
Ah..
Angel meregangkan ototnya yang terasa lelah setelah empat jam mengikuti kelas les.
Ia melihat diluar gedung ternyata senja sudah tenggelam. Segera ia keluar kelas untuk pulang.
Saat ia keluar pintu, ada seseorang yang menunggunya. Karena Angel sedang sibuk dengan ponselnya untuk menelepon Pak Sam untuk menjemputnya, jadi ia tidak memperhatikan.
"Hai!" Sapa seseorang dari balik ruangan lesnya.
Angel segera menoleh ke arah suara. Laki-laki itu sedang bersandar di dinding luar kelas, ternyata ia adalah orang yang tadi Angel tabrak.
"Hai juga. Eh kamu yang tadi kan. Kenapa apa masih sakit?"
"Ah enggak. Tenang aja. Kita belum kenalan loh. Aku Alex." Laki-laki yang bernama Alex itu mengajak bersalaman. Angel menerima salamnya.
"Aku Angel."
"Oh Angel. Kamu gak merasa bersalah gitu habis nabrak aku." Keluh Alex terus terang dengan mata berbinar menghadapkan sesuatu.
"Hah?" Angel mengerutkan dahinya bingung.
"Yaaaa, kita makan sama-sama gitu." Alex mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menggaruk kepalanya.
"Makan bareng? Dimana?" Tanpa pikir panjang Angel menanyakan keinginan Alex, padahal mereka baru saja kenal beberapa menit yang lalu.
Sikap Angel memang mudah berubah, tergantung suasana hati saat itu.
"Di samping gedung ini. Gimana?" Alex terlihat antusias.
"Okelah. Ayo aku yang traktir sebagai permintaan maaf!" Angel setuju dan tersenyum.
"Yee. Asik. Ayo!" Alex sangat senang dan segera mengajaknya jalan bersama menuju restoran.
Mereka makan bersama di restoran samping les mereka. Selesai makan Angel langsung berpamitan pulang kepada Alex karena sudah menjelang malam.
****
Hari ini Angel berangkat sekolah pagi-pagi karena ada jadwal piket. Angel berpamitan kepada Papa dan berangkat bersama Pak Sam.
Tidak ada yang spesial hari ini. Seperti hari biasanya terasa tenang, karena tidak ada orang yang mengganggunya lagi dan tentu saja membuat harinya terasa sangat kesepian
Sudah tidak pungkiri Angel menolak mempunyai teman dari sekolahnya dan alasannya sudah pasti kalau ia tidak percaya satu orang pun di kelas bahkan seluruh sekolahnya itu.
Dari pelajaran dimulai, pelajaran berakhir dan berlanjut istirahat Angel hanya duduk dikursi tidak beranjak sedikitpun.
Bosan?
Tentu aja Angel merasa boseln. Kalau bosan, ia hanya tidur di mejanya atau sekedar menatap halaman sekolah dari jendela yang ada di sampingnya dan mungkin membaca buku yang telah ia siapkan dari rumah. Buku fiksi maupun non-fiksi.
Istirahat kali ini, ia hanya duduk diam saja di kelas. Di kelasnya hanya ada dirinya sendiri. Orang-orang di kelasnya lebih memilih ke kantin atau berjalan-jalan di sekitar kelas daripada berdiam diri di kelas.
Tok...Tok...Tok
Suara pintu di ketuk. Karena malas menoleh Angel hanya melirik arah sumber suara. Seseorang laki-laki melambaikan tangan padanya. Ternyata Lucas.
Angel yang sedang menidurkan kepalanya di meja, langsung menegakkan kepalanya. Ia tidak percaya Lucas ada di kelasnya dan sudah pindah sekolah yang sama dengannya.
"Yuk, jajan bareng." Lucas masih berdiri di tempat yang sama untuk mengajak Angel.
"Ah, malesss. Gak usah sok akrab." Angel menidurkan kembali kepala namun menghadap ke dinding di samping.
Terdengar Lucas mendesis. Akhirnya Lucas memberanikan diri memasuki kelas dan menarik tangan Angel untuk ikut bersama dengannya ke kantin.
"Eh..eh.. Apaan sih. Pemaksa banget sih. Aku mager, woy." Angel tidak menghentikan sama sekali tarikan tangan dari Lucas. Karena cekramannya kuat dan Angel sama sekali tidak ada tenaga. Jadi, ia hanya merengek dan sayangnya Lucas tidak peduli dengan rengekan dari Angel.
Benar apa yang dikatakan Lucas. Selama ini ia hanya menahan rasa lapar dan alhasil ketika jam pelajaran terakhir perutnya keroncong membuatnya tidak fokus.
Mau tidak mau Angel mengikuti ajakan pemaksa dari Lucas demi perutnya.
Kantin terlihat ramai. Dan sekarang mulai heboh saat melihat Angel dan Lucas berjalan bersama bahkan Lucas menggandeng tangannya.
Karena merasa tidak nyaman dengan puluhan pasang mata yang melihatnya, Angel berusaha melepaskan genggaman tangan Lucas dari pergelangan tangannya.
Lucas menoleh kearahnya bingung. Angel hanya memberikan kode dengan matanya. Lucas pun mengerti dan melepaskan genggaman tangannya.
"Mau makan apa?"
"Apa aja deh yang penting makanan."
"Loh gimana sih. Yang jelas napa, Njel."
"Yaudah bakso aja."
"Nah gitukan enak. Kamu tunggu sini biar aku yang pesenin."
Angel hanya mengangguk paham. Tifak lama kemudian, Lucas sudah memesan dan segera mencari tempat duduk yang lenggang.
"Eh misi-misi. Kami mau duduk." Lucas mengusir orang-orang yang hanya duduk tetapi tidak memesan makanan. Mereka melihat Lucas sinis, namun tetap berlalu pergi.
Angel hanya tertawa kecil melihat Lucas dengan beraninya mengusir siswa-siswa lain, padahal dirinya baru saja pindah ke sekolah itu.
"Kenapa ketawa? Keren ya aku ngusir mereka-mereka." Ujar Lucas dengan tampng yang di paksakan agar terlihat keren.
"Idih."
"Eh tau gak tadi aku baru masuk kelas udah direbutin sama cewek-cewek kelas. Mereka bilang aku ganteng. Hahaha." Lucas tertawa dengan pedenya di hadapan Angel.
Angel memutar kedua bola matanya, kesal melihat kepedean Lucas yang ternyata terlalu tinggi.
"Bodo amat, deh. Sayangnya aku gak peduli."
"Emang lo eh maksudnya kamu kelas apa." Lanjut Angel.
"IPA-6."
IPS-6? Kelasnya Tiffany dong. Ah elah, gini amat. Pantes pada keganjenan.
"Oh."
Makanan yang sudah di pesan sudah datang, tanpa menunggu lama mereka berdua segera menyantap makanan karena lapar sudah melanda.
Setelah makan Lucas dan Angel kembali ke kelas. Saat berjalan menuju kelas banyak cewek-cewek yang terpana dengan ketampanan Lucas. Angel pun mengakui kalau memang Lucas punya wajah yang tampan, tetapi tidak tau bagaimana dibelakang.
Lucas mengantar Angel terlebih dahulu dikelasnya. Angel tidak menyadari tersenyum kepada Lucas yang sudah mengajaknya ke kantin bersama.
"Kamu senyum? Kayaknya kali pertama kamu senyum ke aku. Sering-sering senyum Nona, kayak gitukan cantik." Lucas menyunggingkan senyum manisnya juga kepada Angel.
Angel yang mendengarkan kata-kata Lucas, langsung mengubah raut wajahnya dengan wajah datar.
"Cepet banget ganti wajahnya. Hahaha. Yaudah deh aku balik ke kelas dulu ya." Lucas melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari kelas Angel.
Angel hanya terdiam melihat kepergian Lucas. Entah mengapa ia tidak terlihat terlalu dingin dengan Lucas. Mungkin karena ia anak Om Hendry teman Papa atau karena ia membuatnya seakan ada yang merangkulnya dari kesepian yang sudah merebak di pelupuk jiwanya.
Tetapi saat bersama Lucas tadi, Angel sudah mewanti-wanti akan ada gosip terbaru yang diperbincangkan oleh warga sekolah.
Dan mungkin saja ada masalah yang akan mengusik ketenangannya lagi.