
Ujian Kenaikan Semester sudah dilaksanakan, saat itu juga Angel dan Lucas tidak pernah bertemu bahkan bersama lagi. Setelah ujian berakhir Lucas sudah tidak pernah terlihat lagi karena ia sedang liburan ke luar negeri.
Angel lebih memilih dirumah saja untuk liburan kali ini. Papa juga akhir-akhir ini juga lebih sibuk dari biasanya.
Walaupun sangat membosankan, Angel berusaha memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar.
Kenapa belajar?
Untuk persiapan kelas 12 dan masuk universitas. Angel bercita-cita menjadi seorang dokter, maka dari itu perlu usaha ekstra untuk masuk perguruan tinggi falkultas kedokteran bergengsi.
Derttt...derttt...
Ponsel Angel berdering sekaligus bergetar.
Angel segera mencari ponselnya dengan bantuan dering suara. Ternyata ada di bawah tumpukan buku.
Lucas? Sejak kapan nyimpen nomor dia?
"Halo!"
Terdengar suara berat khas Lucas dari ponselnya.
Wah beneran Lucas.
"Hm, Halo."
"Angel!"
"Ya! Kok ada nomor kamu sih di hp aku?"
"Oh masalah itu rahasia aku sama hp kamu."
"Hmmm terserah. Ada apa?"
"Gimana kabarnya?"
"B aja."
"Oh gitu baguslah. Minggu depan aku balik ke Jakarta, kamu mau mesen oleh-oleh gak?"
"Oleh-oleh? Kamu yang pergi masak aku yang minta oleh-oleh sih."
"Ya gak papa lah. Mau gak?"
"Terserah deh aku juga gak tau oleh-oleh yang bagus di Jerman."
"Yaudah. Kalau gitu. Aku tutup ya. Dah!"
"Iyeee. Dah!"
Suara telpon terputus dari Lucas. Angel menatap layar ponsel yang tertera nomor dan nama Lucas.
Ia jadi terbayang wajah Lucas saat di kelasnya beberapa waktu yang lalu. Tidak sadar ia tersenyum. Ia memegang bibirnya yang baru saja menyunggingkan bulan sabit tipis. Sesegara mungkin ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena sudah memikirkan Lucas.
Haish. Bisa-bisanya Lucas ada di pikiran aku.
Gak boleh, gak boleh. Gak boleh baper. Gak boleh percaya sama cowok.
Angel mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke meja karena kesal pada dirinya sendiri.
"Arrrghhhh!" Keluh Angel kesal mengutuk dirinya.
Dibelahan bumi yang berbeda, Lucas terlihat senang mendengar suara Angel yang sudah lama tidak ia dengar. Terdengar masih sama masih jutek seperti biasa.
Walaupun respon Angel seperti itu, Lucas tetap terlihat senang karena ia diam-diam menyimpan perasaan rindu kepada Angel sebab sudah lama tidak berjumpa.
See You, Njel.
Semoga matahari menyampaikan perasaanku hari ini.
Sabtu, 7 Agustus
Hari dimana Lucas kembali ke Jakarta bersama Om Hendry. Di bandara internasional ia berpamitan kepada kedua saudara laki-lakinya yang mengantarkan mereka.
"Bye! Hati-hati di perjalanan pa, Lucas."
****
"Harusnya lusa kemaren Lucas udah pulangkan. Kok dari tadi gak ada keliatan dia ya." Kata Angel dalam hati.
Ia memikirkan apakah Lucas berbohong padanya atau kembali hari ini tetapi tidak menemuinya.
Angel menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar ia sadar karena terlalu memikirkan Lucas. Ia berusaha menghapus bayangan Lucas dari otaknya itu. Bayangan tentang Lucas cukup mengganggu pikirannya.
Waktunya untuk berdiskusi dan berkompromi dengan otaknya terhentikan, ketika suara sapaan akrab dari depan kelasnya.
"Hai!"
Lucas menghampiri Angel di mejanya sambil membawa tas kertas ditangannya.
Angel menerima tas kertas itu dan mengintip dalam tas kertas itu terdapat beberapa kotak kemasan.
"Makasih. Kirain aku bohongan."
"Enggak lah. Aku orang tuh tepatin janji. Tapi gak tau kedepannya kamu bakalan suka atau gak." Tuturnya sambil menarik kursi terdekat untuk duduk.
Angel menerima pemberian dari Lucas dan menaruhnya di bawah meja.
Suasana terlihat canggung. Dari Angel ataupun Lucas tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kalau gitu aku balik ke kelas ya?"
Lucas beranjak dari kursi. Saat itu Angel ingin menarik baju Lucas untuk menemaninya sebentar saja lagi, namun tidak sampai. Jadi, Lucas pergi begitu saja sebelum ia dapat mencegatnya pergi.
Angel menatap kepergian Lucas dengan wajah sedikit bersalah. Padahal Lucas sudah baik terhadapnya tetapi ia justru acuh kepadanya.
Angel mengaku sikapnya yang dulu semakin jauh dan sulit untuk ia lakukan kembali.
Suara langkah sepatu menghampirinya. Cepat-cepat Angel menoleh, dalam pikirannya mungkin itu Lucas yang kembali ke kelas lagi.
Tebakannya meleset, ketenangan Angel mulai terusik lagi. Ternyata Tiffany yang menghampiri Angel dengan wajah kesal.
Angel memastikan kembali kalau itu adalah Tiffany karena kepalanya sedikit pusing setelah melihat muka belagu Tiffany. Ia melihat dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Benar itu Tiffany.
Gak capek apa cari gara-gara muluk. Pengen banget aku karungin terus lempar ke laut.
Angel duduk santai menunggu Tiffany yang memulai dahulu.
Tiffany mendekatkan kepala ke telinga Angel membisikkan sesuatu.
"Jujur aku suka Lucas. Kamu kan udah ada Chan. Mendingan menjauh deh. Lucas tuh gak pantes buat kamu, Njel."
Angel menyunggingkan senyum miringnya.
"Ck!"
Gila nih anak gak ada kapoknya.
"Becanda ya?" Angel melihat kearah Angel tidak percaya.
"Terserah aku dong. Mau deket sama siapa? Bukan urusan kalian! Dan emang kamu pantes gitu untuk Lucas, kamu juga gak lebih baik dari aku. Kaca di sekolah bertebaran, mendingan sadar diri dulu." Ujar Angel memutar bola matanya sinis sambil menekan kata Bukan urusan kalian.
Rombongan yang di bawa Tiffany terkaget-kaget melihat Angel yang sangat berani menentang Tiffany.
Muka Tiffany berubah merah mendengar perkataan Angel.
"Eh jangan sok ya, Njel. Mentang-mentang udah jadi kaya lagi, sombong banget."
Angel tertawa ringan.
Aduh gak nyadar diri ya.
"Sombong? Kaya itu gak ada hubungannya. Heh gak nyambung. Otak lo kok makin lama gak nyampe ya."
"Is. Kurang di kasarin nih orang." Teman Tiffany mulai membela.
Kelas Angel mendadak ramai karena perkelahiannya dengan Tiffany. Pengap rasanya di kelilingi oleh orang-orang kepo.
Tiffany mulai adu mulut dengan Angel. Karena malas Angel hanya meladeni beberapa kalimat untuk menjawab omongan yang non faedah untuk di dengar.
Karena kesabarannya terus diuji oleh Angel. Wajah Tiffany memerah dan...
Plak!
****
Beberapa teman Lucas mengajaknya bermain dan bergabung bersama, namun karena dirinya mager Lucas berkali-kali menolak ajakan mereka.
Setelah Lucas kembali dari kelas Angel, ia hanya duduk di kursinya terdiam. Rasanya gravitasi di kursi membuat ia tak ingin beranjak kemana-mana.
"Ah, penyakit magernya Angel malah ditularin sama aku." Lucas menepuk mejanya pelan, namun orang-orang dikelasnya mendengar apa yang ia ucapkan dan membuat mereka menoleh kearahnya.
Lucas melihat sekeliling yang sedang menatapnya. Lucas hanya tersenyum malu dan mengisyaratkan tidak terjadi apa-apa.
Brak!!!
Pintu kelas Lucas di banting dengan keras, sontak orang yang ada di kelas kaget dan menoleh.
Ternyata teman Lucas mencarinya dengan wajah berkeringat. Temannya itu membawa informasi tentang Angel karena kelas Lucas dan Angel lumayan jauh ia sampai berkeringat dengan nafas yang memburu.
"Woy Lucas. Angel tuh! Hos..hoss." Teman Lucas terlihat masih tersengal-sengal nafasnya.
Lucas langsung berdiri dan menghampiri temannya itu.
"Angel kenapa? Cepet ngomong." Lucas bertanya dengan tidak sabar dan mata terbelalak.