When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 6: Jose Halton~


Dalam hati Darrien, sebenarnya ia cukup kaget mengetahui fakta Emlyn yang di matanya terlihat lugu dan anak baik-baik itu, justru sudah melakukannya diluar nikah.


Kini, ia kembali dibuat tercengang mendengar apa yang baru saja Emlyn lontarkan dari mulutnya. Darrien tahu, wanita ini tidak sedang main-main, melihat ia bahkan berani meminum pil pencegah kehamilan, sepertinya Emlyn tidak sepolos yang ia pikirkan dan berani bertindak lebih.


Darrien merasa kesal, Emlyn baru saja menolaknya untuk bertanggung jawab, dan apa??? Wanita ini hanya menganggap hubungan mereka kesalahan???


Darrien sempat mengira kepasrahan Emlyn karena wanita itu melakukannya dengan keinginannya sendiri dan hubungan mereka sudah lebih dari itu.


"Kenapa kau menggangapnya kesalahan?" Tanya Darrien menahan tangan Emlyn.


"Lalu apa? Apa kau ingin bilang kau jatuh cinta padaku dan serius ingin aku menjadi kekasihmu?" Tanya Emlyn membuat Darrien terdiam.


Ia memang tertarik pada Emlyn, tapi ia tidak yakin perasaannya adalah jatuh cinta apalagi menjadikan Emlyn sebagai kekasih resminya.


"Kau tidak bisa jawab kan?" Tanya Emlyn menantang.


Darrien masih terdiam dan bingung harus berkata apa. Ia belum bisa memberi kepastian, terlebih ketertarikannya pada Emlyn sangat tiba-tiba.


"Aku tidak bodoh Mr. Darrien. Aku tahu posisi dan wanita seperti apa diriku. Aku tidak menarik bahkan tidak selevel denganmu."


"Anggap saja aku sedang meladeni anak kecil bermain...," Ucap Emlyn sebelum akhirnya buru-buru berpakaian dan pergi.


Darrien tidak menahannya. Benar, Darrien sendiri gamang, ia tidak yakin dirinya siap menjalin hubungan serius dengan wanita lain. Masih ada rasa sakit tercampakkan oleh mantan pacarnya


Tapi ia adalah pria bertanggung jawab, ia tidak akan membiarkan Emlyn menderita jika benar wanita itu hamil karena perbuatannya.


...***...


Matahari bersinar terik meskipun baru pukul 6.45 pagi, Emlyn sedang melakukan aktifitasnya mengunjungi pusat kebugaran yang tak jauh dari kantornya.


Sejak remaja Emlyn memang senang berolahraga, ia bahkan pernah mengikuti pertandingan basket dan volley saat duduk di kursi sekolah menengah pertama.


Emlyn menoleh ke belakangnya melihat seorang pria muda, sejak tadi ia merasa pria itu terus melihat ke arahnya, pria itu membuang muka saat Emlyn dengan berani menatapnya.


Emlyn mendengus kesal, memikirkan mungkin pria itu adalah pria mesum, apalagi pria itu terlihat masih sangat muda, mungkin seumur anak kuliahan.


Emlyn mematikan alat treadmillnya, ingin menyudahi aktifitasnya.


"Maaf, apa aku boleh berkenalan denganmu?" Pria muda tadi menghampiri Emlyn, bertanya dengan sopan tapi juga tampak ragu-ragu.


Emlyn mengernyitkan keningnya, menunjukkan wajah juteknya.


"Maaf, sepertinya tidak...," Jawab Emlyn dingin.


"Tunggu...," Tahan pria itu tidak mudah menyerah.


"Aku tahu, kau tampak kesal karena aku terus melihatmu. Aku tahu itu tidak sopan, tapi..., aku sudah sering melihatmu dan sebenarnya sangat ingin berkenalan denganmu...," Bujuk pria itu lagi.


Emlyn menimbang sesaat, memperhatikan pria itu dari atas ke bawah, penampilannya seperti pria baik-baik, apakah pikirannya saja yang berlebihan.


"Baiklah. Namaku Emlyn...,"


"Namaku Jose Halton." Jawab pria muda itu tersenyum senang, akhirnya Emlyn mau berkenalan dengannya.


Sedangkan Darrien memasuki ruang kerja Kenneth dengan wajah kusut, seharian ini dia terus mengoceh dan memarahi karyawannya hanya karena hal sepele.


“Aku ingin merokok,” Ucap Darrien sambil melonggarkan dasinya, mendudukkan badannya di kursi, tangannya menggambil rokok milik Kenneth di meja dan menyesap dalam sebatang rokok di mulutnya.


Hufffssss…., Darrien menghembuskan asap rokoknya seiring mengeluarkan kepenatannya. Kenneth beranjak dari tempat duduknya, menutup pintu ruangan yang tadi belum tertutup rapat saat Darrien masuk agar asap rokok tidak terbang keluar dari ruangannya dan mengganggu karyawan.


“Ada apa? Apa ada yang tidak beres dengan pekerjaanmu?” Tanya Kenneth serius.


Darrien menggelengkan kepala halus sambil terus menyesap rokoknya.


“Entah, hari ini sepertinya tidak ada yang berjalan dengan lancar. Satu per satu tim ku melakukan kesalahan.”


“Apa rugi besar?”


“Tidak, kesalahan kecil, tapi aku sangat kesal…,” Jawab Darrien mendapat tatapan curiga dari Kenneth.


“Apa kau ditolak wanita?” Tanya Kenneth menebak-nebak.


Hukss… hukkss… Darrien terbatuk mendengar pertanyaan Kenneth.


“Siapa yang ditolak? Aku sedang membahas kinerja karyawanku…,” Elak Darrien, membuang wajah tidak ingin menatap mata Kenneth.


“Kau tidak bisa membohongiku, kau tahu kan…,” Jawab Kenneth tersenyum menyindir Darrien.


“Aku malas bicara denganmu…,” Darrien merasa sedikit kesal, ia pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan Kenneth yang terkekeh melihat tingkah Darrien seperti anak kecil.


Drrtttt… Drrrttttt… Handphone Emlyn bergetar kencang, ia segera membuka pesan yang masuk dan membalasnya.


“Ahh, maaf…,” Jawab Emlyn tersenyum malu.


Drrrttt…., Handphone Emlyn bergetar lagi, menandakan pesan masuk, dari Jose yang dengan aktif menghubungi Emlyn.


Awalnya Emlyn merasa risih dan menyesal berkenalan bahkan bertukar nomor handphone dengan pria yang ternyata 6 tahun lebih muda darinya itu, tapi lambat laun perbincangan mereka semakin asik dan nyambung.


“Melihatmu tersipu begitu, pasti semua berjalan dengan baik kan…?” Tanya Bella lagi berusaha menyelediki pria yang sekarang dekat dengan Emlyn.


“Tidak tidak…,” Jawab Emlyn tersenyum mengelak, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Darrien yang keluar dari ruangan Kenneth, melintasi bilik meja mereka.


Tentu saja obrolan singkat itu terdengar oleh Darrien, membuat wajahnya semakin masam dan bertekuk kesal, apalagi melihat Emlyn yang langsung membuang muka saat bertemu pandang dengannya.


Drrrttt Drrtttt… Kali ini pesan yang masuk bukan dari Jose, melainkan...


Temui aku sepulang kerja, seperti biasa, aku jemput di tempat biasa!


-Darrien-


TIDAK MAU!!!


-Emlyn-


Kesalahanmu belum ku maafkan, atau kau ingin aku mengusik pekerjaanmu lagi?


-Darrien-


Emlyn berdecih kesal, Darrien sedang bertingkah. Emlyn yakin ia tidak punya kesalahan apapun pada Darrien, tapi entah kenapa pria itu terus mencari masalah dengannya. Emlyn pun mengabaikan pesan Darrien, malas meladeninya.


Tringg Tringgg… Bunyi telfon kantor di meja Bella berdering dengan kencang.


“Baiklah Mr…, tunggu sebentar, baik.” Jawab Bella kemudian menutup telfon itu.


“Emlyn…, Mr. Darrien memintamu ke ruangannya…,” Panggil Bella yang menatap heran pada Emlyn, diikuti pandangan tanya para karyawan lain yang juga mendengarnya.


“Aku?” Tanya Emlyn kaget mendengarnya.


“Iya…, Kau Emlyn…,” Jawab Bella meyakinkan.


“Ada apa dia mencariku?”


“Mana ku tahu, seharusnya aku yang bertanya padamu, ada urusan apa dia mencarimu?” Tanya Bella curiga.


Emlyn menghela nafas kesal sebelum membuka ruang kerja Darrien, hanya karena belum membalas pesan Darrien 5 menit dan pria itu benar-benar serius mengusik pekerjaannya.


Tok tok tok… Ketuk Emlyn dengan sopan.


“Masuk…,” Suara dingin terdengar dari dalam.


Emlyn membuka pintu dan masuk. Darrien beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pintu ruangan, menutupnya rapat dan menguncinya. Padahal Emlyn sengaja membiarkan pintu itu terbuka sedikit, untuk berjaga-jaga jika Darrien bertindak macam-macam, tapi sepertinya pria ini terlalu jeli.


“Ada apa Mr. Darrien mencariku?” Tanya Emlyn sopan.


Darrien berjalan menghampirinya, berdiri di hadapan Emlyn dan memperhatikan wajah wanita itu. Emlyn menatap heran pada Darrien yang tidak menjawab. Tidak mungkin ia dipanggil oleh Darrien hanya karena pria itu ingin menatapnya.


“Kenapa tidak membalas pesanku?” Tanya Darrien pelan, Emlyn mengernyitkan keningnya, tidak mungkin pria ini hanya ingin bertanya ini kan??


“Aku sedang bekerja…,” Jawab Emlyn dengan berani.


“Kenapa tidak mau menemuiku sepulang kerja?” Tanya Darrien lagi.


“Aku sibuk, dan sepertinya kita sudah tidak ada urusan, jadi kita tidak perlu bertemu…,”


Kali ini jawaban Emlyn membuat Darrien semakin kesal, pria itu merangkulkan tangannya ke pinggang Emlyn dengan kencang.


“Ahh, lepaskan…!”


“Kau berani berteriak, aku akan bertindak lebih…,” Ancam Darrien menatap tajam pada Emlyn, membuat wanita itu terdiam, ia tahu Darrien tidak hanya sekedar mengancam. Pria itu nekat melakukan apa saja. Emlyn sepertinya tidak akan mudah lepas dari jeratan Darrien.


.


.


.


.


.


To Be Continue~