
"Bagus sekali, ya, kelakuanmu hari ini."
"Ne? Tukang minggat?"
Sejak ucapan itu terlempar keluar dari bibirnya, suasana ruangan tamu ini berubah drastis.
Apa yang kau temukan sebelumnya, sekarang berani ku pastikan sudah lenyap tak bersisa. Tak ada ketenangan, tak ada lagi pergumulan antar ibu dan anak yang membuat haru. Semua berubah kelam.
Aku sedang terpojok di tepi ruang tamu. Duduk tak berdaya setelah tubuhku dijolak oleh ayahku dengan begitu kasarnya.
Sementara ayah berdiri tepat di hadapanku. Ia berdiri tak begitu dekat, namun entah bagaimana jalannya sehingga aku hampir tak dapat memandangi apapun kecuali kedua kakinya.
Dengan situasi seperti ini, aku tak yakin bisa kabur dari amukkan nya begitu saja. Jadi ... menunggu adalah satu-satunya yang kubisa.
Apa yang akan kuterima setelah ini ...?
Ah, soal pecahan kaca itu? Yah, itu juga hasil perbuatan ayahku. Barusan ia sengaja menjatuhkan gelas yang ada di meja. Nampaknya sebagai gertakan.
Aku yakin, sikapku menanggapi situasi ini bagimu mungkin seperti mengimplikasikan rendahnya rasa kemanusiaan dalam diriku.
Ini sudah menjadi makananku sehari-hari. Jadi, terimakasih.
*PLAKKKKKK
"HISOKA! KAU INI ANAK MACAM APA, HAH?!"
"SETIAP HARI KERJAMU HANYA MEMBOLOS DAN MELAWAN! DASAR TIDAK TAHU MALU ...!"
Kerutan di dahi yang begitu kusut memperlihatkan betapa ekstremnya murkanya ayah. Bibirnya sampai bergetar walau tak sedang mengucapkan apa-apa. Tak sedetikpun kala itu kemarahannya surut, bahkan satu tetespun.
"Ayolah ... apa kau mau terus-terusan jadi samsak ayahmu sendiri, Hisoka!?" lanjutnya lantang sambil berkacak pinggang.
Pria yang kupanggil ayah ini sudah sering menamparku sejak lama. Bahkan sudah ia lakukan semenjak aku SD, dengan alasan mendidik. Namun begitu, ayah tak pernah menamparku sekuat ini sebelumnya. Sungguh, kali ini terasa begitu menyakitkan. Sangat.
Ia kemudian meraih lenganku, menyeret paksa diriku dan menjolakku ke arah kursi tak jauh dari pintu depan. Ayah begitu murka setelah mengetahui tentang aksi bolosku hari ini. Terulang, lagi dan lagi.
Seperti dugaanku, aku pasti akan dihabisi.
Semestara ibuku, dia melihat semuanya. Apa yang dilakukan ayah padaku, ia menyaksikannya.
Melihat badanku yang terhempas menuju sofa, dengan mata berderai, ibu sontak berteriak histeris pada ayah. "Hentikan ...! Anata ...! ONEGAI ...!!!" Lengan ayah turut ibu raih dan tarik agar tak sampai melecetkan aku lebih parah lagi.
"Ahhh ...? Minggir!"
"Kau ini diam saja! Selama ini, dia selalu bersikap kurang ajar begini juga karena kau yang sudah begitu memanjakannya sejak kecil." Ayah melepas genggaman hingga sedikit tercampak tangan ibuku. Matanya melotot ke arah ibu.
Dimanja katanya?
Ibu tak menyerah. Lagi dan lagi, dengan tubuhnya yang sudah tak seindah sewaktu aku kecil, coba menghambat ayah yang terlihat ingin kembali memukulku. "Sayang, hentikan ini! Aku mohon padamu. Kalau kau sering-sering memukulnya seperti itu, ia takkan bisa berubah."
Ayah kembali menolak untuk mereda, namun ibu tetap senantiasa menghalang-halangi ayah. Sementara aku, mustahil bagiku untuk kabur. Nafas kedua orang tuaku kembang kempis menyerempet kulit wajahku sedari tadi. Ya, seperti itu lah dekatnya jarak antar kami sekarang. Kursi di mana aku duduk bahkan bergeser pelan-pelan mendempet tembok sebab grasakan yang mereka lakukan di depanku.
"KAU ...! BERHENTI MENGHALANGIKU!"
"Kurang ajar kau!"
"KAPAN KAU BISA SADAR, KALAU YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ANAK INI TAKKAN MENGUBAH APA-APA!"
"KAU LAH YANG SEMAKIN MEMBUAT ANAK INI SEMAKIN KURANG AJAR."
"ITU SEMUA HASIL BUAH TANGANMU, SAIGUCHI!"
*BUKKKKKKK
Perkataan ibuku saat itu tak dapat menenangkan amarah ayah sama sekali. Bahkan ayah kemudian menjolak badan ibu hingga terpental membentur dinding. Suara benturannya, begitu jelas terdengar olehku.
"TUTUP MULUTMU!"
Ayah menganggap ibuku hanyalah penghalang baginya. Itu sungguh membuatku merasa jengkel. Seakan keegoisan ayah tak kunjung henti menerpa diriku dan ibu.
Sambil memegangi ubun-ubunnya yang sempat terbentur, ibuku merintih kesakitan. "AHHHH....S-SAKIT...."
Seakan belum puas mendengar rintihan ibuku, ia lalu menghampiri ibu yang sedang terduduk tersebut. Ayah lanjut berucap dengan tatapannya yang terlihat begitu diktatoris. Menyeramkan.
"Hah ... Hah ... Hah ...."
"Selama ini ... aku berusaha mendidik si tengik ini agar dia tidak menjadi anak pembangkang! Dan kau, selalu saja, selalu saja mengalang-halangi!"
*PLAKKKKK
Tanpa pikir panjang, ayah menampar pipi ibu sama seperti ia menamparku sebelumnya. Aku bisa merasakan persis, betapa kuatnya ayunan telapak tangannya itu mengenai pipi lembut ibuku. Bahkan tamparan itu sampai membuat ibu langsung menitikan air matanya.
"OI ...! HENTIKAN ...! IBUKU TAK ADA URUSANNYA DENGAN INI!" Aku spontan menghampiri mereka setelah bangkit berdiri dan memandang tepat ke wajah ayah.
"KENAPA ...? KAU BILANG DIA INI TIDAK ADA KAITANNYA? DENGAR, YA, GADIS TAK TAU DIRI, DIA INI ..., IBUMU INI ..., DIA SUDAH TERLALU MEMANJAKANMU, BENGAK!" tutur Ayah dengan wajah yang benar-benar menakutkan.
Ayah kemudian menggenggam rambut ibuku dan menarik-nariknya tanpa rasa ampun. "MAKANYA, HASIL DIDIKANNYA ADALAH ANAK SEPERTI KAU SEKARANG INI. ANAK PEMBANGKANG, KURANG AJAR, DAN TAK TAHU DIRI. TAHU KENAPA? KARENA KAU MEMANG HASIL DIDIKAN INI ...ORANG INI ...."
"HENTIKAN ...!"
*BUKKKKK
Satu gebukan kembali melayang.
Dengan diiringi isak tangis kesakitan, ibuku berbisik sungut-sungut, "Hks ... to..tolong ... hentikan ... sakit ...."
"Ayah, h..hen..hentikan itu," balasku dengan tatapan kosong.
"Haha, sekarang apa? Merasa kasihan?" ledek ayah, sama sekali tak terlihat sedikitpun penyesalan.
Walau ibu sudah memohon pada ayah untuk melepas rambutnya, itu semua percuma. Tak didengarkan.
Hingga rambut itu kembali dijambak, "AH ...! HAHHHH ...! HENTIKAN ...! SAKIT ... S..AHHHHHAHAHHH ...."
"Ayah, lihat wajah ibu. Hks ... lihat ... dia kesakitan, Ayah," lanjutku gemetaran. Skenario terburuk, yakni hilangnya nyawa di sore itu, sudah terbayang jelas olehku.
Ayah ....
Tidak,
Keluarga ini ...,
Aku melihat semuanya. Semua terjadi di depan mataku sendiri.
Aku bisa melihat, mendengar serta merasakan semuanya.
Kekerasan yang terjadi di antara kami, kemarahan yang menguasai jiwa kami, dan juga ... tatapan serta pemikiran mereka ketika melihat kelakuanku.
Aku,
Aku ....
Aku tidak mengerti.
Apa selama ini aku masih belum berubah?
Apa aku sendirilah yang menciptakan semua siksaan kehidupan ini?
Bahkan termasuk penderitaan yang harus ibuku tanggung akibat ulahku?
Apa ini murni karena perbuatanku?
Yah, kalau dipikir-pikir, ini memang salahku.
Sejak dulu aku memang bukanlah anak yang penurut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
^^^"Hisoka! Coba lihat ayah, lihat bagaimana ayah memakai set seragam militer ayah ini!"^^^
^^^"Bukan soal itu, Hisoka. Begini, coba tebak! Tebak bagaimana perasaan ayah saat memakai seragam ini?"^^^
"Mana aku tau bagaimana rasanya. Itukan perasaan ayah."
^^^"Yah, asal kau tahu saja, perasaan ayah saat memakai seragam ini adalah ... Bangga. Sangat-sangat bangga."^^^
"Oh ... begitu."
^^^"Oh? hanya itu? Apa kebanggaan ini tidak berarti apa-apa bagimu, Hisoka?"^^^
"Tentu saja itu berarti. Tapi aku sudah mendengar kata-kata itu lebih dari 100 kali sepanjang hidupku. Sudah tak ada apa-apanya lagi. Sudah tak spesial lagi bagiku."
^^^"Jangan begitu. Suatu saat nanti, di kala kau sudah dewasa dan sudah tiba waktunya kau memakai seragam ini seperti ayah, kau akan merasakan persis bagaimana perasaan bangga yang ayah rasakan saat mengenakan seragam ini. Dan sampai hari itu tiba, ayah akan selalu mendidikmu menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Ingat itu!"^^^
"Ayah ini apa, sih?"
"Aku tidak mau. Aku tak berminat jadi seperti ayah. Aku tak menyukai hal-hal yang mengandalkan otot seperti itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku ingin hidup sesuai jalanku sendiri.
Aku tak mau bila harus terus-terusan mengikuti ambisi orang lain untuk bertahan hidup.
Aku hanya ingin bangga dengan jalanku sendiri.
Dan sekarang, hanya karena aku tak mau mengikuti ambisinya, kekacauan melanda keluargaku.
Ini memang salahku.
"Lihatlah, Hisoka ... Kalau seandainya kau menurut ayah dari awal, kau takkan menyaksikan pemandangan ini. Hidupmu damai. Demikian pula dengan kita semua," ungkap ayah padaku.
"Apa kau mengerti?" tanya ayah dengan tatapan yang intens.
"Omong kosong," balasku pelan. Tenagaku hampir lenyap menghadapi semua ini.
Mendengar bualan ayah, aku hanya menganggapnya sebagai omong kosong, hal yang takkan kupercaya.
"Omong kosong ...?" ayah balik berucap. Alisnya turun.
Aku tak menggubrisnya. Aku hanya bisa melamun sambil merunduk meratapi ibu yang sedang menangis lemas.
"Duh, baiklah. Anggap saja tadi aku tak mendengar omonganmu itu, ya. Baik, baik, aku ulangi."
Ayahku kemudian menarik kerah bajuku, sehingga membuat tubuhku mendekat begitu saja menuju badannya yang tinggi tegap itu.
Dengan mata melotot, ayah pun bertanya sekali lagi. "aku ulangi, APA KAU MENGERTI, TENGIK?!"
Karena aku sudah terbiasa dengan bentakan ayah, aku tak gentar atau semacamnya. Bahkan sebutannya padaku, kucing liar, aku sudah terbiasa mendengarnya.
Dengan mimik datar, aku menggenggam pergelangan tangannya dan kemudian menjauhkannya dari bajuku secara paksa.
Genggamannya terlepas, meninggalkan jejak kusut di bagian baju yang barusan ia genggam. Kakiku yang tadi menjinjit pun sekarang sudah menumpu sepenuhnya di atas lantai.
"Ayah ini ..."
"Sudahlah." Aku merintih pelan.
Aku kemudian pergi neninggalkan mereka dengan langkahku yang terasa begitu hampa. Aku sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun selain ucapan tersebut pada mereka.
Namun ini belum usai, ayah justru tampak semakin kesal. Ia mengejarku yang berjalan meninggalkannya, lalu meraih lengan bajuku dan menariknya hingga badanku kembali berbalik arah.
"APA SIH MAKSUDMU ITU? APA KAU MAU KABUR BEGITU SAJA, HAH?! KAU ITU MASIH PERLU DIBERI PELAJARAN," omelnya padaku tak henti-hentinya.
"Sudahlah, ayah. Aku mengerti." ucapku sembari tertunduk.
"MENGERTI APANYA? KAU BELUM BOLEH PERGI DARI SINI. APA KAU MASIH MAU MEMBANGKANG PADA AYAHM-"
"TIDAKKKKKKK ...!" jeritku memecah ucapannya.
Aku mengayunkan tanganku ke arah samping hingga genggaman ayah padaku terlepas. Ayunan yang cukup kuat. Aku bahkan bisa mendengar sedikit suara robekan yang dihasilkan dari gerakan tiba-tibaku tersebut.
Aku tak begitu memperdulikan robekan atau apapun itu. Terkecuali suaraku ...
Suaraku barusan,
Ayah sontak terdiam.
Ayah dan ibu, mereka menatapku bisu.
"CUKUP SUDAH!"
"AKU MENGERTI. AKU AKAN BERUBAH MULAI SEKARANG!"
Suasana kembali berubah total. Kini ruangan tempat kami berada hanya dipenuhi oleh teriakanku. Teriakan yang terlontar begitu lantangnya dari bibirku.
Dengan wajah kesal, air mataku menetes begitu saja. Walau aku sama sekali tak berniat untuk menangis, tapi rasanya hati ini sedang memaksaku agar menitikkan air mata.
Walau dengan mimik kesal seperti ini, aku merasakan jika hatiku seperti sedang diserang oleh sebuah perasaan yang begitu pilu.
"DENGAR ...! BESOK, BULAN DEPAN, BAHKAN SAMPAI AKU MATI, AKU TAKKAN BOLOS LAGI!"
"AKU TAKKAN MELAWAN PADA KALIAN LAGI! AKU TAKKAN KABUR LAGI! AKU JANJI ...!"
"HKS ... M..MAKA DARI ITU,"
"KUMOHON ...."
"KUMOHON DENGAN SANGAT ...."
"H..Hi-chan ...." ibu, yang juga sedang berlinang air mata, berucap halus dari kejauhan.
"KUMOHONNNN ... BIARKAN AKU ...."
"BIARKAN AKU LEPAS DARI KEEGOISANMU ...!!!!"
..._______________________...
...|-keegoisan----------------------|...
..._______________________...
...----------------...
Suasana benar-benar hening setelah itu. Benar-benar tenang sampai aku bisa mendengar dengan jelas dentikan jam dinding serta rerumputan di belakang rumah yang mendesis akibat tertiup angin.
Dengan tubuh ini, rasanya seperti aku sudah membungkam kedua orangtuaku dengan ucapanku sendiri.
Tapi, apa aku sudah benar-benar mengungkapkan perasaanku pada mereka? Dengan semuanya ini?
Rasanya sedikit aneh. Semakin aku melihat tatapan mereka yang sedang bisu seribu bahasa, semakin tercabik-cabik perasaanku.
Hah, sudahlah. Aku tidak kuat lagi. Bahkan untuk memikirkannya saja aku sudah berat.
Aku rasa ini sudah cukup.
...----------------...
...Happiness Is the Best Healer. ...
...Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik. ...
...----------------...
To be continued ....