When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 9: Sudah berakhir?~


Cuppp...


Cuppp...


Cupppp....


Emlyn hanya melonggo saat bibirnya dihujani kecupan manis dan singkat oleh pria bertubuh altletis ini.


Darrien tersenyum manis melihat Emlyn yang terdiam terpaku.


"Sudah?" Tanya Emlyn.


"Belum, tapi aku lapar... Apa aku boleh memakanmu?" Tanya Darrien menggoda.


"Sejak kapan kau pernah meminta izin ku?" Desis Emlyn kesal.


"Ayooo kita pergi makan, aku belum makan karena menunggumu pulang...,"


Ucapan Darrien membuat Emlyn tertegun, ada apa dengan pria ini, ia hampir saja tersentuh dengan Darrien, jika tidak mengetahui betapa playboynya pria itu.


Emlyn mengajak Darrien makan di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari kostnya.


"Aku tidak tahu apa tempat ini sesuai dengan seleramu...," Ucap Emlyn seusai menyantap makan malamnya.


"Tidak masalah, di sini cukup nyaman...," Jawab Darrien sambil menyesap kopi yang ia pesan, matanya memperhatikan sekitar, cafe berukuran sedang itu dihiasi lampu remang-remang dan berjarak cukup jauh dari satu meja ke meja lain, memberi privacy bagi pengunjungnya.


"Kau sering ke sini?"


"Dulu... sudah berapa bulan tak pernah ke sini lagi...,"


"Dengan mantanmu?"


Emlyn memutarkan bola matanya, malas membicarakan mantannya.


"Yaa..," Jawab Emlyn menggangguk pelan.


"Kenapa kalian putus?"


"Hanya tidak cocok...," Jawab Emlyn dengan malas.


Darrien tidak melanjutkannya, ia tahu Emlyn tidak ingin bercerita padanya.


Drrrttt... Drrttt...


Handphone Emlyn sudah bergetar beberapa kali, dan akhirnya membuat Darrien penasaran siapa yang rutin bertukar pesan dan mengalihkan perhatian Emlyn yang sedang makan malam bersamanya.


"Siapa?" Tanya Darrien.


"Temanku...," Ucap Emlyn dan meletakkan kembali handphonenya ke meja.


"Apa kau sedang dekat dengan pria lain?"


"Serasakuu... tidak ada. Lagian wanita biasa sepertiku tidak terlalu menarik di mata pria."


"Aku juga pria. Dan aku tertarik...," Jawab Darrien dengan serius.


Emlyn terkekeh mendengarnya, menertawakan ucapan Darrien yang tidak masuk akal di matanya.


"Terima kasih leluconmu...,"


“Ini, aku ingin mengembalikan dress waktu itu…,” Ucap Emlyn sembari menyodorkan sebuah paper bag. Darrien menerimanya dan melihat sekilas isinya.


“Baju itu untukmu…,”


Emlyn tersenyum kecut mendengarnya, tentu saja ia teringat kejadian terakhir di apartemen Darrien. Jelas sekali baju itu adalah milik wanita lain.


“Apa aku terlihat butuh?”


“Aku tahu, kau pasti kesal. Ini milik Darla, ia adikku, tapi ia tidak membutuhkannya. Aku..., hanya merasa sayang dan merasa baju-baju itu cocok untukmu…,”


“Aku terima niat baikmu, tapi tetap, aku tidak bisa menerima baju itu. Lagipula, aku tidak membutuhkannya, akan percuma jika aku hanya menyimpannya di dalam lemari. Kau bisa memberikannya pada wanitamu yang lain.” Jawab Emlyn terdengar sopan namun bermaksud menyindir.


“Kita sudah beberapa kali bertemu dan berbincang, apa kau masih tidak melihat diriku yang sebenarnya?” Tanya Darrien kecewa, kali ini giliran Darrien yang tersenyum kecut, apa ia terlihat seburuk itu? Terlihat begitu mempermainkan wanita?


“Apa? Dirimu yang sebenarnya? Yang seperti apa? Kita tidak pernah seterbuka itu dan membahasnya, yang ku rasakan kau hanya mengintimidasi dan bertindak sesukamu…,” Jawab Emlyn dengan jujur tak peduli jika Darrien akan sakit hati.


“Ini adalah makan malam terakhir kita, aku tidak akan mengganggumu lagi.” Lanjut Darrien membuat Emlyn sedikit terperangah kaget mendengarnya.


“Wowww… Terima kasih…” Jawab Emlyn dengan wajah sumringah.


Darrien menenteng dengan kesal sebuah paper bag berisi dress yang Emlyn kembalikan menuju mobilnya, ucapan dan penolakan Emlyn berhasil membuatnya sakit hati dan merasa tidak diinginkan. Baru kali ini, ia ditolak oleh wanita yang sudah ia dekati beberapa kali, apa pesonanya masih kurang di mata Emlyn?


Sedangkan Emlyn tersenyum getir melihat kepergian Darrien, sedari tadi ia hanya berusaha terlihat kuat dan tegar. Meskipun ia sudah mempersiapkan hatinya jika suatu hari pria itu pergi meninggalkannya atau membuangnya, tapi ia tidak menyangka, rasanya masih sesakit itu.


Ia hanya bermaksud menegur dan menegaskan pada Darrien, jika ia bukan wanita yang bisa dipermainkan seenaknya, tapi ternyata Darrien benar-benar langsung mengakhiri pertemuan mereka.


Emlyn kembali ke kamar kostnya, setelah menahan air mata sepanjang perjalanan, akhirnya runtuh pertahanannya.


“Dan pada akhirnya, kau tetap di tinggalkan, Emlyn… Lupakan, ia hanya salah satu pria brengs*k yang hanya menginginkan one night stand, tidak lebih. Apa yang kau harapkan? Mana mungkin ia tertarik dan bertanggung jawab dengan hidupmu…, wake up Emlyn…” Gumam Emlyn pada dirinya sendiri, menangis tersedu-sedu di kamar kostnya yang kecil dengan memeluk dirinya sendiri.


Kali ini, hati Emlyn, kembali tercabik… Untuk kedua kalinya...


...***...


Jose berdiri tepat di sebuah depan kantor, pria yang baru lulus kuliah itu tersenyum menanti pertemuannya dengan seorang wanita yang ia taksir. Dengan perasaan senang bercampur gugup, ia sesekali berkaca di spion mobilnya, 5 menit lagi, seharusnya wanita itu sudah berada di hadapannya.


“Jose…,” Suara yang ia nantikan terdengar lembut di telinganya.


Jose berbalik ke sumber suara. Di sana Emlyn Blossom berdiri tersenyum padanya, jantungnya bedegup semakin kencang.


“Hai, Emlyn, lama tak bertemu, ayo naik ke mobil…,”


Emlyn malam itu sudah berjanji temu dan makan malam bersama Jose setelah ia dua kali menolak, ini adalah ajakan ketiga dan ia merasa tak adil jika ia terus menolak Jose, bisa jadi ini adalah kesempatan mereka untuk berteman…, yaa… berteman, Emlyn tidak ingin lebih dari itu, ia baru saja patah hati, mana mungkin ia terus jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.


“Kau mau makan apa malam ini?”


“Terserah padamu, aku bisa makan apa saja…,” Jawab Emlyn tidak banyak menuntut.


“Hmm…, bagaimana dengan sushi? Aku tahu di mana yang enak…” Tanya Jose semangat dengan mata bersinar. Emlyn terenyuh melihat kepolosan di mata pria yang ia rasa seperti adiknya itu.


“Baiklah…,”


Darrien mengetuk jarinya ke meja, perasaannya gusar, pikirannya tidak tenang dan terus terlintas apa yang 1 jam yang lalu ia lihat. Sebelumnya, ia sedang menikmati hisapan rokoknya sembari melihat ke bawah melalui jendela kantornya, siapa sangka sore itu ia melihat pemandangan yang menarik.


Terlihat Emlyn berjalan menuju kursi penumpang mobil milik seorang pria tanpa ragu, bahkan pria itu dengan sopan membukakan pintu untuknya.


“Ayooo, fokuslahh…,” Ucap Darrien pada dirinya sendiri sambil menatap kesal pada layar laptopnya.


“Arrrghh, ku selesaikan nanti saja..,” Geram Darrien lalu membereskan mejanya, dengan wajah kesal melangkah pergi meninggalkan ruangannya.


Darrien menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah minimarket sebelum pulang ke apartemen. Ia membeli beberapa keperluannya dan segera membayar di kasir.


Drrrtt... Drrt...


Darrien merongoh handphonenya dari dalam sakunya. Terlihat notifikasi pesan di layar handphonenya.


Tolong jemput aku, Hotel Onix, room 320…


-Emlyn-


Dari Emlyn...


“Apa ini??? Dia pergi dengan seorang pria dan mengirim pesan padaku untuk menjemputnya?? Hehh…, dia pikir aku akan datang dan menuruti apa yang ia inginkan?” Gerutu Darrien sambil berjalan keluar dari minimarket dan menutup kembali handphonenya, mengabaikannya notifikasi pesan itu.


“Tidak, aku tidak akan datang… Dia pasti hanya ingin pamer kalau ia sedang bersama pria lain sekarang di sebuah hotel…” Ucap Darrien yang bimbang tapi tetap melanjutkan laju mobilnya pulang ke apartement.


.


.


.


.


.


To Be Continue~