When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 5: Hukuman~


Darrien terperangah, sepertinya Kenneth begitu mudah membaca gerak geriknya.


“Percintaan apa, aku tidak sedang berpacaran dengan siapapun…,” Elak Darrien membela diri.


“Tak usah mengelak, kau pikir aku tidak tahu? Kau sedang berusaha mendekati Emlyn kan… Aku tidak akan memindahkannya, ia anak kesayangan tim kami dan andalan Bella.” Tolak Kenneth dengan tegas.


Darrien mulai kesal, tapi ia tidak kehabisan ide, ia pun membuka pintu dan memanggil Bella dari tempatnya berdiri.


“Bella, ke sini sebentar…,” Perintah Darrien.


Bella yang dipanggil tampak bingung, apa ada hal serius atau kesalahan yang ia lakukan dalam pekerjaan?


“Kau…, sungguh-sungguh…, ckckck…,” Decak Kenneth tidak habis pikir dengan ulah Darrien.


...***...


“Emlyn, bisa kita bicara sebentar?” Tanya Bella sekembalinya dari ruang kerja Kenneth.


“Tentu saja…,” Jawab Emlyn lalu beranjak dari kursinya, mengikuti Bella yang memasuki ruang meeting.


“Mr. Darrien meminta ku memindahkanmu menjadi assistennya…,” Ucap Bella tanpa basa-basi.


“APAAA???” Tanya Emlyn kaget.


“Aku menolaknya…, tapi jika kau tertarik dan mau, aku tidak akan melarangmu…,”


“Tidak…, aku tidak mau dan tidak akan pindah…,” Jawab Emlyn dengan cepat, terdengar sedikit panik.


“Kau pasti bingung dan kaget… Apa kau yakin tidak ingin pindah? Aku pun tadinya heran, kenapa ia memilihmu, tapi mungkin Mr. Kenneth yang merekomendasikanmu.”


Emlyn tersenyum kikuk dan kesal, ia tahu itu pasti 100% ulah Darrien, pria itu bahkan sekarang ingin mengusik pekerjaannya.


“Aku sangat yakin dan akan tetap di posisiku sekarang…,” Jawab Emlyn meyakinkan Bella.


“Terima kasih Emlyn, aku tidak perlu cemas kehilanganmu sekarang…,” Ucap Bella lega.


Mari bertemu, ada yang ingin ku bicarakan!


-Emlyn-


Isi pesan yang baru saja Emlyn kirimkan, berhasil membuat Darrien tersenyum lebar, akhirnya wanita itu mengirim pesan dan ingin bertemu dengannya.


Pukul 6, ku jemput di tempat kemarin…


-Darrien-


Emlyn menghela nafas kesal membaca pesan itu, begitu terkesan memerintah dan dingin. Pria itu sepertinya tidak merasa bersalah sedikitpun akan kejadian malam itu.


Emlyn langsung memasuki mobil Darrien begitu mobil itu berhenti di depannya, tak lagi merasa sungkan.


“Saya ingin berbicara dengan anda.” Ucap Emilyn tanpa basa basi, tapi gaya bicaranya yang sopan membuatnya terdengar lebih tegas.


“Silahkan…,” Jawab Darrien mempersilahkan Emlyn berbicara sambil melajukan mobilnya. Ia merasa senang bisa berbicara dan berdebat dengan Emlyn, memberi mereka kesempatan untuk berinteraksi lebih sering.


“Bisakah anda berhenti meneror saya Mr. Darrien?? Apa saya melakukan kesalahan yang membuat anda begitu ingin mengusik kehidupan saya?”


“Jika punya?” Tanya Darrien santai.


“Saya mohon pada anda…, saya akan menebus kesalahan saya, tapi tolong, setelah itu jangan mengusik kehidupan saya lagi. Saya rasa kita harus bersikap professional…,”


“Kau sedang membahas professional denganku???” Tanya Darrien terkikik kecil, tentu saja ia merasa geli, Emlyn mempertanyakan keprofessionalannya di saat semua orang tahu dirinya sangat professional dalam hal apapun, terlebih lagi dalam bekerja.


“Maaf jika saya menyinggung anda, tapi apa kesalahan saya?”


“Kau bahkan tidak menyadari kesalahanmu sendiri. Kau ingin aku yang menyadarkanmu???” Tanya Darrien membuat Emlyn berpikir keras untuk membujuknya, ia hanya ingin urusan dan permasalahannya dengan Darrien segera usai.


"Kau ikut denganku...," Lanjut Darrien lagi tersenyum licik.


Emlyn hanya diam, dia ragu harus menjawab apa. Perbincangan yang Emlyn harap berakhir dengan damai justru membawanya masuk ke dalam lubang buaya. Darrien sungguh licik, memanfaatkan setiap kesempatan dan kuasanya.


Darrien kembali membawa Emlyn ke apartementnya. Bayangan malam itu kembali terlintas di kepala Emlyn. Ia tahu, tujuan Darrien membawanya ke sana adalah untuk melampiaskan keinginannya.


Emlyn ingin menolak, tapi ia tidak ingin berurusan lebih panjang lagi dengan Darrien, apalagi jika sudah menyangkut mata pencahariannya.


Ia yakin Darrien hanya iseng dan mengerjainya. Oleh karena itu, ia akan menuruti kemauan Darrien kali ini, setelah pria itu puas, Emlyn yakin Darrien akan melepaskannya.


Tapi, bukankah ini membuat Emlyn terlihat murahan dan gampangan? Emlyn bahkan tidak bisa berpikir dengan benar kenapa ia bisa berada di situasi sekarang.


Rasanya ia hanya ingin segera menyelesaikan hubungannya dengan Darrien dan kembali menjalani hidupnya sendiri.


"C'mon..., masuklah...," Perintah Darrien saat melihat Emlyn masih terpatung di dekat pintu masuk. Ia melepaskan kancing kemejanya, kemudian melempar dengan asal kemeja kerjanya ke lantai.


Emlyn dapat merasakan kuping dan wajahnya memanas. Ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang.


"Kau merona...," Bisik Darrien tepat di samping kuping Emlyn.


Tubuh Emlyn menegang, jantungnya semakin tak karuan.


Darrien tidak sabar untuk menunggu lama, ia menarik Emlyn ke dalam pelukannya, menyesap bib*r Emlyn yang sudah ia inginkan sejak tadi tanpa henti, aroma tubuh wanita itu bahkan sudah menjadi candu untuknya, ia mengecup pelan leher wanita yang tadi mempertanyakan keprofessionalannya itu.


“Hentikan Mr. Darrien…,” Ronta Emlyn pelan.


“Kau bilang kau ingin menebus kesalahanmu dan ingin aku menyadarkanmu…, aku sedang mengajari dan menghukummu…,” Desis Darrien tersenyum kecil menggoda Emlyn yang sudah setengah terbuai, terlebih tangannya yang sedang menyentuh dada telanjang Darrien, menambah aliran panas menjalar ke tubuhnya.


“Kau ingin menggoda siapa menggunakan rok ini heh???” Tanya Darrien menyentuh paha Emlyn yang tertutup rok selutut. Rok itu tidak pendek, tapi bokong Emlyn yang berisi tampak menggoda bagi yang melihatnya, ditambah kulit kakinya yang putih banyak terekspos.


Emlyn menggelengkan kepalanya halus dengan sorot mata mengiba, yang justru membuat Darrien merasa gemas dan ingin memilikinya seutuhnya.


Hukuman dan ajaran Darrien untuk menyadarkan Emlyn, berakhir dengan penyaluran hasrat Darrien yang merasa selalu tergoda setiap melihat dan berada di dekat Emlyn.


Kali ini Emlyn pasrah dan tidak banyak melawan, ia bahkan tampak lebih tenang dan membiarkan Darrien menguasainya, mengikuti apa yang Darrien inginkan.


Darrien tersenyum puas saat ia menuntaskan hasratnya. Dengan nafas masih terengah-engah, mereka kembali ke posisi masing-masing.


"Kau sudah pernah melakukannya kan?" Tanya Darrien penasaran sambil menegakkan tubuhnya, bersandar pada sandaran ranjang.


"Apa?" Tanya Emlyn tidak mengerti.


"Hal ini...," Jawab Darrien sambil menunjukkan keadaan mereka berdua yang polos tanpa sehelai benangpun.


"Sepertinya ini bukan pertama kalinya bagimu...," Lanjut Darrien.


"Ya, dengan mantanku..." Jawab Emlyn jujur.


"Ohh, ternyata, kau tak selugu yang terlihat...,"


"Lalu? Apa kau melakukannya karena wajah luguku dan dengan harapan aku masih virg*n?" Tuding Emlyn.


Emlyn terlihat tidak senang, ia baru saja merelakan dirinya ditiduri dengan harapan Darrien akan puas dan berhenti mengusiknya untuk terakhir kalinya, tapi sekarang keper*wanannya justru sedang dipertanyakan oleh pria tidak tahu diri ini.


"Tidak, bukan begitu, aku sama sekali tidak masalah. Aku hanya penasaran..."


Emlyn berdecih kesal, membuang mukanya ke arah lain, tak ingin melihat wajah Darrien, ternyata pria ini hanya menidurinya karena sejak awal mengira ia masih peraw*n dan mungkin akan terasa lebih menarik dan nikmat bagi pria brengs*k itu.


Emlyn beranjak dari ranjang, mengambil apapun yang bisa ia jangkau untuk menutupi tubuh polosnya, ia berjalan melintasi pandangan Darrien untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Darrien terpaku melihat Emlyn yang dengan santai menggunakan kemeja miliknya yang kebesaran di tubuh kecil wanita itu. Jantungnya sering berdetak kencang saat bersama Emlyn, tapi kali ini terasa lebih membuncah, terpesona hanya karena melihat Emlyn menggunakan kemejanya, wanita itu terlihat tampak dewasa dan seksi.


“Apa yang kau minum?” Tanya Darrien penasaran saat menyadari Emlyn meminum sesuatu dari tasnya.


“Pil pencegah kehamilan…,” Jawab Emlyn dengan santai, tapi justru membuat Darrien terkejut, seperti sesuatu menohok hatinya.


“Untuk apa kau meminumnya?” Tanya Darrien menuntut penjelasan, suasana hatinya mendadak muram.


“Kau masih bertanya setelah melakukannya? Ya untuk berjaga-jagalah! Kau kira aku akan seaman ini jika tidak meminumnya sejak awal?” Ucap Emlyn kesal dengan pertanyaan Darrien.


“Kau tidak harus meminumnya…,”


Jawaban Darrien berhasil membuat Emlyn terbelalak kaget.


“Lalu, kau mau apakan kalau aku tiba-tiba hamil?” Tanya Emlyn memutar bola matanya, tampak geram karena dirinya seperti selalu salah dan diremehkan oleh Darrien.


“Aku akan bertanggungjawab…,”


“Kau gila…!” Jawab Emlyn, tidak lagi memiliki rasa sopan dan hormat pada rekan Bossnya itu.


“Aku serius…,” Jawab Darrien dengan dingin dan memang terdengar serius. Tapi Emlyn tidak ingin banyak berharap dan menggangap itu semua nyata, ia sudah terlalu malas untuk disakiti, apalagi ia tahu Darrien adalah pria seperti apa, mana mungkin pria itu benar-benar jatuh cinta dan serius dengannya, hubungan mereka tak lain tak bukan hanyalah untuk memenuhi hasrat fisik satu sama lain.


“Aku harap kali ini cukup untuk menebus kesalahanku. Tolong jangan menerorku lagi. Aku akan tutup mulut dan menggangap ini semua tidak terjadi, jadi aku juga mohon kerjasamamu.” Ucap Emlyn dengan tegas, tidak ingin dibantah dan meninggalkan Darrien yang melongo kaget mendengar apa yang wanita lugu itu ucapkan.


.


.


.


.


.


To Be Continue~