
Emlyn berdiri di depan cermin, memperhatikan pakaian yang ia pakai. Darrien tidak memberinya waktu untuknya menyendiri. Pria itu baru saja setengah jam yang lalu mengirim pesan padanya bahwa ia sedang menuju ke tempat Emlyn untuk menjemputnya. Tidak tega menolak, Emlyn yang masih punya rasa dan hati, terpaksa menuruti keinginan Darrien untuk menemani pria itu ke Club.
Darrien berjalan menghampiri sebuah meja VIP sebuah club malam, di belakangnya Emlyn mengikuti dengan langkah cepat karena takut kehilangan jejak Darrien di dalam club dengan pencahayaan gelap remang itu membuatnya kewalahan sendiri, karena menolak telak Darrien untuk memegang tangannya.
“Duduklah…,”
Emlyn mengikuti arahan Darrien untuk menduduki sebuah meja yang masih kosong.
“Kenapa kau mengajakku ke sini?” Tanya Emlyn sedikit berteriak karena suaranya kalah dengan dentuman musik yang berjedak jeduk kencang di sekeliling ruangan.
“Kencan…, kau tak suka?” Tanya Darrien.
“Masih Oke…,” Jawab Emlyn mulai menikmati musik dan suasana di sana.
Darrien mengernyitkan keningnya saat menyadari Emlyn juga menyukai musik di club, ia kira Emlyn akan marah-marah sedari mereka memasuki club.
“Kau mau turun?” Tanya Darrien menunjuk ke ruang tengah di club itu di mana banyak orang berjoget sembari minum.
“NO…,” Jawab Emlyn membentuk lambang X dengan tangannya.
Seorang pelayan pria menghampiri meja mereka, membawakan dua gelas beserta 2 botol minuman alkohol. Emlyn tidak menolak saat Darrien menyodorkannya minuman itu, toh jika ia mabuk ada Darrien yang mengurusnya.
“Aku ke toilet dulu…,” Izin Emlyn saat merasa wajahnya mulai memanas. Ia bukan peminum yang handal dan toleransinya terhadap alkohol sangat rendah.
Sebelum melangkahkan kakinya memasuki toilet, Emlyn harus bersusah payah berdesakan dengan orang-orang yang berkumpul sembari minum dan merokok di depan toilet.
“Apa mereka tidak bisa pilih tempat lain, haissh…,” Omel Emlyn dalam hati.
Emlyn menghela nafas lega saat dirinya berhasil masuk ke dalam bilik toilet, sesudahnya, ia memercikkan sedikit air ke wajahnya, untuk membuatnya lebih segar, tak lupa ia menambah polesan lipstik ke bibirnya.
Riuh pengunjung tiba-tiba terdengar bergemuruh, kencang, meneriaki sesuatu yang menyenangkan.
Emlyn yang baru saja keluar dari toilet ikut mencari sumber keriuhan, ternyata sang DJ wanita baru saja menyelesaikan pentasnya dan akan menuruni panggung, sepertinya ia DJ yang terkenal.
Emlyn memicingkan mata saat menyadari sang DJ menuruni panggung disambut oleh seorang pria, Darrien! Apa yang ia lakukan di sana?
Darrien bahkan mengulurkan tangannya untuk mempermudah wanita itu menuruni tangga. Tak berhenti di situ, mereka bahkan menuju meja bar, memesan minuman dan melihat dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sangat akrab.
"Apa ini? Dia mengajakku ke sini, tapi malah pergi menemani wanita lain..." Omel Emlyn kesal dan berjalan menuju mejanya tadi.
"Kau menantangku?" Tanya Emlyn tersenyum miring, meneguk hampir setengah sisa alkohol di botol dan tanpa ragu membuka cardigan yang ia kenakan dan mengikatkannya di pinggang. Tersisalah tank top dan rok pendeknya, membuatnya tampak lebih seksi.
Emlyn tentu saja melanjutkan pembalasannya, alkohol yang tadi ia teguk membuatnya di bawah kendali. Ia kini sedang berdiri di antara para pengunjung yang berjoget. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama musik dan melekuk dengan indah nan menggoda. Rambut keriting panjangnya ia kibaskan, sesekali ia menggigit bibir bawahnya, tubuh dan perasaannya menyatu dengan musik.
Emlyn berhasil menarik perhatian pria-pria di sekitarnya, ada yang ikut menari di sebelahnya, ada yang hanya melihat tariannya, ada juga yang berani berdiri sangat dekat dengannya.
"Jadi kau kemari dengan siapa?" Tanya Monica, DJ wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Darrien.
"Di sana... tunggu...," Ucap Darrien terpotong karena Emlyn tidak berada di meja yang ia tunjuk.
Darrien mencari sosok Emlyn dari tempat ia berdiri, menyipitkan matanya dan berusaha fokus dengan padatnya orang dan lampu club yang remang-remang kegelapan.
"Yuuuuuuhuuuu…," Teriak sorak ramai pada orang yang berkerumun, menarik perhatian Darrien.
Mata Darrien terbelalak kaget menyadari Emlyn lah yang tengah menjadi pusat perhatian di sana. Darrien bahkan sempat menoleh dua kali untuk memastikan wanita yang sedang menari dan bergoyang dengan seksi itu adalah Emlyn.
"Permisi... Permisi...," Ucap Darrien pada pengunjung untuk memberinya jalan.
Settt… Darrien berhasil menarik tangan Emlyn.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Darrien mengerutkan keningnya tidak suka dan menatap sekeliling Emlyn. Beberapa dari pria yang menyadari tatapan dingin Darrien pun bergerak menjauhi, tidak ingin mencari masalah.
“Ahhh, kenapa kau menarikku? Aku sedang menari…,” Jawab Emlyn setengah berteriak dan menghempaskan tangan Darrien.
Darrien kembali menarik tangan Emlyn dan mengencangkan kedua cengkramannya.
“Apa kau mabuk?” Tanya Darrien saat mencium aroma alkohol dari hembusan nafas Emlyn yang terengah-engah, entah sudah berapa lama wanita itu menari di tengah sana.
“Tidak, aku tidak mabuk… Lepaskan! Atau kau ingin ikut menari denganku?” Tanya Emlyn tersenyum menantang Darrien.
“Ayo pulang sekarang…!” Perintah Darrien tidak ingin dibantah dan menarik tangan Emlyn dengan kasar.
Emlyn berusaha melepaskan cengkraman yang ia rasa semakin kencang dan menyakitkan pergelangan tangannya itu. Ia sesekali berteriak, meminta Darrien melepaskannya, tapi suaranya kalah dengan dentuman musik yang semakin malam semakin kencang dan riuh.
Darrien mendorongnya masuk ke kursi mobil dengan kasar.
“Ini sakit tahuuu…!!” Teriak Emlyn pada Darrien saat pria itu sudah duduk di sampingnya.
“Kau masih tahu sakit? Tadi menari di sana kau begitu menikmatinya heh?”
“Tentu saja, aku menyukainya. Dan ini sakitttt… kau lihat, semua memerah dan pedih!” Protes Emlyn menunjukkan kedua lengannya yang memerah. Darrien merasa bersalah melihat hasil perbuatannya, tapi ia juga merasa kesal melihat Emlyn menari menggoda pria lain.
Darrien memperhatikan wajah dan leher Emlyn yang juga memerah, jelas wanita itu sudah setengah mabuk.
“Panassss…,” Celoteh Emlyn sambil menggosok kasar leher dan wajahnya yang sudah penuh dengan keringat, ia juga menggepalkan rambutnya dengan satu tangan, dan tangan satunya untuk mengipasi diri sendiri.
“Hentikan…, jangan memancingku…,” Tegur Darrien dengan suara dingin.
“Apa?? Memancing? Ikan? Mana??” Tanya Emlyn dengan polos.
Darrien menggeram mendengar jawaban Emlyn. Wanita ini sepertinya sangat mabuk.
Cupp… Darrien tidak tahan untuk tidak mencium bibir Emlyn saat itu juga. Emlyn terdiam kaget mendapatkan kecupan yang tiba-tiba itu, sedetik kemudian kedua sudut bibir Emlyn merekah, tangannya bergerak merangkul leher Darrien dan menahan tubuh pria itu untuk mendekatinya.
Saat jarak mereka semakin tipis, Emlyn dengan cepat mengecup, menyesap dan memainkan lidahnya di sela ciuman mereka, tangan Emlyn tidak tinggal diam, menyentuh dada bidang Darrien, bergerak terus ke bawah menyusuri otot perutnya yang menegang dan ingin menyusup lebih jauh.
“Hentikan…,” Tahan Darrien sembari menahan tangan Emlyn, ia masih sadar dan tidak berniat melakukannya di dalam mobil, apalagi di tengah parkiran terbuka.
.
.
.
.
.
To Be Continue~