NO Khalwat UNTIL Akad

NO Khalwat UNTIL Akad
Senyum Terakhir Senja


Sebuah lorong labirin mengajar bagaimana sulitnya menemukan jalan yg benar untuk dapat menemukan pintu keluar, mengajar bagaimana kita harus Istiqomah menapaki jalan kebenaran demi mencapai sebuah tujuan, insyaallah kita akan mengarungi bahtera kehidupan ini bersama karna sang illahi robbi, demi terwujudnya mawadatan warahmah.


Ali Abdurrauf


------------------------------------------------------


Ketika kebahagiaan seorang anak hanyalah senyum sederhana kedua orang tua, tangis haru karena bangga, dan rasa syukur tiada batas.


Perjuangan seorang anak meraih gelar kebanggaannya akan selalu kalah dengan gelar mulia ibu yg tersemat pada semua wanita.


Hari ini merupakan hari paling dinanti para co-*** atau para dokter muda, untuk meraih gelar formal dokter di depan namanya, setelah melewati masa yg panjang, praktikum yg sulit dan melelahkan, ujian kemampuan ini itu dan masih banyak lagi liku-likunya hanya untuk sampai dititik membanggakan ini.


5,5 tahun lamanya bagi zeyna untuk meraih gelarnya dan untuk sampai pada tahap ini, tak banyak yg mampu menyelesaikan studi secepatnya zeyna, bahkan teman-teman seangkatan tim co-assnya rata-rata semuanya adalah senior yg tidak mau dianggap senior, ya memang aneh, karena mereka rata-rata menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6-7 tahun lamanya, bukan keinginan mereka menunda, namun inilah kerasnya bangku kuliah, dimana para dosen tak selamanya mudah diambil hatinya.


Terlahir dengan otak yg cerdas membuat zeyna mudah menyelesaikan studi dengan gelar mahasiswi terbaik dengan predikat cumlaude, bukan hal yg mudah mendapatkan predikat tersebut, ia harus pandai-pandai membagi waktu untuk mengejar target kuliah dan juga bekerja demi tetap kuliah, banyak yg bertanya mengapa ia tak mendapat beasiswa padahal ia mahasiswi aktif yg berprestasi. ya, tentu banyak beasiswa dari berbagai instalasi formal maupun nonformal yg menawarkan beasiswa untuk zeyna, namun ia menolak. Sebab ia selalu berpegang teguh jika ia masih mampu kuliah dengan uangnya sendiri, karena itu tak jarang justru zeyna merekomendasikan beasiswa yg ditawarkan padanya dialihkan untuk teman-temannya yg memang tidak mampu namun ingin sekali kuliah.


"Bu dokter sayang, happy graduation" Tutur Billa memberi selamat sembari memeluk bangga.


"Syukron wa jazakillah Khair ukhtifillahku, cepat lulus juga ya biar gak jadi senior disetiap junior baru, hahhha" Tutur zeyna meledek Billa.


"Ihhh, do'ain dong biar cepet nyusul yudisium terus nikah kayak Lo" Tutur Billa ngelantur.


"Aamiin ya Allah, zeyna do'ain Billa cepat lulus terus nikah sama kak Fikri" Tutur zeyna sumringah.


"Idihhh kenapa lah sama buaya darat item itu, ogah banget!" Tutur Billa dengan ekspresi pura-pura jijik.


"Siapa juga yg mau nikah sama anak kecil mungil idup lagi, kayak Lo" sambar Fikri yg tiba-tiba datang bersama Ali, disusul ustadz Syam dan ustadzah Arumi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sapa Ali, ustadz Syam dan istri.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ehh ustadzah Arumi" Tutur zeyna dan Billa menghampiri ustadzah Arumi dan bersalaman.


"Cantiknya darisan ummi ini bi, happy graduation shalihah" Tutur ustadzah Arumi memberi selamat.


"Syukron ustadzah jazakillah Khair" Tutur zeyna dengan senyuman manis.


"Wa iyyaki shalihah"


"Happy graduation zey, semoga ilmu anti bermanfaat untuk semua orang, dan anti cepet bilang ya sama Daris ana, hahha" Tutur ustadz Syam sembari meledek.


"Syukron ustadz, jazakallah Khair" Tutur zeyna menanggapi yg dibalas anggukan oleh ustadz Syam.


"Happy graduation zey, barakallah ilmunya, jazakillah khairan" Tutur Ali memberi selamat.


"Na'am kak, Syukron wa jazakallah Khair" Tutur zeyna tersenyum malu.


"Happy graduation calonnya Ali, traktir-traktir makan dong, gue laper nih" Tutur Fikri merusak suasana.


"Idihh dasar buaya darat item perut gentong lagi, gak punya malu banget sih" maki Billa meledek.


"Suka-suka gue, Lo juga kalau ditawarin makanan ngembat nomor satu, ye kan" balas Fikri tak kalah sengit.


"Ehhh gue sama Lo beda kali kak" sengit Billa menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Udahhh kalian setiap ketemu kaya api sama bensin, saling menyambar, masyaallah antum ini" Tutur ustadz Syam dibuat pusing atas tingkah mereka berdua.


"Zeyna, dimana orang tua anti" tanya ustadzah Arumi.


"Mereka sudah menunggu di restauran sebarang ustadzah" Tutur zeyna menanggapi.


"Alhamdulillah, jadi bisa dilakukan pertemuan antara keluarga anti dan Ali?" Tanya ustadz Syam.


"Insyaallah bisa ustadz, Alhamdulillah saya sudah membicarakan mengenai niat Kak Ali pada Abi" Tutur zeyna mengulum senyum.


"Alhamdulillah, Ali orang tua antum bagaimana" tanya ustadz Syam.


"Sedang dijalan ustadz" Tutur Ali.


"Baik, kalau begitu kita menyusul orang tua zeyna sambil menunggu orang tua antum" Tutur ustadz Syam yg diangguki semuanya.


--------


Bertemu untuk bersatu, dimana langit dan bumi insyaallah meridhoi langkah suci.


"Disana ustadz" Tutur zeyna menunjuk meja yg ditempati oleh keluarganya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sapa zeyna sembari bersalaman dengan ummi, Abi nya serta kakak-kakaknya, yg juga diikuti semuanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari-mari silakan duduk, ustadz, ustadzah" sapa Risna sopan.


"Syukron katsiran" ucap ustadz Syam.


"Bagaimana kabarnya pak, buk?" Tanya ustadzah Arumi.


"Alhamdulillah baik ustadzah" Tutur Risna.


"Inikah yg namanya Ali, dek?" Tanya Arkam menunjuk Ali.


"Na'am Abi saya Ali, apa kabar Abi dan ummi?" Tanya Ali.


"Masyaallah tabarakallah, Alhamdulillah Abi, ummi dan yg lainnya sehat" Tutur Arkam.


"Oh ya keluarga nak Ali sudah sampai dimana?" Tanya Arkam lagi.


"Sudah dekat bi, sebentar lagi sampai" Tutur Ali.


"Nah itu Om Farhan sama Tante Farah" tunjuk Fikri membuat semua orang memusatkan perhatiannya pada dua orang yg baru memasuki restauran.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sapa Farhan dan Farah, orang tua Ali.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh mah, pah" sapa Ali menyalami keduanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, silahkan duduk pak, Bu" Tutur Arkam mempersilakan keduanya duduk diseberang mereka berdampingan dengan Ali.


Beruntunglah zeyna memesan meja untuk orang banyak, sehingga bisa menampung semua orang yg berada di suasana keluarganya.


"Bagaimana kabarnya pak, Bu dan yg lainnya sehat?" Tanya Farah tersenyum.


"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat bu" Tutur Risna menanggapi.


"Alhamdulillah" Tutur Farah sopan.


"Nah, berhubung kedua keluarga sudah berkumpul bagaimana jika kita mulai hajat syar'i atas pertemuan ini Abi zeyna, pak Farhan?" Tanya ustadz Syam.


"Silakan ustadz" Tutur Farhan yg sudah akrab dengan ustadz Syam.


"Silakan ustadz, lebih cepat lebih baik" Tutur Arkam.


"Bismillahirrahmanirrahim untuk mendapat ridho dari Allah SWT, marilah kita memohon keberkahan atas berkumpulnya kedua keluarga ini atas hajat syar'i dengan demikian marilah kita sejenak membaca basmalah" Tutur ustadz Syam khidmat.


"Bismillahirrahmanirrahim" ungkap semuanya serempak pelan.


"Ana mulai ya pak Farhan?"tm tanya ustadz Syam pada Farhan.


"Silakan ustadz" Tutur Farhan mempersilakan.


"Bismillahirrahmanirrahim, pak Arkam ana selaku ustadz atau musrif dari saudara Ali Abdurrauf mewakili keluarga untuk meminang Putri bapak yg bernama Khumairah zeynasha Khairunnisa untuk menjadi istri dari saudara Ali serta menjadi ibu dari anak-anak mereka kelak, dan menjadi pendamping dalam mengemban amanah dakwah yg mereka genggam, maka dari itu ana mewakili Ali meminta keridhoan pak Arkam untuk mengijinkan Putri bapak untuk menikah dengan saudara Ali" Tutur ustadz Syam panjang lebar.


"Bismillahirrahmanirrahim, ustadz Syam dan pak Farhan saya selaku Abi dari Putri saya yg bernama Khumairah zeynasha Khairunnisa dengan tulus atas nama Allah menerima pinangan saudara Ali, insyaallah Putri saya telah menyerahkan jawaban ini atas keridhaannya karena Allah" Tutur Arkam.


"Alhamdulillah.." seru semua orang yg ada di meja itu terkecuali zeyna.


"Semoga Allah ridho atas keputusan zeyna ini, allahuma Yassir walaa tu'assir, ya Allah berkahilah dan mudahkan lah segala urusan demi ibadah ini kepada mu ya Rabb, hilangkan lah semua keraguan dan kegundahan pada hati hamba" Tutur zeyna dalam hati.


Semua atas dasar iman, biarlah hati sedikit berontak, namun inilah ibadah, harus Lillah dijalan Allah.


Meski tak dapat dipungkiri ada nama Alfran terlintas dipikiran zeyna saat ini.


"Kalau begitu kita tentukan tanggalnya sekarang saja pak Arkam" Tutur Farhan.


"Itu akan lebih baik pak Farhan" Tutur Arkam.


"Bagaimana zeyna?" Tanya Arkam.


"Ehm.. na'am Abi, yg mana baiknya saja" Tutur zeyna sadar dari lamunannya, yg ditatap Ali dengan tatapan heran.


"Bagaimana jika sebelum Ramadhan, tepatnya tanggal 20 bulan sya'ban" usul Arkam membuat zeyna sedikit syok pasalnya waktu yg dituturkan abinya hanya tinggal 2 bulan lagi.


"Saya setuju pak, bagaimana ustadz Syam?" Tanya Farhan.


"Insyaallah semua hari, tanggal, bulan dan tahun semuanya baik" Tutur ustadz Syam.


"Alhamdulillah.. bagaimana zeyna dan Ali, kalian tidak keberatan kan?" Tanya Farhan.


"Insyaallah tidak pah" Tutur Ali.


"Zeyna?" Tanya Farhan namun tak mendapat tanggapan karena zeyna hanya diam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Adek.." panggil Risna.


"Ahh ya ummi" Tutur zeyna tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana nak zeyna, apa setujuh dengan tanggal tersebut?" Kini giliran Farah yg bertanya.


"Insyaallah zeyna setuju" Tutur zeyna yg disambung senyuman oleh semua orang.


"Alhamdulillah, sudah clear semuanya, jadi apakah Akad dan walimatul ursy' akan dilaksanakan di Lampung atau Semarang?" Tanya ustadz Syam.


"Bisakah di Lampung, dikediaman saya?" Tanya Arkam.


"Boleh pak, saya juga setuju" Tutur Farhan.


"Alhamdulillah.., semuanya telah selesai, semoga aktivitas kita ini mendapat keberkahan dari Allah SWT" Tutur ustadz Syam.


"Allahuma aamiin" serempak semuanya.


"Mari semuanya silakan pesan makanan" Tutur Farhan.


"Alhamdulillah Om dari tadi kek" sambar Fikri.


"Ente kebiasaan fik" seru ustadz Syam.


"Abis laper ustadz, dorongan naluri hehehhee" Tutur Fikri nyengir.


"Hahhha" tawa semua orang menghangatkan suasana bahagia.


---------


Sabar dalam setiap ujian, percaya akan rencana sang khaliq,


Namun kini angan sedikit membuat melenceng dari aturan sang illahi robbi, kini sebuah sisi egois mulai mendominasi hati.


"Sial!!" Murka Alfran.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Alfran emosi.


"Nona zeyna dan keluarganya berada di restauran Anaya dekat dengan kampus nona zeyna pak" Tutur Rian tenang.


"Apa rencana mereka selanjutnya?" Tanya Alfran lagi.


"Nona zeyna dan Ali berencana menikah dalam waktu dua bulan lagi di Lampung" Tutur Rian memperhatikan raut wajah Alfran yg menahan emosi.


"Kurang ajar!! Beraninya laki-laki itu merebut zeyna dariku!" Tutur Alfran menggebrak meja kerjanya membuat Rian terkesiap terkejut.


"Baik pak, saya permisi." Patuh dan pamit Rian keluar dari ruangan Alfran.


"Arrrghh... zeyna kau.. kau benar-benar membuatku murka untuk memiliki mu dengan cara kekerasan!" Murka Alfran.


---------


Bolehkan perasaan ini tumbuh untuk orang lain?


Sedangkan disisi lain seseorang segera menghalalkan mu karena Allah.


Bukan tak bersyukur atas nikmat saat ini, namun inilah hati yg sulit ditebak bagaimana inginnya.


"Allahuma Yassir walaa tu'assir, astaghfirullahal adziim" lirih zeyna meratapi hatinya kini yg mulai ragu dengan keputusannya.


"Adek.. sayang kamu sedang apa disini, lagi ada masalah? Sini cerita sama ummi" Tutur Risna tiba-tiba datang menegur zeyna.


"Ehh ummi, Ndak papa ummi, adek cuma lagi ikhtiar meyakinkan keputusan yg adek ambil" Tutur zeyna jujur.


"Coba beri tau ummi, bagian mana yg membuat adek ragu sama keputusan adek?" Tanya Risna.


"Ummi.." panggil zeyna lirih.


"Sayang.. ada apa nak? Cerita sama ummi" Tutur Risna membelai kepala zeyna dengan sayang.


"Adek mau tanya sama ummi" Tutur zeyna serius.


"Tanya apa sayang?" Tanya Risna penasaran.


"Ummi pernah gak hati ummi selalu gelisah dengan satu nama, sedangkan disisi lain keimanan menolak keinginan yg hati?" Tanya zeyna membuat Risna mengerutkan dahi bingung.


"Ada apa sayang, bicara sama ummi yg sesungguhnya" pinta Risna.


"Ummi.. beberapa waktu ada seorang Ikhwan yg selalu mendekati adek, beliau juga berkali-kali mengajak adek menikah namun juga selalu adek tolak, karena menurut adek caranya untuk mendekati adek salah, dan juga beliau adalah seorang yg jauh dari agama menurut pandangan adek" Tutur zeyna mulai terbuka.


"Masyaallah siapakah Ikhwan tersebut sayang?" Tanya Risna.


"Namanya pak Alfran ummi, beliau CEO, adek mengenalnya waktu insiden adek hampir tertabrak mobilnya, dan ternyata beliau juga cucu pemilik rumah sakit tempat adek co-*** dulu." Jelas zeyna pada Risna.


"Menurut adek beliau itu sangat posesif ummi, selalu mengikuti adek diberbagai kesempatan, seperti sudah diseting sebelumnya, beliau juga tau semua mengenai adek, termasuk waktu ummi sakit dan restauran aa' bangkrut." Sambung zeyna menjelaskan.


"Ya Allah dek, ummi gak nyangka ada orang seperti dia, tapi sayang kamu gak boleh menilai dia jauh dari agama, sebab sebuah cover tidak menjamin sebuah isi, mungkin saja dia memang amburadul dengan jabatannya sebagai CEO tapi siapa tau dia seorang hafidz, ustadz kan gak ada yg tau" Tutur Risna memberi nasehat.


"Jadi adek suka sama pak Alfran itu?" Tanya Risna.


"Ehhh.. engg.. enggak ummi, adek cuma kepikiran tentang semua sikapnya sama adek, itu aja kok" elak zeyna.


"Sayang, pernikahan adalah sebuah ikrar suci yg mengikat karena ibadah, kamu harus memantaskan dan menyakinkan siapa yg akan kamu pilih menjadi imam yg akan membimbing lebih dekat dengan Allah SWT." Nasehat Risna.


"Ummi... kenapa adek jadi ragu ya?" Lirih zeyna pelan.


"Adek istikharah, adek mantapkan pilihan adek sesuai irrodah Allah ya" suport Risna.


"Tapi ummi, pernikahan adek bahkan sudah ditetapkan" lirih zeyna tertekan.


"Jika ada perubahan atas ketidak cocokkan, pasti akan selalu ada jalan keluar, adek tenang aja ya" Tutur Risna.


"Na'am ummi, makasih ya udah mau ngertiin adek" Tutur zeyna memeluk Risna.


"Iyaa sayangnya ummi" Tutur Risna membalas erat pelukan zeyna.


"Udah, sekarang adek tidur ya, istirahat yg cukup, ingat lusa kita akan pulang ke Lampung'' Tutur Risna mengingatkan.


"Na'am ummi, ummi juga istirahat ya gak boleh capek-capek" Tutur zeyna.


"Iyaa sayang, udah gih tidur ya, selamat beristirahat" Tutur Risna mencium kening zeyna dan berlalu meninggalkan kamar zeyna.


"Bismillah ya Allah semoga yg terjadi kedepannya nanti sesuai dengan kehendak-Mu, hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal Maula wa ni'man Nassir." Tutur zeyna kemudian berusaha terlelap.


---------


Harapan kini hanyalah bersandar kepada Allah SWT. Baik atau buruk, suka atau tidak, irrodah Allah senantiasa mengikuti.


"Ummi, Abi, zeyna izin pergi dulu ya" pamit zeyna hendak melangkah pergi.


"Ehh adek, mau kemana pagi-pagi begini, sarapan dulu ya, lagian Billa belum datang" Tutur Risna.


"Adek buru-buru ummi, tadi ditelpon dokter ibran ada berkas yg harus adek ambil soalnya besok kita udah harus pulang ke Lampung." Tutur zeyna.


"Ohh gitu ya udah hati-hati dijalan ya sayang" pinta Risna.


"Na'am ummi, nanti kalau Billa kesini suruh nginep disini ya ummi, biar besok berangkat ke Lampungnya gak kesiangan, soalnya Billa suka gak on time" Tutur zeyna yg diangguki Risna.


"Ya udah adek pamit ya, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh mi, bi" pamit zeyna sambil bersalaman dengan Risna dan Arkam.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" seru Risna dan Arkam berbarengan.


"Lohh ummi, Abi, zeyna mau kemana?" Tanya Hisyam yg baru keluar dari kamarnya ketika melihat zeyna keluar rumah.


"Mau ambil berkas dirumah sakit katanya" Tutur Risna.


"Ohh gitu" Tutur Hisyam.


"Ya udah aa' sarapan dulu gih, biar istrimu yg siapkan, ummi mau temani cucu ummi dulu" Tutur Risna.


"Na'am ummi" Tutur Hisyam yg langsung ditinggal pergi Risna.


"Bi, aa' ngerasa adek agak ragu dengan rencana pernikahannya, Kenapa ya bi?" Tanya Hisyam pada Arkam yg sedang membaca terjemah Al-Qur'an.


"Mungkin hanya perasaan aa' saja, aa' lihat sendiri kan adek menjawab pinangan Ali dengan mantap" Tutur Arkam mengalihkan sejenak pandangan dari Al-Quran ke Hisyam.


" Tapi bi.." sergah Hisyam.


"Sudah, do'ak saja yg terbaik untuk adekmu, lagian menurut Abi, Ali itu orang yg tepat untuk menjaga dan membimbing adek" Tutur Arkam.


"Semoga saja ini hanya keraguan aa' aja bi, semoga adek nanti bisa mengarungi bahtera rumah tangga yg Sakina mawadah warahmah." Tutur Hisyam.


"Allahuma aamiin.." seru Arkam.


--------


Keraguan akan terbantahkan dengan fakta, namun bisakah hanya melalui lisan tanpa berniat mencari tau dari sumber yg bersangkutan. Wa'allahu alam.


"Ada apa sih sus rame-rame?" Tanya zeyna melihat kerumunan di lobi rumah sakit.


"Ehh mba zeyna, ini mba mau ada pengangkatan pemimpin rumah sakit baru" Tutur suster Vira, rekan tim yg membantu praktikum saat co-*** zeyna berlangsung.


"Pak firman mau resign ya sus?" Tanya zeyna lagi.


"Iya mba, maklum sudah tua, kini giliran waktunya beliau habiskan untuk bersantai bersama keluarganya." Tutur suster vira.


"Sayang sekali, padahal pak firman orangnya baik dan ramah, dan sering banget membantu pasien yg gak sanggup bayar perawatan rumah sakit" Tutur zeyna menyayangkan.


"Yaa.. mau bagaimana lagi mba, kini giliran pak Alfran cucunya yg bertanggung jawab menggantikan posisinya" Tutur suster vira membuat zeyna terkejut.


"Pak Alfran?" Tanya zeyna memastikan.


"Iya mba, pak firman akan digantikan oleh pak Alfran cucunya, kabarnya sih katanya karena pak Alfran akan segera menikah, nah itu juga menjadi salah satu syarat pak Alfran boleh memimpin rumah sakit ini." Tutur suster vira yg entah mengapa sedikit menumbuhkan rasa sesak di dadanya.


"Ohh gitu ya sus, kalau gitu saya permisi dulu mau keruangan dokter ibran" pamit zeyna hendak melangkah pergi.


"Ehh mba.." panggil suster vira.


"Iya sus, ada apa?" Tanya zeyna.


"Tadi dokter ibran pamit pergi keluar, dan menitipkan berkas-berkas mba zeyna sama saya, sebentar saya ambilkan dulu ya" Tutur suster vira melangkah pergi yg diangguki zeyna.


"Mungkin ini cara Allah membuat hatiku mantap untuk menjadi istri kak Ali, bismillah ya Allah luruskan lah niat hamba" Tutur zeyna pelan memandang seseorang yg sedang memberikan sambutan diatas panggung minimalis yg Mungin dibuat dadakan untuk acara ini, dia Alfran.


"Ya Allah, astaghfirullah ampuni hamba memandang sesuatu yg tidak seharusnya, astaghfirullah" Tutur zeyna lirih.


"Mba zeyna, ini berkas-berkas nya" panggil suster vira.


"Ehh iya sus, terimakasih.. sya permisi duluan ya, assalamualaikum" pamit zeyna pergi menjauhi lobi rumah sakit.


"Bismillah saatnya melangkah membuka lembaran baru, dengan status dokter dan insyaallah dengan status istri, semangat zeyna!" Tutur zeyna menyemangati dirinya sendiri sambil memandang langit didepan rumah sakit.


"Zeyna.." panggil seseorang saat zeyna hendak melangkah kan kakinya dan. Membuatnya otomatis menengok.


"Pa..Pak Alfran?" Seru zeyna.


"Apa kabar, terhitung sudah hampir tiga Minggu kepergian Aluna kita tidak bertemu lagi ya" Tutur Alfran mendekati zeyna membuat zeyna otomatis mundur.


"Cukup pak Alfran, saya rasa kita tidak punya utusan lagi, jadi kita tidak perlu bertemu lagi" Tutur zeyna tegas.


"Kenapa?, Apa karna kamu akan menikah dengan Ali?" Tanya Alfran.


"Dari mana bapak tau perihal itu?" Tanya zeyna tegang.


"Sudah sering ku katakan, aku tau segalanya tentang mu" Tutur Alfran dingin.


"Kenapa? Kenapa saat aku melamarmu kau selalu menolak, dan ketika laki-laki brengsek itu melamar mu sekali langsung kau terima, kenapa zey, kenapa?" Tanya Alfran mulai emosi.


"Maaf pak Alfran kak Ali bukan laki-laki brengsek, dan menerima atau menolak kak Ali adalah hak saya, saya menerimanya karena Allah" Tutur zeyna membuat Alfran sesak seketika.


"Ohh ya, laki-laki yg tidak bisa melindungimu ingin kau jadikan suami, hanya menyusahkan saja" tegas Alfran.


"Apa maksudmu bapak?" Tanya Alfran.


"Saat ini aku jamin Ali sedang merintih kesakitan, karena sudah berani merebutmu dari ku" tegas Alfran.


"Apa maksud bapak? Jangan lakukan apapun pada kak Ali, dia sama sekali tidak merebut saya dari siapapun termasuk bapak!" Marah zeyna.


"Sudah terlambat, anak buah ku sedang memberi pelajaran pada laki-laki brengsek itu" Tutur Alfran menyeringai.


"Anda benar-benar tidak punya perasaan, saya dan bapak tidak pernah punya hubungan apa-apa, tapi kenapa bapak selalu mengganggu kehidupan saya dan orang-orang terdekat saya, kenapa pak?" Murka zeyna meneteskan air mata.


"Jangan keluarkan air mata berhargamu untuk laki-laki brengsek itu zey, aku melakukan ini karna aku mencintaimu!, Jika kamu tidak ingin Ali mati babak belur, kamu batalkan pernikahanmu dengannya dan menikahlah dengan ku" tutur Alfran tenang dan dingin.


"Tidak akan! Saya dan kak Ali akan tetap Menikah, saya yakin Allah akan melindungi kak Ali, lagian bapak juga akan menikah kan? Jadi tolong jangan pernah ganggu saya dan orang-orang terdekat saya, permisi." Tutur zeyna berlari meninggalkan Alfran.


"Zeyna.. zey, Arrghh.." panggil Alfran mengumpat.


"Aku akan menikah, ya aku memang akan menikah dan itu dengan mu zeyna bukan dengan orang lain, Arrghh.. tunggu saja zey, semua akan bahagia pada waktunya, kamu akan menjadi milikku seutuhnya tanpa siapa pun bisa menyentuh mu sedikitpun." Tutur Alfran murka.


--------


Karena sejatinya bersatunya aku dan kamu adalah agar aku bisa lebih dekat dengan Allah SWT.


Gelisah dan panik yg dirasakan zeyna saat ini karena penututuran Alfran mengenai Ali membuat zeyna khawatir akan terjadi sesuatu pada Ali. Ia bahkan mencoba menghubungi Ali berkali-kali, namun nihil hanya jawaban operator yg ia dengan, ponsel Ali mati.


"Aduhh kak Ali, ayo dong angkat telponnya, astaghfirullah aku harus minta bantuan siapa" panik zeyna berlalu lalang di halte bus.


"Zeyna yakin kak Ali baik-baik saja, ya Allah lindungilah kak Ali, jagalah raganya, kuatkanlah keimanannya pada-Mu" do'a zeyna.


Sebuah kebahagiaan harus dicapai melalui jalan kesedihan untuk dapat merasakan apa arti bahagia yg sesungguhnya.


NO Khalwat UNTIL Akad


See you Next part๐Ÿ˜†