I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 2 Muka Tebal


~Tempat penitipan barang merusakan barang dengan sengaja, tidak mungkin akan dipercaya lagi oleh orang. Sama dengan kepercayaan yang sudah disia-siakan tidak akan mungkin kembali dengan mudah~


Diamnya ternyata hanya dipermainkan, serta kesabarannya pun terus diremehkan.


Angel benar-benar emosi. Ubun-ubunnya sangat panas. Dadanya terasa ingin meledak. Ia sangat marah karena masih harus direndahkan kembali dan lebih parahnya dipermainkan dihadapan semua orang di kelas. Ia menatap wajah Bian dengan amarah.


"Apa lihat-lihat. Nantangin." Kata Bian marah dan menarik lagi rambut Angel.


Tiba-tiba Angel tertawa ngeri. Sehingga orang-orang di kelas melihatnya pelik. Seketika raut muka Angel berubah dan menjambak balik rambut Bian dengan kasar hingga kepalanya terbentur lumayan keras dilantai.


"Awwwww sakit." Teriak Bian kesakitan dengan mata yang mulai berlinang air mata.


"Sakit, ya? Menurut aku kurang. Aku tambahin lagi gimana?" Bisiknya sambil tersenyum seakan meminta persetujuan.


Bian melihat Angel takut dengan mata yang masih meneteskan air mata dengan terisak.


Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Bian tetapi justru hanya isakan tangis yang membuatnya muak, Angel memukul lantai tepat disamping kepalanya. Amarah Angel meledak-ledak.


"Ternyata cuma debu, sok kuat kamu Bian. Dan kalian semua! Yang berpikir aku lemah sama lugu. Jangan pernah harap itu lagi. Karena kalian semua yang mau buat aku jahat." Angel tadinya fokus dengan Bian beralih ke seluruh orang yang ada di kelas dengan keras.


"Jangan pernah kalian ganggu aku lagi." Tegas Angel dengan suara meninggi sambil menatap tajam mereka.


Angel meninggalkan Bian dan kembali ke mejanya dengan tangan terkepal. Orang-orang menatapnya merasa sedikit gentar dan tidak menggangu dan mengusik Angel lagi.


Kalian yang ingin mengubahku kan? Maka ini yang aku lakukan, jangan salahkan aku jika nanti aku berperilaku kasar melebihi batasku.


Kalian semua palsu. Jangan harap aku akan percaya lagi dengan kebusukan kalian semua.


AKU GAK PERCAYA SIAPAPUN LAGI


*****


Angel hanya duduk terdiam dan tidak berbicara hal yang tidak penting di kelas selama sebulan ini. Tetapi pelajaran dikelas selalu diperhatikan dengan fokus. Mungkin ini adalah jalan Tuhan agar ia lebih fokus untuk masa depan.


Semenjak kejadian itu, tidak ada yang berani mengganggu Angel. Inilah amarah dari seseorang yang berusaha baik tetapi dihianati oleh orang-orang yang ia percaya.


Bian sampai hari masih mendendam kepada Angel karena beberapa hari yang lalu ia benar-benar dipermalukan di kelasnya sendiri. Di dalam hati Bian ia akan membalaskan dendamnya hingga membuat Angel merasa sangat terpuruk, namun saat ini ia tidak berusaha mengambil langkah selanjutnya.


Angel tidak merasa terlalu peduli dengan hal yang sudah berlalu mungkin ini sudah takdirnya. Tiaak ada yang bisa mengubah keputusan Tuhan dan inilah yang terbaik untuknya segetir apapun takdir yang harus dijalani.


Angel benar-benar menjadi orang yang dingin, transformasinya berubah 180 derajat. Beberapa orang mulai mendekatinya karena adanya sedikit simpati. Dan Angel bukan lagi orang yang dengan mudahnya menerima teman, ia benar-benar tidak percaya lagi dengan orang di sekitarnya. Mereka yang mendekatinya pasti selalu mendapatkan perilaku yang sama dari Angel, yaitu tidak dipedulikan sama sekali.


"Gak usah sok jual mahal lah? Kita mau temenan tapi malah ditolak mentah-mentah. Bikin sakit hati." Sindir salah satu teman sekelas Angel.


Karena malas mencari masalah apalagi akhir-akhir ini emosinya susah dikendalikan ia memilih diam tidak peduli.


"Woy Angel. Budek ya!" Bentaknya lagi.


"Kok ngelunjak sih!"


Mendengar bentakannya membuat Angel kaget sekaligus emosinya tersulut. Angel memukul meja hingga terdengar nyaring kelas yang masih sedikit ramai melihat kearahnya.


"Siapa yang minta simpati kalian?


Aku gak minta dan gak butuh sama sekali!" Balas Angel dengan suara meninggi dan marah.


"Aku rindu Angel yang lama. Ternyata menjadi seperti ini juga terasa menyiksa." Gumamnya lirih kepada diri sendiri.


Ia pernah berpikir untuk menjadi dirinya sendiri lagi, tetapi ketika ia berpikir lagi untuk kedua kalinya kalau ia menjadi Angel yang lalu mungkin kehidupannya selalu dipermainkan terus menerus. Ia menguatkan diri sendiri pasti ada waktunya nanti ia tidak perlu lagi tersiksa seperti.


Dan benar saja, Tuhan mendengarkannya. Dalam waktu enam bulan Angel dan ayahnya kembali lagi menjadi orang yang serba berkecukupan. Tetapi itu adalah kehidupan kesehariannya, masih ada kehidupan sekolahnya yang pasti menjadi gempar dan membuat kepalanya pusing untuk sementara waktu.


Tapi It's Okay.


No Problem.


Ia akan urus itu apapun yang mereka rencanakan.


Seperti dugaanya pagi-pagi saat ia sarapan dengan ayahnya. Bibi Murni mengatakan bahwa ada dua orang wanita menunggunya di luar gerbang dengan mobil.


"Temanmu ya, Nak? Kalau begitu cepat habiskan sarapannya. Kasian mereka menunggu lama." Kata Papa.


"Papa ternyata jahat, ya. Gak perhatian sama Angel lagi." Balas Angel dengan muka cemberut.


"Loh kok jahat sih. Bukannya dulu sering ya." Jelas papa tak mengerti.


"Paaa, Angel kan belum 17 tahun. Gak boleh pake kendaraan. Apalagi di setir sama anak yang suka ugal-ugalan. Nanti kalau Angel kecelakaan gimana dong." Papar Angel polos.


"Oh iya betul juga. Papa gak mau anak kesayangan papa kenapa-napa. Bi, tolong bilangin temennya Angel di depan, ya. Angel pergi dianter sama supir sendiri, dilarang sama papanya." Ujar Papa yang beralih kepada Bi Murni.


Bi Murni hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi. Angel terlihat tersenyum walaupun belum terlalu puas.


Kita ikuti permainan kalian.


Angel pergi ke sekolah dengan mobil di antar oleh supir pribadi. Orang-orang yang melihat Angel turun dari mobil menatapnya tidak percaya.


"Cepet banget kayanya. Padahal baru beberapa bulan yang lalu." Bisik mereka penyebar gosip.


Ah bodo amat! Ia berjalan menuju ke kelasnya seakan tidak terjadi apa-apa. Tetapi tiba-tiba ada tangan yang menariknya. Ternyata itu Chan.


"Apaan sih. Lepasin gak." Ronta Angel yang berusaha melepaskan genggaman tangan Chan dari dirinya.


"Njel, kita belum putus kan. Kamu belum bilang apa-apa selama ini." Kata Chan dengan lembut.


"Cih, bodoh. Hubungan udah enam bulan tanpa kejelasan itu berarti udah berakhir." Jelas Angel sambil memalingkan wajahnya.


"Tapi aku gak mau kita putus." Tegas Chan memelas.


"Bodo, Chan. Aku juga gak perlu persetujuan kamu!"


Angel segera pergi ke kelasnya. Karena melihat Chan sudah membuat paginya hancur. Muak melihat kepalsuan.


Dan harinya kembali dirusak oleh orang-orang yang bermuka tebal. Di kelas Angel harus menghadapi orang-orang menjijikkan yang tidak tau malu.


Semua orang berusaha mencari perhatian ke Angel. Ingin rasanya ia mencakar muka mereka agar pergi dari hadapannya.


Tetapi Angel berusaha mengendalikan emosinya yang sudah mulai mendidih. Akhirnya Angel harus mengikuti alur yang telah mereka buat.