
"Aku tidak suka milikku disentuh atau dibagi dengan orang lain..., hmm... ini artinya dia cemburu, atau tidak?" Pikir Emlyn sedikit terganggu dengan jawaban Darrien, ingin ia bertanya lebih, tapi ia tidak merasa ia punya hak lebih untuk menuntut jawaban dari pria itu.
Awalnya ia pun hanya bercanda bertanya seperti itu untuk mencairkan suasana, apalagi ia tidak terlalu suka dikekang, tapi ia tidak ingin ribut dengan Darrien, toh ia memang ingin menghindari Jose.
"Jose..., di mana kau mengenalinya?" Tanya Darrien dengan serius.
"Di tempat Gym...,"
"Apa? Kau juga berkenalan dengan pria asing di tempat umum?" Tanya Darrien terkesan meremehkannya.
"Dia yang mengajakku berkenalan, apa salah?" Tanya Emlyn sedikit tidak suka dengan respon Darrien.
"Jangan mengulanginya lagi, oke? Jika kejadian seperti semalam terjadi lagi, aku tidak akan membantumu...," Tegur Darrien dengan tegas, pria itu tampak kesal mengingat kejadian semalam.
"Tenang saja, aku tidak akan meminta bantuanmu lagi...," Jawab Emlyn ikut kesal.
"Bagus jika kau paham, menurutlah!" Perintah Darrien membuat Emlyn melotot kaget, merasa kesal mendapat teguran dengan nada memerintah seperti itu. Baru saja ia merasa cocok dengan pria itu, tapi hanya dalam beberapa detik kemudian ia langsung dibuat kesal. Ini adalah sisi yang ia tidak sukai dari Darrien, si tukang bossy dan suka bicara seenaknya.
"Apa aku boleh pulang sore ini?" Tanya Emlyn berusaha menahan kekesalannya.
"Apa kau sibuk? Besok sudah weekend, tinggallah di sini..."
"Apa kau tidak ada janji dengan temanmu?"
"Aku sudah punya dirimu, untuk apa janji dengan yang lain?" Darrien memeluk pinggang Emlyn dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Apa aku boleh menolak untuk tidak tinggal di sini?"
Darrien mendongakkan kepalanya, memperhatikan wajah dan menatap mata Emlyn.
"Jika kau punya alasan yang kuat, aku akan izinkan..."
"Aku perlu waktuku sendiri." Jawab Emlyn dengan jujur karena kesal melihat Darrien yang pemaksa.
...***...
Emlyn menghela nafas lega saat tubuhnya berhasil menyentuh kasur kost miliknya. Ia memutuskan untuk pulang dan tidak peduli saat Darrien kesal padanya hanya karena tidak ingin Emlyn pulang lebih cepat.
Emlyn butuh waktu dan ruang sendiri, tiba-tiba ia ingin memikirkan kembali keadaan dan bagaimana cara menghadapi Darrien. Ia tidak tahu benar atau tidak untuk berhubungan dengan teman bossnya itu.
Emlyn akui dirinya memang menaksir dan menyukai ketampanan Darrien, tapi ia juga tidak bisa menjalani hari-harinya dengan dikekang seperti itu, terlebih Emlyn tidak menggangap hubungan mereka adalah sepasang kekasih.
"Kau tidak bahagia dan tidak senang menghabiskan waktumu denganku?" Tanya Darrien sebelum ia pergi dari apartemen itu.
"Tidak, bukan begitu, hanya saja aku perlu waktu untuk berpikir dan menjernihkan pikiranku."
"Kenapa?" Tanya Darrien menuntut jawaban, terlihat jelas di wajahnya, ia tidak terima Emlyn meninggalkannya malam itu.
"Aku... Aku hanya sedikit bimbang...," Jawab Emlyn jujur dan memperhatikan ekspesi Darrien yang tampak sedikit terkejut dan kesal dengan ucapannya.
...***...
Keesokannya, Sabtu pagi...
Kenneth mengernyitkan keningnya saat melihat Darrien memasuki apartemennya dengan bebas. Mereka memang tinggal di satu apartemen, Kenneth yang tinggal di lantai 12 itu memang sudah terbiasa dengan kehadiran Darrien di apartemennya, namun ada yang beda dari rekannya itu. Wajah Darrien tampak kusut dan kesal, jelas ada yang sedang ia pusingkan.
"Ada masalah apa? Kau tidak mungkin ke sini hanya untuk sarapan kan?" Tanya Kenneth sambil meletakkan secangkir kopi yang ia seruput.
"Bagaimana kau langsung mengetahuinya? Apa jangan-jangan kau dukun?" Canda Darrien yang takjub dengan kemampuan Kenneth membaca situasi hatinya.
Mereka sudah berteman dan menjadi rekan kerja selama 10 tahun, sebelumnya Kenneth adalah tangan kanan ayah Darrien. Melihat Kenneth yang begitu muda sudah pintar, ulet dan kompeten, membuat ayah Darrien berani mempercayakan perusahaannya dipimpin oleh Kenneth, sembari membantu Darrien untuk mengelolah perusahaannya.
"Ini malam minggu, dan kau ke sini pagi-pagi. Jika bukan karena masalah pekerjaan, maka itu masalah wanita...,"
"Katakan, apa kau ditolak Emlyn?" Tanya Kenneth lagi, yakin dengan tebakannya.
"Mana mungkin pria setampan aku ditolak? Siapa yang berani menolak ku?"
Pukkk...
Sebuah bantal melayang ke punggung Darrien, membuat pria itu menoleh kesal dan kaget.
"Darlaaa... apa yang kau lakukan di sini? Apa kau menginap di sini?" Tanya Darrien kesal dan sedikit panik melihat adiknya menginap di tempat Kenneth.
"Hentikan, jangan berpura-pura kau peduli padaku! Dan lagi ini bukan pertama kalinya aku menginap di tempat Kak Kenneth." Jawab Darla balas mengomel.
"Dia sudah menginap selama dua hari. Jelaskan padanya Darla, aku tidak mau kakak mu salah paham dan memukulku...," Ucap Kenneth pada Darla.
"Apa kau memacari adikku???" Tanya Darrien terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Ckck... apa isi otakmu sebenarnya?" Kenneth tampak kesal mendapat tuduhan tak beralasan dari Darrien, ia pun ikut melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah Darrien.
"Yahhh!! Jika bukan kau membawa Emlyn tidur di apartemenmu, aku tidak mungkin menginap di sini...!!" Jawab Darla setengah berteriak.
"Apa? Kau melihatnya?" Tanya Darrien kaget.
"Tentu saja... Mataku tercemar melihat betapa mesranya kalian berciuman dan kau menggendongnya masuk ke kamarmu...,"
"Astaga... Apa kau melihat kelanjutannya?"
"Iiisshhh, Ogah! Tapi sudah ku abadikan....," Jawab Darla sambil menggoyang-goyangkan handphonenya di hadapan Darrien.
"Heiiii!!! Hapus! Hapus semua yang kau foto atau rekam, berikan padaku handphonemu, berikan padaku...," Desak Darrien panik dan berusaha mengambil handphone dari tangan Darla.
"Hentikan, beri aku CC mu, maka aku akan hapus dan tutup mulut."
Darrien seketika berhenti memperebutkan handphone milik Darla.
"Ayo cepat, beri aku kartu kreditmu...," Pinta Darla lagi.
“Kau pikir aku tidak tahu? Kau hanya menipu dan mengancamku...," Jawab Darrien terlihat mulai tenang dan tidak memperdulikan Darla.
"Aku sungguh punya foto dan video kalian, aku akan mengirimkannya ke Mama...,"
"Silahkan, lakukan apapun yang kau mau..," Jawab Darrien santai dan duduk di sofa, Kenneth tersenyum melihat tingkah kedua kakak adik yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
"Argghhh...," Keluh Darla sedikit kesal karena begitu mudahnya gagal memeras uang kakaknya, ia memanyunkan bibirnya sembari memperhatikan sekeliling ruangan.
"Mana Emlyn? Kau tidak mengajaknya kemari?"
"Kau sudah menginap dua hari, kapan kau akan pulang? Apa kau tidak malu merepotkan Kenneth?"
"Aku akan pulang rumah hari ini. Dan kau jangan mengalihkan pembicaraan! Di mana Emlyn? Apa dia sudah pulang?" Tanya Darla mendesak jawaban.
Darrien melipat tangannya bersilang di dada, wajahnya kembali tampak kesal dan tidak bahagia saat membahas Emlyn.
"Kau sungguh dicampakkan olehnya???" Tanya Kenneth ikut penasaran.
“Hah? Baru kali ini aku mendengar kau dicampakkan wanita…, yahh, selain Callista…” Ucap Darla mendapat pelototan kesal dari Darrien.
.
.
.
.
.
To Be Continue~