
Darrien tersenyum takjub mendapatkan perilaku agresif dari Emlyn semalam. Ternyata wanita ini hanya penampilannya saja yang tampak polos, tapi ternyata tidak sepolos yang ia pikirkan.
Masih teringat dengan jelas di ingatannya, bagaimana mereka menghabiskan malam mereka di ranjang tidurnya.
Hembusan nafas mereka yang berat dan terengah-engah terasa begitu saling menggoda dan sulit Darrien lupakan.
Darrien merasa hidupnya lebih bahagia sejak ia mengenal Emlyn, wanita sederhana dengan berjuta warna.
"Ehhmmm... Hooammm...," Emlyn yang baru terbangun merenggangkan tangannya, matanya masih tertutup ingin melanjutkan tidurnya, tapi ia juga sudah tak bisa lagi menahan rasa akan meledak di kantung kemihnya.
Emlyn melangkah dengan sebelah mata menyipit, menyelesaikan ritual paginya dan bercermin di kamar mandi.
Ia baru menyadari ia hanya menggunakan kemeja pria yang kebesaran, beberapa bagian tubuhnya terdapat tanda merah.
"Argghh... Apa yang sudah ku lakukan semalam...?!" Emlyn merasa menyesal mengingat semalam ia yang berinisiatif menyerang Darrien dan dengan buasnya meniduri pria itu. Ia mengacak rambutnya yang masih acak-acakan.
Klekkk...
Emlyn melihat Darrien tersenyum puas melihat ke arahnya, pria itu terlihat sudah menunggunya.
"Good morning Baby..., sudah selesai?" Tanya Darrien menepuk ranjang menyuruh Emlyn menghampiri dan tidur di sebelahnya.
"Maaf... Aku mabuk dan lepas kendali semalam..." Jawab Emlyn sambil kembali berbaring di tempat tidur tapi dengan posisi membelakangi Darrien.
Darrien bergeser perlahan, sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Emlyn. Tangannya bergerak melingkari pinggang Emlyn, menarik tubuh wanita mungil itu mendekatinya.
Mendapat perlakuan hangat seperti itu membuat tubuh Emlyn menegang kaku. Meskipun mereka sudah beberapa kali tidur bersama, ia masih belum terbiasa bersikap manis dengan Darrien, apalagi mengingat Darrien adalah Bossnya.
"Aku tidak peduli, aku menyukainya...," Bisik Darrien dan mengecup telinga Emlyn, seketika Emlyn meremang dan menahan nafas.
"Mari sarapan bersama...," Ajak Darrien lembut dan kembali mengecup mesra leher Emlyn.
Emlyn lama-lama bisa kehabisan nafas jika Darrien tidak melepaskannya. Ia segera menghirup nafas yang banyak setelah Darrien melangkah keluar dari kamar.
"Ya ampun... Jantungku...," Emlyn memegang dadanya, terasa jelas jantungnya yang berdegup kencang.
Emlyn memperhatikan Darrien yang asik menyiapkan sarapannya. Pria itu tanpa ragu menggunakan apron memasak dan menyiapkan beberapa sarapan ringan seperti telur mata sapi dan roti.
Emlyn tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang terus membuat jantungnya berdegup kencang itu.
"Kenapa kau terus menatapku? Karena aku tampan?" Tanya Darrien yang menyadari sedari tadi Emlyn memperhatikannya.
Yah... Pria itu tampak sangat tampan, dan selalu tampan dengan apapun yang ia kenakan dan lakukan.
"Kau bisa memasak?" Tanya Emlyn.
"Sedikit... Hanya yang simple-simple seperti ini...," Jawab Darrien tersenyum senang.
Ia tampak begitu senang, karena tidak sarapan sendirian, apalagi orang yang menemaninya adalah Emlyn.
"Kenapa kau mabuk semalam?" Tanya Darrien menyipitkan matanya.
"Aku... hanya tidak sengaja meminum alkohol milikmu... dan begitulah...," Jawab Emlyn sedikit berbohong. Ia tidak ingin Darrien keGRan saat tahu ia mabuk karena cemburu melihat Darrien dengan wanita lain. Yahh... ia cemburu...
"Siapa wanita yang kau temui kemarin? Apa dia wanita yang kau tiduri?" Tanya Emlyn tampak tenang tapi sebenarnya sangat penasaran.
Darrien meringgis mendengar Emlyn dengan gampangnya melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi itu.
"Bukan... ia adalah kenalan dari temanku, tapi kami menjadi sering bertemu dan dekat karena ia suka tampil di club."
"Ohh...," Jawab Emlyn tidak terlalu puas, ia ingin bertanya lebih, tapi ia tahu batasannya.
"Namanya Rose...,"
"Wanita kencanku... Namanya Rose. Jika kau ingin tahu...,"
"Ahh.. Tidak... Aku tidak peduli dengan kehidupan pribadi mu, tidak menggangguku sama sekali, aku hanya iseng bertanya...," Jawab Emlyn mengelak.
"Benarkah?" Tanya Darrien meneliti raut wajah Emlyn yang terlihat biasa saja dan santai. Padahal ia berusaha tidak mengungkit wanita yang dekat dengannya karena takut Emlyn akan cemburuan. Tapi nyatanya, justru ia yang dibuat geram karena Emlyn justru terlihat tenang dan tidak peduli.
"Hmm..., aku sudah bilangkan padamu kan... kau bebas bertemu siapapun."
"Masa? Yakin tidak akan cemburu?" Tanya Darrien tersenyum kecil, menertawakan ucapan Emlyn yang ia yakini hanya bualan belaka.
"Hmm... iya, kau bisa pegang ucapanku." Jawab Emlyn dengan yakin.
Darrien menghela nafas sedikit kesal, tapi ia tidak akan membiarkan kekesalannya merusak sarapan pagi mereka.
...***...
Kenneth mengetuk pintu ruangan Darrien yang terbuka. Sudah beberapa kali ia ketuk, tapi Darrien tidak menyadarinya hingga Kenneth memutuskan membuka sendiri pintu ruangan itu.
"He'ii...!" Panggil Kenneth dengan suara sedikit kencang.
"Kapan kau masuk?" Tanya Darrien terkejut panik.
"Sedari tadi... kau sibuk tersenyum dan bermain handphone. Apa kau sangat berbunga-bunga?" Sindir Kenneth menatap Darrien kesal.
"Tidak...,"
"Tidak? Kau senyam-senyum seperti orang gila dan masih bilang tidak...ckck..."
"Jaga baik-baik karyawanku, dia anak yang baik dan pintar. Aku akan kesal jika kehilangan dia karena kau mengencaninya." Lanjut Kenneth memperingatkan.
"Apa aku seberengsek itu?"
"Mana ku tahu... Kita lihat saja nanti, apakah Emlyn nanti akan bermasalah dan meminta resign karena tidak mau bertemu lagi denganmu...," Jawab Kenneth mengangkat kedua bahunya.
"C'mon broo... Kau tahu aku akan serius saat menjalani hubungan yang menggunakan perasaan..." Bela Darrien mulai kesal.
"Aku tidak tahu. Yang ku tahu di hati mu cuma ada satu wanita itu...," Sindir Kenneth, ia bersungguh - sungguh memperingatkan Darrien, karena ia tidak mau Emlyn terluka karena pria yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.
Darrien selama ini memang terkenal playboy, suka berciuman dengan wanita yang ia anggap cantik dan menarik. Tapi ia tidak pernah menjalin hubungan serius selain pacar terlamanya yang gagal ia nikahi, Callista.
Kenneth melihat sendiri betapa stress dan gilanya Darrien setelah ditinggal pergi oleh Callista. Lamarannya ditolak, disaat bersamaan ia di putus oleh wanita yang ia pikir akan mengatakan YES setelah melihat cincin berlian yang ia persembahkan. Hati, ego dan harga diri Darrien hancur seketika saat itu. Callista meninggalkannya dan pergi ke luar negri untuk mengejar karirnya sebagai model dan fashion designer.
Demi bisa mengalihkan pikirannya dari Callista, Darrien mengisi hari-harinya dengan rokok, alkohol dan pergi ke club hampir tiap malam, karena situlah awal perkenalannya dengan Monica dan meskipun Darrien tidak pernah bercerita tentang masalahnya pada siapapun, tapi Monica tahu Darrien sedang terluka.
Hidup Darrien sudah pasti lebih berantakan, jika bukan berkat Kenneth yang sabar mengawasinya dan selalu membawa pulang dirinya saat mabuk berat.
Dengan wajah tampan dan tubuh atletis Darrien, Kenneth yakin banyak wanita yang akan memanfaatkan keadaan saat Darrien sedang mabuk berat.
"Jangan ucapkan nama itu lagi...," Tegur Darrien tampak malas saat mendengar nama mantannya.
.
.
.
.
.
To Be Continue~