I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 1 Ada Sebab, Ada Akibat


~Sikap seseorang memang susah untuk diprediksi di kemudian harinya. Dan perubahan itu pasti mempunyai ada latar belakangnya~


Good Bye, Orang lugu dan polos.


Welcome, Jelmaan iblis.


Angel Tarafani adalah anak tanpa ibu yang tinggal dengan ayahnya. Ia adalah anak tunggal yang menjalani hari-harinya tanpa sentuhan hangat sang ibu. Meskipun terasa menyakitkan, tetapi ia tetap merindukan kehadiran ibu. Dan tetap menyayangi ayahnya yang telah lama berjuang untuk menghidupi dirinya.


Kehidupan awalnya sangatlah sederhana. Tidak ada yang mengusiknya jiwa dan mentalnya Tetapi saat ia masuk ke sekolah bergengsi di kota, dirinya menjadi sasaran bully anak-anak berada dengan gaya hidup mewah. Tahun demi tahun, Angel hanya berusaha mengabaikan dan diam. Ia tidak ingin menyusahkan ayahnya.


Roda memang berputar. Setelah delapan tahun ia tidak mempunyai teman dan selalu di rendahkan akhirnya keluarganya menjadi salah satu orang terpandang karena kerja keras ayahnya itu.


Dengan cepat Angel mendapatkan banyak teman di sekolahnya itu. Di dalam hatinya terkubur kenangan itu tetapi tidak ada sama sekali dendam yang tumbuh di sana. Jadi, tidak ada negatif thinking yang melintas satupun di dalam otaknya.


Angel berpikir ingin sekali mempunyai banyak teman untuk mengobati kesepiannya selama delapan tahun ini. Angel menjadi orang yang sangat loyal terhadap teman-temannya, yang tidak lain hanya orang yang buta harta dengan motif membodohi orang baru kaya.


Angel tidak pernah berburuk sangka kepada teman-temannya bahkan sahabat baru saja ia akui. Mungkin ia terlalu terlena sehingga lupa diri dengan mulut-mulut manis sang penjilat.


Kesenangannya itu tidak bertahan lama. Setelah tiga tahun kejayaan ayahnya, ia kembali ke titik awal. Menjadi seseorang yang sederhana kembali. Kejadian buruk menimpa ayahnya sehingga harus membabat habis seluruh harta benda yang telah mereka miliki.


Saat itu Angel kelas 10 SMA. Ia masih percaya kepada teman-temannya yang sudah menemani sekitar tiga tahun terakhir, waktu yang cukup lama sebagai teman.


Setelah berita kekayaan Angel tersebar luas membuat orang disekitarnya perlahan menjauh. Kepercayaan dirinya mulai terkikis, tetapi tetap saja ia masih percaya dengan teman-temannya.


"Fika! Ehh... Aku pinjem buku kimia dong. Hari ini aku lupa bawa." Ujar Angel tanpa ragu sambil menepuk pundak Fika.


Fika adalah salah satu temannya yang di kelas. Fika menoleh dan melihat ke arah Angel jijik kemudian tidak memperhatikannya. Angel tidak curiga sama sekali ia berpikir Fika lagi gak mood.


Ia meminjam buku kimia ke temannya yang lain. Ia beralih ke Bian si ketua kelas. Bian terkenal suka memerintah dan angkuh, tetapi sebelumnya ia sangat baik dengan Angel. Angel berdiri disamping mejanya untuk meminjam buku dengan nada bicara yang santai.


Tidak disangka Bian mendorong tubuh Angel brutal hingga ia terjatuh ke lantai yang sempat menabrak beberapa meja di dekatnya.


"Gak tau malu ya. Sok akrab. Siapa juga yang mau bergaul sama anak baru miskin." Cemooh Bian sambil menolakkan kepala Angel dengan jari tangan.


Angel tidak bisa berbicara apa-apa. Badan terasa nyeri karena terbentur oleh kerasnya meja-meja tadi. Semua orang menyoraki riuh Angel.


Perasaan sakit di dadanya tiba-tiba muncul seakan membangunkan kenangan lama k edalam dirinya.


Memang bullying di SMA lebih sakit dibandingkan SD dan SMP.


Angel berdiri dengan susah payah dari lantai. Matanya berkilau menahan sakit akibat dorongan yang begitu kuat tadi. Ia kembali ke tempat duduknya. Ingin rasanya menangis karena rasa sakit tubuh dan hatinya, tetapi ia berusaha menahan agar tidak ada satu butir air mata jatuh. Ia berpikir sehina itukan status dirinya hingga orang berlaku semena-mena terhadapnya. Ia berpikir mungkin hanya Tiffany yang menjadi sandaranya kini.


Tiffany sudah dianggap seorang sahabat oleh Angel sejak kelas 8 SMP. Hanya sejak saat setelah Angel baru menjadi orang yang terpandang. Angel dan Tiffany berbeda kelas sejak SMA.


Saat keluar main Angel berjalan sendiri menuju ke kelas Tiffany.


"Tiffany aku kangen kamu." Kata Angel kegirangan dengan menghampiri Tiffany sambil merangkul tangannya.


Tiffany melihat Angel risih. Dan segera melepaskan tangan Angel dari tangannya.


"Apa-apaan sih. Sana pergi ngapain disini bikin malu aja." Hardik Tiffany seakan ingin mempermalukan Angel.


"Kita kan sahabat, Fan. Kok kamu berubah sih." Tanya Angel dengan polosnya melihat watak Tiffany saat itu.


"Heh! Masih dungu aja sih lo. Makanya punya otak tuh dipake. Sini biar gue kasih tau sama lo." Caci makian Tiffany benar-benar mengarah kepadanya. Angel masih tidak percaya.


"Bawa dia." Perintah Tiffany kepada teman-temannya untuk menyeret Angel.


"Aww sakit. Lepasin. Mau kemana kita?" Rintih Angel yang merasa sakit pada kedua lengan tangannya.


"Berisik banget sih, lo. Diem!" Bentak teman Tiffany yang menyeret dirinya.


Angel diseret oleh teman-teman Tiffany di WC sekolah. Saat itu juga Angel di siram se-gayung air bekas pel dan alhasil membuatnya basah dengan baju yang tadinya putih menjadi berwarna kelabu kotor . Angel masih diam seribu bahasa.


"Ini akibatnya bikin malu Tiffany. Gak mungkin juga lo jadi temen Tiffany apalagi sahabat karena status lo tuh jauh beda. Ngaca dulu makannya." Kata teman Tiffany lagi.


Mereka tertawa puas melihat Angel begitu sengsara saat itu. Mereka meninggalkan Angel sendiri dengan baju yang basah dan kotor.


"Silakan menikmati hari yang buruk! Hahahahaaa." Suara tawa yang menggema itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk di sekujur tubuhnya.


Tidak sadar air mata Angel jatuh begitu saja. Dadanya begitu sesak menahan amarah, dendam dan sedih. Lututnya basah karena air mata, duduk memeluk lutut dan hanya dirinya sendiri untuk diandalkan. Setelah perasaan sedikit membaik segera ia beranjak dari WC untuk menuju kelas sendiri.


Dan saat ia menuju kelas, tidak sengaja ia berpapasan langsung dengan Chan. Chan adalah kekasih Angel beberapa bulan yang lalu. Chan melihat ke arahnya sekilas dan melewatkan begitu saja.


Walaupun Chan tidak menindasnya seperti yang lain, tetapi hati Angel tetap hancur. Kata-kata manis itu hanya membuatnya terlena hingga buta dengan kebusukan itu di belakang.


Angel terus berjalan dengan senyuman getir di bibirnya. Tidak ada gunanya berharap ada orang yang peduli padanya. Semakin remuk hatinya dihianati begitu mudah. Kepalsuan mereka benar-benar membuatnya semakin tidak terima.


Angel tepat berada di depan pintu kelas yang tertutup, ia terdiam sebentar dan mengusap matanya yang masih sedikit basah. Ia masuk tanpa curiga dengan membuka pintu pelan.


Buk!


Tong sampah yang berisi kertas tepat mengenai kepalanya.


Saat ia kembali teman-teman sekelasnya menyiapkan sesuatu untuknya. Ternyata penyiksaan bagi Angel belum berakhir. Saat masuk ke kelas jebakan itu menyapanya dan dilanjutkan dengan lemparan gumpalan kertas menyerbunya. Itu memang sudah tradisi kelas sejak lama.


Ia hanya pasrah pada diri sendiri. Kemudian Bian menarik rambut Angel yang sempat mematung di samping pintu dan mendorong tepat di depan kelas. Dinding sudah menopang tubuhnya yang lemas sambil diam menunduk.


"Ini nih orang yang bikin malu dan gak tau malu. Jijik lihat dia sekarang. Udah jadi bahan bully sama Tiffany sampai bajunya kotor. Dasar kumuh." Ejek Bian sambil mempermainkan rambut Angel. Dan melanjutkan lemparan kertas dari semua orang di kelas.