
Tanpa sadar ternyata tangan Agatha masih memegang tangan Alvaro. Ketika Agatha sadar,Agatha hendak melepaskan tangannya yang menyentuh tangan Alvaro tapi dengan cepat Alvaro membalikan tanganya dan memegang tangan Agatha.
~~
"Biar kayak gini Tha bentar"ucap Alvaro memegang dengan erat. Agatha berusaha melepaskan tangan Alvaro tapi malah tangan Alvaro semakin erat mengenggamnya.
"Jangan bantah aku Agatha Putri Yasmin Pradipta"ucap Alvaro sambil memegang tangan Agatha.
"Dari mana kamu tau panjangan P aku?"ucap Agatha tapi Alvaro tidak menjawabnya.
Dengan terpaksa, mereka mengerjakan tugas fisika berdua dengan tangan Agatha yang masih dipegang oleh Alvaro. Tak terasa, waktu sudah menunjukan jam dua sore. Dan di waktu itu juga Agatha dan Alvaro telah menyelesaikan semua tugasnya. Agatha langsung memasukan tugasnya kedalam tas Agatha dan tidak lupa Alvaro membantunya. Karena yang membawa materi dan tugas hanyalah Agatha. Alvaro hanya membawa otak yang pintar akan fisika dan sudah hafal tentang materi, lalu Kennan menyediakan tempat dan membantu Agatha menemukan buku diperpus dan Dimas....mungkin membantu doa. Bukankah itu selalu yang dinamakan kerja kelompok?.
Setelah membereskan semuanya. Alvaro menarik tangan Agatha kedalam mobilnya. Lalu menjalankan mobilnya. Dan berhenti di Taman.
"Kita ga izin dulu pulang?kok berhenti disini?"ucap Agatha datar.
Alvaro menatap Agatha dengan tajamnya. Alvaro menarik Agatha keluar dari mobilnya.
"Ayo Tha, ikut aku"ucap Alvaro.
"Kemana?"ucap Agatha datar.
"Gausah banyak tanya Tha, please"ucap Alvaro.
Tanpa menunggu jawaban Agatha. Alvaro menarik agatha ke bangku taman. Dibangku Taman,Alvaro menatap Agatha sangat dalam, sedangkan Agatha masih melihat keadaan Taman. Taman ini begitu sepi padahal biasanya Taman ini dikenal sebagai Taman yang tidak pernah sepi. Selalu ramai akan orang yang berkunjung.
"Ga biasanya"Ucap Agatha heran namun menunjukan wajah datarnya.
"Ga biasa apa?"ucap Alvaro masih menatap Agatha.
"Sepi"ucap Agatha datar.
"Aku menyewanya"ucap Alvaro
"APA?"ucap Agatha kaget.
'Bagaimana bisa Alvaro menyewa ini?Apa karena Ayahnya yang kaya raya itu?Terus kenapa bawa aku kesini? Dan kenapa dia memakai kosa kata aku..Bukannya biasanya gua lu ya?..'batin Agatha.
"Shut"desis Alvaro.
"Tatap mata aku Tha"ucap Alvaro namun dihiraukan oleh Agatha.
Alvaro menunggu Agatha untuk menatapnya tetapi Agatha tak kunjung menatapnya. Akhirnya tangan Alvaro memegang dagu Agatha dan mengangkatnya lalu otomatis wajah Agatha menghadap wajah Alvaro. Spontan Agatha menutup matanya agar tidak bertatapan dengan Alvaro. Jarak antara wajah Alvaro dan Agatha sangatlah dekat. Terbukti jika deru nafas Alvaro dapat terasa oleh Agatha. Nafas Alvaro sangatlah memabukan.
"Tatap aku Agatha"ucap Alvaro lembut
Agatha pun menuruti ucapan Alvaro. Akhirnya Agatha menatap matanya itu. Mata yang meneduhkan baginya. Mata hazel milik Alvaro bertemu dengan Mata Biru milik Agatha. Mereka saling bertatap-tatapan.Tidak ada yang ingin memutuskan kontak matanya. Seolah mata itu dapat mengungkapkan segala hal yang telah terjadi dihidup mereka berdua.
Sekelebat ingatan tentang Bintang muncul dipikirannya.
"Bintang"ucap Agatha melembut.
"Aku bukan Bintang,Agatha. Aku bukan kekasih kamu Tha, aku Alvaro."ucap Alvaro masih menatap Agatha.
"Sadar Tha. Dia gabakal balik lagi"ucap Alvaro sambil memegang kedua pipinya Agatha dan matanya masih menatap mata biru Agatha tanpa mau melepaskan.
"Aku.."ucap Agatha mulai meneteskan air mata.
"Semuanya akan baik-baik saja Tha, Ada atau tidak adanya Bintang"ucap Alvaro melembut. Mata Agatha mulai berbinar. Seperti ingin mengeluarkan bebannya tetapi dia tahan.
"Keluarkan Tha, apa yang ingin kamu ucapkan. Jangan lemah. Semakin kamu lemah, kamu akan selalu tertindas oleh bayangan masalalu"ucap Alvaro menatap mata Agatha.
Mata Alvaro seolah menghipnotis Agatha bahwa apa yang dia katakan benar. Perlahan-lahan Agatha memeluk Alvaro. Pertahanan kokoh yang Agatha tahan dari lama hancur seketika karena Alvaro. Ya hanya Alvaro. Bahkan kekasihnya saja tidak pernah berhasil meruntuhkan egonya. Sahabat nya Gibran saja tidak pernah bisa tau perasaannya. Dan ini, Hanyalah sseorang cowok yang membuat jantungnya berdebar,dipelukannya membuatnya merasa nyaman dan tenang, dan tatapannya membuat hati Agatha melupakan masalahnya.
"Ak..u ta...ku..t..hiks.."ucap Agatha. Alvaro melihat Agatha menangis spontan langsung memeluknya.
"Apa yang kamu takutkan Tha?"ucap Alvaro sambil mengelus rambut wangi strawberry milik Agatha.
"A...ku..ga...k..u..at"ucap Agatha terisak.
"Kamu kuat"ucap Alvaro.
"Katakan Tha"ucap Alvaro lagi. Kali ini dengan sangat lembut.
"Aku...takut....kehilangan orang yang aku sayangi.. Sem..ua...nya menin...ggalkan aku sendiri. Mama.. Bintang.. dia ninggalin aku Al.. Aku takut..Sekarang siapa lagi yang meninggalkan aku.."ucap Agatha.
"Ak...u ga kua..t n.. geliat semua ke ....jadian dide....pan mata...aku"ucap Agatha terisak.
"Katakan apa yang kamu inginkan"ucap Alvaro.
"A..ku.."ucap Agatha.
"Katakan Tha..kamu ingin apa?kamu tidak bisa hidup tanpa tujuan. Semua orang yang pergi meninggalkanmu sedih melihatmu seperti ini"ucap Alvaro.
"Sebenarnya kamu tau apa yang kamu inginkan. Pikirkan Tha. Aku juga tau apa yang kamu inginkan"ucap Alvaro.
"A..pa..?Bagaim...ana kamu... bisa tahu?jika... aku saja tidak ta. u apa... yang aku ing..inkan. Hid..upku in
.i mati ras..a set...iap hari"ucap Agatha.
"Berhentilah menangis. Tenangkan dirimu"ucap Alvaro sambil mengusap Agatha. Agatha langsung terdiam.
"Tutup matamu"ucap Alvaro melepaskan pelukan Agatha dengan perlahan lalu menutup matanya dengan tangannya. Agatha menuruti perintah Alvaro.
"Bayangkan apa saja yang ada dipikiranmu. Lalu tanyakan ke dalam dirimu sendiri. Tujuanmu hidup apa?Ketakutan terbesarmu apa?"ucap Alvaro berbisik ke telinga Agatha.
Bisikan itu mengema dipikiran Agatha. Agatha menuruti perintah Alvaro. Tiba-tiba ingatan Agatha semuanya terbayang. Ingatan pertama pada saat Agatha ditinggalkan oleh Mamanya. Ingatan kedua tentang Kepergian Bintang. Lalu ingatan ketiga tentang Teman masa kecilnya yang selalu dia ingat tapi lupa akan namanya dan yang terakhir adalah momen bahagia Agatha.
"Buka matamu Agatha. Lalu sekarang, Apa keinginanmu?"ucap Alvaro.
"Aku.."ucap Agatha ragu. Ingatannya semuanya telah terbayang dipikirannya.
"Jangan ragu. Aku disini melindungimu"ucap Alvaro.
"Aku...ingin..."ucapan Agatha terhenti lalu Agatha menarik nafas sekali dan menghembuskannya.
"Aku ingin bahagia Al"ucap Agatha. Nada bicara Agatha sangatlah lembut. Seolah sikap datar dan dinginnya hanyalah ilusi.
"Lalu ketakutanmu apa Agatha?"ucap Alvaro.
"Aku ingin bahagia..tapi.."
"aku takut kehilangan semua orang yang ada disisiku"ucap Agatha lembut
"Aku..."ucapan Agatha terpotong saat jari telunjuk Alvaro menghalangi bibirnya.
"Semua orang berhak bahagia. Kamu tak perlu takut. Aku akan melindungimu. Tidak ada yang bisa menyakitimu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu"ucap Alvaro sambil membelai rambut Agatha.
"Kamu Matahari aku Agatha sedangkan aku adalah Bumi"ucap Alvaro.
"Matahari?"ucap Agatha lembut.
"Iya Matahari, itu panggilan yang cocok untukmu"ucap Alvaro.
"Kenapa Matahari?Dia selalu sendiri"ucap Agatha.
"Aku hanya bilang sekali ini saja"ucap Alvaro
"Apa?"Ucap Agatha penasaran tanpa menunjukan wajah datar.
"Matahari memang selalu sendiri. Tapi selalu tetap bersinar. Tanpa memerlukan bintang dan bulan bersamanya"ucap Alvaro.
"Lalu kenapa kamu Bumi?"ucap Agatha.
"Bumi selalu membutuhkan cahaya Agatha. Dan itu kamu, Matahariku"ucap Alvaro.
"Kan ada bulan dan bin.tang.."ucap Agatha gugup.Dia masih tidak bisa mengucapkan bintang tanpa merasa sedih.
"Bahkan jika ada bintang dan bulan pun, Bumi masih saja gelap. Bulan dan Bintang tidak bisa menandingi Matahari"ucap Alvaro.
"Kenapa?"ucap Agatha
"Karena ...bumi akan selalu menunggu matahari terbit"ucap Alvaro. Agatha pun tersenyum.
Senyuman Agatha sangatlah indah di mata Alvaro.
"Agatha"ucap Alvaro sambil memegang tangan Agatha.
"Apa?"ucap Agatha masih tersenyum.
"Aku...."ucapan Alvaro behenti.
'aku mencintaimu'batin Alvaro.
"Aku harap senyumanmu akan selalu ada dan tak pernah berhenti lagi"ucap Alvaro.
"Semoga"ucap Agatha tersenyum manis.
"Akan kupastikan itu"ucap Alvaro memeluk Agatha.
Semberut merah keluar dari pipi Agatha. Detak jantung Agatha mendadak cepat. Begitupun Alvaro. Baru kali ini, Agatha merasakan sangatlah bahagia. Dengan kekasihnya saja dia tidak sebahagia ini. Pelukan Alvaro saja bisa nyaman dalam benakku padahal aku trauma dengan pelukan.
'Alvaro ...sebenarnya siapa'batin Agatha.
#like+comment please..