I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 4 OMG


Tidak terasa mobil telah memasuki gerbang rumah. Setelah mobil berhenti ia turun dan menyapa pegawai yang ia temui di teras rumah.


Angel langsung masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah tidak ada Bi Murni jadi Angel langsung masuk ke kamarnya dan mandi.


Tok Tok Tok...


Terdengar suara pintu Angel di ketuk.


"Nona, gak makan?"


Suara Bi Murni dari balik pintu. Mendengar suara Bi Murni Angel langsung menjawab pertanyaan Bi Murni tadi. Dan membukakan pintu kamarnya untuk melihat langsung.


"Belum, Bi. Nih Angel mau ke bawah."


"Bibi keluar bentar ya. Makanan udah bibi masak. Kalau udah dingin angetin sendiri bisa kan."


"Iya, Bi. Angel bisa."


Angel dan Bi Murni berjalan bersama ke bawah bersama-sama. Tetapi akhirnya berpisah karena tujuan yang berbeda. Bi Murni pergi keluar rumah, sedangkan Angel ke ruang makan.


Setelah selesai makan dan menaruh piring kotor ke mesin pencuci piring, Angel memutuskan kembali ke kamar untuk belajar mandiri.


Belum saja ia melangkah meninggalkan dapur terdengar suara panggilan telepon dapur, biasanya Bi Murni yang mengangkatnya. Karena Bi Murni belum pulang, Angel yang mengangkatnya panggilan itu.


"Hallo?"


"Hallo. Angel ini papa."


"Oh papa ada apa, pa?"


"Papa cuma mau kabarin kalau nanti Papa pulang malem. Jadi, makan malam gak usah tungguin papa."


"Lembur lagi? Angel makan malam di tempat papa boleh gak?"


"Terserah kamu. Papa sih seneng-seneng aja."


"Yaudah deh nanti Angel ke kantor papa. Kita makan malem sama-sama."


"Iya papa tunggu ya. Udah dulu ya, Nak. Papa masih banyak kerjaannya."


"Oke Pa. Byee."


"Byeee."


Tut...tut...tut....


Telepon terputus. Angel langsung saja menuju ke kamarnya memikirkan rencananya dengan papa nanti malam.


Angel sudah terlalu melekat dengan papanya, karena sudah sedari kecil diurus dengan Bi Murni sekaligus papa. Dan tidak dapat dipungkiri rasa sayangnya kepada papa tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.


Saat jam setengah tujuh, Angel keluar kamar dengan pakaian rapi dengan tas selempang di badannya.


"Bi, Angel pergi ke kantor Papa ya. Tadi udah janji mau makan bareng di kantor." Angel menghampiri Bi Murni yang sibuk memasak.


"Loh tapi Bibi belum selesai masak loh, Nona. Kenapa gak bilang dari tadi coba." Bibi yang mendengarkan perkataan Angel langsung menghentikan sebentar pekerjaannya dan sedikit mengomel.


Angel hanya meringis salah tingkah


"Maaf, Bi. Angel tadi lupa. Kalau gitu Angel kab bisa pesan makanan nanti. Bibi makan aja sama yang lain."


"Oh yaudah. Terserah Nona. Hati-hati di jalan ya." Bibi tersenyum mengingatkan.


"Iya Bi. Angel pergi dulu. Dah dahhh." Angel berjalan keluar dapur sambil melambaikan tangan pada Bi Murni dan menghampiri Pak Sam untuk mengantarnya menuju kantor Papa.


Didalam mobil Angel merasa excited makan malam bersama papa yang terasa begitu hangat seperti makan malam sebelumnya dikantor.


Sebelumnya saat di perjalanan Angel memesan dua kotak makanan lengkap dan lima kotak pizza untuk pegawai Papa yang juga lembur.


Sebenarnya ia merasa enggan membelikan pizza untuk pegawai papa, membuatnya sedikit repot. Namun karena dulu ia tidak pernah absen membawakan makanan setiap berkunjung ke kantor papa, jika ia tidak melakukan kebiasaannya itu bisa jadi pegawai papa dengan cepat mencurigai perubahan sikapnya. Dan ia tidak ingin siapapun tau, apalagi papa. Cukup orang di sekolah saja.


Karena barang bawaannya yang begitu banyak hingga kedua tangannya penuh, Angel berharap sekretaris papa membantunya.


Segera ia menyapanya.


"Halo Tante Risty." Angel menunjukkan senyum terbaiknya dengan tatapan sendu.


"Halo Angel. Cari Pak Jeffrey ya. Bapak ada di ruangannya kok." Tante Risty memandangi Angel sekilas dan kemudian kembali fokus pada ponselnya.


"Iya Tante. Ini ada pizza untuk yang ada di kantor." Lanjut Angel terus terang.


"Aduh maaf ya, sayang. Tante lagi ada perlu. Kamu naik aja kasih mereka langsung. Rata-rata yang lembur ada di atas deket ruangan Pak Jeffrey kok." Tante Risty mengusap pucuk kepala Angel sambil meminta maaf.


"Oh gitu. Yaudah Angel ke atas ya. Bye Tante."


Tante Risty hanya tersenyum. Dan Angel meninggalkan Tante Risty untuk menuju lift.


"Dasar gak peka. Sok deket lagi." Gumannya pelan dan seakan ingin memukul Tante itu dari belakang.


Baru kali ini Angel merasa tidak senang dengan Tante Risty karena semakin lama penampilannya di kantor seakan sedang fashion show. Tante Risty memang cantik, tetapi ia merasa kantor papanya seperti punyanya sendiri.


Entahlah apa motifnya dibelakang, pikir Angel.


Tante Risty tiba-tiba berputar ke arahnya dan dengan cepat Angel merapikan posturnya.


"Oh iya, Njel. Kasih tau pak Jeff kalau tante bakalan pulang langsung soalnya ada dua klien harus tante urus malem ini."


"Iya tante. Tenang aja. Angel pergi dulu dah."


Angel masuk ke lift yang sudah terbuka dengan langkah cepat.


"Huuuhh.. untung aku cepet responsnya. Dia tau gak ya? Ah kalau tau juga bagus. Biar sadar diri." Ia mengelus dada lega dan lanjut berbicara pada diri sendiri di lift.


"Eh tunggu dia panggil Pak Jeff? Lancang banget. Padahal pegawai lain aja gak berani. Mentang-mentang sekretaris jadi genit gitu. Hih." Gerutunya panjang sampai lift sudah sampai di lantai tempat ruangan papa berada.


Rasanya omelannya itu belum cukup menggambarkan sekretaris papa itu. Tetapi, ia harus mengomel secara terang-terangan karena ada banyak pegawai papa


Ternyata Tante Risty itu ada benarnya. Ada banyak orang yang lembur di dekat ruangan Papa.


Angel segera menyapa orang-orang Papa dan memberikan semua pizza yang telah ia bawa tadi untuk mereka makan bersama-sama.


Tanpa banyak bicara setelah memberikan pizza, Angel segera masuk ke ruangan Papa. Terlihat di balik jendela antar ruangan pribadi dengan ruangan pegawai, papa masih sibuk dengan komputer yang ada di depannya dengan kacamata yang menggantung di hidung mancungnya.


Angel segera berjalan menuju ruangan papa tanpa mengetuk. Mendengar pintu di buka Papa langsung refleks menoleh ke arah pintu. Melihat kedatangan putri manisnya sambil memamerkan dua kotak makanan di tangannya papa otomatis tersenyum.


Angel pun juga tersenyum lebar tidak luput dengan makanan yang ia bawa. Ia menaruh kotak makanan itu di meja yang ada di ruang Papa dan duduk di sofa tanpa berkata-kata.


Papa mengerti apa yang ada di pikiran Angel dan segera bergabung dengan anaknya untuk makan malam bersama setelah lelah dengan pekerjaannya yang tidak kunjung selesai.


Mereka makan tanpa berbicara. Karena memang begitulah cara makan mereka sebelumnya. Selesai makan baru Papa membuka pembicaraan.


"Besok mungkin Papa libur deh, njel." Ujar papa sambil bersandar di bantalan sofa.


"Oh ya? Emang ada apa?" Tanyanya sambil membereskan bekas makanan tadi.


"Temen deket Papa mau dateng ke rumah kita, biasalah bisnis."


Angel hanya mengangguk mengerti dengan mulut berbentuk 'o' tanpa suara.


"Kamu besok juga sambut temen papa ya. Yang sopan inget. Temen papa dari jauh loh."


"Iya papaaa. Angel inget. Kalau perlu Angel dandan yang cantik nyambut temen papa itu." Angel tersenyum meringis dan tertawa.


"Harus dong. Soalnya anaknya temen Papa juga ikut dateng. Tenang aja dianya ganteng kok. Siapa tau nanti bisa jadi calon mantu." Bisik Papa menggoda Angel sambil tertawa.


Angel memutar kedua bola matanya kesal, melihat tingkah laku Papa yang sengaja menggodanya.


"Mantu? Ah elah sekolah aja belum lulus." Katanya dalam hati.