When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 12: Mulai Posesif~


Jari Emlyn menyentuh tulang hidung Darrien yang mancung, mengusap bibir pink menggoda, tangannya bergerak menuruni dada Darrien yang polos tanpa atasan. Ia sedang menikmati indahnya karya Sang Pencipta yang berbaring di sebelahnya.


"Sudah selesai mengagumi ku?" Tanya Darrien membuka mata.


"Belum... Pejamkan matamu lagi." Pinta Emlyn dengan manja.


Darrien tidak menuruti permintaan Emlyn, ia malah membalikkan badan dan berbaring dengan satu tangan menumpu kepalanya.


"Gantian aku sekarang...," Tangan Darrien bergerak mengusap rambut Emlyn yang bergelombang, mengusap pipi wanita itu dengan lembut, menatap sayang dan seksama wajah wanita yang sudah ia tiduri tiga kali itu.


"Apa yang kau sukai dariku?" Tanya Emlyn penasaran.


"Aku juga tidak tahu... Aku hanya merasa mulai tertarik padamu karena kau tidak ingin menatapku, aku rasa di situlah semua berawal... Aku seperti merasa aku sudah melakukan kesalahan padamu yang membuatmu tidak nyaman berada di dekatku..."


"Apa? Hanya karena hal itu??" Tanya Emlyn tertawa kecil, ia hanya merasa konyol jika hanya itu alasan Darrien menyukainya.


"Kenapa kau melakukannya? Apa kau membenciku?"


"Tidak, aku tidak pernah membencimu... Tapi aku dulu memang tidak terlalu menyukaimu..."


"Kenapa???"


"Haruskan aku memberitahumu... hmm," Jawab Emlyn berpikir sesaat.


"Ayooo, beri tahu aku semuanya... Aku ingin mengenalmu lebih dalam." Rayu Darrien mengecup kening, hidung dan kedua belah pipi Emlyn.


"Yang ini juga...," Pinta Emlyn menunjuk bibirnya.


"Apaa, sekarang kau sudah semakin nakal heh??" Tawa Darrien yang senang dan mengecup pelan bibir Emlyn, tentunya dengan gemas dan penasaran, karena semakin lama ia bersama Emlyn, wanita itu selalu menunjukkan sisi lain dari dirinya yang membuatnya semakin tertarik.


Emlyn bangun dari kasur, mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran ranjang. Darrien bergeser berbaring di pangkuannya.


"Aku tidak terlalu suka pria sepertimu, karena dari yang ku dengar di kantor, kau adalah playboy, pria club dan suka berganti wanita."


"Heii aku tidak...,"


"Tunggu, aku bicara dulu, baru giliranmu...," Sanggah Emlyn cepat tidak ingin penjelasannya terpotong.


Darrien menutup mulutnya, memberi kode OK dengan jarinya, pria itu tampak sabar dan benar-benar ingin menghabiskan harinya bersama Emlyn.


"Sedangkan alasanku tidak menatapmu, karena kau terlalu tampan. Segalanya tampak sempurna di dirimu. Dari tinggi badanmu, bentuk tubuhmu yang atletis, warna kulitmu yang putih, wajah yang menawan, terlebih sorot matamu yang begitu tajam. Setiap orang, apalagi wanita pasti terpesona dan merasa terintimidasi saat bertatapan denganmu..."


Darrien tersenyum saat mendengar Emlyn memujinya.


"Aku tidak percaya diri untuk menatapmu, kau terlalu sempurna dan jauh dari jangkauan. Dan sekarang disinilah aku berakhir, meski sudah menahan diri, tapi aku benar-benar tidak bisa menolak dirimu. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku hanya akan mengikuti suara hati dan keinginan hati ku untuk bahagia, meskipun mungkin ini hanya sementara..."


Darrien menatap heran mendengar ucapan Emlyn yang seakan penuh makna di balik perkataannya.


"Aku tidak berharap kau akan mencintaiku dan serius denganku. Kau bebas bertemu dengan wanita manapun, kau juga bebas meninggalkanku jika sudah bosan."


"He'ii, apa kau pikir aku sebrengs*k itu yang mempermainkan wanita?" Tegur Darrien tidak suka.


"Tidak apa, kau boleh melakukannya, lagipula aku sudah pernah terluka dan diselingkuhi. Jadi, ini bukan apa-apa, selama kita saling mengetahui keadaannya dan bahagia, itu tidak jadi masalah."


Darrien bangun dan duduk menghadap Emlyn, menatap wajah dan matanya dengan serius.


"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan Emlyn?" Tanya Darrien mulai kesal. Emlyn menggangukkan kepalanya mengiyakan dengan yakin.


"Okee... Sekarang giliranku. Pertama, aku ingin memperjelas, aku memang sering ke club, minum, dan tebar pesona. Tapi, aku tegaskan aku tidak mempermainkan hati wanita."


"Tapi kau menidurinya...,"


"Ya, aku akui, tapi kami melakukannya karena kebutuhan biologis sesaat, tanpa menggunakan perasaan."


"Eeemm...," Respon Emlyn menyimak penjelasan Darrien, mempertanyakan kejujuran pria itu, tapi ia juga tidak akan mempermasalahkannya jika itu adalah kebohongan.


"Aku tidak meniduri setiap wanita yang ku temui atau goda Emlyn... Aku..., aku punya teman kencan yang tetap, dan kami sepakat, hanya bertemu jika aku membutuhkan bantuannya." Ucap Darrien ragu-ragu, takut kejujurannya akan membuat Emlyn tidak menyukainya.


Emlyn terkesiap mendengarnya, ia bingung harus bagaimana menghadapi apa yang baru ia dengar. Lebih mudah baginya menerima kenyataan Darrien meniduri banyak wanita, daripada hanya setia meniduri satu wanita, terdengar lebih special.


"Tidak." Jawab Darrien menggeleng dengan cepat.


"Tapi..., ini mirip dengan yang sedang kita jalani."


"Tentu saja berbeda! Aku tidak menyukainya. Dan dia melakukannya pun hanya demi uang."


"Ternyata ini tidak segampang yang aku pikirkan... Tunggu, aku butuh waktu untuk menenangkan emosiku...," Ucap Emlyn lalu beranjak dari kasur dan berjalan keluar dari kamar.


Darrien mengikuti langkah Emlyn yang menuju dapur. Wanita itu butuh air untuk menenangkan dadanya yang sudah bergemuruh kesal, tapi pikirannya berusaha menyadarkan akan siapa dirinya.


"Emlyn...," Panggil Darrien pelan, wajahnya terlihat sedikit panik melihat wanita yang baru ia dapatkan kemarin malam itu mungkin saja sedang berpikir untuk meninggalkannya.


"Kami sungguh hanya teman kencan, tak lebih, dan kami bahkan sudah lama tidak bertemu, sepertinya terakhir dua atau tiga bulan yang lalu..." Jelas Darrien tanpa ditanya.


Darrien menghampiri Emlyn yang menundukkan kepalanya, terlihat jelas dia sedang menahan diri.


"Hmm.., aku wanita ke berapa yang kau tiduri?" Tanya Emlyn penasaran.


"Ke empat...," Jawab Darrien cepat.


"Empat? Baru ke empat?" Tanya Emlyn melongo kaget.


"Apa yang kau maksud dengan baru ke empat?"


Obrolan pagi itu berakhir dengan perdebatan karena Emlyn yang tidak percaya jika Darrien baru meniduri 4 wanita dalam 30 tahun hidupnya.


Ya, meskipun Darrien sering berkenalan dengan wanita dan mengunjungi club malam, ia termasuk pemilih dalam urusan ranjang. Ia bahkan tidak pernah melupakan pengamannya.


Entah kenapa ia justru tidak memilih saat bersama Emlyn, ia hanya mengikuti keinginan hatinya yang yakin untuk memiliki wanita itu sejak awal.


Drrttt... Drttttt...


"Emlyn, sejak tadi handphone mu berbunyi...," Panggil Darrien dari ruang tamu pada Emlyn yang sibuk memotong buah di dapur.


Emlyn yang kebetulan memang sudah selesai, membawakan sepiring buah potongnya ke ruang tamu dan segera mengambil handphonenya.


"Siapa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Darrien memperhatikan raut wajah Emlyn yang tampak malas dengan pesan yang ia baca.


"Ahh, bukan, ini bukan dari kantor. Ini dari Jose."


"Jose? Pria kemarin? Ada apa ia mencarimu lagi?" Tanya Darrien mengerutkan keningnya, tampak tak suka.


"Ia hanya...,"


"Berhenti berhubungan dengannya!" Perintah Darrien dengan tegas tanpa mendengar penjelasan Emlyn.


Emlyn memperhatikan perubahan raut wajah Darrien yang terlihat marah, tapi juga menggemaskan.


"Kau marah? Kenapa? Kau cemburu??" Goda Emlyn menghampiri Darrien dan mencolek dagunya.


Dengan cepat Darrien menangkap tangan Emlyn dan menariknya ke dalam pelukan Darrien.


"Aku tidak suka milikku disentuh atau dibagi dengan orang lain...," Desis Darrien dengan tegas.


.


.


.


.


.


To Be Continue~