When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 8: Dibuntuti~


Darrien menutup pintu apartemen dengan kencang, menghadap pada Darla yang duduk santai di sofa tanpa rasa bersalah.


"Kenapa kau kemari? Mau minta uang jajan?" Tanya Darrien ketus.


"Apa begini kau memperlakukan adikmu yang hanya bertemu sebulan sekali denganmu? Itupun karena aku ke sini, jika tidak, aku rasa aku sungguh tidak punya kakak...,"


"Terserah apa katamu...,"


"He'ii, kau kesal padaku? Kenapa? Aku salah apa?" Tanya Darla tidak terima kehadirannya tidak diterima oleh Darrien.


"Sudahlah, aku malas berbicara denganmu..., pulanglah sebelum tengah malam...,"


"Kau bahkan mengusirku?" Tanya Darla terkejut, kedua kakak adik yang sama-sama memiliki karakter keras kepala itu memang tidak pernah akur, tapi mereka saling menyayangi.


“Ahhh… aku lihat kau kesal sedari aku datang dan wanita tadi pergi. Apakah ada hubungan dengannya?” Tebak Darla yang seketika menyadari perubahaan emosi Darrien sejak Emlyn pergi.


“Heii jawab aku…, siapa dia? Dia bukan ART mu???” Tanya Darla menuntut jawaban dari mulut Darrien yang tertutup rapat tidak menjawabinya.


“Dia bukan ART ku! Kau puas???” Jawab Darrien geram.


“Jadi diaaa…, wanita yang sedang kau kencani? OMG! Dia pasti tersinggung karena aku mengira dia ART mu…, lalu baju itu? Kenapa kau memberinya bajuku? Apa kau tidak punya uang untuk membelinya sendiri??” Darla memicingkan matanya, mempermasalahkan tindakan kakaknya yang memberi baju sisa kepada wanita yang ia kencani.


“Kau tidak menginginkan baju itu lagi, dan aku menyayanginya, jadi ku pikir tidak ada salahnya ku berikan padanya, daripada kau hamburkan uang dan membuang baju baru.”


“Kau gila??? Wanita mana saja bisa tersinggung jika diberi baju sisaan seperti itu.” Protes Darla yang tidak habis pikir dengan Darrien.


“Arghhh, pokoknya kau mengacaukan segalanya…!”


“Siapa namanya? Sudah berapa lama kau mengencaninya??” Tanya Darla lagi.


“Namanya Emlyn Blossom. Kami belum sampai tahap berkencan, aku baru mendekatinya sekitar beberapa minggu ini.”


“Dan kau sudah membawanya pulang ke apartemenmu…, wahhhh… Daebakkkkk!! Aku rasa sebentar lagi Mama Papa akan menimang cucu…,” Ucap Darla sambil bertepuk tangan.


“Apa kau merestui kami?” Tanya Darrien penasaran dan seketika menurunkan nada suaranya saat membahas Emlyn.


“Yaaa, sekilas terlihat ia wanita yang baik, dan… sabar, sepertinya bisa mengimbangi karaktermu yang menyebalkan…,” Jawab Darla sungguh-sungguh.


Darrien menyentil kepala adiknya dengan pelan.


“Aauuuuu…,” Teriak Darla berlebihan.


“Jangan lebay…, malam ini tidurlah di sini. Besok ku antar kau pulang.”


“Benarkah??? Aku boleh menginap? Yeayyyyy…,” Teriak Darla kegirangan.


...***...


Hari sudah menjelang siang, waktupun hampir menunjukkan pukul 1.30 siang, Emlyn baru saja menyelesaikan makan siangnya yang tertunda karena sibuknya pekerjaan. Emlyn melangkahkan kakinya menuju pantry untuk mengisi botol minumnya.


“Emlyn,” Sebuah suara menggagetkannya, padahal ia sama sekali tidak mendengar ada derap kaki yang mengikutinya.


“Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau yang lain lihat?” Tanya Emlyn panik melihat Darrien yang memanggilnya.


“Kenapa? Aku hanya memanggilmu dan kau terlihat panik begini?” Goda Darrien tersenyum lebar melihat Emlyn yang tersipu.


“Apa kita memiliki hubungan yang spesial?” Goda Darrien menipiskan jaraknya dengan Emlyn.


“Tidak…,” Jawab Emlyn dengan cepat.


“Lalu kenapa kau panik?” Goda Darrien lagi tanpa mengalihkan tatapannya dari Emlyn.


Emlyn menggeserkan tubuhnya ke samping dan segera mengisi botol minumnya dengan air dari dispenser.


“Kau belum menjawabku…”


“Aku harus kembali ke meja ku…, permisi…,” Jawab Emlyn menghindari Darrien dengan cepat.


Kita harus bicara, temui aku di tempat biasa.


-Darrien-


Besok saja...


-Emlyn-


Malam ini. Kenapa harus besok?


-Darrien-


Aku harus segera pulang, ada yang harus ku lakukan.


-Emlyn-


Aku ikut denganmu, NO Debat!


-Darrien-


Darrien mengecek handphonenya, menunggu jawaban Emlyn, wanita itu sudah membaca pesannya, tapi sengaja tidak membalasnya.


Yang benar saja, Emlyn sama sekali tidak membalas pesan Darrien dan membuatnya kesal.


"Apa dia sesibuk itu?" Geram Darrien.


Darrien melaju pelan mobilnya mengikuti sebuah motor ojek online yang memboncengi seorang wanita.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Emlyn yang lembur baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


Jalanan yang tidak terlalu ramai membuatnya bisa pulang dengan lebih lancar.


Tok tok tok...


Suara pintu kamar kostnya terdengar diketuk seseorang.


Siapa? Emlyn menunggu sesaat dan terdengar lagi suara ketukan, kali ini sedikit tidak bersabar.


"Siapa?? Kau?" Ucap Emlyn kaget saat melihat siapa yang berdiri di depan kamar kostnya.


Sebelumnya, Darrien menunggu dengan kesal di depan cafe tempat ia janjian dengan Emlyn, tapi 30 menit wanita itu tidak kunjung terlihat, akhirnya ia memutuskan kembali ke kantor.


Saat itu Darrien baru menyadari, wanita yang ia tunggu ternyata masih berada di kantor dan masih sibuk dengan pekerjaannya.


Tak ingin terlalu mengganggu, Darrien justru mengikuti ke mana Emlyn sepulang kerja, dan di sinilah ia sekarang berada.


Darrien memperhatikan seisi kamar kost Emlyn yang sederhana dan sedikit penuh dengan barang.


"Kamarmu kecil sekali...,"


"Apa yang kau lakukan, aku tidak mengundangmu kemari, pergilah...," Emlyn berusaha mengusir dan menarik tangan Darrien keluar pintu, tapi dengan mudah dihempaskan oleh Darrien.


"Di mana aku boleh duduk? Di sini?" Tunjuk Darrien pada kasur berukuran single milik Emlyn dan tanpa ragu mendudukinya.


Emlyn berkecak pinggang menatap kesal pada Darrien, satu sisi ia malu karena atasannya itu berkunjung ke tempat tinggalnya.


Darrien memperhatikan Emlyn yang tampak kesal tapi justru terlihat imut, apalagi melihat wanita itu sudah melonggarkan kemejanya justru membuatnya semakin terlihat seksi.


"Pergilahhh..., aku sedang tidak ingin meladenimu...," Pinta Emlyn masih berusaha menarik tangan dan tubuh Darrien agar beranjak dari kasurnya.


"Ahhh...," Teriak Emlyn saat dirinya terjatuh ke tubuh Darrien karena pria itu baru saja sengaja menariknya.


Darrien mengencangkan pelukannya saat Emlyn berusaha bangkit.


"Lepaskan..., ini tidak nyaman...," Berontak Emlyn.


Darrien tidak membiarkan Emlyn berontak, ia justru mengencangkan pelukannya dan menahan tubuh Emlyn, mendekatkan hidungnya ke tengkuk wanita itu.


"Apa yang kau lakukan, aku belum mandi...," Ucap Emlyn berusaha menjauhkan tubuhnya dari wajah Darrien meskipun percuma karena pria itu masih menahannya.


"Aku suka... wangimu." Jawab Darrien berterus terang, membuat Emlyn melongo dan tersipu mendengarnya.


"Sampai kapan kau mau begini?" Tanya Emlyn berusaha tidak terpengaruh.


"Sampai aku puas...," Jawab Darrien dan justru berbalik merebahkan tubuh Emlyn ke kasur.


Jantung Emlyn yang sedari tadi berdegup kencang tak karuan semakin menjadi-jadi karena posisi Darrien yang terus menekannya.


Meskipun ia sudah beberapa kali berdekatan dengan Darrien, tapi pesona pria itu terlalu sulit ia bendung.


Emlyn menutup rapat mata dan bibirnya saat Darrien mendekatkan wajahnya. Pria itu pasti akan menciumnya...


Satuu....


Duaaa.....


Tiiigg...


"Aku lapar... ayo kita makan...," Bisik Darrien santai.


"Hah?" Emlyn membuka matanya dengan tatapan heran, sedikit kecewa karena Darrien tidak jadi menciumnya.


Cupppp... 💞


.


.


.


.


.


To Be Continue~