Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Bingkisan


"Tadaima."


"Okaerinasai!"


Aku tak melihat wajah ibu, melainkan hanya mendengar suaranya. Namun hanya dengan itu, sudah cukup membuatku tahu bahwa kepulanganku disambut kembali dengan hangatnya senyuman ibu.


Aku melepas sepatuku dan juga kaus kaki longgarku yang sudah tampak kusam. Keduanya kutaruh begitu saja di rak sepatu, dan aku lantas berjalan langsung menuju dapur, tempat di mana suara ibu terdengar menyambutku barusan.


Selama berjalan, tak terasa ransel yang dari tadi kusandang di punggung, kini sudah berlabuh ke jinjingan pundak kananku.


Kutemui sosok ibuku kala itu, sedang berdiri di depan kitchen set, sedang mengenakan pakaian yang cukup bagus. Namun, aku tak melulu fokus pada baju, sebab aku lebih ingin tahu apa yang sedang ibu lakukan di sana.


Aku pun santai menghampiri ibu, lalu dari sebelahnya, kudaratkan telapak tanganku pundaknya pelan. Saat itu mataku langsung tertuju pada tangan ibu, yang ternyata sedang khusyuk membungkus sesuatu dengan sebuah kain furoshiki. Furoshiki sendiri merupakan kain bermotif khas Jepang serbaguna yang sering dipakai untuk membungkus sesuatu, baik itu bekal, makanan kotak, pakaian, dan bahkan dapat digunakan sebagai alas meja. Ukurannya sendiri bervariasi, tergantung penggunaan. Yang dipakai ibu tampaknya lumayan besar untuk dijadikan taplak meja.


"Eh? Oka-san ..., lagi buat apa tuh?"


"Pakai dibungkus pakai furoshiki pula. Aku penarasan isinya apa, Okka-san?" sambungku menambah pertanyaan.


"Ah, ini, Hi-chan ..."


"Berisi beberapa set pakaian, kaus kaki dan topi hangat bayi, Sayang," sambung ibu sembari mengelus-elus ikatan kain pada kotak kardus tersebut.


"Baju bayi?" Aku bingung sesaat.


"... Oh! Pasti untuk Om Jiro, ya?" Tak butuh waktu yang lama untuk akhirnya aku menyadarinya.


Ibu menggangguk. Sekali lagi ia menoleh padaku dan menyengir gembira.


"Si kecil sudah lahir, lho."


"Wah! *Akachan omedetou!"


*Ungkapan sukacita perihal kelahiran bayi.


Aku turut senang mendengarnya. Wajah kami berdua pun berseri-seri. Tawa terdengar dari setiap kami.


Bersamaan dengan itu, kudengar suara pintu membuka. Ternyata sumber bunyi itu adalah ayahku yang baru saja keluar dari toilet. Matanya seketika langsung tertuju padaku. Namun tentu, mata yang ku bicarakan ini sudah berubah dari yang biasanya kuterima.


"Oh? Nara sudah pulang, ya."


"Okaeri," ujar ayah dengan wajah yang dingin, namun tak lagi menegangkan.


"Iya. Sore, Oto-san," balasku ramah.


"Semua sudah siap?" Ayah kembali menyeletuk. Ia menghapiri ibu. Membuat kami bertiga kini berdiri di hadapan kitchen set dan juga wastafel tadi.


"Junbi OK!" (Persiapannya 'dah OK!) ibu lantas menoleh pada ayah. Pertanyaan ayah langsung disergap dengan semangat.


"Jadi Oto-san dan Oka-san mau pergi, ya, sore ini?" Aku coba bertanya, sembari mengamati pakaian yang mereka berdua kenakan. Benar-benar serasi ....


"Tentu saja. Kami akan kerumah pamanmu Jiro. Kau sudah dengar, kan, soal Narakawa yang bertambah satu." Tutur ayah padaku dengan senyum kecil yang sungguh berarti banyak.


Baik ibu maupun ayah, mereka berdua terlihat bahagia. Jujur, sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan seperti ini.


Entah bagaimana sejak beberapa hari belakangan, ketika suasana rumahku mulai lebih damai ketimbang sebelum-belumnya, hal-hal menggembirakan pun selalu datang dan hadir menyertai kami.


Momen seperti ini jelas langka. Ini adalah kesempatan satu dari seribu yang tak pantas aku abaikan begitu saja. Mumpung aku sudah di rumah, sebaiknya aku bantu ayah dan ibuku bersiap. Mungkin mengangkut barang ke sedan?


Tapi pertama-tama, aku akan ganti baju.


Bye-bye, aku ke kamar dulu ....


"Tunggu .... Hi-chan,"


"Eh?" Baru saja meranjakkan kaki dari mereka, ibu memanggilku dengan tiba-tiba. Aku pun lantas kembali berbalik badan ke arah mereka berdua. Kulihat saat itu, ayah dan ibu sama-sama melihat tegas ke arah mataku.


"Sebelum kami pergi, ada yang perlu kami sampaikan padamu."


...----------------...


...HAPPINESS IS THE BEST HEALER...


...----------------...


Aku terkejut. Mataku beku dan berdiri bulu kudukku begitu saja. Kedua kaki ini jadi terlalu segan untuk melangkah lebih jauh, kemana pun. Satu-satunya yang berjalan di sini hanyalah bayang-bayang dalam kepalaku, mengenai apa yang akan di sampaikan oleh ibu dan ayah dengan dua pasang tatapan itu? Aku tak bisa menentukan, apakah ini akan jadi hal yang gembira atau malah sebaliknya.


Ibu berjalan dekat menuju sisi meja di dekat ayah. Di sana, ibu terlihat mengambil satu buah lagi bungkusan furishiki berbentuk balok. Dan ternyata, bingkisan kali ini tampak sedikit berbeda dari yang sebelumnya.


Bila yang sebelumnya bermotif bunga berlatar pink, yang ini motifnya seperti ombak kanagawa, didominasi warna biru muda yang ciamik. Kalau bungkusan yang sebelumnya seukuran kardus penanak nasi, yang ini tampak lebih kecil. Kira-kira seukuran kue ulang tahun ...?


Tunggu ..., apa mungkin ... isinya benar-benar kue, ya?


"Nah kalau yang itu isinya apa?" aku bertanya dengan mata fokus seakan-akan berusaha menerawang.


"Kalau yang ini, isinya kue."


Oh! Tuh, kan, benar!


"Kue? Untuk Om Yoshida juga?" aku kembali bertanya.


Ibu menggeleng. Di lain titik, ayah pun spontan menyela.


"Nara, kami ingin kau memberikan bingkisan ini pada seseorang." Ayah tampak serius.


Aku tak menjawab. Aku hanya menyimak dan menunggu ayah melanjutkan perkataannya. Di satu sisi aku segan menyela, satu sisinya aku memang penasaran.


"Apa kau ...."


"... masih ingat dengan lelaki yang pernah menolong ayah tempo hari?"


"Eh?"


Aku lantas terdiam. Aku spontan terlamun beberapa detik. Dan lekas setelahnya, pikiranku pun dengan begitu pesatnya meninggalkan ruangan ini, terbang menuju antah-berantah. Dan berpencar, tiap ingatanku bergerak ke setiap sel otak yang di dalamnya terdapat ingatan lampau akan pria itu.


...Pondok .......


...Bolos sekolah .......


...Pondok itu .......


...Aku yang tergelincir di lorong .......


Dan satu kalimat yang takkan pernah kulupakan ....


^^^"Berarti mulai sekarang, kita bertetangga, ya?"^^^


Hal yang langsung membuat sekujur lenganku melemas, hingga tak terasa keduanya sudah terkulai berayun di samping badanku. Sayup kulihat dunia di depanku, di sekujur penjuru.


"Kami berdua ingin minta tolong padamu, Sayang. Tolong berikan bingkisan ini untuknya." Ibu tanpa banyak basa-basi langsung mengoperkan kemasan itu ke depanku, yang lantas ku respon dengan secepatnya mundur enggan.


"Tu..Tunggu dulu." Nada bicaraku tinggi. Sebab dunia harus tahu bahwa saat ini juga aku akan menyuarakan keluhan.


"Hm? Kenapa, Nara?" Ayah tampak kaget dengan reaksiku.


"Begini ... maaf, Oka-san, Oto-san, sepertinya aku tidak bisa mengantarkan bingkisan itu," ujarku tegas.


"Lho? Tidak bisa kenapa?" Mereka berdua semakin heran menatapku.


"Karena ...."


"Karena?"


"Karena?"


Karena ....


Apa?


Kau tahu? Otakku saat ini benar-benar sedang berpikir keras. Aku berusaha memikirkan, bagaimana caranya aku bisa terhindar dari perintah kedua orang tuaku tersebut. Sebab aku tidak mau, bila aku harus bertemu dengan pria itu lagi.


"Aku ... aku tidak tahu di mana alamatnya." Dan, mungkin saja aku sudah menemukan caranya.


"Y..Ya! Aku saja tidak tahu rumahnya, lho, Oto-san. Jadi bagaimana aku bisa mengantarnya, kan. Ahahahaha ...."


Bagus! Dengan begini, ayah dan ibu pasti tidak akan jadi menyuruhku!


"Vila Tuan Samada. Kau tahu lorongnya, kan, Nara?" Ayah tiba-tiba menjawab. Skak untukku.


Apa ....


Aish, yabai! Ayah langsung tembak soal lorong itu? Sial ..., mana mungkin aku tidak tahu lorong itu! Lorong itu, itu kan tak jauh dari rute yang setiap hari kupakai menuju sekolah!


Tidak, jangan menyerah! Pokoknya aku harus bisa membatalkan suruhan ini, bagaimana pun itu!


"Itu dekat dengan rutemu menuju sekolah, bukan?" kata ibu.


Ya ampun ..., baru saja ku sebut.


"Vila di lorong itu hanya satu. Kau pasti mudah menemukannya, sekalipun kau adalah orang yang belum pernah masuk ke lorong itu," sambung ayah, terasa seperti serangan bertubi-tubi bagiku.


Sial! Tidak salah, sih .... Hampir seisi wilayah ini tahu lokasi vila itu. Kalau begini, mustahil aku bisa lolos dari suruhan.


Aku ...,


Aku harus bisa mencari embel-embel selain alamat!


Ayo pikir, Hisoka! Bayangkan, kau akan disuruh untuk melakukan hal yang kau tidak mau. Lantas, apa yang membuatku tidak mau?


Beberapa detik kuhabiskan sejak itu, namun rasanya sudah lebih dari 1000 skenario dalih telah bermain dalam otakku.


Kalau dipikir-pikir, aku ini seorang anak, bukan? Anak yang disuruh oleh orang tuanya untuk berjalan sendiri memberikan bingkisan pada orang lain.


Ah! Itu dia!


Cahaya ide merangsak masuk menerangi kesuramanku, melelehkan kebuntuan akalku.


"Tunggu dulu, Oto-san."


Keseluruhan ibu dan ayah seakan berontak dan berkata kepadaku, apa lagi sekarang?


"Lorong itu sangat sepi saat hari gelap. Apa Oto-san tidak takut bila misalnya terjadi apa-apa denganku?"


Ya! Aku ini gadis lho, Ayah! Gadis tulen!


"Aku tahu pria itu memang sudah membantu kita. Tapi, L..Laginya kita tidak mengenal pria itu, lho, Oto-san. Siapa tahu dia berniat jahat dengan kedatanganku ke sana?"


Ibu dan ayah hening mendengar ucapanku.


Sempurna! Mereka, khususnya ibu, sudah pasti takkan rela aku melakukannya!


"Nara, jangan bicara seperti itu tentang Mitsuyoshi."


Haa! Rencanaku berhas-


Apa?


Apa yang ...?


Mitsuyoshi? Itu ..., namanya?


"Pria itu, ayah kenal betul dengan dirinya."


EHHH??? AYAH MENGENALNYA?


"Dia adalah salah satu rekan ayah saat dulu masih di angkatan laut. Dia merupakan seorang tenaga medis di angkatan ayah dulu."


"Ayah cukup banyak mengobrol dengannya ketika dinas di lautan. Yah, walau kami hampir tidak pernah membahas kehidupan pribadi selagi di sana, ayah tetap bisa menaruh kepercayaan padanya."


"Oleh karena itu, tenang saja, Nara. Temuilah dia, dan beri dia bingkisan ini sebagai ucapan terimakasih dari kita." Ayah mengambil bingkisan itu dari ibu, kemudian gantian menyerahkannya padaku.


"Ia tahu bahwa kau adalah anak Ayah semenjak ayah tak sadarkan diri di dermaga. Jadi tidak apa, Nak."


Melalui segenap kesaksian klarifikasi yang dihaturkan ayahku, dengan ini, tamatlah perjalananku menuju kemenangan.


Yah ... aku nampaknya harus menerima keadaan ini. Karena orang itu adalah kenalan ayah, maka aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kalau begitu, aku akan hidupkan mobil. Tolong bawakan yang kecil-kecil saja ke mobil."


"Hai'."


Kalau dipikir-pikir juga, bukankah aku sudah mendengar sendiri dari mulut pria itu kalau memang ia kenal dengan ayahku.


Kenapa ....


Kenapa aku sungguh lupa akan hal itu ....


Hiks ..., rasanya mau nangis saja.


...----------------...


Ini jadi pilihan yang benar-benar menyulitkan bagiku. Atas semua hal yang terjadi di pondok itu, aku tak bisa semudah itu memaksakan agar pergi ke sana lagi. Bayangkan saja, aku sudah berteriak dan mengumpat pada sosok pria, demi mengklaim sesuatu yang pada dasarnya memang bukan milikku. Aku yang berdiri di atas panggung megah, berbuat keliru, pergi dengan malu. Hal ternista yang pernah kulakukan dalam hidupku selama 18 tahun ini.


Namun begitu, betapa kurang ajarnya aku, bila atas dasar rasa maluku, aku rela menepis suruhan dari kedua orangtuaku. Oh, Tuhan, tidak di saat kondisi kedua orang tuaku yang sedang bahagia!


Laginya, mereka berdua kuyakin memang sudah menyiapkan pemberian itu sejak lama. Dari bagaimana perlakuan yang mereka tunjukkan, begitu jelas terlukis bahwa keduanya, baik ayah maupun ibu, sangat bersyukur dengan hadirnya pria itu saat di dermaga.


Jadi, apakah karena rasa gengsi yang sumbernya memang bermula dari kesalahan diriku seorang, aku tak lagi menganggap Mitsuyoshi sebagai penyelamat?


Aku sudah putuskan. Aku akan mengantarnya!


"Hah ...."


"Baiklahhhh ..., akan aku antar." Aku menurut.


"Nah, bagus, Sayang! Kami juga sebentar lagi mau pergi, jadi tolong, ya!"


"T...Tapi kenapa tidak oto-san dan oka-san saja yang antarkan sebentar? Toh sekalian jalan kan ...."


AHHHHHH!!! Gomenasai, gomenasai, gomenasai, gomenasaiiiiii! Aku tak bisa menahan bibir untuk tidak berkicau mencari alasannnnnn!


"Tidak bisa, Nak. Arah tujuan kami berlawanan. Pun kalau kami pergi ke vila itu dulu, akan makin repot. Di daerah sana tak ada tempat berputar haluan untuk mobil ini nantinya. Sehingga, ujung-ujungnya malah harus ikuti jalan menuju pantai dan lalu berputar kembali ke jalur yang semestinya akan kami lalui ke rumah Yoshida."


IYA. BAGUS. TOLAK SAJA WAHAI AYAHKU! AKU KHILAF.


"Ya sudah, lah, kalau begitu. Aku saja yang antar," ungkapku penuh kepasrahan.


"Kalau begitu, segeralah ganti bajumu, Nara."


"Hm, sebaiknya kamu bergegas, ya. Mitsuyoshi memang kenalan ayah. Namun, tepat seperti yang kamu bicarakan tadi tentang sepinya lorong itu saat malam, maka pesan ayah jangan terlalu sore pergi ke sana."


"Baik, Oto-san."


Ya elah .... Tujuanku mengatakan bahwa lorong itu sepi saat malam ya supaya aku terhindar dari tugas ini .... Bukannya berarti aku memang takut akan fakta itu dan enggan pergi ke sana karena ketakutan itu. Itu tidak mungkin. Aku bahkan sudah pernah bermalam di pondok itu, sendirian.


...----------------...


Ayah mulai mengunci pintu belakang, ketika ibu bersiap dari kamar dengan tas sandang sederhananya itu. Sementara aku, di dalam kamarku aku masih sibuk mengganti baju. Selama aku bersiap-siap dalam kesunyian kamar, aku tak berpikir apa-apa kecuali satu: aku akan membawa, memberi, dan pulang dari vila itu dengan waktu yang seminimal mungkin. Meskipun aku telah menurut untuk mau mengantarkan bingkisan ini, bila seandainya aku mustahil untuk bebas dari suruhan mengantar bingkisan ini, sebisa mungkin aku ingin menghindar saja dari pria bernama .... siapa tadi, ya? Ah, Mitsuyoshi.


Aku sebenarnya tak ingin menciptakan musuh dengan perilaku ku itu. Namun bila mengingat apa yang terjadi sebelumnya, aku kian berpikir, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan pria itu.


Aku ...


Aku tidak ingin menanggung malu lagi.


...----------------...


^^^//Happiness Is the best healer.//^^^


...----------------...


Seusai berganti busana, aku pun lekas keluar dari kamar, langsung menuju dapur dan menatap kembali bingkisan yang kuakui memang indah itu. Tangan kananku mengangkatnya pelan, agar tak terlepas dari genggaman.


Setelah kupegang bingkisan itu, aku lalu berjalan menuju pintu depan. Kupakai sendal crocodile-ku dan lalu berpamit pada kedua orang tuaku.


"Oto-san ... Oka-san ... Aku pergi duluan, ya."


"Hai. Itedashai, Nara-chan." Ibu menyahut.


"Kalau kamu sampai rumah lebih dahulu, kunci rumah cari ditempat biasa, ya," ayah menimpal.


Sesudah itu, setelah semuanya siap, aku pun membuka pintu rumah guna beranjak pergi.


Setengah pintu terbuka, aku tak yakin aku bisa langsung berjalan keluar ke teras. Sebab di sana, seonggok bayangan manusia sedang berdiri di depanku. Ia menutupi sebagian cahaya senja yang masuk menuju rumah, sehingga begitu gelap wajahnya.


Alangkah kagetnya aku kala itu, menyadari siapa yang datang ke rumahku.


Pas ketika itu pula, ibuku sedang berjalan menuju rak sepatu, dan ia melihat orang yang ada di depan pintu. Ibuku turut kaget. Namun tak lama setelah itu, ibu langsung menghampiri pintu dan menyambut orang tersebut.


"Ara? 'Dek Ria ...?"


To be continued ....