluarga Aldrian, diperusahaan tersebut memerlukan bantuan medis untuk melakukan cek kesehatan kepada para karyawannya, saya mengajukan kamu, karena menurut saya kamu mahasiswa Co-*** terbaik diangkatmu, bagaimana Zey, ini juga bisa menjadi nilai plus untukmu." Tutur dokter Ibran to the point menjelaskan.
"Karena ini merupakan salah satu kewajiban, Insyaallah saya siap dok." jawab Zeyna menyetujui.
"Baik kalau begitu jam 1 siang nanti kamu datang ke perusahaan itu, kamu bisa mendapatkan alamatnya di bagian administrasi, saya permisi keruangan saya dulu." ucap dokter Ibran sebelum pergi,
"Baik dok, terimakasih." jawab Zeyna yg mendapatkan anggukan dari dokter Ibran.
Setelah dari rumah sakit, Zeyna bergegas ke toko bunga untuk mengisi waktu luang sebelum pergi ke perusahaan itu, karena jam masih menunjukan pukul 10 pagi, beruntung toko bunga itu milik temannya seangkatan dikampus namun berbeda jurusan jadi Ia mengizinkan Zeyna untuk bekerja part time menyesuaikan waktu Zeyna.
"Assalamualaikum, Bill." sapa Zeyna memasuki toko bunga itu,
"Wa'alaikumsalam, Zey akhirnya lo datang juga, gue kira lo sudah tidak butuh bekerja disini lagi." Tutur Billa tertawa mengejek, pemilik toko bunga sekaligus sahabatnya.
"Hehhhe aku masih butuh banget pekerjaan ini Bill, aku kan hidup di kota orang, sendirian lagi, tidak punya kerabat atau saudara yg bisa dimintai tolong, kecuali kalian sahabat-sahabatku." jawab Zeyna jujur sambil tersenyum.
"Iya deh, iya. Oh ya gue ada urusan bentar nih diluar, gue nitip toko dulu ya, janji tidak lama kok." pinta bila, yg diangguki oleh Zeyna.
Zeyna masih fokus menyusun bunga-bunga agar terlihat menarik hingga suara bariton seorang pria membuatnya terkejut.
"Pilihkan saya bunga terindah untuk gadisku." pinta pria itu tegas,
Tanpa menoleh dan tanpa mengetahui siapa laki-laki itu, Zeyna langsung mencarikan bunga yg diminta pria bersuara bariton itu.
"Bunga mawar putih, sangat disukai seorang perempuan, ini berikan pada gadis Anda, pak." jelas Zeyna sambil menyerahkan satu buket mawar putih kepada pria itu, dan lagi-lagi tanpa memandangnya.
Hingga Zeyna merasa aneh mengapa pria itu tak kunjung mengambil bunga yg ia sodorkan, hingga Ia penasaran dan kembali berucap.
"Ini bunganya pak, apa bunga yg saya pilihkan tidak cocok, apa bapak ingin mencarinya sendiri ?." Tanya Zeyna kembali sambil memandang pria itu hingga Ia terkejut ternyata pria itu adalah pria yg hampir menabraknya saat Ia menyelamatkan seekor kucing ditengah jalan.
Pria itu Alfran, menyeringai.
"Berapa?." Tanya Alfran datar,
"250 ribu untuk satu buket mawar putih." jelas Zeyna, masih dengan wajah terkejut.
"Bukan harga bunga itu, tapi mahar yg kau minta untuk aku bisa menikahimu." Tutur Alfran menjelaskan dengan intonasi menggebu,
" Haah, afwan pak, sepertinya anda salah bicara." sangkal Zeyna terkejut atas penuturan Alfran barusan,
"Saya serius, berapa mahar yg kamu minta." tanya Alfran lagi.
"Afwan pak, saya tidak ingin meminta mahar apapun kepada Anda, karna saya tidak ingin menikah dengan Anda!." Tegas Zeyna menolak atas permintaan yg dianggapnya konyol itu,
bagaimana tidak, Ia bahkan tidak mengenal sedikit pun mengenai pria didepannya ini, jangankan mengenal, namanya saja Ia tak tau, dan yg membuatnya menolaknya tegas, karna sejak awal mereka bertemu suasana yg tercipta tidak baik, bahkan pria itu pernah membentaknya.
"Tidak ada penolakan, kamu harus menerimanya!." Tegas Alfran pada Zeyna,
"Afwan pak, Anda tidak bisa memaksa, karna kita sama sekali tidak saling mengenal, permisi saya masuk kedalam." Jeda Zeyna menarik nafas sebentar.
"Assalamualaikum!." Sambung Zeyna yg kemudian masuk kedalam toko meninggalkan Alfran.
"Lihat saja aku akan melakukan apapun agar bisa menikahimu!." Geram Alfran atas penolakan dari Zeyna, hingga kemudian Ia meninggalkan toko bunga itu, masuk kedalam mobil dengan murka, pasalnya tidak ada satu pun wanita yg berani menolaknya seperti Zeyna, kebanyakan para wanita didekatnya selalu terpesona hingga tidak mampu menyuguhkan penolakan atas dirinya, sungguh Zeyna, gadis itu benar-benar merendahkan harga dirinya.
"Arghh lihat saja nanti Zey, kau akan menjadi milikku bagaimanapun caranya!." Marah Alfran sambil membanting setir mobilnya, kemudian melajukan mobil itu pergi meninggalkan toko bunga tempat dimana gadis yg memikat hatinya itu.
Zeyna bergerak gelisah karna perkataan laki-laki itu yg tiba-tiba melamarnya
"Astaghfirullah, Ya Allah tenangkan hamba." lirih zeyna lemah.
Bad moment sejatinya adalah bentuk upaya Tuhan memberikan kesan yg akan selalu hambanya ingat, entah itu moment dimana dengan keluarga, teman atau bahkan ternyata jodohnya.
~NO Khalwat UNTIL Akad~
See you next part😊