When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 11: Aku tidak sesabar itu, Emlyn~


Darrien mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak banyak berbicara dan hanya berfokus pada kemudinya.


“Kenapa kau membawaku kemari?” Tanya Emlyn bingung saat menyadari mobil Darrien berhenti di parkiran basement apartement milik Darrien, sepanjang perjalanan ia memejamkan matanya, merasa pusing setelah melewati sedikit ketegangan di hotel tadi.


“Kau ingin pulang, pulang saja sendiri, aku bukan sopirmu yang bersedia mengantar jemput mengikuti perintahmu… Bukannya sudah cukup aku menolongmu?”


“Ahh iya, maafkan aku yang tidak tahu diri ini, terima kasih, tadi kau sudah menolongku… Hmm…, aku akan pulang sekarang. Sekali lagi, terima kasih…,” Ucap Emlyn dengan sopan dan berbalik akan membuka pintu mobil.


“Apa begini caramu berterima kasih?”


“Apa?” Tanya Emlyn dengan polos.


“Wahhh… kau luar biasa…” Ucap Darrien takjub.


“Kau membuatku tidak tenang dengan mengirim pesan bahwa kau berada di kamar hotel, aku mengebut dan mengemudi seperti orang gila karena berpikir kau ingin pamer tidur dengan pria lain. Dan saat tiba di sana aku mendapati mu bukan hanya dengan 1 pria, tapi 3 pria! Melihatnya sesaat membuat jantungku seperti berhenti berdetak, berpikir hal gila apa yang sudah kau lakukan…” Jelas Darrien mengutarakan isi pikiran dan emosinya.


“Apaa?? Aku sedang meminta pertolongan dan kau mengira aku…, tidur dengan pria lain?” Tanya Emlyn tidak terima dirinya dicap buruk oleh Darrien.


“Kau bilang jemput di hotel, kau tidak mengatakan kau meminta pertolongan ku!” Jawab Darrien menaikkan nadanya.


“Yahhhh…!! Apa kau berpikir aku serendah itu? Aku memang sudah tidur dengan mu berapa kali, tapi itu kau yang memaksaku, bukan aku yang merayu atau memintamu meniduriku. Kau pikir aku akan meniduri setiap pria yang ku temui? Apa kau berpikir aku semurah itu?” Omel Emlyn ikut mengeluarkan kekesalannya.


“Heii, aku pikir kau juga menikmatinya denganku…,”


“Whatttt?? Astaga…, aku sungguh tidak bisa berbicara denganmu... Aku pergi!” Gerutu Emlyn kesal, tangannya menjangkau ingin membuka pintu mobil tapi dihentikan oleh Darrien.


Pria itu tiba-tiba menarik tangannya dan mendorongnya kembali ke kursinya, mendekatkan wajahnya dengan cepat, membuat Emlyn terkesiap kaget. Emlyn dapat melihat dengan jelas tatapan mata Darrien yang tampak tajam, kesal dan frustasi di sana, pria itu sedang marah.


“A..pa yang sedang kau lakukan?” Tanya Emlyn dengan suara tercekik pelan karena ia tidak bisa bernafas dengan normal.


Jarak yang terlalu dekat dan mendapat tatapan tajam dari Darrien membuat jantungnya berdegup tidak karuan, ia merasa tak berkutik di hadapan pria itu.


“Apa kau masih tidak mengerti? Aku sedang marah…,” Jawab Darrien dengan kesal.


“Kenapa? Kenapa kau marah?” Tanya Emlyn dengan terbata-bata, bingung dengan keadaannya sekarang, kenapa pula Darrien harus marah padanya?


“Kau tahu…? Aku rasa aku gila, saking gilanya, aku sangat ingin memilikimu…,” Jawab Darrien serius dan mengecup pelan bibir Emlyn, rasa manis itu, candu itu, tidak cukup sekali untuknya…


Kecupan pelan itu berulang, perlahanpun menjadi ******an yang menuntut lebih dalam.


Emlyn sempat mendorong tubuh Darrien pelan, tapi Darrien malah semakin merapatkan dan mendekap tubuhnya dengan kencang.


Emlyn dapat merasakan aura keputusasaan pada Darrien, menimbulkan rasa kasihan pada dirinya.


Tangan Darrien tidak tinggal diam, mengelus dan menyentuh apa yang bisa ia sentuh, memanfaatkan kesempatan dalam ketidakleluasaan mobilnya.


Ciuman Darrien berubah melembut, menuruni leher dan tulang belikat Emlyn, tangannya berusaha membuka kancing kemeja Emlyn satu per satu.


“Sudah ku bilang, jangan menggunakan kemeja berkancing, merepotkan ku membukanya, aku tidak sesabar itu Emlyn…” Geram Darrien yang sudah sangat bernafs* dan tidak sabaran.


“Apaaa…??”


“Kecuali kau membiarkan aku merobeknya…,” Desis Darrien dengan menggoda.


Emlyn baru menyadari, ternyata Darrien tidak suka ia menggunakan kemeja karena hal ini, bukan karena Darrien menghina atau mengganggapnya memalukan karena menggunakan kemeja, ternyata yang ia pikirkan adalah salah.


“Tunggu, kau ingin melakukannya di sini?” Tanya Emlyn memastikan, ia tidak ingin ditangkap karena kasus mobil yang bergoyang.


Darrien tersenyum lebar, senang mendengar pertanyaan Emlyn barusan, wanita itu tidak menolaknya. Ia mengecup gemas bibir Emlyn, menatapnya dengan sayang.


“Tidak, aku tidak akan puas, mari kita lanjutkan di atas…,” Jawab Darrien dengan semangat.


Darrien menarik Emlyn dengan kencang, menuntutnya segera menaiki lift dan membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.


“Pelan-pelan…,” Protes Emlyn melihat Darrien terburu-buru, ia juga merasa sedikit lelah mengikuti langkah cepat pria tinggi itu.


Blammm…


Pintu apartement di tutup dengan kasar.


“Aku sudah bilang padamu, aku tidak sesabar itu…,” Bisik Darrien dengan suara berat nan menggoda.


Emlyn merasakan tubuhnya meremang, pria itu memang pintar menggoda, setiap sentuhan dan gerakannya membuatnya terbuai dengan nyaman.


Emlyn tidak berpikir panjang, dipikirannya saat ini hanya ingin terus menyentuh dan menyatu dengan tubuh berotot milik Darrien, membayangkannya saja sudah membuat Emlyn kehilangan kendali.


Cupp.., Kali ini Emlyn yang berinisiatif. Darrien tersenyum senang, akhirnya Emlyn sendiri yang menyerahkan dirinya ke pelukan Darrien.


Tidak sampai di situ, Emlyn seperti bukan dirinya lagi, ia tidak hanya mengikuti irama Darrien, tapi juga membalasnya.


Darrien tentu saja tersenyum senang, ternyata wanita ini sangat aktif. Darrien membaringkan Emlyn di kasur, mengukung wanita itu di bawah tubuhnya, menatap kedua bola mata Emlyn yang indah, menatap hangat kepadanya.


“Kau tak tahu betapa kesal dan marahnya aku saat kau menolakku kemarin. Kemudian hari ini, aku justru mendapati kau masuk ke mobil pria lain… Aku bahkan bertekad pada diriku sendiri untuk melupakanmu. Tapi, aku justru tak berdaya hanya dengan membaca pesanmu memintaku menjemputmu. Aku sungguh sudah kehilangan akal sehatku, seakan rela melakukan apa saja hanya demi menemuimu dan membuatmu kembali ke sisiku…”


“Aku pikir aku bisa menguasaimu, tapi aku rasa akulah yang sudah jatuh ke pelukanmu, bertekuk lutut hanya untuk mengemis perhatianmu…,”


“Apa kau sedang menyatakan perasaanmu padaku??” Tanya Emlyn tertawa halus, jujur ia tersentuh mendengarnya, setiap kata dan ekspresi Darrien malam itu, terasa sangat tulus dan apa adanya.


“Kau bisa anggap begitu…,” Jawab Darrien melanjutkannya dengan ciuman dan berlanjut dengan lebih dari itu.


...***...


Tik tok tik tok…


Kriukkkk… Kriukkkk…


Hanya terdengar suara denting jarum jam dan suara perut kosong di dalam keheningan. Emlyn membuka kedua matanya setelah tertidur hampir 3 jam. Darrien sungguh tidak melepaskannya. Emlyn menoleh memperhatikan wajah Darrien yang tertidur lelap menghadap ke arahnya.


“Dia sungguh gila… ckckckck…,” Desis Emlyn pelan sambil beranjak dari kasur, merenggangkan tubuhnya sesaat.


Happp… Tangan panjang, kekar dan berat kembali merangkul pinggangnya dan membaringkannya ke kasur.


“Kau tidak tidur??” Pekik Emlyn kaget.


“Aku tidak benar-benar tertidur, aku berjaga, takut kau pergi lagi…” Ucap Darrien jujur namun terdengar sedih. Emlyn tersenyum kecil, menyentuh wajah Darrien dengan lembut.


“Aku hanya lapar, ingin mencari makanan di dapurmu… Apa boleh?” Tanya Emlyn lembut.


“Tentu saja…, aku lupa kau belum makan malam…,” Jawab Darrien segera beranjak dari kasur dan menggunakan piyama tidurnya.


Darrien menyalakan kompor dengan yakin, mengiris beberapa helai sayuran dan mempersiapkan beberapa bahan. Ia berencana memasak mie instan, karena hanya itu yang ia punya dan sekarang sudah pukul 1 pagi, mereka memutuskan makan seadanya saja.


“Setelah makan aku akan pulang…,”


“Kenapa?” Tanya Darrien cepat dan terlihat tidak suka.


“Besok kita masih bekerja Mr. Darrien…, dan aku tidak membawa pakaianku.”


“Besok Jumat, minta izinlah, aku masih ingin seharian bersamamu…,” Pinta Darrien tegas, tidak ingin dibantah.


“Apa aku bisa menolak?” Tanya Emlyn ragu-ragu, tapi mendapat pelototan tajam dari Darrien.


“Jika kau ingin pulang, silahkan pulang sendiri, aku tidak akan mengantarkanmu subuh-subuh begini…,” Ucap Darrien dengan kesal.


“Tidak apa, aku bisa memesan taksi dan pulang sendiri…,” Tantang Emlyn.


“Heiii!! Kau pikir aku akan mengizinkannya?” Tanya Darrien geram, ia kesal karena sulit sekali membuat Emlyn peka terhadap perasaannya.


Emlyn tertawa melihat wajah Darrien yang tampak kesal dan marah.


“Apa yang kau tertawakan??”


“Tidak, hanya saja senang melihat kau kesal, sepertinya kau benar-benar sudah jatuh padaku...” Jawab Emlyn jujur menatap manis pada Darrien, berhasil membuat Darrien melunak dan tersipu malu.


“Kau sedang mempermainkan perasaanku heh?” Tanya Darrien memeluk Emlyn dengan sayang.


“Engg enggg…,” Jawab Emlyn menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang penurut, sangat imut di mata Darrien.


“Astagaaaa…, aku tidak tahan, aku tidak akan kuat menghadapimu…,”


“Apaaaa?? Aku kenapa??” Tanya Emlyn dengan tawa.


“Kauuu… arghhh…, apa harus seimut ini?” Tanya Darrien menatap gemas dan sayang. 💕💕🌸🌸


.


.


.


.


.


To Be Continue~