I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 6 Semoga:-)


Tidak lama kemudian, giliran ponsel Angel juga berdering. Ternyata panggilan masuk dari Papa. Papa menelepon Angel agar segera turun ke bawah untuk pulang bersama dan hari sudah mulai larut. Papa juga sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Angel menuruti perkataan Papa dan segera turun. Kali ini Angel menggunakan lift karena takut ia dikira hantu lagi oleh pegawai lain yang masih lembur.


Pintu lift terbuka. Kebetulan Papa terlihat berjalan menuju ke arahnya sambil membawa tas selempang milik Angel. Sebelum pulang ia berpamitan kepada para pegawai yang masih lembur dan berlalu menuju ke lift bersama Angel.


"Nih tas kamu. Betah ya kamu di atas. Ngapain aja?"


"Enggak ngapa-ngapain, Pa. Angel cuma duduk santai aja."


Papa hanya manggut-manggut mendengarkan Angel. Angel tidak ingin cerita tentang Kak Fendy, ia risau kalau papa akan menceramahi pegawainya yang ketahuan bermalas-malasan.


Dan takutnya Papa khawatir dengan keadaan Angel tentang masalah perundungan yang ia alami.


Saat sudah di luar gedung, Papa berencana menelepon supir pribadi dirumah. Tetapi, Angel sesegera mungkin menghentikan niatan Papa tersebut.


"Pa, jangan telpon Pak Sam." Papa berhenti mengetik nomor yang ingin ia hubungi.


"Loh kenapa? Kamu mau tidur disini."


"Enggak dong, Pa. Kita naik bus trans aja yuk, Pak. Kayaknya lebih seru."


"Angel jangan aneh-aneh deh. Papa udah capek nih." Papa sibuk dengan ponselnya untuk menelepon Pak Sam.


Angel menoleh ke arah pergelangan tangannya untuk melihat pukul berapa ini.


"Ayolah, Pa. Masih jam sembilan loh. Bentar lagi bus trans lewat." Angel merangkul tangan papa memohon.


"Tapi, njel...."


Belum sempat Papa berbicara tuntas, Angel sudah menarik tangan Papanya sambil berlari kecil untuk segera ke halte bis trans sambil tertawa girang. Papa pun menjadi lupa untuk menelepon Pak Sam karena harus mengimbangi langkah kaki Angel.


Papa mau tidak mau mengikuti langkah Angel. Angin malam berhembus lembut, membuat rambut Angel mengikuti arah angin berhembus.


Angel tersenyum manis. Betapa bahagianya punya seorang Papa yang begitu menyayangi dari dulu sampai sekarang.


Walaupun tidak terlalu jauh, napas Papa terlihat tidak beraturan.


"Yeee, Papa gitu aja ngos-ngosan. Papa udah tua sih." Cibir Angel sambil tertawa nakal.


Papa hanya mencubit pelan lengan anaknya yang sudah berani mengejek dirinya itu.


Angel mengadu kesakitan, lalu tertawa puas melihat Papa termakan oleh cibirannya tersebut.


"Mana ada papa tua. Papa masih muda. Enak aja kamu ngatain papa tua." Papa melotot kepada Angel dan ia hanya tertawa.


Baru beberapa menit, bus trans berhenti di halte yang ia duduki. Mereka berdua akhinya memasuki bus trans itu dan memilih tempat duduk yang kosong.


Perjalanan dari kantor menuju rumahnya memakan waktu sekitar 15 menit. Angel benar-benar puas bisa menemani dan sekedar bersenang-senang bersama Papa.


Belum lama bis berjalan, terlihat Papa telah tertidur. Angel hanya tersenyum tipis setelah menoleh kearah Papanya.


Angel membuang pandangannya ke arah jendela bus sambil menopang dagu. Ia menikmati perjalanan yang singkat itu. Dan tidak terasa bus sudah mendekati rumahnya. Angel segera membangunkan Papanya walaupun sebenarnya ia sedikit tidak tega.


"Pa, bangun! Papa bangun!" Angel menggoyang bahu Papanya pelan.


Papa membuka matanya pelan setelah Angel membangunkannya.


"Hm. Iya, njel. Udah nyampe ya."


"Ya iyalah. Bahkan ini udah dua kali puteran."


"Hah? Masa iya? Kok kamu bukannya bangunin Papa dari tadi." Mata Papa terbelalak kaget mendengar perkataan Angel.


"Pffttt...." Angel menahan tawanya sambil menutup mulut dengan kedua tangan agar tawanya tidak membuat orang di bis melihatnya aneh.


"Hahaha, Papa...Papa.... Angel cuma becanda. Papa percaya banget. Tuh rumah udah di depan."


"Dasar Angel."


Angel hanya tertawa geli. Dan meminta supir bis berhenti di depan rumahnya. Pintu terbuka. Papa membayar ongkos bis dan juga berjalan turun.


Karena tidak ingin merasakan cubitan setelah membuat Papa sebagai bahan candaan, Angel berjalan di depan dan masuk ke rumah duluan.


"Pa, maaf ya tadi yaaa. Angel cuma becanda doang. Karena udah malem Angel pergi ke kamar ya. Mau tidur." Angel memeluk papa setelah masuk ke rumah.


"Iya iya. Yaudah selamat malam."


"Selamat malam."


Angel langsung menuju ke kamarnya untuk segera tidur. Besok ia harus bangun pagi menyambut teman papa yang datang.


"Hoam!"


Tidak terlihat dari jendela ada cahaya yang masuk. Memang di luar masih gelap. Angel memaksakan diri untuk bangun walaupun matanya masih ingin terpejam lebih lama.


Angel bangun pagi-pagi untuk membantu Bi Murni menyiapkan hidangan untuk teman Papa yang akan berkunjung.


Sesuai dengan pinta Papa, Angel berpakaian rapi untuk menyambut teman Papa itu.


Setelah menyiapkan hidangan, Angel dan Papa duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Njel, kamu udah punya pacar ya?"


Angel yang tadinya sedang minum, sontak tersedak.


"Huk..huk..huk...Papaaaa!" Angel menepuk dadanya akibat tersedak minuman tadi.


"Loh kenapa papa nanyak baik-baik kok malah kesedak. Atau jangan-jangan mantan kamu selingkuh." Papa mendekatkan kepalanya ke samping kepala Angel.


"Papa kok bisa tau yang kayak gituan sih. Eh em..emmm. Enggak ada waktu pacaran." Angel menaruh gelas yang tadi pegangnya di meja dengan pelan padahal ia sempat kaget mendengar papanya mulai tau urusan anak remaja.


"Baguslah. Ehm... Jadi, gini loh Njel. Papa rencananya mau jodohin kamu sama anaknya temen papa yang nanti mau berkunjung ini."


Angel hanya terdiam. Otaknya merasa susah untuk mencerna apa yang dikatakan papa tadi.


Jodohin?


Anak temen papa?


"Hah?" Angel mengerut dahinya masih bingung sekaligus tercengang mendengarkan Papanya tadi.


"Yaaa, kamu mau gak dijodohin?"


Kalau boleh jujur siapa juga yang setuju dengan perjodohan mendadak, berasa kembali ke zaman dulu masa Siti Nurbaya. Namun, Angel berpikir mungkin ini saatnya ia berkorban untuk Papa yang sudah berkorban lebih banyak untuknya. Lagipula gak ada salahnya saling mengenal siapa tau akhirnya jadi cinta.


"Pah, jangan main-main dong? Angel kan masih punya cita-cita. Umur Angel juga masih muda, pa. Yang bener aja. Papa emangnya mau kenak undang-undang perlindungan anak." Kilahnya dengan mencari alasan yang masuk akal.


"Siapa yang bilang mau nikahin kamu, Njel. Kamu kok lama-lama makin gak nyambung sih." Papa geram melihat anaknya sedari tadi memutar-mutar pernyataannya.


"Ya itu. Bilangnya mau jodohin-jodohin."


"Bukan gitu sayang. Papa pengen kamu mengenal anak temen papa ini. Kalian kan masih muda. Masih punya banyak waktu untuk saling menyesuaikan. Kalau gak cocok ya udah." Papar papa dengan sejelas-jelasnya agar Angel tidak salah kaprah.


"Oh gitu. Emm... gimana ya emmm... untuk papa Angel setuju deh. Karena papa yang minta dan menurut Angel gak terlalu buruk sih." Ia menyetujui permintaan papanya walaupun awalnya sedikt ragu.


"Serius? Bagus, sayang. Nanti kamu harus baik sama anaknya temen Papa itu ya." Papa menepuk tangan karena Angel setuju dengan perjodohannya.


"Iyaa iyaa. Angel turutin semua perintah papa."


Bel rumah berbunyi.


Artinya ada tamu datang berkunjung.


Papa bangun dari sofa tempat ia duduk tadi untuk menyambut tamunya yang datang.


Di ruang tamu, papa dan temannya bersanda gurau dengan begitu akrab. Angel hanya berdiri di belakang Papanya melihat kejadian yang begitu hangat antara Papa dan temannya.


Terlihat seorang laki-laki yang berdiri di belakang teman Papa. Mungkin itu adalah anak dari teman Papa yang akan dijodohkan dengan Angel.


Kesan pertama dari laki-laki itu rapi, tatapan mata yang lembut dan ganteng. Ketika Angel sedang memperhatikan dari kepala hingga kaki laki-laki itu, tiba-tiba mata mereka saling bertemu. Dengan cepat Angel mengalihkan pandangannya.


"Oh iya, Hen. Kenalin ini anakku. Angel namanya."


"Halo, om. Saya Angel." Angel bersalaman dengan teman Papa yang bernama Hendery.


"Wah, cantik anakmu Jeff. Nah kalau ini anakku Lucas. Ayo kalian kenalan." Om Hendery tertawa senang sambil merangkul pundak Papa.


Mereka berjabat tangan dan memperkenalkan namanya masing-masing.


"Angel."


"Lucas."