NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Akad


Kini tiada lagi usaha untuk memilikimu, kini hanya ada usaha untuk menjaga dan membahagiakanmu, zaujatin...


Refanza Alfrando Aldrian


------------------------------------------------------


Terucap syahdu bagaikan alunan yg memabukkan, indah, khidmat dan khusyu' itulah seutas kata akad.


Zeyna terus-menerus menarik nafas guna menetralkan perasaan sedihnya, demi air mata agar tak jatuh kembali.


"Zeyna...." Tutur zeyna kedua kalinya menggantungkan kalimatnya.


"Lillah, tentukan dari hatimu nak, libatkan Allah didalamnya." Tutur Arkam menggenggam lembut tangan zeyna.


"Ya Abi, adek serahkan semua keputusan pada Abi dan Aa' sebagai mahram adek." Lirih zeyna menutupi perasaan sesak di dadanya.


"Adek ikhlas dengan jawaban Abi dan Aa'?" Tanya Arkam memastikan.


"Insyaallah bi" Tutur zeyna pasrah menahan gejolak sesak di dadanya.


"Baiklah, nak Alfran, pak Amar.. saya menerima pinangan bapak untuk menjadikan Putri saya istri dari nak Alfran." Tutur Arkam menahan gejolak pilu menyerahkan tanggung jawab putrinya kepada laki-laki lain.


Zeyna syok dengan jawaban Arkam yg dinilainya terlalu pasrah menyerahkan anak gadisnya kepada orang lain, zeyna menduga Arkam akan menolak untaian kalimat khitbah dari pak Amar, pasalnya zeyna yakin Arkam pun menilai Alfran sama dengannya, sesosok laki-laki yg jauh dari agama, namun entahlah, mungkin Arkam menilai Alfran dari sisi yg berbeda.


"Aa' bagaimana?." Tanya Arkam.


"Bismillahirrahmanirrahim insyaallah Hisyam setuju bi, Alfran saya harap kamu bisa membimbing zeyna agar tetap dijalan yg lurus, jangan libatkan ego dan obsesi mu untuk mendapatkan hal apapun, libat zeyna dan Allah, Aa' Hisyam mohon." Tutur Hisyam memberi petuah.


"Insyaallah, doakan kami agar selalu dijalan yg benar." Tutur Alfran membuka suara dengan perasaan berdesir menghangat berada ditengah-tengah keluarga zeyna, terbersit rasa bersalah karena ia mendapatkan zeyna dengan cara ini, namun ia tak menyesalinya.


"Adek ikhlas dengan jawaban Abi dan Aa'?" Tanya Arkam menatap zeyna untuk memastikan.


Hening, zeyna hanya diam membisu, ia benar-benar berada diujung gundah, berada di antara jawaban menerima atau menolak, yes or no.


Jika ia menolak, maka keluarga nya dan keluarga Ali berada diujung kehancuran karena ancaman Alfran begitu nyata.


Namun disisi lain, jika ia menerima Alfran bagaimanakah kabarnya segumpal daging bernama hati.


"Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal Maula wa ni'man nasir." Dzikir zeyna dalam hati, berusaha kuat namun tetap saja rapuh yg ia rasa.


Sekali lagi ia pasrah, menahan tangis yg hampir tumpah, dengan terbata-bata ia berusaha menjawab pertanyaan Arkam.


"Insyaallah bi." Tutur zeyna menahan kuat Isak tangis yg sebenarnya sudah tak mampu ia tahan.


Bagaimana mungkin zeyna menolak Alfran, ia tak mungkin membiarkan Alfran menyakiti Ali dan keluarganya lagi, jika sampai ia menolak pinangan Alfran, ia akan sangat bersalah jika terjadi sesuatu dengan Ali dan keluarganya.


"Jadi kapan pernikahan ini bisa dilangsungkan." Tanya Amar memecah suasana tegang yg menyelimuti Alfran.


"Ahh Om, Tante bolehkan jika kita melanjutkan acara yg sudah setengah jalan ini, biar tidak ada pembatalan, kita tinggal mempercepat persiapan saja, Alfran akan menyiapkan semuanya." Tutur Alfran membuat zeyna syok, ia tak siap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Ali sebelumnya yg artinya tinggal satu Minggu lagi ia akan dipersunting Alfran.


"Itu lebih baik, agar tidak ada berita miring mengenai batalnya pernikahan zeyna dan Ali bi, lagian undangan adek dan Ali belum tersebar." Tutur Hisyam berpendapat membuat zeyna semakin tertekan.


"Adek, ummi bagaimana?" Tanya Arkam.


"Insyaallah itu lebih baik bi, ummi setuju." Tutur Risna menyetujui.


"Adek bagaimana?" Tanya Arkam lagi.


Zeyna menatap Alfran sekilas, memastikan apakah ada ancaman yg dapat ia lihat dari mata tajamnya, namun nihil ia hanya menemukan sinar sumringah dimata itu, membuatnya luluh.


"Na'am bi." Tutur zeyna tak kuasa menahan air mata yg jatuh, ia mengusapnya cepat.


"Lalu dengan masalah Mahar apa yg nak zeyna minta?" Tanya Amar.


Jika saja dihadapannya adalah Ali ia akan meminta surat ar-rahman sebagai pelengkap Mahar.


Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَ


"Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah."


Dalam riwayat Abu Daud dengan lafazh,


خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ


"Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah."


Dengan apa yg selama ini zeyna kaji dan pahami, ia tak mungkin menjadi wanita yg memaksakan ego untuk meminta Mahar yg ia impikan, yg pasti berat jika ia memintanya pada Alfran.


"Mushab Al-Quran dan seperangkat alat sholat, serta 2 buku shahih, Sirah Nabawiyah, muqowwimat."


"Bagaimana nak Alfran, sanggupkah? Atau membebankan?" Tanya Arkam, pasalnya ia sama fahamnya dengan zeyna perihal Mahar.


"Insyaallah tidak Om, tapi bolehkah saya memberikan Mahar terbaik saya untuk zeyna?" Tanya Alfran.


"Tentu saja." Tutur Arkam.


"Alhamdulillah semuanya sudah selesai, akhirnya kamu dan Hendrawan akan menjadi besan nak." Tutur Amar senang.


"Alhamdulillah pak, jangan lupa beritahu Hendrawan aku ingin dia juga mendampingi putranya untuk menghalalkan putriku." Tutur Arkam membuat suasana semakin menghangat berbeda dengan Alfran yg tiba-tiba muak jika mengingat Hendrawan dan Fatma, jika bukan keinginan calon mertuanya ia tak ingin mereka berdua turut serta dalam acaranya.


"Om, Tante saya permisi dulu untuk menghubungi rekan saya, untuk mengurus semuanya." Izin Alfran pada Arkam dan Risna.


"Jangan panggil Om dan Tante, panggil saja Abi dan ummi, seperti zeyna. Silakan tidak apa-apa." Tutur Arkam tersenyum.


"Terimakasih bi.." Tutur Alfran sedikit kelu.


"Adek masuk kamar ya bi." pamit zeyna yg diangguki Arkam.


"Permisi kek." Pamit zeyna pada Amar.


"Silakan nak." Tutur Amar.


"Putri kalian tumbuh dengan cantik dan shalihah." Tutur Amar memuji.


"Alhamdulillah pak, ia putri yg baik dan penurut sama dengan Hisyam, Aa'nya" Tutur Arkam tersenyum.


"A' ummi minta tolong untuk membantu ummi menyiapkan makan siang, panggil istrimu juga biar cepat, ayo." Pinta Risna pada Hisyam.


"Abi, pak Amar kami pamit ke dalam sebentar." Pamit Risna yg diangguki keduanya.


"Oh ya pak, kalau boleh saya tau apa yg terjadi dengan istri dan anak perempuan Hendrawan sehingga hubungan bapak dengannya mengendur?" Tanya Arkam yg sedari tadi mengganjal di kepalanya.


"Beberapa tahun yg lalu, Mira mengidap penyakit leukemia stadium akhir, dokter memvonis hidupnya tidak akan bertahan kurang dari 2 bulan, Hendrawan syok dan frustasi menerima kenyataan itu, ditambah Mira menginginkan Hendrawan untuk menikah lagi mencari penggantinya nanti sebagai istri dan ibu untuk Nesya dan Alfran, awalnya Hendrawan menolak keras, namun Mira terus memohon hingga akhirnya tepat 2 hari sebelum Mira berpulang, Hendrawan menikahi Fatma, yg tak lain adalah wanita pilihan Mira. Namun ini menyisakan luka mendalam karena kesalahpahaman Nesya dan Alfran, mereka mengira bahwa Hendrawan mengkhianati Mira, ditambah lagi Mira meninggal karena kecelakaan menuju rumah sakit yg dikemudikan Fatma, Fatma selamat namun penyakit Mira membuatnya tak bisa bertahan hingga sampai di rumah sakit.


Ini membuat statement diantara nesya dan Alfran bahwa Fatma lah yg sengaja membunuh Mira." Tutur Amar panjang lebar.


"Astaghfirullah, lalu pak Amar atau Hendrawan sudah mencoba menjelaskan pada nesya dan Alfran?" Tanya Arkam.


"Sudah berkali-kali, namun Alfran dan kakaknya tetap kekeh dengan apa yg ia lihat, bahwa Fatma bersama Mira saat itu." Tutur Amar pilu mengingat peristiwa kelam itu.


"Maafkan saya pak, sudah membuat pak Amar sedih." Sesal Arkam melihat Amar yg terlihat sedih.


"Tidak apa-apa nak, kamu berhak tau apapun yg menyangkut keluarga Alfran yg sebentar lagi akan menjadi menantumu." Tutur Amar tersenyum.


"Lalu apa yg terjadi dengan anak perempuan Hendrawan, kakaknya Alfran, pak?" Tanya Arkam lagi.


"Nesya, sama dengan mira ia mengidap penyakit leukemia, namun ia masih di stadium awal, ia sama dengan Alfran benci dan syok terhadap apa yg terjadi dengan mira, hingga ia memutuskan untuk pergi ke Singapura bersama suaminya, untuk menghindari kepedihannya sekaligus untuk mengobati penyakitnya, namun naas Allah memberikan ku kepedihan berlipat-lipat, pesawat yg membawa nesya dan suaminya jatuh dan hilang di laut, jenazah Nesya dan suaminya ditemukan 3 hari setelah kejadian itu, dalam keadaan meninggal dunia." Tutur Amar menunduk menahan pilu.


"Pak Amar.. pak.. Anda baik-baik saja?" Tanya Arkam.


"Kau tau, belum kering duka Mira dan Nesya 5 tahun lalu, beberapa bulan lalu, anak Nesya juga turut dipanggil Allah, Aluna anak cantik yg menjadi penerang Alfran kini telah menyusul orang tua dan neneknya, Aluna juga adalah orang yg membuat zeyna dan Alfran dekat, zeyna adalah dokter sewaktu Aluna dirawat." Tutur Amar.


"MasyaAllah setelah kepedihan yg terus-menerus menimpa Alfran, semoga zeyna dapat mengobati luka dihatinya, dendam, benci dan sakit hati Alfran, pak." Tutur Arkam.


"Semoga saja, saya selalu mendoakan yg terbaik untuk Alfran, kebahagiaan Alfran hilang semenjak ditinggal Mira, semoga zeyna bisa membayar lunas semua duka yg pernah Alfran rasakan, bimbing Alfran ya nak, dia sangat butuh kasih sayang sebuah keluarga seperti keluargamu." Pinta Amar yg diangguki Arkam dengan senyum.


-------


"Nadine, kak Alfran butuh bantuanmu." Tutur Alfran berbicara dengan seseorang disebrang telpon.


"Bantuan apa'an kak, ganggu orang tidur aja deh." Tutur Nadine, sepupu Alfran dari anak kedua Amar.


"Bangun pemalas!, Dengarkan aku, urus semua proses acara pernikahanku dengan zeyna segera, dalam 5 hari harus sudah beres, suruh Rian mengirimkan undangan pernikahanku dengan zeyna ke rumah keluarga zeyna sekarang juga!." Perintah Alfran pada Nadine.


"Hah, kak Alfran beneran udah berhasil dapetin kak zeyna?" Tanya nadine bangun dari tidurnya terkejut tidak percaya.


"Hmm.."


"Wahh wahhh, siap kak, Nadine bakalan gercep." Tutur Nadine membuat Alfran mengerutkan keningnya tak mengerti dengan kata terakhir yg Nadine ucapkan.


"Aku tutup telponnya." Tutur Alfran.


"O..ke, isshh dasar es batu, belum kelar udah maen tutup telpon sembarangan, kalau gak karna dia mau nikah udah gue cuekin dari tadi, ihhh" kesal Nadine karena Alfran memutuskan telponnya secara sepihak.


"Riannnnnnn..." teriak Nadine turun dari kamarnya yg berada di lantai atas.


"Hmm.." dehem Rian yg duduk bersantai di mini bar dengan jus jeruk ditangannya.


"Gila lu, pagi-pagi gini malah santai seperti di pantai, duhhh duhh anak buah kesayangan kak Alfran." Ejek Nadine.


"Heloooo.. gadis pemalas ini sudah hampir jam 12 siang, gak punya jam ya?" Ejek balik Rian.


"Hah.." kaget Nadine.


"Tau deh, gue cuma mau bilang tadi kak Alfran telpon gue, dia minta kita gerak cepat buat meyelesaikan acara pernikahan kak Alfran dan kak zeyna, waktu kita cuma 5 hari, dan sekarang lo pergi ke rumah kak zeyna buat anterin undangan sekarang!!!" Tutur Nadine cepat.


"Udah tau, ini gue mau jalan, barusan pak Alfran kabarin gue, dahh gue pergi gadis pemalas, btw jangan lupa mandi, bau Lo udah mirip sama yg dikotak sampah." Tutur Rian kemudian berlari pergi menghindari amukan Nadine yg sebentar lagi mencuat.


"Riannnnnnn... kurang ajar, gue suruh kak Alfran pecat Lo sekarang juga!!" Amuk Nadine yg sudah ditinggalkan pergi Rian.


Kedekatan Rian dan Nadine tercipta sejak mereka kecil, Rian adalah anak yatim piatu yg dirawat Amar dan dibiayai kehidupannya, kini Rian menjadi tangan kanan Alfran sebagai bentuk pengabdiannya untuk sebuah hutang Budi terhadap keluarga Amar.


-------


Menunggu detik-detik wisuda tidak lebih mendebarkan dibandingkan menunggu kalimat akad terucap, kalimat suci yg diimpikan semua orang yg ingin menggapai ridha Allah.


"Zey, inget ya jangan nangis lagi, nanti make up Lo rusak, gue sama uni Rini capek tau benerinnya." Tutur Billa ngedumel karena zeyna terus-menerus meneteskan air mata yg membuat make up tipis yg menghiasi wajah cantiknya sedikit berantakan.


"Udah ya dek, insyaallah ini yg terbaik kok." Tutur Rini, kakak ipar zeyna.


"Zeyna gak yakin bisa hadapi semuanya." Lirih zeyna menatap pantulan dirinya di cermin,


"Zeyna kuat uni yakin, ya kan bill, kamu gak pernah liat zeyna putus asa kan?." Tutur Rini.


"Iya zey, Lo satu-satunya orang disisi gue yg gak pernah putus asa, Lo harus kuat ya." Sambung Billa.


"Fighting! Sayang." Tutur Billa menyemangati sembari memeluk zeyna dan Rini pun ikut memeluk keduanya.


"Assalamualaikum.. aduhh ummi ganggu ya?" Tutur Risna tiba-tiba masuk kedalam kamar pengantin.


"Ummi.." panggil zeyna berdiri dan mengarahkan Risna untuk duduk di kursi yg tadi ia tempati.


"Iya sayang," Tutur Risna sembari duduk.


"Adek minta maaf, Afwan jiddan ummi, selama 21 tahun adek menyusahkan ummi dan Abi, Afwan adek belum bisa bahagiakan ummi dan Abi, adek belum bisa membalas semua kebaikan ummi dan Abi, jasa ummi dan Abi, do'akan adek selalu dalam keridhaan Allah ya mi." Lirih zeyna menahan sesak di dadanya.


"Adek, ummi dan Abi gak pernah sekalipun mengharapkan balasan apa pun dari anak-anaknya, cukup adek dan Aa' hidup bahagia sudah membuat hati kami lega, adek inget kata-kata ummi, adek harus bahagia ya sama Alfran, do'a ummi selalu menyertai kalian." Tutur Risna menahan pilu.


"Jangan berhenti do'ain adek ya mi." Tutur zeyna memeluk Risna dengan erat yg dibalas pelukan tak kalah erat oleh Risna.


"Udah, adek jangan nangis lagi dong, tuh kan make upnya rusak, billa, Rini benerin make up pengantin cantik ini lagi ya, ummi tunggu didepan." Tutur Risna tersenyum.


"Siap ummi." Tutur Billa sumringah sembari menghapus air mata yg ikut tumpah melihat zeyna dan Risna, membuatnya rindu akan sosok ibu.


"Ummi tinggal ya, assalamualaikum." Pamit Risna menutup pintu.


"Wa'alaikumsalam.." Tutur ke-tiga.


"Udah ya dek, tadi itu tangis terakhir, setelah ini adek harus bahagia inget kata ummi tadi." Tutur Rini menyemangati yg diangguki zeyna dengan seyum sedikit dipaksakan.


***


Masjid ini, akan menjadi saksi bersatunya dua insan tak berlandaskan cinta salah seorangnya, namun mereka yakin suatu saat Allah akan membuka lebar jalan cinta suci bagi keduanya, tak lagi sepihak.


Rombongan pengantin laki-laki, Alfran dan keluarga Amar telah sampai di masjid Al-Furqon, masjid terbesar di Lampung yg letaknya tak jauh dari rumah zeyna, dengan aksen suasana pondok pesantren sangat terasa.


sebenarnya kini zeyna dan keluarga sedang berada dirumahnya yg berada di kota, zeyna memiliki 2 rumah, satu dikampung yg cukup jauh dari kota, yg merupakan rumah peninggalan Kakek neneknya, tempat dimana zeyna dibesarkan bersama keceriaan anak kecil yg bermain dengan bebek-bebek warisan Kakek dan neneknya untuk sang Abi.


Rumah di kota bandar Lampung adalah rumah yg Arkam bangun dengan jerih payahnya bersama Risna, untuk anak-anak, Hisyam dan zeyna, meski hidup di kota tak sesejahtera di kampung.


Alfran dan Amar telah bersiap menunggu keluarga mempelai wanita datang, didampingi Rian yg duduk dibelakang keduanya, Alfran sedikit memiliki beban dikala nanti calon ayah mertuanya bertanya dimana Hendrawan, papahnya.


Alfran memang tidak memberi tahu langsung Hendrawan akan permintaan untuk mendampinginya menikahi gadis pujaannya, ia hanya mengutus Rian untuk memberinya kabar, namun yg terjadi sesuai apa yg Alfran pikirkan, Hendrawan murka mengapa bukan ia yg datang langsung padanya dan meminta restunya. Namun bukan Alfran jika ia peduli, Alfran acuh tak membuatnya menjadi beban, ia mempunyai ribuan cara untuk berdalih didepan calon mertuanya.


Shaf-shaf telah terisi rapih oleh beberapa tamu undangan yg turut hadir untuk menyaksikan akad nikah Alfran dan zeyna, dengan aksen syar'i mendominasi, mulai dari tamu laki-laki dan perempuan yg dipisah sangat rapih, dan yg paling berkesan adalah 2 buah bendera hitam dan putih, yg bertuliskan kalimat tauhid, al-liwa' dan ar-rayyah di kedua sisi mimbar.


Keluarga mempelai wanita tiba di masjid, Alfran terpesona akan apa yg dilihatnya kini, hanya sepintas ia tak ingin acaranya kacau Karena ia terus terpesona dengan bidadarinya nanti, zeyna yg anggun dengan balutan gaun pengantin syar'i berwarna putih bersih, dipadukan dengan kerudung syar'i yg menutupi separuh badannya, dan aksen mahkota sederhana di kepalanya, cantik sangat cantik sehingga mempesona bagi siapa saja yg melihatnya.


Zeyna duduk ditempat yg telah disediakan, di depan barisan para akhwat yg merupakan teman-temannya yg ditugaskan menjadi Bridesmaids yg juga termasuk Billa, ia diapit oleh Risna dan Rini, yg sama-sama cantik dengan balutan seragam berwarna putih bertabur mutiara.


"Alhamdulillah, berhubung mempelai laki-laki dan perempuan telah hadir, mari acara ini kita buka dengan basmallah." Tutur mc acara.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Rangkaian acara yg mengawali satu persatu telah dilaksanakan,


"Acara selanjutnya, pelantunan surat Ar-rahman sebagai mahar yg diberikan oleh mempelai laki-laki, kepadanya kami persilakan." Tutur mc yg membuat zeyna terkejut.


Alfran mengambil alih mikrofon yg diberikan oleh mc acara, diawali dengan salam ia mulai melantunkan surat ar-rahman dengan fasih dan syahdu.


"Ummi, lisan zeyna telah dzalim terhadapnya." Tutur zeyna lirih kepada Risna.


"Mohon ampunlah sayang, kini Allah telah menyadarkan adek Tetang kebaikan yg ada dalam diri Alfran." Tutur Risna menasehati.


"Astaghfirullah ya Allah" lirih zeyna.


Surat ar-rahman telah usai Alfran lantunkan membuat semua orang berdecak kagum padanya, termasuk zeyna yg terus menunduk tak percaya.


Kini, detik-detik akad telah sampai, dengan penghulu yg mengarahkan Arkam dan Alfran untuk saling berjabat tangan,


"Mempelai laki-laki silakan menjabat wali daripada mempelai wanita." Perintah Penghulu.


"Silakan pak Arkam." Tutur penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim.. saya.." Tutur Alfran terpotong.


"Tunggu!" Sergah seseorang didepan pintu masuk masijd.


"Hendrawan.." Tutur Arkam.


"Papah." Tutur Alfran pelan.


Ya.. dialah, Hendrawan yg diikuti Fatma memasuki masjid tempat acara akad dilaksanakan,


"Mah, dampingi calon istri Alfran." Tutur Hendrawan memerintah.


"Iya pah." Patuh Fatma berjalan ke arah mempelai wanita.


"MasyaAllah zeyna, jadi Alfran menikah denganmu nak, Alhamdulillah permintaan Aluna terwujud." Tutur Fatma begitu mengetahui zeynalah calon istri Alfran.


"Do'akan yg terbaik saja Tante." Tutur zeyna diangguki Fatma.


"Saya orang tua mempelai laki-laki, saya berhak menjadi saksi nikah anak saya." Tutur Hendrawan, salah seorang saksi bergeser memberi ruang Hendrawan untuk menggantikannya menjadi saksi.


"Jika sudah, acaranya bisa dilanjutkan." Tanya penghulu.


"Bisa pak." Tutur Hendrawan yg diangguki semua orang.


"Silakan pak Arkam." Perintah Penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda refanza Alfrando Aldrian saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Putri kandung saya yang bernama Khumairah zeynasha Khairunnisa dengan maskawinnya mushab Al-Quran dan seperangkat alat sholat, dengan cincin seberat dua puluh tiga gram, dan uang senilai dua puluh tiga juta delapan ratusan delapan belas rupiah dibayar tunai." Tutur Arkam lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Khumairah zeynasha Khairunnisa binti Arkam Abdullah dengan maskawinnya tersebut tunai." Tutur Alfran sekali helaan nafas dengan khidmat dan fasih.


"Bagaimana saksi" tanya penghulu.


"SAH."


"Alhamdulillah."


"Barakallaahu laka wa Baraka 'alayka wa jama'a bayna kuma fii khayr."


Untaian kata sakral terucap syahdu nan indah terdengar, membuat sebuah hubungan haram menjadi halal, barakallaah laka wa Baraka'alayka wa jama'a bayna kuma fii khayr.


"Alhamdulillah anak umi sudah menjadi seorang istri, barakallaah sayang." Tutur Risna mencium kening zeyna dan memeluknya erat.


"Selamat ya zey, jangan pernah lelah dengan sikap Alfran, Alfran sangat mencintaimu." Tutur Fatma.


"Terimakasih Tante." Tutur zeyna.


"Panggil mamah saja ya." Pinta Fatma.


"Iya mah." Tutur zeyna terdiam senyum.


"Mempelai wanita silakan diantarkan ibunya dan mertuanya disamping suaminya." Perintah Penghulu.


Risna dan Fatma berdiri, mengapit zeyna menuju tempat kosong disebelah Alfran.


"Silakan saling menyematkan cincin." Perintah Penghulu.


Zeyna tampak ragu memberikan tangannya pada Alfran yg siap menerima uluran tangannya.


"Sudah sah, tidak papa, jangan ragu." Tutur penghulu sedikit tertawa melihat tingkah zeyna yg takut-takut memberikan tangannya pada Alfran.


"Sudah sah woyy, udah halal, slow kali gak dosa." Bisik Billa pada zeyna yg berada tepat dibelakangnya.


Dengan banyaknya tekanan akhirnya zeyna memberikan tangannya pada Alfran untuk disematkan cincin dijari manisnya, cincin sederhana yg bertahtakan berlian sangat pas dijari zeyna, padahal seingatnya ia tak pernah mengukur cincin apalagi ini sebagai maharnya, jadi 3 Mahar yg diberikan Alfran adalah sebuah surat ar-rahman, cincin dan uang.


Kini giliran zeyna yg menyematkan cincin ke jari Alfran, ia ragu-ragu namun akhirnya berhasil, dengan keringat dingin pada tangannya.


"Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya." Perintah Penghulu.


Zeyna melakukannya dengan grogi, dengan Alfran langsung mencium kening zeyna, membuatnya syok dan kaget membuat para tamu bertepuk tangan bahagia, membuat para jomblo meringis iri hati, termasuk Billa yg heboh disisi Rini.


Alfran terus menggenggam tangan zeyna yg dingin karena grogi, dengan hati yg berdebar bahagia.


Kini saatnya ia membacakan do'a untuk zeyna, dengan duduk tangan kanan Alfran memegang ubun-ubun zeyna, dengan zeyna menunduk mengangkat kedua tangannya mengaamiinkan do'a yg dipanjatkan Alfran.



إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


Artinya, "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya".


Mungkin kini cinta mulai hadir dari sebuah kebaikan yg terungkap, muhasabah cinta akan senantiasa hadir mengiringi kehidupan sakinah mawadah warahmah.


Acara akad nikah telah usai, kini pengantin dan para tamu undangan kembali ke kediaman zeyna untuk merayakan pernikahan keduanya mempelai.


Ucapan selamat terus terdengar tanpa henti dikedua tempat, pelaminan pengantin laki-laki dan pelaminan pengantin wanita yg memang dipisah dengan hijab (penghalang) yg tinggi. Dari luar tampak seperti 2 tenda, satu tenda berwarna serba pink dan putih bertuliskan tamu akhwat/wanita dan tepat disebelahnya tenda berwarna biru dan putih bertuliskan tamu Ikhwan/laki-laki.


Terlahir dari keluarga yg kental akan ajaran agama, membuat zeyna dan keluarga faham betul akan adab-adab walimatul ursy' dan Alfran pun setuju tanpa sedikitpun menolak, meski ia harus berpisah dengan zeyna selama resepsi.


Acara yg dimulai dari pukul 8 pagi kini telah usai tepat pada jam 9 malam dengan rangkaian acara yg panjang.


Kedua keluarga besar masih bercengkrama untuk saling mengenal.


"Halo kak zey." Sapa Nadine pada zeyna yg sedang menyimak obrolan orang tuanya dan orang tua Alfran.


"Kenalin aku Nadine, sepupu kak Alfran." Tutur Nadine.


"MasyaAllah Nadine cantik." Tutur zeyna membuat Nadine tersipu.


"Kak zeyna bisa aja, selama menempuh hidup baru ya kak, semoga samara." Tutur Nadine.


"Terimakasih, jazakillah khairan" Tutur zeyna tersenyum.


Obrolan terus berlanjut hingga pukul 10 tepat, semua orang sudah pergi untuk beristirahat menyisahkah Arkam dan Hendrawan yg saling melepas rindu.


Zeyna telah berada dikamar 30 menit yg lalu, ia canggung. Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian kini ia bingung apakah ia harus menunggu Alfran yg tengah dikamar mandi, atau ia tidur duluan, ia canggung jika melihat Alfran dikamarnya, ia ingin tidur duluan, ia sudah sangat lelah dan mengantuk karena rangkaian acara pernikahannya, namun ia memikirkan hal lain, tak sepantasnya seorang istri tidur sebelum suaminya juga tidur. Ia putuskan untuk menunggu Alfran, namun Alfran tak kunjung masuk ke kamar, hingga ia benar-benar tertidur.


Alfran masuk kedalam kamar zeyna, yg didominasi dengan warna putih bersih, ia merasa canggung dan perlahan ia masuk, Alfran mendapati zeyna tertidur dengan selimut membungkus tubuhnya masih dengan kerudung yg menempel di kepalanya.


Ia mendekati zeyna perlahan, wanita yg amat ia cintai kini berada di genggamannya, ia bersyukur Allah memihaknya.


"Ana uhibbukifillah zaujatin." Tutur Alfran mencium keningnya zeyna dan ikut berbaring disamping zeyna.


Akan ada banyak kebaikan jika kau mau bersabar, akan ada kebahagiaan jika kau menerima kekurangan. Kebahagiaan Haq seorang hamba adalah telah sampai dari sebuah penantian.


NO KHALWAT UNTIL AKAD


See you next part,


Komen dong seberapa dapet feel nya kalian dengan part ini😇


Jangan lupa vote ya😊


Jazakumullah khairan😘😘