Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Dikalahkan Hingga Akhir


Malam itu, sosok bulan bersinar terang di tengah langit malam yang kosong tanpa awan. Dari tengah penampakan, ia begitu damai menyelimuti rakyat Miyako dan peristirahatannya, sembari ditemani gemerlap bintang-bintang kecil yang sesungguhnya adalah raksasa bagi dirinya.


Aku merebut kembali suasana alam di kulitku selekasnya diriku turun dari kereta. Dari stasiun, langkahku lurus meyusuri jalanan di tepi teluk, menghabiskan sisa malamku ditemani terpaan angin laut yang dingin, mendengar ombak tenang yang mendesis ramah tiap 3 detik sekali.


Niatku ingin segera pulang, menyimpan sepatu di rak, mengganti baju, menyimpan yang kotor di mesin cuci, menyimpan telepon lipatku di mana saja, menyeduh mie instan, minum, nongkrong di pondok sebentar, masuk vila lagi, lalu laju tidur.


Namun tentang apa yang terjadi malam itu, kau pasti bisa menebak pada akhirnya aku tak bisa sepenuhnya memenuhi niatku itu tepat waktu. Segalanya menjadi tertunda, ketika aku melewati suatu area di tepi teluk, di mana area itu merupakan tempat di mana ombak dari lautan lepas dileburkan, dan juga sebagai tempat yang banyak terdapat spot memancing di Miyako. Takahama Area Breakwater.


Angin bertiup kencang kala itu, mulai berubah haluan dari dataran tinggi di tepi teluk menuju ke perairan di sebelah kananku. Salahku mengapa aku mengenakan cap dengan setengah-setengah. Sebab ketika angin di sekitar merangsak melalui tengkuk ku, topi itu terangkat dari tempatnya, yakni kepalaku, dan terbang tak terkendali menuju arah laut.


Aku berusaha mendapatkannya dengan cara meraihnya dengan tanganku, dan tentu saja aku gagal. Topi itu melayang di udara, dan dalam waktu yang singkat kembali menyentuh daratan. Namun begitu, topi itu terus menggelinding akibat angin, hingga ke ujung dermaga kayu di salah satu spot pemancingan. Dermaga itu tak punya persimpangan, hanya lurus dari tepi hingga ke ujung. Tersusun dari kayu-kayu tua namun tetap tertata rapi dan tampak kokoh dengan pilar-pilar kayu yang tegak di sampingnya setiap setengah meter.


Aku mengejar kemana topi itu pergi. Tapi ketika kulihat laju topi itu kencang sekali menjauhiku, aku jadi tak yakin bisa meraihnya. Maka, aku spontan melambat dan hanya mengamati topi itu kemana ia pergi. Di saat-saat itu, aku sudah memutuskan untuk pulang saja dan merelakan jika seandainya topi itu tercemplung ke air.


Tapi sesaat setelah itu, aku mengamati kembali, ternyata, terhentilah laju topi itu sebab terbentur ember yang berdiri gagah di tepi dermaga. Aku spontan berjalan menuju ke arah ember itu, yang di mana, terdapat pula sosok tinggi dan tegap yang berdiri di sebelahnya.


Tentu saja, begitulah jalannya aku bisa bertemu dengan beliau, Tuan Arashi. Pada malam itu, saat sampai ke tepian, aku lembut mengucapkan permisi pada sosok pria itu sebab ingin mengambil topiku tanpa menyebabkan gangguan. Dan saat sosok yang sedang menggenggam joran itu mendengar suaraku, ia menoleh dan tampak seperti terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.


"Hm? Siapa!?"


Aku tak mau menimbulkan kesalahpahaman apapun pada orang itu. Jujur, aku sedikit takut pada nada suaranya yang begitu bulat. Di tengah-tengah diriku yang sedang jongkok mengambil topi itu pun, aku buru-buru berdiri dan berniat menjelaskan apa yang terjadi.


"Ah, saya mohon maaf, Pak. Saya hanya mengambil topi sa—"


Akan tetapi, seketika itu juga, saat kedua tatapan kami saling bertemu,


"T..Tuan Arashi?!"


"Kapten Kaito?"


Kami berdua mengalami fase waktu yang benar-benar singkat di mana saling terkejut ketika menyadari sosok lawan bicara satu sama lain. Kami saling terbelalak. Tak mampu berkata-kata pada awalnya, namun saling mengucapkan nama satu sama lain setelahnya. Jelas sekali beliau mengenal diriku, sebagaimana pula aku langsung menyadari siapa beliau.


Saat itu, walaupun diriku tahu sudah tidak wajib lagi untuk menggunakannya, aku spontan memberi hormatku di alis, benar-benar dipenuhi rasa respek.


Beliau pun langsung meraih jari-jariku, mendorongnya turun dengan tegas, sembari diiringi sedikit tawa.


"Hahaha ... Sudahlah, sudah. Membungkuk saja, lah."


"A, haii!" Aku laju membungkuk seperti yang beliau katakan.


Aku mengamati saat itu, ketika selesai diriku membungkuk, beliau menggulung pada joran pancingannya, membuat kail dan seutas nilon panjang bergerak naik dari permukaan air menuju ujung pancingan miliknya.


"Hah ..., tangkapan malam ini sepertinya tidak terlalu bagus." Beliau menghela napasnya sembari kemudian membaringkan jorannya di samping tempat ia berdiri. Aku menengok ke arah ember yang disebutkan beliau yang memang hanya berisi satu ekor ikan tuna berukuran relatif kecil.


"Tuan sudah memancing sejak lama?" Aku lantas bertanya.


"Oh, tidak juga." Beliau melepas sarung tangan yang ia kenakan.


"Yah, walau aku sudah di sini sejak sore, tapi baru setengah jam yang lalu aku mulai memancing." Beliau menilik ke dalam saku celananya, demi mengambil sebuah bungkus rokok yang tinggal berisikan dua batang rokok. Tak lama, dengan santai, beliau pun turut mengambil korek di saku celana yang satunya, lalu menyulutkan api ke ujung rokok itu hingga mulai tampak bercak merah menyala disertai kepulan asap setelahnya.


Sudah lama sekali aku tidak melihat beliau yang mengepulkan asap tembakau seperti itu. Tentu saja, terakhir kali saat sedang dinas. Melihat pemandangan yang tentu tak asing ini, aku pun laju mengingat gambaran masa-masa dinasku saat Tuan Arashi masih menjabat sebagai Letnan Kolonel di angkatan Laut Jepang.


Aku benar-benar tak menyangka bahwa aku akan bertemu beliau di saat dan tempat seperti ini. Ingin sekali aku bercengkrama dengan beliau, berbagi cerita satu sama lain. Sebab, banyak hal yang ingin kuketahui dari beliau hingga saat ini.


"Apa kabar, Tuan?"


"Kabar baik .... tidak ada yang spesial. Hahaha ...." Dari wajah beliau, tampak jelas ia paham bahwa pertanyaanku barusan hanyalah sekedar pembuka menuju sederet pertanyaan lainnya yang akan segera ku tuturkan satu-persatu.


"Ah ..., syukurlah." Aku mengangguk dengan bijak.


"Kalau kabarmu bagaimana? Masih aktif dalam kegiatan pelatihan?" beliau bertanya sembari berkacak pinggang.


"Saya baik, Tuan. Dan tentu saja, saya masih aktif hingga sekarang."


"Ah, begitu, ya."


"Nampaknya, lebih baik kita bergeser dari sini, ya. Aku tahu warung minum enak di dekat sini. Ayo kita ngobrol di sana, Kaito!"


Dan layaknya sosok Mitsuyoshi Kaito yang biasanya, aku tak sekidit pun menolak ajakan beliau. Lagi pula, hatiku menginginkan hal ini terjadi. Sebab pasti akan seru jika mengobrol sembari mengisi perut dengan cemilan asin, kata Kakek.


...----------------...


...HAPPINESS IS THE BEST HEALER...


...----------------...


"Jadi ...,"


"Sekarang kau pasti sedang rehat, ya? Off akhir tahun?"


"Haii. Pelatihan akan kembali diadakan Januari mendatang."


Paman penjual di Izakaya memberikan pesanan yang telah kami pesan beberapa menit lalu. Tuan Arashi memesan bir kaleng dan satu porsi sushi. Agak berat. Sementara aku, memesan soda dan Miso kentang. Sedikit lebih ringan.


"Ngomong-ngomong, Tuan, kalau tidak salah hitung, sudah ... ehm ... dua tahun lebih kita tidak bertemu?" Karena kondisi sedang sepi pelanggan, juga makanan yang kami santap tidak terlalu membutuhkan banyak embel-embel dalam penikmatannya, aku melanturkan pertanyaanku pada beliau.


"Ha..., sejak akhir 2011, ya? Kurasa kau benar." Beliau mengingat-ingat, lalu mengangguk sependapat.


"Lumayan lama juga, ya. Hahaha ... Aku yakin kau pasti kaget bukan main saat melihatku tadi."


"Hm ... benar sekali, Tuan." Aku turut tertawa kecil. Tak kuasa menghadapi kebenaran yang baru saja terlontar ke telingaku.


"Ngomong-ngomong, ketika saya melihat Tuan di dermaga tadi, nampaknya Tuan terlihat sedikit berbeda dari terakhir kali aku melihat Tuan ...."


"Aku tahu arah bicaramu, Kapten. Pasti karena keriputku, kan?" Beliau membelalakkan matanya padaku.


Aku merespon beliau dengan senyum mengiyakan.


"Memang, sih. Setahun belakangan, aku akui keriput di kelopak mataku semakin terlihat. Umur memang tidak bisa bohong." Telunjuk dan jari tengah beliau memencet-mencet kantung matanya.


"Hahahaha ...."


"Hahaha ...."


Kami berdua pun bergelak tawa.


Sembari melahap makanan yang sudah habis sebagian, kami terus melanjutkan obrolan.


"Anu, Tuan,"


"Dua tahun belakangan, sejak Anda diberhentikan, saya selalu penasaran kemana Anda pergi," ungkapku.


"Banyak yang berspekulasi tentang keberadaan Anda. Ada yang bilang di Aomori, Nerima, pun yang mengatakan Anda masih senantiasa di Miyako."


"Barulah tahun ini, aku menemukan jawabannya, kalau Anda ternyata memang berada di Miyako."


"Apa dari awal Tuan memang sudah berada di sini ...?" tanyaku menutup serangkaian penuturan.


"Ya. Semenjak aku didepak, aku tidak menjejalkan kakiku di mana-mana selain di kota ini. Kota ini adalah tempat berpulangku sejak awal."


"Sungguh, Tuan? T..Tapi kita tidak pernah bertemu sekalipun 2 tahun belakangan di sini. Iya, kan?" Jujur, aku sedikit tak menduga jawaban beliau akan seperti itu. Aku tak menyangka bahwa selama dua tahun lebih, Beliau ternyata ada di kota tepi laut ini.


"Kau memang benar. Tapi ...."


"Aku malah selalu melihatmu tiap kali kau berada di Kota ini, Kaito." Beliau menunjuk ke arahku tumpul. Wajahnya turut menyaksikanku.


"Heee??? Benarkah?" Aku yang kaget laju menoleh pada beliau.


"T..Tapi, Tuan, kenapa tidak menghampiriku atau memanggilku saja saat itu?" tanyaku penasaran.


"Aku ingin. Tapi saat itu ..., mungkin aku belum siap. Aku menunggu momen yang tepat," jawab beliau. Membuatku sejenak terdiam.


"Apa ini karena insiden itu, Tuan?" Aku coba kembali bertanya. Kali ini membawa soal hal yang membuat Tuan Arashi didepak.


Beliau hanya membalasku dengan anggukkan. Yang lantas ku tanggapi dengan perlahan kembali menghadap ke depan. Aku menghayati perihal kenyataan yang baru saja kudengar. Namun, alih-alih berpikir keras tentang bagaimana beliau bisa melihatku tanpa kusadari sekali pun, aku lebih terpana dengan bagaimana perubahan sikap Tuan arashi yang kukenal selama ini.


Aku tahu betul beliau merupakan sosok yang tegas, berani, lugas, dan ringan pembawaannya. Namun sekarang, aku tidak menemukan kalimat-kalimat tegas dari beliau. Beliau yang sekarang, lebih banyak bersikap dingin dan berintonasi pelan. Bukannya aku tidak suka, tapi nyatanya perbedaan yang lumayan timpang ini tak bisa lepas dari pikiranku.


Aku sekilas menoleh pada beliau, dan saat itu pun beliau tak tampak sedang bersemangat. Beliau bak udang yang tersembunyi dibalik batu besar yang gelap. Seakan-akan ada yang tak pernah beliau ungkapkan ke siapapun. Dan ini di mulai ketika beliau membicarakan soal rasa ketidaksiapannya 'tuk menemuiku.


"Tuan," Aku berdiri di tempatku.


"Jika Anda bersedia, saya mohon, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Anda!" Aku memohon sembari membungkuk hormat pada Tuan Arashi.


"Mengenai insiden yang melibatkan Anda; mengapa Anda diberhentikan dari jabatan serta status Anda sebagai prajurit Angkatan Laut Jepang."


"Karena Tuan, sejak awal aku mendengar tentang insiden itu, aku yakin 100% jika Anda takkan melakukan hal sembrono seperti menembakkan peluru tanpa ada sebab yang masuk akal!"


Dan tiba-tiba saja saat itu, beliau menghempaskan kedua tangannya yang mengepal di meja kayu di hadapan kami berdua dengan begitu keras. Dentuman jelas terdengar. Raut wajah beliau pun tampak begitu kesal dan murka.


Dan begitulah, ketika lonceng angin yang tergantung di teras berdering tak menentu, 3 orang di Izakaya hening. Ombak di kejauhan bahkan terdengar walau samar.


Ketika permukaan Bir di gelas Tuan Arashi telah berhenti menggelombang sebab hentakan tadi, aku masih senantiasa berdiri, berusaha menenangkan jantungku yang seperti habis di sambar halilintar.


"Aku ...,"


"Aku adalah orang yang telah dikalahkan hingga akhir," ucap beliau pelan.


To be continued ....