Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Memang Tidak Ada


Senin, 16 Desember 2013


Di suatu pagi,


...----------------...


Apa yang kau pikirkan? Berkata seperti itu padaku.


Apa maksud dari perkataanmu itu? Mengapa kau buat seakan diriku buta untuk mengerti?


Tiba-tiba saja aku menangis. Aku tidak mengerti mengapa. Semua terjadi karenamu.


Meminta maaf dengan penyataan-pernyataan yang memelas? Kau benar-benar mengincar batinku, bukan?


Apa yang mungkin kau harapkan?


Kau merasa tidak enak. Lalu apa yang kau mau aku perbuat?


Memaafkanmu?


Dengan jatuhnya air mata ini, mungkin kau akan berpikir bahwa aku ternyata tidak lebih dari sekedar perempuan yang sangat rapuh, selalu bersembunyi dibalik topeng kearoganan dan keras, jauh dari apa yang kau pikirkan selama ini.


Memang, aku tak bisa mengungkiri itu. Semakin aku tumbuh, semakin aku menyadarinya. Aku sudah tidak sekuat dulu lagi. Aku jadi lebih sering murung dan menyendiri belakangan ini.


Akan tetapi, aku katakan padamu ....


Wajah yang sembab ini, mata yang basah ini, suara yang tak mampu keluar ini, semuanya menjadi yang pertama kali kutunjukkan pada orang selain keluargaku. Setelah kupikir-pikir lagi, alangkah luar biasa dirimu.


Dan lagi, mengapa saat ayahku yang dalam keadaan seperti itu, kau malah nekat mengungkit sesuatu perihal pondok itu? Apakah niatmu membantu ayahku hanya sebagai perantaramu agar bisa mengungkapkan itu semua padaku?


Asal kau tahu, kehilangan harapan untuk menganggap pondok itu adalah milikku saja sudah sangat memukulku. Apalagi ditambah dengan kata-kata terakhirmu yang sungguh membuatku jengah. Rasanya begitu kuat ia memukulku mundur, sampai-sampai kau perbolehkan pun aku kembali, aku tak yakin bisa kuat untuk melangkah ke tempat itu lagi.


Karena memang begitulah diriku. Aku tidak sekuat dulu.


...----------------...


...Happiness Is the Best Healer....


...----------------...


Malam berlalu, pagi menjemput. Ibu membantuku buat tenang. Semua derai tangisan telah menguap habis ke langit penghiburan. Kini, tersisa aku di sini, yang lagi-lagi bersiap menuju sekolah, menjalani rutinitasku sebagai seorang pentobat yuvenil dengan tenaga mata yang bahkan kelopaknya berkedut sedari tadi.


Kabar terbaru, festival di hari Minggu kemarin resmi kuakhiri dengan kemalangan. Begitu cepat malam itu berlalu, begitu cepat emosiku bermain. Sedih yang dibalas senang, senang yang dibalas antusias, hadirnya kepuasan, syok, hingga kesedihan yang lagi-lagi datang menjemput. Sesungguhnya, hanyalah jurang yang kudapat di akhir, di akhir siklus kalbu ini.


Mengenai Desember yang berjalan semakin jauh, tak heran hingga kini pun jalanan kota Miyako makin bersalju ria. Perjalanan menuju sekolah, gundah gulana ... namun tentu, tak separah semalam.


Patut kusyukuri, bahwasanya teman sekolah yang melihat kejadian di parkiran dermaga hanyalah Ria seorang. Walau masih dugaan, aku yakin pemikiranku tepat. Sebab, semisalnya ada orang lain, mereka pasti akan membicarakanku di kelas. Mereka akan merumpi soal keramaian janggal di dermaga, mengenai apa yang terjadi di sana. Namun kenyataanya, setiba diriku di kelas masih seperti biasa. Kupasang kuping lebar-lebar, tak ada satu kepala pun yang menunjukkan simpati, bahkan dengan cara yang kurang ajar sekalipun.


...----------------...


Pada hari ini, aku memutuskan untuk menjeda kehidupanku guna memberitahumu sedikit tentang bagaimana pandanganku, isi kepalaku, terhadap ayahku sendiri.


Ini hanya kata-kata. Bukan puisi, bukan juga syair.


^^^Ayahku ....^^^


Adalah pembohong. Ya, kata pertama akan selalu jadi kata itu.


Ia sungguh jahat. Bahkan apa yang 'telah terjadi di dermaga' menunjukkan bahwa ayah menjadi lebih jahat dari yang biasa kukenal.


Kenyataan bahwa dirinya selama ini hidup dalam kondisi rentan, tak pernah secuilpun terdengar olehku, bahkan oleh ibuku sendiri. Pria tegap itu hanya menyimpan untuk dirinya sendiri, tak sudi memberitahu. Blak-blakan saja, walau aku ini kelewat pembangkang padanya, aku juga merasa terpukul atas kejadian ini. Kau tahu kan, orang-orang yang mengatakan, 'sampai kapanpun ia tetaplah ayahmu'? Premis itu boleh jadi yang memengaruhiku jadi begini.


Ayahku sendiri, setelah kepulangan pria muda pemilik vila yang sampai sekarang tak kuketahui namanya itu, ayah menjelaskan semuanya padaku dan juga ibu. Dari atas ranjang rumah sakit itu, ayah menjelaskan situasi fisis yang ia alami sebenarnya, dan juga perihal mengapa disembunyikan dari keluarganya sendiri.


Ia kuat. Ia jujur bahwa dirinya memang berkomitmen untuk menjaga kondisi itu terpendam dari kami. Ia perhatian. Ia bukan orang yang sampai hati melihat keluarganya khawatir akan dirinya. Demikian singkatnya ayahku bersabda pada kami.


Bagiku, penjelasan seperti itu masih sangat kabur untuk ditelan begitu saja. Begitu kutanya sembari menitikkan air mata, 'Apa salahnya untuk cerita pada kami?', ayah tidak menjawab. Ia seakan berpegang teguh pada prinsip bahwa ayah yang kuat tidak akan berkeluh kesah soal penyakit yang diidapnya pada keluarga sendiri, dan ... akan bungkam selagi masih bisa ia kontrol sendiri rasa sakit itu. Prinsip yang sejak semalam masuk dalam daftar hal yang jika neraka itu benar-benar ada, maka akan langsung kuterjunkan ke dalamnya.


Namun demikian, waktu berlalu, ketidakpuasan batin berkepanjangan yang dileburkan oleh wejangan ibu pun menggiringku perlahan untuk mengerti. Tak pernah dan tak akan pernah kurasakan posisi sebagai ayah secara literal. Aku jadi tahu, bahwa aku tidak sepenuhnya tahu. Jadi malam itu, aku buru-buru mengusap mata basahku, dan memilih untuk membantu ibu menggelar alas lantai agar kami bisa tidur dan supaya aku tak lesu saat pulang ke rumah di pagi harinya. Namun sayang, di pagi harinya, rasa kantuk jebol melewati pertahanku.


Nampaknya aku ini memang makhluk yang mesti tidur 8 jam sehari. Tidak kurang, boleh lebih.


Oh iya, begitulah yang terjadi semalam.


Dan, ehm ... Begitulah ayahku.


// // //


...KEBAHAGIAAN ADALAH OBAT TERBAIK....


^^^// // //^^^


Siang hari, di sekolah ....


"Oi, Kakak!" Dan suara belia itu pun terdengar lagi.


Adalah Ria, yang sedari tadi mencoba mengajakku mengobrol di tengah sebuah upacara khidmat, yakni menghabiskan makan siang di kantin.


Orang ini jelas-jelas tidak mengerti apa yang semestinya dilakukan ketika bersantap.


Tak henti-henti ia memanggil, sehingga diri ini lah yang akhirnya mengalah. Sumpek juga telinga lama-lama mendengar suara tingginya yang macam pengerat itu.


"Hah ...."


Aku menghela napas.


"Ada apa, Ria-chan?"


"Ahhhhhhhhh ... Kakak iniiiiii ...."


"Maaf, Ria-chan. Ada apa?"


"Jangan slow respons terus dong, Kak! Aku tuh cuma mau nanya soal kondisi ayahmu," Ria meluruskan. Alisnya turun dan bibirnya mewek. Ia jelas sedang merengut.


"Pagi tadi, aku gak liat kakak di jalan. Terus, pas sampai sekolah pun aku gak ketemu kakak. Katanya kakak telat dikit 'kan?" telunjuknya mengarah padaku.


"Makanya, baru di tempat inilah kita ketemu. Semenjak di dermaga tadi malam." Ria terus menyambung, namun aku tak lantas menjawab.


Kalut. Mendengar dermaga saja rasanya muka ini sudah memucat seluruhnya.


"Ayahku ... ia baik-baik saja. Sudah mendapat perawatan," ucapku pelan, langsung pada poinnya.


"Apa yang dokter katakan? Sakit apa?" Ria kembali bertanya penasaran.


Aku sempat hening sesaat.


"Penyakit jantung."


"ASTAGA?!" Ria lantas merespons dengan nada lantang, sampai-sampai komplotan siswa laki-laki di meja di dekat kami pun menoleh pada kami. Oh yah, tentu mereka semua tertawa riang melihat tingkah Ria, namun di sisi lain aku hampir pingsan dalam hati.


"Bukan seperti yang kau bayangkan, kok," aku buru-buru menyela, maksud agar gadis sebahuku itu bisa lebih tenang.


"Eh? Maksudnya?" Ia lantas bingung. Mimiknya berubah total.


"Bagaimana menjelaskannya ya ...."


"I..Intinya, penyakit ayahku hanya masalah mekanisme. Bukan soal zat atau virus seperti kanker-kanker itu." Aku coba menjelaskan apa yang kuketahui, senantiasa dengan nada pelan namun serius. Ria melongo selama beberapa detik.


"Penjelasanmu hanya membuatku tambah bingung, Kak ...."


"Maksudku ..., penyakit ayahku itu simpel. Jantungnya hanya-"


"Simpel?"


"Begini, anu ... Kakak, kalau kita udah membahas soal jantung, seandainya tersandung sedikit itu sudah menyangkut seisi sukma, lho." Ria balik memaparkan. Kecemasan dalam dirinya jelas lebih besar ketimbang aku.


"Tersandung apa maksudmu? Nah ... penjelasanmu juga membuatku bingung, tuh," gurauku disertai lirikan kecil terhadapnya.


"Hehhhhh .... Intinya penyakit jantung itu tidak bisa dianggap remeh! Itu! Kakak harus paham itu," tegasnya. Wajah Ria nampak seakan sedang menuntut diriku untuk sadar akan situasi yang sebenarnya terjadi menurutnya. Ria-chan terlihat begitu yakin.


Aku sesungguhnya mengerti perihal apa yang ia coba sampaikan.


"Tentu aku paham," timpalku singkat. Akhirnya, sekian lama sejak obrolan dimulai, baru inilah aku menaruh sumpitku. Yah, mulai sekarang obrolan ini milikku.


"Lantas? Bisa tenang?!" Ria sekali lagi bertanya. Kali ini ia benar-benar terheran.


Aku memalingkan badanku padanya. Kutatap matanya dan tegas kusampaikan kata-kataku.


"Begini-begini juga, aku tidak tenang sepanjang waktu, bego!" Ucapku keras, memicu sentakan oleh Ria yang sesungguhnya tak niat kupicu. Para lelaki tadi pun kembali melirik pada kami berdua. Kali ini mata mereka tajam melihat sosokku.


Aku menghardik kumpulan mereka dengan gegana menggunakan senjata yang sama yakni mata. Kupelototi tiap-tiap mereka, hingga satu-persatu dari mereka langsung mengalihkan tatapannya.


Aku laju menoleh pada Ria, manusia dengan jarak paling dekat dengan diriku saat ini.


"Ria ..., ketika kau memberitahu soal ayahku di dermaga saja, sudah setengah mati aku mendengarnya." Aku coba meluruskan perasaanku padanya.


"Mungkin dirimu telah melihatku seperti tidak peduli dengan apapun. Namun Ria, aku hanya mencoba untuk mengontrol diriku. Dan ini tidak semudah yang kau bayangkan," lanjutku.


Ria khidmat menyimak.


"Kecerdasanku mungkin jauh di bawahmu, tapi setidaknya aku mampu memahami bahwa sedih berkepanjangan itu bukanlah hal baik."


"Apa aku sedih akan keadaan ayahku? Tentu saja. Tapi aku tanya: mau sampai kapan?"


"Ayahku, ia sendiri mengatakan bahwa dirinya sudah merasa baikan. Jadi apa lagi yang mesti membuatku murung?"


"Jadi, Ria-chan, jika kau berpikir bahwa aku adalah gadis yang terkesan cuek dengan semua ini, tolong ubah semuanya dari pikiranmu, ya," Pintaku padanya.


Ria dengan matanya yang masih terpaku padaku, lantas menghela napas beberapa saat kemudian. Tak lama, ia pun memalingkan wajahnya dariku pelan, beralih menatap bekalnya yang masih tersisa setengah itu.


"Hah ...."


"Ya sudahlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya." Ria kembali menggengam sumpitnya, bersiap untuk mencapit segumpal nasi dan sosis gurita dalam bekalnya itu.


Hingga beberapa menit setelahnya, kami hanya diam satu sama lain. Kata-kataku mungkin sedikit membuatnya memutar otak dan membuang semua pemikirannya terhadapku yang sebelumnya salah.


Namun namanya Ria ..., lebih baik mati daripada tidak bercakap satu sama lain. Ia lantas kembali buka suara, tanpa melihat ke arah mukaku.


"Sebenarnya, melihat respon kakak yang sedemikian biasanya dari tadi, aku hanya mengira kakak tidak sedang bersedih," ungkapnya.


"Atau ...."


Ria diam sejenak.


"Atau mungkin ada hal lainnya. Kupikir kakak kenyataannya terguncang akibat hal lain selain kondisi ayah kakak ...."


Hal lain. Seketika aku mendengar kata-kata itu, kupingku langsung naik. Kutatap kembali dirinya, kali ini penuh was-was.


"Hal lainnya apa maksudmu?" Tanyaku lugas, namun kusengaja agar tetap tenang terucap. Aku tidak mau terlihat seakan-akan sedang menyembunyikan sesuatu darinya, yang memang jujur sedang kulakukan saat ini.


"Hanya dugaan .... Jika tidak ada, ya sudah," singkatnya datar.


"Memang tidak ada."


To be continued ....