I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 9 Lucas or Alex


Di saat bersamaan pula banyak orang-orang penggosip sudah menyebarkan cerita Angel dan Lucas.


Saat Lucas kembali, sekelasnya heboh menanyakan hal ini dan itu kepada Lucas tentang Angel. Dan tidak sedikit pula yang menjelekkan Angel di depan Lucas, termasuk Tiffany.


Tiffany nyatanya sudah menyukai Lucas sejak Lucas pertama kali masuk ke kelas itu. Namun, Lucas justru berduaan dengan Angel.


"Lucas, kok kamu bisa sama Angel sih?" Seseorang cewek menghampiri Lucas yang tengah duduk di kursinya.


"Ya emang kenapa. Salah?" Lucas menoleh kearahnya dengan muka polos.


"Kamu gak tau ya kalau Angel itu udah ada pacar. Pacar dia sering ganti-ganti lagi." Celetuk Tiffany untuk menjelekkan Angel.


"Iya. Apalagi dia itu penindas tau gak? Kelakuannya kasar" Teman-teman gengnya pun ikut menyetujui Tiffany.


"Terus?" Lucas terlihat tersenyum santai mendengarkan ocehan mereka.


"Ya jangan terlalu deket-deket deh sama Angel. Bawa pengaruh buruk nanti imbasnya ke kamu lagi."


"Aduh kalian ini emang ya. Penggosip. Aku tuh gak suka loh sama gosip. Apalagi yang gak jelas kebenarannya." Lucas memijat pelipisnya sambil menggelengkan kepalanya pusing dengan tingkah laku mereka yang dengki.


"Loh kok gosip sih. Ini tuh beneran."


"Aku gak peduli deh. Terserah pendapat kalian sendiri."


Lucas tidak peduli dengan perkataan-perkataan orang di kelasnya. Ia rasa Angel memang tidak sukai di sekolah ini.


Namun, sesuai pesan dari Papa Angel untuk melindungi dan menjaga Angel, Lucas akan berusaha sebisa mungkin menuruti pesan Papa Angel.


Angel termenung memikirkan Lucas yang memperlakukan dengan baik di saat ia tidak ada teman dan merasa kesepian.


Karena merasa masih trauma, Angel tidak ingin mudah dibutakan oleh seseorang yang baru di kenalnya. Walaupun itu calon suaminya di masa depan.


Itu semua untuk menghindari kesalahan yang sama di masa lampau.


Angel menumpukkan buku-bukunya di meja belajar setelah ia pilih dari ruang baca lantai bawah tadi. Tujuannya ia meletakkan setumpukan buku itu tentu saja untuk dibaca dan persiapan bulan depan ujian kenaikan kelas 12.


Walaupun baru pulang sekolah, Angel tidak mengeluh sedikitpun untuk belajar.


Selain belajar mandiri dengan jam yang padat, Angel juga sudah menyiapkan diri dengan les yang didaftarkan oleh papa.


Sebelumnya Angel sama sekali tidak berminat untuk masuk les, menurutnya belajar secara mandiri itu sudah cukup. Namun, semenjak kejadian enam bulan yang lalu Angel mempunyai banyak waktu luang. Akhinya ia meminta Papa mendaftarkannya les untuk memperdalam ilmu pengetahuannya di sekolah.


Sudah jam tiga sore, Angel bersiap-siap untuk berangkat ke tempat lesnya.


Ia berjalan di area gedung les dengan santai karena 15 menit lagi kelas baru dimulai. Tanpa di sadari ia terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. Seseorang yang sempat ia tabrak sampai terjatuh, yaitu Alex.


Angel tau kalau Alex tidak terlihat seumuran dengannya, melainkan lebih muda darinya beberapa tahun. Terbukti ketika kemarin ia masuk di ruangan lesnya tidak ada yang bernama Alex.


Berarti Alex berada di ruangan les yang lain sesuai dengan kelas yang sedang diemban oleh masing-masing.


Ada dua orang perempuan yang berjalan di depannya, terlihat umur mereka berdua di bawah Angel.


"Dek, boleh tanya gak?" Angel berjalan mensejajarkan diri bersama mereka berdua.


Mereka berdua pun akhinya berhenti untuk menjawab pertanyaan Angel. "Ya Kak. Ada apa?"


"Kalau boleh tau ada yang kenal sama Alex gak?" Tanya Angel tanoa ragu.


"Oh Alex. Dia sekelas sama kita berdua kak." Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Angel.


"Tapi kok sekarang keliatannya gak ada dia ya?" Imbuh Angel karena informasi yang ia dapatkan kurang.


"Aku sih gak tau pasti ya, Kak. Katanya kemarin dia udah berhenti Kak, kalau alasan dia berhenti kita berdua gak tau pasti." Orang yang sama pun menjelaskan pada Angel.


"Sama-sama, Kak."


Mereka pun berjalan meninggalkan Angel yang terdiam di satu sisi.


Walaupun dia adik kelas, Alex adalah teman pertamanya di tempat les itu. Dan juga Alex mempunyai sifat cute dan humoris yang membuatnya nyaman didekatnya.


Entahlah, kapan ia bisa bertemu lagi dengan Alex.


Angel menghela nafas dan segera pergi ke ruangan lesnya. Ia tidak terlalu memikirkan Alex, hanya saja perpisahannya begitu mendadak sebelum Angel mengenal Alex lebih dekat dan ungkapan selamat tinggal yang tidak dapat di sampaikan.


****


Ujian Akhir Semester sudah di depan mata, Angel lebih milih berdiam di kelas untuk membaca buku pelajaran dan mengulang-ulang pelajaran yang sudah dipelajari sebelum.


Bahkan akhir-akhir ini banyak yang memancingnya untuk meledakkan emosinya di depan umum, tetapi dengan susah payah Angel menenangkan dirinya untuk tidak terpancing sejenak karena ujian kenaikan kelas yang sebentar lagi.


Dan Lucas selalu saja ke kelasnya untuk mengajaknya ke kantin. Angel lebih banyak menolaknya karena ada kepentingan pribadi yang perlu didahulukan.


Akhirnya Lucas lebih memilih ikut bergabung dengan Angel membaca buku pelajaran di kelas Angel, walaupun ia sudah berkali-kali mengusirnya dengan alasan sangat menggangunya. Tetapi karena Lucas tidak mendengarkan sama sekali apa yang ia katakan, Angel membiarkan Lucas bersamanya karena malas mencari ribut yang tidak ada akhirnya.


Sekarang Angel bertambah dingin dengan Lucas karena Lucas sering kedapatan olehnya sedang di kerumuni oleh geng-geng musuhnya.


Lucas pasti udah dipengaruhi tuh sama mereka. Sampah!


Padahal pikiran Angel itu berbeda dengan yang sebenarnya. Lucas sama sekali tidak pernah mengurusi bahkan terpengaruh dengan omongan jahat mereka.


Tetapi, Angel terlanjur sudah berprasangka buruk terhadapnya.


Untungnya Lucas tipikal orang yang sabar dan pengertian, walaupun ia tidak tau apa masalah orang-orang di sekolah dengan Angel.


Lucas sering bertanya dengan Angel, tapi Angel selalu saja memarahinya karena membahas mereka.


Angel membanting buku yang sedang ia baca. "Ih kamu tuh. Mau belajar atau gosip sih. Kalau berisik mendingan kamu gabung aja sama mereka. Kamu sama mereka emang cocok."


Lucas tersentak kaget. Gila nih cewek galak amat. "Ya kan aku cuman nanyak. Gak usah pake emosi dong, Njel."


Angel menatap Lucas tajam. "Ya gimana gak marah. Kamu dari kemaren bahas mereka mulu. Bikin gak fokus. Lain kali mendingan gak usah izinin kamu belajar bareng deh."


Angel kembali beralih ke bukunya dan memendamkan seluruh mukanya ke buku. Lucas hanya diam melihat Angel marah-marah. Akhirnya ia pun kembali fokus ke bukunya.


Bel masuk berbunyi,


Lucas berdiri dari tempat duduknyal


"Aku balik ke kelas dulu ya."


"Hmmm."


Angel tak beralih dari bukunya.


Lucas memberikan satu bungkus roti dan sebotol jus yang diletakkan di mejanya.


"Tuh, dimakan dari tadi kamu belum makan. Jangan belajar lagi kalau belum makan. Bye." Lucas meninggalkan Angel yang masih membaca buku.


Angel hanya terdiam dan mengintip kepergian Lucas dari balik buku. Saat Lucas tidak terlihat lagi, Angel menurunkan bukunya dan mengambil makanan yang diberikan Lucas.


Ia memegang perutnya karena merasa lapar, Angel membuka bungkus roti dan tutup botol jus. Dan Ia melahap rotinya.


Lucas pun sedang curi-curi pandang.


Dibalik dinding kelas Lucas sebenarnya belum pergi, ia masih ingin memastikan apakah Angel akan memakan roti pemberiannya. Lucas tersenyum tipis setelah mengintip Angel memakan rotinya dan meninggalkan kelas Angel dengan tenang.