I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 5 Melapangkan Hati


Karena tidak ingin terus di jaili oleh sang Papa. Angel mengubah topik pembicaraan.


"Lihat tuh, Pa. Berkas-berkasnya masih numpuk. Mendingan Papa cepet kerjain. Terus kita pulang. Boring tau nunggu papa." Tegur Angel sambil menunjuk ke tumpukan berkas yang ada di meja kerja Papa dengan muka kusut.


Papa melihat wajah Angel yang kesal langsung tertawa dan berdiri dari sofa yang ia duduki menuju meja kerjanya. Tetapi ia sempatkan mengusap rambut anaknya agar ia tidak usah kesal lagi.


"Iya iyaa. Papa kerjain. Gitu aja kesel."


Angel hanya melirik ke arah Papa kesal. Dan membaca buku yang telah ia bawa memanfaatkan waktunya sembari menemani Papa bekerja.


******


"Itu anaknya Pak Jeffrey, ya?" Seseorang pegawai baru bertanya kepada temannya sambil melahap sepotong pizza ditangannya.


"Iya itu anaknya Pak Jeffrey. Namanya Angel. Dia sering banget bawain makanan kalo ke kantor papanya." Temannya mengiyakan pertanyaan pegawai wanita itu.


Beberapa pegawai kantor berkumpul sambil menikmati pizza yang di bawa Angel. Bisa di bilang istirahat sebentar sebelum menyesaikan pekerjaan lembur mereka.


"Oh, gitu. Cantik ya. Ramah lagi, bisa dibilang 11 12 sama Pak Jeffrey."


"Iya. Kebetulan anakku satu sekolah sama anaknya Pak Jeffrey. Aku pernah ceritain Angel sama anakku, katanya Angel di sekolah beda banget. Di sekolah dia dingin, cuek gitu."


"Ah masa sih. Jelas-jelas orangnya baik sama ramah banget tadi ko."


"Makanya itu, sebenarnya aku kurang percaya sama anakku. Tapi dianya juga gak kelihatan bohong."


"Heh kalian kalau sudah selesai makan, langsung kerja. Selesaikan laporannya. Nanti kalau saya di tanya sama Pak Jeffrey gimana." Tegur Kepala bagian yang sedang bertugas dengan muka ditekuk.


Mendengar teguran dari Kepala bagian mereka semua berhamburan menuju meja masing-masing.


Obrolan mereka akhirnya terlihat membingungkan. Antara percaya dan tidak percaya. Mereka merasa bingung perbedaan sikap Angel yang berubah di berbeda tempat.


Di lain tempat saat itu Angel sedang duduk santai sambil membaca buku di sofa ruang kantor Papa.


"Pa, kira-kira kerjaan Papa siapnya jam berapa sih?" Tanya Angel sambil menoleh kearah Papa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


Angel yang sudah terlihat bosan karena hanya duduk diam dan membaca buku.


"Mungkin setengah sepuluh. Kalau Angel mau pulang duluan juga gak papa kok."


"Enggak ah. Dirumah juga gabut. Angel mau ke atas aja deh Pa?"


"Ngapain. Udah malem loh, Njel. Gak takut apa? Mendingan di balkon aja."


"Balkon papa sempit. Mendingan di atas aja di sana luas. Dah pa. Angel pergi dulu." Angel segera meninggalkan papa tanpa meminta persetujuannya kembali.


"Eh Angel. Udah malem nak." Suara papa terdengar setengah berteriak, tetapi Angel tidak menggubris karena omongan papa tidak kalah dengan ibu-ibu rempong yang panjangnya melebihi jalan tol.


Angel keluar ruangan Papa dan melihat sekeliling meja kerja di kantor masih lumayan ramai orang. Suara papa terdengar hingga ke luar ruangnya hingga para pegawai menatapnya penasara. Angel hanya menyapa orang yang melihat kehadirannya dan segera berlalu pergi.


Antara lantai ruang kerja Papa dengan lantai teratas kantor yang berjarak tiga lantai ke atas. Jadi, Angel memutuskan untuk memakai tangga daruray dari pada memakai lift karena menurutnya lebih asyik.


Itung-itung olahraga


Akhirnya Angel sampai di lantai teratas kantor. Walaupun sedikit lelah, Angel tetap puas karena lebih menikmati keadaan di atas kantor daripada di ruang kerja Papa.


Di tepat ia berdiri terdapat bangku panjang yang di sediakan untuk tempat beristirahat para pegawai. Angel duduk di bangku panjang dan menghadap ke luar pagar pembatas.


Ia mengamati ketinggian gedung dari atas tetap sambil memegang pagar pembatas yang terbuat dari kaca bening tebal.


"Wah tinggi juga gedung papa."


Angel menikmati pemandangan kota dari ketinggian pada malam hari. Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh kejadian di sekolah yang begitu membuatnya sedikit merasa terganggu.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Angel.


"Ahhh!" Teriak Angel kaget ketika seorang pemuda menepuk bahunya dan duduk di sampingnya.


"Ya ampun ngagetin aja. Setidaknya sapa dulu kek. Tau-tau udah duduk aja."


"He-he-he. Maaf kamu Angel anaknya Pak Jeffrey kan?"


"Iya aku Angel. Om siapa?"


"Saya Fendy. Jangan panggil pake om dong. Berasa udah tua saya, padahal umur baru 22 tahun loh."


Angel tertawa mendengar candaan pemuda yang bernama Fendy tersebut. Angel bukan tipe orang yang langsung akrab dengan orang baru, tetapi Fendy dengan mudah mencairkan suasana. Dan juga karena Angel merasa sedikit kesepian ia mulai membuka sedikit ruang.


"Maaf maaf. Yaudah aku panggil Kak Fendy aja gimana."


"Nah, itu baru bagus. Pemandangan di sini bagus ya. Banyak bintang"


"Iyaa, Kak Fendy kok kesini juga?" Angel melihat ke atas langit yang ditaburi oleh banyaknya bintang.


"Sebenarnya saya lagi buat kopi di dapur kantor. Karena dapur kantor deket sama tangga, saya denger orang lagi naik pake tangga. Saya periksa deh, eh ternyata kamu yang pake tangga. Kirain saya hantu yang ganggu saya tadi.?"


"Hahaha. Hantu? Ya ampun." Angel tertawa mendengar pernyataan dari Kak Fendy.


"Ya habisan kamu malem-malem pake tangga, emangnya lift rusak?"


"Enggak sih, Kak. Cuma pengen banyak jalan aja. Bosen soalnya."


"Oh gitu. Kamu tadi keliatannya lagi ngelamun ada masalah."


"Eng..enggak kok." Angel terlihat gugup dan mengalihkan pandangannya ke langit lagi, padahal sebelumnya ia masih menatap kearah Kak Fendy.


"Ah kamu bohong. Saya tau loh kamu punya masa yang mengganggu batinmu. Saya ini pernah belajar psikologi, jadi jangan bohong sama saya."


"Enggak, Kak. Kakak cuma asal tebak aja."


"Jangan bohong. Saya tau. Emang gak capek di pendem gitu terus."


Angel menundukkan kepala melihat tangan yang ia genggam dari tadi.


"Eh Angel. Maaf. Saya gak bermaksud maksa kamu cerita. Maaf ya." Katanya merasa tidak enak.


Angel yang tadinya menunduk mengangkat kembali kepalanya dan tersenyum ke arah Fendy agar tidak perlu terlalu khawatir pada dirinya.


Ia menarik napas dan akhirnya memaparkan semua yang telah mengganggu pikiran serta batinnya kepada Kak Fendy.


Kak Fendy mendengarkan dengan saksama pemaparan dari Angel tentang dirinya. Mendengar semua yang telah dikatakan oleh Angel. Kak Fendy memberikan pendapatnya tentang Angel utuk sekedar saran.


"Kamu itu terlalu memikirkan semua yang telah terjadi. Seharusnya kamu mengiklaskan semua yang terjadi, toh kamu gak bisa menghindari semua kejadian yang telah terjadi."


Angel masih terdiam dan ingin terus mendengarkan semua nasihat dari Kak Fendy.


"Dan ini mungkin takdirnya. Menjadi diri kamu yang sekarang mungkin menghindari kejadian yang telah kamu alami tidak terulang kembali. Jangan terlalu menyalakan diri sendiri dan hindari sipat yang menjadi kamu seseorang dalam mimpi buruk yang telah kamu alami saat ini. Menurut saya kamu boleh jadi cuek, dingin agar terkesan jahat untuk melindungi kamu sendiri. Asalkan tidak berlebihan."


Angel berterima kasih atas nasihat dari Kak Fendy. Kak Fendy tersenyum dan menyemangati Angel agar tidak terpaku pada masalah yang telah ia alami.


Terdengar suara ponsel dari Kak Fendy berdering. Segera Kak Fendy mengangkatnya. Ia terlihat terburu-buru dan berpamitan kepada Angel.


Angel hanya mengiyakan dan melihat Kak Fendy berlalu pergi.


Angel tersenyum senang dengan kehadiran Kak Fendy yang perlahan-lahan membawanya kepada titik terang.