Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Sekolah


Pagi hari yang sejuk, terasa begitu jelas bagi semua orang di kota. Semua merasakan, baik itu para ibu yang mengurus rumah, para karyawan yang hendak memasuki jam kerja, para guru, jalanan kota, serta murid-murid SMA Yougoin yang melangkah maju menuju kelas masing-masing.


Sementara itu,


"Hah ... hah ...hah ...."


"Untung ..., hah ... untung saja aku belum terlambatttt."


Baru saja aku tiba di sekolah dengan napas yang terengal-engal selama perjalanan. Walau aku sudah berusaha mempercepat langkahku, tapi tetap saja aku masih nyaris telat.


Saat aku tiba di sekolah, gerbang sekolah sudah terlihat tertutup setengah. Andaikan aku lebih molor 5 menit saja, bisa-bisa hari ini aku kena amuk lagi.


Ada untungnya juga aku tak menghabiskan sarapan tadi.


Ngomong-ngomong, kota ini sendiri didominasi oleh jalanan berliku dan menanjak, termasuk jalan menuju SMA Yougoin. Aku bisa saja pergi dengan sepedaku, namun sayangnya aku takut karena kondisi cuaca yang sedang tidak mendukung ini. Bila saja aku tetap memaksa untuk pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda, bisa-bisa aku jatuh lagi seperti kemarin.


"Inilah kenapa aku benci sekali musim dingin," batinku, seorang pecinta musim semi dan panas sejati.


...----------------...


...Happiness Is the Best Healer....


...----------------...


"Ahhh ... Hisoka-nee-chan ...!"


Hm?


Aku seperti mendengar suara ....


"Nee-chan ...!"


*Nee-chan (Onee-chan: Kakak perempuan)


Setelah aku masuk ke lingkungan sekolah, berjalan kurang lebih 10 detik menuju kompleks gedung di mana kelasku berada, baru saja aku akan memasuki area gelap bayang-bayang bangunan, wajah dan tubuhku dibuat menoleh kembali ke belakang. Seseorang memanggil namaku dan melambai dari sudut lapangan.


Aku tak butuh waktu lama untuk menyadari siapa dia. Suara itu, itu adalah Ria.


Sosok itu pun berlari kecil ke arahku, sementara aku menunggu di tempatku berdiri tanpa memikirkan apapun. Karena posisi kami yang pada akhirnya menjadi dekat, ia pun kembali melambai dan menyapa.


"Ohayou, Nee-chan!" ucapnya sambil senantiasa melambai karib.


Gadis berkuncir dua setinggi hidungku ini, dia adalah Ria. Tak lain adalah tetangga, yang sekaligus merupakan teman masa kecilku.


"Ohayou, Ria-chan! Hahaha, aku sedikit terlambat, ya," ujarku menggaruk kepala.


"Tak masalah kok, kak. Kalau kakak sih sudah biasa telat, jadi tak perlu minta maaf," ujarnya maklum.


"Ngomong-ngomong ... sudah hampir jam 8! Kak, kita mesti ke kelas sekarang juga! Kakak juga tak boleh bolos lagi hari ini," lanjutnya tergesa-gesa. Ria lalu menarik tangan kiriku dan memaksaku berjalan mengikutinya.


"R..Ria ... santai sedikit napa?" ujarku heran.


"Kakak ini, jangan santai terus dong. Lihat kondisi juga." Tak sedetikpun genggamanku terlepas.p


Aku pun terpaksa berlari mengikutinya dari belakang sebab Ria mulai berlari kembali dengan sendirinya. Sungguh anak yang sangat menghargai waktu.


Kami berlari melewati banyak orang dari pula banyak kelas. Beberapa murid melihat kami.


Sebenarnya kami ini tidak sekelas, kok. Namun begitu, sudah kebiasaanya untuk "membimbing ku" menuju kelas. Tujuannya hanya agar dia bisa memastikan diriku tidak bolos di awal jam sekolah.


Sungguh baik hati sekali. Begitu orang-orang melihatnya.


Bertetangga sekaligus satu sekolah dengan Ria membuatku ... agak minder. Bagaimana tidak? Ria dikenal sebagai murid yang sangat cerdas dan terampil. Ia selalu mendapat peringkat atas di kelasnya, anak kesayangan guru, dan dia juga telah berkali-kali mengikuti perlombaan akademis di tingkat kota, dan berhasil membawa piagam untuk sekolah.


Belum lagi, Ria memiliki paras yang begitu kawaii dan rambut coklatnya yang juga begitu membahana itu.


Benar-benar ciptaan Tuhan yang luar biasa, pikirku takjub.


Dan, sungguh kontras bila ia disandingkan denganku. Ria yang dikenal sebagai murid unggulan, dibandingkan dengan diriku yang tak lebih dari sekedar tukang bolos. Aku pun bahkan kerap dipandang remeh oleh teman sekelasku dan juga guru-guru.


J..Juga, ditambah model rambutku yang hanya bisa ponytail saja.


Tapi, bukan hal-hal itu saja yang membuatku minder dan agak gengsi padanya. Penyebab lainnya adalah: kami yang sekarang satu angkatan.


Kenaikan sebelumnya, seperti yang pernah kukatakan, bahwa aku dinyatakan tidak lulus. Aku diharuskan mengulang lagi di kelas 3 ini. Dan lebih parahnya, saat kenaikan kemarin, Ria malah mendapat gelar murid terbaik dan dia ditetapkan lompat kelas. Ia mengalami akselerasi. Ia tidak mencicipi bangku kelas 11 sama sekali, melainkan langsung naik ke kelas 12 setelah menyelesaikan studi kelas 10 nya.


Dan kau tahu, setiap orang-orang di sekolah yang melihat kami bergandengan tangan atau setidaknya berjalan bersama, mereka selalu memandangku seakan-akan seperti sebuah parasit yang sedang menempel di seekor kelinci imut.


Contohnya saat ini, saat kami berjalan melintasi koridor kelas 12. Orang-orang di sekitar sini yang secara teknis bukan teman seangkatan kami, seakan menatap kami penuh keheranan dan rasa dengki.


"Cih, masyarakat norak," ungkapku dongkol.


Tak lama kemudian,


"Yup deh ..., akhirnya kita sampai juga, Kak," ucap Ria masih saja dengan semangat menggebu.


"Ria ..., sudah berulang kali kukatakan, bahwa kau tak perlu sampai repot mengantarku begini," keluhku padanya.


Ria mendekat padaku, lalu berbisik.


"Sudah, lah, jangan banyak alasan. Terlebih, hari ini jangan coba-coba bolos lagi ya, Kak!" ungkapnya pelan dengan telunjuk mengarah tepat ke wajahku.


"Duh ... iya, iya. Dan kedepannya, biarkan aku pergi sendiri ke kelas, ya," ujarku menggenggam pundaknya agar sedikit menjauh. Napasku pun masih tersengal-sengal akibat berlari tadi.


"Jangan bilang begitu dong, Kak."


"Rencananya, mulai hari ini, aku akan lebih memperketat pengawasanku padamu. Aku takkan membiarkanmu mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Ingat itu!" ucapnya penuh keseriusan.


Hihhhh ... keras kepala sekali anak ini.


"Makanya ..., mulai sekarang kakak harus lebih patuh, ya!" tuturnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Hahhhh .... Terserah kau saja, lah," ungkapku dongkol sambil kemudian berbalik badan dan berjalan memasuki kelas.


"Baiklah! Kalau begitu, sampai jumpa pulang sekolah, kakak!" ucapnya disertai lambaian singkat lalu beranjak pergi.


Dasar Ria! Perhatiannya yang sungguh berlebihan itu terkadang entah mengapa membuatku sedikit merasa risih.


Hah ... Andai saja kau tak begitu kawaiiiiii ... huhuhuhu Ria-chan ... pasti kau sudah kuberi pelajaran sejak dulu.


Tapi, pelajaran apa yang mau ku berikan padanya? Bukannya aku yang selalu diajari olehnya?


...


...


...----------------...


...Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik....


...----------------...


^^^Eh, lihat! Si tukang minggat kembali...^^^


^^^Ah, kau benar... Itu dia.^^^


^^^Kira-kira jam pelajaran ke berapa dia akan bolos, ya?^^^


"Mereka ini, berisik sekali," batinku begitu resah.


Baru saja aku melangkah memasuki kelas, telingaku sudah disambut cacian-cacian payah dari mereka. Tapi sudahlah, aku tak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik aku ikuti saja alurnya. Lagian, melawan mereka takkan bisa menyelesaikan masalahku sedikitpun.


Situasi ini sedikit mengingatkanku tentang suatu momen satu tahun lalu. Saat itu, ada seorang murid laki-laki yang selalu mengejekku terus-menerus dengan sebutan 'si tukang bolos'. Hampir setiap hari, dia selalu meneriakiku saat istirahat dan pulang sekolah.


Dan pada suatu hari, saat kesabaranku habis terhadapnya, aku memukul laki-laki itu dengan tongkat sapu yang ku ambil dari sudut kelas. Kuayunkan tepat ke arah ubun-ubunnya saking jengkelnya. Hal itu membuatnya kemudian marah dan malah mengadukanku pada walikelas.


Seperti dugaanku, orang-orang tidak peduli dengan alasan yang kusampaikan. Sehingga, bukannya mendapat pembelaan, aku malah dikenai skors seminggu, sementara laki-laki itu hanya 2 hari.


Tapi tentu saja, itu hanya sekedar kenangan masa lampauku. Sekarang, aku sudah lebih mengerti tentang apa itu kesabaran. Dan mencoba diam juga terkadang bisa jadi solusi yang efektif untuk menghadapi situasi seperti ini.


Prinsipku, fungsi Tuhan menciptakan 5 jenis jari yang berbeda bentuk dan ukuran, adalah untuk menyumbat lubang telinga. Tinggal sesuaikan saja jari mana yang cocok dengan bentuk lubang telingamu. Milikku adalah jari tengah.


Aku hanya bercanda.


...----------------...


Setelah itu ....


"Selamat pagi, anak-anak!"


"Pagi, Sensei!"


Benar juga, sudah 5 menit berlalu sejak bel masuk berbunyi, dan guru yang mengajar di jam pertama baru saja datang.


"Karena jam pertama nanti masih dengan saya, saya tidak akan lama-lama di jam persiapan ini, ya."


"Sesuai kesepakatan kita kemarin, jam pertama nanti kita akan adakan tes mengenai teori kuantum dan imbasan."


Baiklah, sampai sini dulu, ya, ceritanya. Jam sekolah sudah dimulai, lalu murid-murid juga dilarang bercerita, jadi ....


Tunggu, apa katanya?


Tes?


"Jadi, silakan persiapkan diri kalian selama 30 menit kedepan!"


Ya Tuhan, mati aku.


To be continued ....