NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Mengenal Cinta


Aku mungkin belum mencintainya, tapi aku selalu berusaha melibatkan Allah untuk rasa cintaku nanti padanya, semoga Allah berkahi cinta setelah akad.


Khumairah zeynasha Khairunnisa


------------------------------------------------------


Sebuah kebaikan adalah sumber keberkahan, carilah dan berbuatlah terus kebaikan karena manisnya takdir Allah menyertai selalu kebaikan.


Jam menunjukkan pukul 04:00 zeyna terbangun mendengar suara lantunan murojaah, surat Al-zukhruf, ya.. ia faham betul itu surat yg kini ia dengar.


Zeyna bergerak terduduk di tempat tidurnya, ia tak menemukan Alfran disampingnya, namun ia menemukan sosoknya kini tengah duduk beralaskan sajadah sembari bibirnya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"MasyaAllah Tabbarakallah, hamba terlalu takabur padanya selama ini ya Allah, ampuni hamba." Tutur zeyna membatin menyaksikan kemuliaan Alfran didepannya.


"Sayang.." panggil Alfran membuat zeyna tersadar dari lamunannya.


Zeyna berdebar, panggil sayang yg dilontarkan Alfran begitu hangat dihatinya, ia terpesona akan panggilan manis itu.


"Ayo bangun kita tahajjud bareng." Ajak Alfran membuat zeyna salah tingkah.


"Hmm.. aku.. aku ambil wudhu dulu." Gugup zeyna berdiri dari tempat tidur dan langsung keluar kamar menuju kamar mandi yg terletak tepat disamping kamarnya untuk mengambil wudhu sekaligus menghindari Alfran.


"Sangat cantik, terimakasih Tuhan." Tutur Alfran begitu zeyna keluar dari kamarnya, ralat kamar mereka.


Dengan segala rasa yg ada di hati kedua insan yg tengah melaksanakan sholat tahajjud, dengan Alfran sebagai imam, membuat suasana romantis tercipta, dengan hati tenang dan khusyu' Alfran mengimami makmumnya yg tak lain adalah zeyna, istrinya kini.


"Terimakasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu." Tutur Alfran tiba-tiba.


Zeyna terdiam atas apa yg Alfran ucapkan, ia tak tau harus menjawab apa.


"Aku harus pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, aku pergi ya." Pamit Alfran ketika menyadari jam telah menunjukkan pukul 04:30.


Alfran refleks mendekati zeyna dan mencium keningnya, tentu hal itu membuat zeyna terkejut dan terdiam, mencerna suatu hal yg barusan terjadi.


"Barakallaah zauji.." Tutur zeyna pelan sangat pelan, nyaris tak terdengar.


"Kau berbicara sesuatu?" Tanya Alfran membalikkan badannya, ketika sebelumnya hendak membuka pintu kamar mereka.


Zeyna menggeleng pelan, menyembunyikan ekspresi salah tingkahnya ketika kedapatan sedang mendoakan Alfran agar selalu diberkahi Allah SWT.


"Aku pergi dulu zaujati.. assalamualaikum.." Tutur Alfran dengan romantis.


"Wa.. Wa'alaikumsalam.." Tutur zeyna gugup.


Sebuah kejadian manis yg mengawali tepat 1 hari setatus mereka sebagai sepasang suami istri.


Tak lama berselang ketika Alfran pergi ke masjid adzan subuh berkumandang, lantas zeyna keluar kamar tetap dengan mukena yg melekat ditubuhnya menuju mushola dirumahnya untuk bergabung sholat berjamaah dengan Risna, Rini dan Billa yg sudah menunggu.


"Wahhh wahhh, pengantin baru telat keluar kamar nih, ketinggalan sholat qobliyah subuh deh." Ejek Billa tertawa.


"Billa.." seru Risna mengingatkan yg hanya direspon senyuman oleh Billa.


"Zeyna sholat qobliyah subuh kok sama pak Alfran." Tutur zeyna spontan membuat ketiga orang dihadapan zeyna tertawa pelan.


"Cieee di imamin sang suami." Ejek Billa lagi.


"Ehh tapi kok manggilnya pak Alfran sih, gak lucu deh zey." Protes Billa dengan panggil zeyna untuk Alfran.


"Yg dikatakan Billa benar sayang, kamu gak boleh manggil Alfran seperti itu, tidak boleh hukumnya seorang istri menyamkan suami seperti ayahnya, dia suami kamu, akan lebih baik jika ada panggilan sayang." Nasihat Risna.


"Afwan ummi, zeyna gak akan ulangi lagi." Tutur zeyna.


"Ya udah kita sholat yuk mi, di masjid udah iqomah." Ajak Rini yg sedari tadi menyimak obrolan mereka.


"Astaghfirullah, ayo anak-anak rapatkan shafnya." Perintah Risna yg diikuti semua orang.


--------


Sesuatu yg sederhana namun bernilai mewah adalah ketulusan yg mengundang keberkahan sang ilahi Robbi.


Selepas menunaikan shalat subuh zeyna membantu Risna dan Billa memasak di dapur, sedangkan Rini tengah menenangkan syaqila, anaknya dan Hisyam yg tiba-tiba rewel.


"Adek cari apa?" Tanya Risna yg melihat zeyna sibuk mengacak-ngacak isi lemari es.


"Cari sayuran mi." Tutur zeyna menanggapi pertanyaan Risna.


"Hari ini jangan masak sayur ya, pak Amar bilang kalau Alfran sangat benci sayur." Tutur Risna.


"Sayur kan baik mi, zeyna akan bujuk bang Alfran untuk makan sayur." Tutur zeyna.


"Ciee manggilnya bang Alfran, uhhh romantisnya, bang Alfran dan neng zeyna." Sambung Billa tiba-tiba.


"Astaghfirullah Billa, apa'an sih." Sergah zeyna memanyunkan bibirnya.


"Adek jangan memaksa, pelan-pelan saja, Alfran sama sekali tidak pernah makan sayur sejak kecil." Tutur Risna lagi.


"Bagaimana bisa ia tumbuh sehat mi, jika tidak makan sayur, aneh. memakan makanan berbahan ikan, daging dan lainnya selain sayur sangat minim bisa membuat tubuhnya bugar." Tutur zeyna membuat jiwa seorang dokter muncul seketika.


"Mungkin ia minum vitamin atau sejenisnya." Tutur Risna.


"Tapi tetap saja sayur itu penting mi, zeyna bakalan bujuk agar bang Alfran makan sayur." Tutur zeyna kekeh.


"Terserah adek, yg penting gak boleh maksa ya." Pesan Risna.


"Insyaallah mi." Tutur zeyna sambil nyengir kuda.


"Lo masak sayur apa'an zey? Baunya enak gue minta dong" Tanya Billa penasaran.


"Sayur bayam sama jagung manis, tenang semua bakalan kebagian, zeyna masak banyak kok." Tutur zeyna tersenyum.


"Duhh.. duhh.. pengantin baru tumben baik." Ejek Billa.


"Ihh Billa, emang selama ini yg Masakin kamu ditoko Bungan siapa? Satpam?." Kesal zeyna.


"Gue becanda kali, jangan ngambek dong kan pengantin baru." Tutur Billa tidak digubris oleh zeyna.


Seakan lupa akan apa yg terjadi kini, zeyna lebih memilih menjalani apa yg telah Allah takdirkan untuknya tanpa mau mengeluh.


Jam telah menunjukkan pukul 06:00 namun Alfran, Arkam dan Hisyam tak kunjung pulang dari masjid.


Ditengah menyiapkan sarapan untuk semua orang terdengar suara mesin mobil dihalaman rumah keluarga zeyna.


"Sepertinya ada tamu mi." Tutur zeyna.


"Adek bukain ya, mungkin itu pak Amar atau keluarga Alfran yg lain." Tutur Risna.


"Iya mi." Tutur zeyna melangkah menuju pintu rumahnya.


"Assalamualaikum.." sapa orang diluar.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ehh pah, mah ayo masuk." Tutur zeyna ramah begitu mengetahui bahwa tamunya adalah Hendrawan dan Fatma.


"Ini ada makanan untuk sarapan sayang, tadi mama mampir ke restoran." Tutur Fatma menyodorkan kantung plastik berisi makanan.


"Mama gak usah repot-repot, zeyna masak banyak kok, ayo mah kita sarapan sama-sama." Ajak zeyna.


"Kok sepi dimana Arkam dan yg lainnya nak?" Tanya Hendrawan.


"Abi, Aa' dan bang Alfran belum pulang dari masjid, mungkin sebentar lagi pah." Tutur zeyna.


"Ehh Bu Fatma, pak Hendrawan silakan duduk kita sarapan sama-sama." Tutur Risna yg muncul dari dapur yang spontan menggiring Hendrawan dan Fatma memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum.."


"Itu mereka." Tutur zeyna.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Tutur zeyna yg di ikuti Risna, Hendrawan dan Fatma.


"Hen sudah sampai?." Tanya Arkam begitu melihat Hendrawan telah duduk di meja makan.


"Barusan ar, ada apa ini kenapa dimasjid jam segini baru pulang?" Tanya Hendrawan.


"Tadi ada rapat mendadak dan jamaah tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu." Tutur Arkam menjelaskan.


"Kebiasaan kamu memang tidak pernah berubah ar, hatimu selalu tertambat dengan masjid, berbeda dengan aku yang sok sibuk dengan urusan kantor, dan seolah mengabaikan Rabb ku." Tutur Hendrawan menyesal.


"Semua orang punya masanya masing-masing, setelah kamu tersadar mengapa harus menyesal, kamu harus berubah.. selalu utamakan Allah di setiap saat." Tutur Arkam menyemangati.


"Bimbing aku ar." Tutur Hendrawan tersenyum.


"Pasti.


Ayo kita sarapan, makanannya tampak menggoda." Tutur Arkam sembari menyantap makanan yg terhidang satu persatu.


"Ayo semuanya kita sarapan." Ajak Risna menghentikan obrolan keduanya, Arkam dan Hendrawan.


Ada rasa tidak suka dihati Alfran melihat Hendrawan dan Fatma turut hadir untuk sarapan bersama keluarga zeyna.


Ia tak ingin kebahagiaannya bersama keluarga zeyna yg bahagia ternoda oleh kemunafikan Fatma yg disembunyikannya.


"Dimana pak Amar?, Kenapa tidak ikut kesini." Tanya Arkam pada Hendrawan.


"Papah sudah pulang ke Semarang, ada kolega bisnisnya yg ingin bertemu langsung dengannya dan tidak mau diwakilkan." Tutur Hendrawan diangguki Arkam ditengah sarapan mereka.


"Aku tidak makan sayur, sayang." Tutur Alfran melihat zeyna menuangkan sayur yg di masaknya tadi dan mengalihkan perhatian semua orang yg sedang sarapan bersama.


"Sayur itu sehat, harus makan minimal sedikit." Tutur zeyna dengan kaku membujuk Alfran.


"Tapi aku.." Tutur Alfran terpotong.


"Zeyna udah capek-capek masak Lo kak, hargai dong." Sambung Billa spontan membuat Alfran terpojok tidak tega menolak masakan zeyna.


"Aku akan coba makan." Tutur Alfran membuat zeyna tersenyum sekilas membuat Alfran terpesona.


Semua makan dengan tenang, terkadang diiringi dengan obrolan antara Arkam dan Hendrawan, atau juga Hisyam dan Alfran.


Fatma merasakan kebahagiaan saat itu, bisa melihat Alfran setidaknya tidak dalam keadaan murka dan menatapnya dengan benci walau ia yakin itu hanya sesaat.


-------


Lembar baru dibuka, entah bahagia, pilu, suka ataupun duka yg akan menghiasinya, semuanya tergantung manusia yg menjalankannya.


Hari ini tiba saatnya Alfran membawa zeyna kembali ke Semarang, bukan lagi sebagai gadis incarannya melainkan istri idamannya.


Sudah seminggu terhitung Alfran di Lampung dengan status suami zeyna semenjak hari akad pernikahannya.


Tangis sedih mengiringi kepergian Alfran dan zeyna kembali ke Semarang, tampak ketidak relaan di wajah Arkam dan Risna.


"Kalian hati-hati ya, nak Alfran jaga baik-baik anak ummi ya." Tutur Risna mengusap tangisnya.


"Pasti ummi, zeyna adalah amanah untuk Alfran." Tutur Alfran.


"Kami pamit Abi, ummi." Tutur zeyna dan Alfran.


"Aa', uni kami pamit." Sambung mereka lagi memeluk satu persatu keluarga yg hendak ditinggalkan.


"Hati-hati, fi amanillah." Tutur semua orang ketika zeyna dan Alfran menaiki mobilnya yg dikemudikan oleh Rian.


"Ayo jalan." Perintah Alfran.


"Baik pak." Tutur Rian patuh.


"Apa Nadine tidak ikut denganmu?" Tanya zeyna pada rian perihal Nadine yg sudah akrab dengan zeyna dihari pernikahannya dan Alfran.


"Jangan panggil saya seperti itu." Sergah zeyna.


"Panggil saja seperti Nadine memanggilku." Tutur zeyna meminta.


"Baik.. kak." Patuh Rian.


"Kita akan tinggal di apartemenku sementara, karena rumah baru kita masih dalam tahap finishing, tidak apa-apa kan?" Tanya Alfran lembut.


"Tak apa." Tutur zeyna pendek.


"Ku kira kau akan banyak bicara sayang, tapi ternyata kau jadi pendiam di dekatku." Goda Alfran membuat zeyna memalingkan wajahnya diam sembari melihat pemandangan di luar.


-------


Sebuah rumah tangga pasti akan diiringi suka duka kehidupan, tergantung orang itu mau membuatnya dipenuhi suka atau sebaliknya, duka.


Suasana mendung menyelimuti kota Semarang, menunjukkan tanda bahwa akan ada hujan lebat sebentar lagi.


Alfran dan zeyna telah memasuki apartemen 15 menit yang lalu, dan kini keduanya tengah sibuk merapihkan barang-barang mereka.


(Hujan turun)..


Tatkala Allah menganugerahkan berkah yang berlimpah adalah hujan salah satunya.


Dan terdapat kebahagiaan yang mengiringi disetiap tetesnya jatuh membasahi bumi.


"Sayang.. duduklah, aku ingin bicara." Tutur Alfran memerintah sembari menepuk tempat duduk disampingnya.


Zeyna yg merasa dipanggil reflek menoleh, dan tanpa pikir panjang langsung menghampiri Alfran dan duduk disampingnya, dengan wajah tertunduk menghindari tatapan Alfran.


"Tak perlu menunduk, aku suamimu, pandanglah suamimu ini dengan penuh cinta, sayang.." gombalan Alfran membuat semburat merah muncul di pipi zeyna.


"Lihatlah pipimu merah seperti tomat." Goda Alfran lagi.


"A.. aku.. mau membereskan barang-barang lagi." gugup zeyna hendak pergi meninggalkan Alfran yg tengah tertawa karena berhasil membuat zeyna salah tingkah.


"Duduklah dulu aku ingin berbicara sesuatu, urusan barang biar nanti aku suruh bodyguard ku yg bereskan." Tutur Alfran tersenyum.


"Tapi aku tidak ingin ada laki-laki lain masuk kesini, biar aku saja yg membereskan." Turut zeyna.


"Baiklah.. baiklah.. nanti kita bereskan bersama." Tutur Alfran mengalahkan.


"Sayang.. besok kita akan pergi umroh, kau setuju kan?." Tanya Alfran membuat zeyna terkejut.


Zeyna memang bukanlah orang yg beruntung dalam hal materi, jangankan untuk pergi ketanah suci, untuk membayar uang kuliah sewaktu ia kuliah pun ia harus rela bekerja paruh waktu, ia bukanlah orang yg miskin bukan pula orang yg kaya, ia hanya berada di taraf hidup yg cukup


"U.. umroh?" Tanya zeyna memastikan.


"Iya sayang ku.. kita besok berangkat umroh sekaligus honeymoon." Tutur Alfran membuat zeyna gugup dengan penuturan Alfran tentang honeymoon.


"Sebenarnya aku ingin mengajak serta keluargamu untuk umroh, tapi ku pikir aku akan memberangkatkan mereka haji tahun depan, sebagai bentuk terima kasih telah memiliki gadis sebaik dirimu." Tutur Alfran membuat zeyna tersipu.


"Tapi, persiapannya?" Tanya zeyna yg sedari tadi terpikirkan dibenaknya.


"Semuanya sudah beres, kita tinggal berangkat subuh jam 05:50." Tutur Alfran.


"Tapi.." Tutur zeyna ragu.


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang istirahatlah besok kita berangkat sebelum sholat subuh." Tutur Alfran mengusap pipi zeyna dengan gemas.


"Aku lapar, apa kau lapar? Aku pesankan makanan ya, kau ingin makan apa sayang, atau kau ingin makan diluar, kalau begitu ayo kita berangkat." Tanya Alfran tak sabaran.


"Tidak usah bang, biar zeyna memasak sebentar, kita makan disini saja." Tutur zeyna menolak ajakan Alfran.


Alfran terdiam dan kemudian tersenyum begitu menyadari panggil zeyna untuknya begitu indah jika zeyna yg melontarkan.


"Apa abang mau? Zeyna akan memasak pasta yg gampang dan cepat." Tanya zeyna memastikan.


"Ide bagus, kalau begitu biar Abang bantu, ayo.." Tutur Alfran menarik tangan zeyna menuju dapur.


"Abang tak perlu repot, duduklah, biar zeyna bisa memasaknya sendiri." Perintah zeyna.


"Abang ingin membantu sayang, biar terlihat romantis." Tutur Alfran tertawa menggoda zeyna.


"Ini apa?" Tanya Alfran menunjukkan sebuah produk pasta yg terlihat asing di matanya.


"Itu pasta hijau, pasta sehat yg terbuat dari sayur-sayuran." Tutur zeyna.


"Kalau begitu abang buatkan omelet saja." Tutur Alfran ngeri melihat hal-hal berbau sayur...


"Tidak ada telur, zeyna lupa membeli telur, yg ada di lemari pendingin hanya sayur-sayuran segar." Tutur zeyna membuat Alfran tercengang mual melihat sayuran.


"mulai saat ini Abang harus terbiasa memakan sayur-sayuran." Tutur zeyna membuat Alfran protes.


"Tapi sayang.. kau tau kan terakhir kali Abang makan sayur, semua seisi rumah panik melihat Abang mual." Protes Alfran.


"Itu kan baru awalnya, sekarang saatnya terapi, abang harus terus-menerus membiasakan makan sayur, nanti juga terbiasa dan suka." Tutur zeyna kekeh dengan pendiriannya.


"Pastanya sudah jadi, Abang tenang saja, zeyna masing menambahkan daging dan elemen lain supaya rasa sayuran tidak dominan, ayo kita makan." Tutur zeyna yg telah menyelesaikan masakannya ketika Alfran protes panjang lebar.


"Tapi Abang tidak ingin makan itu sayang." Tolak Alfran.


"Abang harus makan, tadi katanya lapar." Bujuk zeyna.


"Tapi.."


"Ayo makan, Aa aaa.." perintah zeyna yg reflek menyuapi Alfran karena gemas dengan tingkah Alfran yg tidak ingin makan sayur.


Alfran goyah dengan ketulusan yg terpancar dari raut wajah zeyna, ia membuka mulutnya dan berusaha memakan masakan zeyna.


"Tidak terlalu buruk kan?" Tanya zeyna.


"Lumayan, bisa tertelan. Tapi masih ada sedikit bau-bau sayur yg menyengat." Tutur Alfran.


"Sayur itu baik, tidak seburuk yg dibayangkan." Tutur zeyna.


"Kau begitu cinta sayur, ada apa?" Tanya Alfran.


Degg... zeyna terdiam, teringat sesuatu.


Sayur adalah sesuatu yg mempertemukan Ali dan zeyna sewaktu ospek dulu, Ali yg berkecimpung di fakultas pertanian harus berbaur dalam fakultas kedokteran untuk menganalisis kandungan-kandungan yg terdapat pada sayur, dari situ Ali dan zeyna mengenal baik dengan tetap mengutamakan syariat Islam.


"Sayur kan umum, lagian zeyna kan lulusan kedokteran jadi tau bagaimana pentingnya sayur untuk tubuh manusia." Turut zeyna reflek dengan yg ia pikirkan.


"Baiklah Bu dokter." Goda Alfran kembali melanjutkan makanannya yg hampir habis tak tersisa.


"Abang mau lagi?" Tanya zeyna melihat piring Alfran kosong tak tersisa.


"Tidak, abang sudah kenyang, Abang mau mengecek persiapan besok, kau istirahatlah sayang." Tutur Alfran tersenyum.


"Aku akan istirahatlah setelah membereskan tempat makan ini." Tutur zeyna menumpuk piring kotor dihadapannya.


"Biarkan bi Minah yg mencuci piring-piring kotor itu, besok Abang suruh ia datang." Tutur Alfran.


"Tak perlu merepotkan orang lain, ini hanya beberapa piring dan gelas kotor tak perlu orang lain yg melakukannya, zeyna sudah biasa melakukannya sendiri." Tutur zeyna kekeh.


"Baiklah, jika itu mau istriku.." pasrah Alfran.


-------


Kemuliaan derajat manusia diukur dari seberapa kuatnya ia mampu bertahan dari ujian yg Allahu Rabbul Izzati beri, tanpa berkeluh kesah, tanpa berpaling sedikit pun dari Rabbnya.


(Gerimis manis dihari Kamis)


03:45.


Suara lembut bagai syair nan syahdu terdengar indah ditelinga Alfran.


"Ya zauji.. bangun.." Tutur zeyna membangunkan Alfran lembut, tak butuh waktu lama untuk zeyna membangunkan Alfran, Alfran mengeliat dan membuka mata, memandang takjub wajah sang istri yg bak cahaya di kegelapan.


"Tahajud dulu.. sudah hampir jam 4." Tutur zeyna lembut.


"Astaghfirullah.. Abang sekalian mandi ya, habis tahajjud kita berangkat ke bandara, kita sholat subuh disana saja." Tutur Alfran menatap zeyna lembut yg diangguki zeyna.


Bandara internasional Soekarno-Hatta.


05:10.


"Zaujati.. kita sarapan dulu, ayo." Tutur Alfran menggandeng tangan zeyna lembut.


"Kau mau makan apa sayang?" Tanya Alfran sembari menarik kursi untuk diduduki zeyna.


"Roti bakar dan teh Jasmine saja." Tutur zeyna yg diangguki Alfran.


Pemandangan syahdu kedua pengantin baru yg tengah menikmati sarapan subuh ala mereka, hanya menu roti bakar dan teh Jasmine yg dipesan keduanya, karena zeyna bukanlah orang yg boros akan makanan, jika ia mau ia bisa saja memakan makanan apapun yg ia inginkan, namun ia mengerti batasan, bahwa diluar sana banyak orang yg tidak seberuntung dirinya, ia ingin tetap menjadi orang yg sederhana.


Ternyata sikap dan sifat positif zeyna begitu cepat menular pada Alfran, nyatanya kini Alfran mengikuti gaya hidup sederhana istrinya.


Hampir satu jam Alfran dan zeyna menunggu pesawat yg akan membawanya ke rumah Allah, tempat impian suci setiap hamba.


----------


Hajar Aswad kini bersaksi atas ketulusan dua insan yg berharap keridhaan sakinah mawadah warahmah kepada Allah.


2 jam sudah Alfran dan zeyna berdiam diri di kamar hotel, dengan zeyna yg terus memandang takjub Ka'bah yg terlihat dari lantai 9 kamar yg ia singgahi bersama Alfran.


"MasyaAllah Tabbarakallah, maha suci Allah telah menjadikan Islam agama yg sempurna." Takjub zeyna terharu melihat Ka'bah bukan lagi sebuah angannya.


"Aku sudah umroh bahkan haji beberapa kali saat ada Mama dan kakak ku, tapi umroh kali ini begitu berkesan dan spesial karena dirimu, terimakasih telah menjadi bintang ditengah gelapnya hidupku." Ujar Alfran tiba-tiba memeluk zeyna dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak zeyna, sangat romantis.


Zeyna diam tak menjawab, terlalu banyak bayangan prasangka buruk terhadap suaminya dulu, saat mereka belum menikah.


"Apa kau bahagia? Terhitung sudah 1 Minggu lebih kau menjadi istriku?, Aku harap kau bahagia dan tak akan pernah sedikitpun terbersit untuk meninggalkan ku dan kembali kepada Ali." Tutur Alfran mengeratkan pelukannya pada zeyna.


Lagi-lagi zeyna hanya diam, kali ini dengan air mata mengalir dipipinya, ia berusaha melepas pelukan Alfran dengan lembut.


"Ada apa?" Kaget Alfran dengan sikap zeyna ditambah dengan air mata di pipinya.


Zeyna tak kuasa menahan air mata agar tak keluar lebih banyak, ia menangis sesenggukan.


"Apa kau sakit, sayang? Atau aku menyakitimu?." Tanya Alfran dibuat panik oleh tangisan zeyna yg tak kunjung reda.


Ia, Alfran kini memeluk zeyna untuk menenangkannya, mengusap dengan sayang kepala zeyna seraya terus berucap maaf, maaf dan maaf.


Zeyna lemah dipelukan Alfran, ia hanya bisa menangis di dada bidang Alfran dengan tangannya yg mencengkram erat baju Alfran.


Sampai zeyna sanggup untuk mengutarakan perasaannya selama ini, ia menatap Alfran sendu, lekat dengan segenap rasa aneh dihatinya.


"A.. Afwan jiddan atas semua, dulu zeyna sering berprasangka buruk terhadap Abang, tanpa mau melihat kebaikan abang, bahkan dulu zeyna sangat membenci Abang atas takdir ini, maafkan zeyna." Tutur zeyna kembali menangis dan menunduk tak berani memandang kedalam manik mata hitam Alfran.


"Aku tak keberatan dengan sikapmu yg dulu sayang, dulu kau memang pantas membenci ku atas nasib buruk yg terus kau alami karena strategi ego ku untuk mendapatkan mu, maafkan aku untuk semuanya, aku mencintaimu.. karena Allah." Ujar Alfran membuat zeyna terharu dan membalas pelukan Alfran dengan erat.


"Jangan menangis lagi, Zaujati.." Tutur Alfran menangkupkan kedua tangannya di pipi zeyna seraya mengusap mata berair istrinya.


"Ajari zeyna mencintai Abang karena Allah." Pinta tulus zeyna yg diangguki dengan senyuman oleh Alfran.


Karena sesungguhnya makna atas bersatunya aku dan kamu adalah agar kita lebih dekat dengan sang pencipta, Allahu Rabbul Izzati.


NO Khalwat UNTIL Akad


See you next part.