I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
√Bab 12 Kenapa Lucas Ngeselin?


Ia menidurkan kepalanya di pangkuan wanita yang disebutkan Mama.


Ia menghela napas. "Angel sebenarnya gak kuat, Ma. Angel gak mau orang-orang disekitar Angel khawatir. Apalagi Papa. Angel sebenarnya gak kuat, Ma selalu dihadapi masalah yang sama sekali gak Angel suka. Angel bener-bener sakit, Ma." Air matanya kembali mengalir di pipinya, perkataannya sangat menyayat hati.


"Angel Sayang, semua hidup pasti ada masalah. Tergantung kamu yang menghadapinya, walaupun gak selalu mudah tapi itu melatih kamu di masa depan nanti. Jangan mudah menyerah, Sayang. Cinta mereka yang menyayangi kamu itu adalah energi positif yang membangun. Jangan sia-siakan mereka." Wanita itu mengelus rambutnya untuk menenangkan Angel dari tangisannya.


"Tapi, Angel selalu dikhianati sama orang yang pernah Angel percaya, Ma."


"Kalau gitu, mereka gak pantes dapat cinta dari Angel dong. Biarin aja fokus dulu sama orang yang paling deket sama kamu dan paling peduli sama kamu." Nasehat itu sangat menyentuh hati Angel. Ia menghentikan tangisan sia-sia itu.


"Iya, Ma."


Angel bangkit dari pangkuan wanita tersebut. Dan wanita tersebut berdiri.


"Mama mau kemana?"


"Rahasia! Pertemuan kita sampai disini dulu ya, Sayang." Wanita tersebut mencolek hidung Angel.


"Kita baru ketemu sebentar doang, Ma. Mama gak boleh pergi."


"Terus gimana nasib Papa. Kata Angel Papa sayang banget sama Angel." Wanita tersebut mengangkat kedua alisnya dan kemudian tersenyum kembali.


"Ya udah kita bareng-bareng ketemu Papa."


"Belum waktunya kita sama-sama. Angel jaga diri baik-baik ya. Jangan kecewain Papa." Perkataan yang lemah lembut itu semakin melekat kuat di hati Angel.


Wanita tersebut berjalan menjauh dari Angel. Angel terus berteriak agar menghentikan langkah wanita cantik itu, tetapi ia tidak berdaya untuk berdiri dan wanita itupun tidak menghiraukan teriakan Angel.


"Mama jangan pergi." Angel berusaha menggapai wanita itu dengan suara lirih.


"Mamaaa!"


Matanya melebar karena terbangun dari tidurnya. Angel mengercapkan kedua matanya terlihat Papa berada di sampingnya.


"Angel, kamu kenapa, nak. Kamu kok nangis?"


"Papa!" Angel memanggil Papanya dengan lirih.


"Kamu kenapa kok bisa kayak gini." Papa memegang kepalanya dengan lembut


"Papa!" Angel memeluk Papanya dengan wajah yang bercucuran air mata.


"Kenapa?"


"Mama."


Papa langsung melepaskan pelukannya. "Ternyata kamu mimpi buruk. Istirahat lagi ya. Papa keluar dulu."


Angel melihat kearah Papa bingung yang pergi setelah mendengar kata Mama, Papa berjalan meninggalkan kamar Angel.


"Pa."


"Hm. Iya?" Papa menoleh kearah Angel.


"Maafin, Angel ya Pa. Gara-gara Angel, Papa jadi keinget Mama." Angel menunduk menghapus sisa air matanya.


"Gak papa, Sayang. Sekarang kamu istirahat jangan kecapean lagi." Papa tersenyum menenangkan Angel.


Papa keluar dan menutup kembali pintu kamarnya. Angel kembali terbaring dengan muka tertunduk kosong menatap kedua jari yang saling beradu.


"Mama?"


"Dimana sekarang Mama berada? Kehadiran Mama membuat aku semakin rindu." Gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Ia mengucek matanya yang terasa panas dan perih karena menangis lama, bahkan saat tertidur pun Angel masih menangis karena mimpinya.


Angel mengusap wajahnya dengan kasar agar cepat tersadar dan tidak terlalu memendam rasa sedih yang terlalu dalam.


Ia harus mengikuti nasihat Mama melalui mimpinya agar tidak mengecewakan Papa dan orang yang sudah dengan tulus mencintainya.


Makasih, Ma. Angel yakin kalau Mama selalu ada di sisi Angel.


****


"Hehhhh... kok masih bengkak sih." Rengek Angel memperhatikan seluruh wajahnya dari pantulan kaca. Kantung matanya terlihat membengkak karena menangis seharian.


Ia mengacak-acak kotak skincare-nya. Dan bernapas lega setelah mendapatkan barang yang ia cari.


"Untung masih ada dua. Lumayanlah buat kempisin bengkak."


Angel berjalan turun melewati anak tangga, dari atas tidak ada satu orangpun berada di meja makan untuk sarapan.


Ia duduk disalah satu kursi makan dan menyantap makanan, setelah tinggal satu suapan nasi Angel tidak mendapatkan kedatangan Papa sedari tadi.


"Bi, Papa dimana sih? Kok gak sarapan." Tanya Angel sambil melanjutkan menyuapkan suapan terakhirnya.


"Bapak udah pergi ke kantor, Nona. Katanya karena kemarin pulang cepet, hari ini harus datang pagi-pagi." Bi Murni menjawab pertanyaan Angel sambil meneruskan urusannya di dapur.


"Hm? Baru tau Angel. Dari dulu gak pernah kayak gitu." Angel menyambar mug keramik yang berisi teh hangat.


"Emangnya Bapak gak bilang, Nona?"


Angel menggelengkan dengan mulut yang masih meminum tehnya.


"Oh iya, terus Angel berangkat sama siapa dong. Pak Sam kan nganterin Papa." Angel menaruh mug-nya dengan kasar dan menyebabkan bunyi nyaring.


"Nona lembut sedikit dong." Bi Murni menatap Angel dengan tajam.


Angel hanya nyengir kepada Bi Murni.


"Kata Bapak pergi sama Lucas." Bibi mengambil piring kotor di depan Angel dan masuk ke dalam daput untuk mencuci piring kotor di rumah itu.


"Hah? Lucas?" Mata Angel terbelanga tak


percaya.


Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah Angel.


"Ciee, Nona. Baru juga diomongin udah dateng aja Lucasnya."


"Bibiiii!" Angel mendengus kesal.


"Yaudah deh. Angel pergi dulu ya. Dahh, Bi." Angel mengambil tas ranselnya dan berjalan keluar rumah.


"Kenapa harus minta bantuan Lucas sih. Padahal ojek online juga gak papa." Gerutu Angel sambil berjalan menuju mobil Lucas.


"Hei, Nona. Pagi-pagi wajah udah ditekuk aja." Goda Lucas yang sudah menunggu di depan mobilnya.


"Gak usah ngeselin deh. Aku pergi sama kamu juga terpaksa." Angel membuka pintu mobil Lucas tanpa izin tak peduli.


Lucas terdiam karena sudah diomelin ratu pagi-pagi begini.


Angel menurunkan kaca mobilnya.


"Lucas! Kapan perginya terlambat nanti." Angel terlihat sewot dengan wajah cemberut.


"Oke-oke sabar, Nona." Lucas tersadar dan berlari kecil menuju pintu mobil untuk mengemudikan mobilnya.


Didalam mobil Angel menekuk wajahnya cuek. Alhasil yang terdengar hanyalah suara mesin mobil sampai mereka berada di parkiran sekolah.


Setelah Lucas memarkir mobilnya di parkiran sekolah, Angel keluar lebih dulu tanpa mengucapkan terima kasih atas tumpangan itu.


Melihat Angel meninggalkannya, Lucas mempercepat keluar dari mobil dan mengunci mobilnya sambil berjalan.


Lucas mempercepat jalannya agar sejajar dengan Angel, namun Angel juga ikut mempercepat langkahnya setelah mengetahui Lucas ingin berjalan bersama.


Mereka terlihat sedang bermain kejar-kejaran dengan jalan cepat. Orang yang berada diparkiran melihat mereka berdua heran.


Tetapi kecepatan jalan Lucas tetap lebih tinggi, ia akhirnya dapat menghentikan Angel dengan menggapai tangannya.


"Apaan sih!"


"Udah selesai main-mainnya." Lucas terlihat menahan tawa setelah ia menyadari perilaku absurd mereka berdua.


"Maksudnya?" Ia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


Lucas memberi kode lirikan ke arah lain. Seketika Angel melihat ke arah yang Lucas tuju.


Dan yang ia dapatkan adalah tatapan orang-orang dari parkiran dengan senyuman tipis.


Angel menunduk malu dan Lucas hanya tertawa kecil. Namun, Angel segera menghempaskan tangan Lucas darinya.


"Kamu sih!" Angel berjalan cepat lagi menghindari Lucas.


Lucas hanya memaku di tempat. Bukan kali pertama ia di salahkan oleh Angel tanpa alasan. Ia hanya tersenyum tipis sambil memegang tali tas ranselnya dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan jalan santai di belakang Angel.