When Love Blossoms Again

When Love Blossoms Again
~Chapter 7: Dress~


Emlyn menatap kedua mata Darrien bergantian, ia tahu pria itu serius dengan ucapannya, ia tidak boleh menantang Darrien jika ingin diri dan pekerjaannya selamat.


Akan sangat konyol jika ia dipecat karena pria itu, bagaimana reputasi pekerjaannya kelak?


"Baiklah, apa maumu?” Tanya Emlyn frustasi dan memilih mengalah, demi kebaikannya sendiri.


“Ikut aku malam ini!” Jawab Darrien tegas.


“Ok ok…, aku akan menemuimu malam ini, jadi tolong lepaskan, okee??” Jawab Emlyn segera menyetujui dengan harapan Darrien segera melepaskannya.


Tapi bukannya melepaskan, Darrien justru semakin mendekap kencang pinggang Emlyn, menghirup aroma di leher Emlyn dan mencium lembut di sana, membuat Emlyn meremang dan memejamkan matanya.


Cuupppp…, Darrien mengecup lembut bibir Emlyn, tersenyum kecil melihat reaksi tubuh Emlyn yang menolaknya tapi justru terlihat menggemaskan di matanya.


Darrien melonggarkan pelukannya setelah puas memandang wajah Emlyn yang masih memejamkan matanya, tampak tidak nyaman dengan interaksi tubuh mereka barusan.


“Kau boleh kembali ke mejamu, jangan kabur malam ini…,” Perintah Darrien melepaskan Emlyn.


Mendengar Darrien mengizinkannya keluar, Emlyn segera berlari kecil keluar dari ruangan itu, menarik nafas panjang dan menghembusnya dengan lega karena ia menahan nafas sedari tadi, jantungnya pun berdegup cepat karena didekap oleh Darrien.


Emlyn menyentuh pipi dan telinganya yang terasa memanas, menggibas-ibaskan tangannya berusaha untuk mendinginkannya.


Di dalam ruangan, Darrien justru sedang tersenyum lebar, merasa puas dan senang bisa mengoda wanita yang menolaknya itu.


Emlyn menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sebelum yakin melangkahkan kakinya kembali ke mejanya.


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa Mr. Darrien mencarimu?" Tanya Bella yang sedari tadi sudah menunggu Emlyn.


"Hmm, Mr. Darrien bertanya kepadaku alasan menolak menjadi assistennya...," Jawab Emlyn dengan cepat dan asal.


"Wahh, apa dia begitu ingin kau menjadi assistennya?"


"Tidak, ia hanya merasa mencari karyawan baru akan merepotkan, itu saja...," Elak Emlyn dengan gugup berharap Bella langsung mempercayainya.


"Hmm... benar juga... aku pikir dia mencarimu akan hal lain, baguslah jika tidak terjadi apa-apa..."


Emlyn tersenyum mengiyakan.


Malam harinya...


Seusai makan malam, Darrien membawa Emlyn ke apartementnya. Emlyn hanya mendesah pasrah, pikirannya mulai berpikir yang buruk. Ia menduga Darrien seperti biasa kali ini pun hanya ingin memanfaatkannya bermain di ranjang.


Darrien mengambil beberapa paper bag di meja, memberikannya pada Emlyn.


“Apa ini??” Tanya Emlyn kebingungan.


“Cobalah, sepertinya beberapa ada yang cocok untukmu…,” Ucap Darrien sambil menunjuk ke kamarnya. Emlyn yang masih bingung semakin menebak-nebak maksud dari Darrien, ia pun menenteng paper bag itu ke dalam kamar Darrien untuk berganti pakaian.


“Apa ini? Apa dia ingin aku menggunakan kostum dan memuaskannya??” Tanya Emlyn mulai kesal.


“Dia pikir aku siapa hehh???” Ucap Emlyn sambil menuang langsung isi paper bag ke kasur Darrien.


Matanya menyipit melihat apa yang berserakan di depannya. Beberapa baju wanita dengan merk ternama dan harga yang mahal.


“Apa ini?” Tanya Emlyn tidak percaya pada dirinya sendiri, karena ternyata isi paper bag itu adalah pakaian wanita biasa, bukan kostum seperti yang ia pikirkan.


Emlyn mencocokkan tiap pakaian ke tubuhnya, beberapa ukuran ada yang kekecilan, tapi ada juga yang pas ke tubuhnya, salah satunya dress pesta berwarna biru navy dengan potongan tangan sabrina dan panjang gaun di bawah lutut.


“Ini cantik sekaliii…,” Ucap Emlyn takjub pada dirinya sendiri di depan cermin.


Tokk tokk tokk…


“Emlyn?” Panggil Darrien mengetuk pintu. Emlyn bergegas membuka pintu kamar yang ia kunci.


“Ada apa?”


“Tidak, hanya penasaran kenapa kau lama di dalam…,” Jawab Darrien dengan mata tidak luput memperhatikan penampilan Emlyn.


Matanya bersinar melihat Emlyn dengan balutan dress biru navy yang melekuk indah di tubuhnya.


“Maaf, aku rasa hanya ini yang pas di ukuran ku…,”


“It’s Ok… Kau bisa memilikinya…,” Jawab Darrien puas dengan apa yang ia lihat. Ia merasa senang karena pakaian itu tampak begitu cantik dan pas di tubuh Emlyn, apalagi melihat kulit putih Emlyn yang terekpos, membuatnya terlihat semakin manis.


Klekkkkk…


“Darrieeennnnnn…, apa kau di dalam?” Tanya seorang perempuan yang langsung memasuki ruang apartemen.


Mata Darrien terbelalak kaget, sama dengan Emlyn yang kebingungan.


“Apa yang kau lakukan di sini Darla?” Tanya Darrien merasa terganggu.


Wanita muda yang ia panggil Darla mengernyitkan keningnya, melihat Darrien dan Emlyn yang berdiri sebelahan.


“Aku sangat haus, maaf, apa kau bisa bantu aku ambilkan minum?” Tanya Darla tanpa rasa sungkan pada Emlyn yang tercengang mendengarnya. Darla berjalan melintasi ruangan dan langsung duduk selojoran di sofa.


Emlyn yang kebingungan merespon dengan cepat, ia segera mengisi segelas air minum dan meletakkannya di meja di depan Darla kemudian kembali ke dapur, karena tidak tahu baiknya berada di mana.


“Thanks…, ahhh, leganyaaaa….,” Ucap Darla yang langsung meneguk habis minumannya.


“Jadi, kenapa kemari?” Tanya Darrien.


“Kenapa? Kau tidak suka aku ke sini???” Tanya Darla sensitif.


"Tidak, kau menggangguku...," Jawab Darrien terus terang.


"Kenapa? Apa yang kau sibukkan? Kau sedang menunggu wanita mana hah??" Tanya Darla tanpa ragu.


Darrien menoleh memperhatikan raut wajah Emlyn yang datar, takut wanita itu terpengaruh dengan ucapan Darla.


"Kenapa? Apa kau malu? Maaf, aku mengucapkannya di depan ART mu...," Sambung Darla lagi sambil menunjukkan ucapannya pada Emlyn yang sedang bersandar di meja dapur.


Emlyn menoleh saat mendengar Darla yang mengiranya ART, begitupun dengan Darrien tampak kesal dengan perkataan Darla yang memang ceplas ceplos tanpa saringan.


"Heiii, kau keluar sekarang...," Ucap Darrien yang sebenarnya ditujukan pada Darla.


"Yayayaya, seharusnya dari tadi kau menyuruh ART mu pulang, ini sudah malam...," Lanjut Darla menoleh sekilas pada Emlyn, matanya terbelalak baru menyadari sesuatu dan ia baru memyadari sejak tadi yang ia kira ART adalah seorang wanita muda.


"What?? Ini seperti baju yang ku beli... Kenapa kau bisa memiliki sama persis?" Tanya Darla tiba-tiba.


Darrien dan Emlyn yang sebelumnya terus dibuat keheranan dengan Darla yang terus merocos seketika melongo kaget.


"Darla, hentikan...," Tegur Darrien pelan.


"Ahhh, Bibi Suti bilang kau mengambil beberapa baju sisa belanjaan ku, apa kau berikan padanya? Aku tidak masalah jika demikian, tapi kenapa tidak memberi tahuku Darrien?" Tanya Darla tidak suka.


Darrien menoleh sekilas memperhatikan wajah Emlyn yang tampak mulai masam. Jelas wanita itu mulai kesal.


"Darlaaa, nanti kita bicarakan itu okee, sekarang lebih baik kau pergi dulu...,"


"What? Kau mengusir ku???"


"Maaf, saya pamit pulang dulu...," Ucap Emlyn menyela dengan sopan.


"Silahkan..., oh ya, dressnya sangat cocok denganmu...," Puji Darla yang tidak henti berbicara.


"Darla..!" Tegur Darrien dengan suara dingin.


"Terima kasih...," Jawab Emlyn menundukkan kepalanya sopan dan segera mengambil barang-barangnya di dalam kamar Darrien.


Darrien tampak cemas memperhatikan perubahan ekspresi pada raut wajah Emlyn, tidak banyak yang bisa ia tebak, tapi ia tahu wanita itu mulai kesal.


"Kabari aku jika sudah sampai." Bisik Darrien pada Emlyn saat ia melangkah keluar dari apartemen.


"Tidak usah memperdulikanku, oh ya... terima kasih untuk dressnya, nanti ku kembalikan...," Jawab Emlyn dengan dingin dan segera berbalik pergi meninggalkan Darrien yang segera menatap geram pada Darla.


.


.


.


.


.


To Be Continue~