Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Seorang Perempuan


Mengapa ....


Tubuhku ... rasanya tak dapat digerakkan sama sekali.


Dingin ....


Tapi begitu hangat ....


Apa ini yang mereka sebut kematian?


Puh ..., begitu rupanya.


Sekarang sudah jelas, lah, apa yang dikatakannya ....


Ternyata aku juga sudah mati.


Kalau memang kenyataannya begini ..., aku sudah tak perlu lagi mengurusi hidupku yang amat menyedihkan itu.


Tapi, meninggalkan dunia ini sebelum tahun baru tiba, ini lumayan membuatku sesak. Karena setidaknya, oh Tuhan, aku ingin melihat kembang api di Hokkaido setidaknya sekali dalam riwayat hidupku.


Sudahlah ....


...----------------...


14:33 Sore ....


Semantik cahaya yang benderang dari sebelah barat, awan-awan bak permen kapas yang bergerak lamban di langit sore, ditelan begitu saja oleh atap pondok rotan ini. Perlahan lenyap dari pandangan.


Ranting-ranting pohon begitu harmonis bersinggungan satu sama lain seperti halnya lonceng angin di teras vilaku. Sore hari tanpa rasa depresi, hanya ditemani oleh seoonggok gadis yang terbaring di depanku pasi.


Semuanya tak banyak berubah selama setengah jam berlalu, semenjak ia kudapati tak sadarkan diri akibat insiden tadi. Sekarang, pucat di parasnya sudah perlahan luntur dan kulitnya mulai mengeluarkan keringat. Namun begitu, hingga kini raganya belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar atau sejenisnya.


"Perempuan ini, kuharap dia baik-baik saja ...." gumamku. Aku hendak mengganti kompres di dahinya. Handuk mungil yang tentunya higienis kupakai sebagai bahan. Kuperas bersamaan dengan air dari wastafel, lalu setelah kadar airnya ideal, kutaruh dengan lembut di dahinya.


Selama menunggu gadis ini siuman dalam kebosanan, aku coba melipur lara dengan memutar mp3 dari telepon genggamku. Satu lagu yang sejak remaja selalu kudambakan yakni "One More Time, One More Chance" milik Masayoshi Yamazaki. Setiap aku mendengarnya, hati ini selalu dibikin bergeming tulus.


Gadis ini, selama dia pingsan, aku coba memberikan pertolongan pertama sebisaku. Memperhatikannya dengan seksama, aku sadar bahwa perempuan ini adalah orang yang sama dengan yang sudah kulihat sebelumnya. Terketahui dari raut dan bahkan seragam yang dia pakai.


Uniknya, entah kenapa wajah orang ini seakan mengingatkanku pada seseorang yang lain. Lebih dari sekedar gadis yang lewat di depan vila tadi pagi. Aku bingung setengah mati mengingatnya. Tapi sudahlah, yang terpenting sekarang adalah aku harus segera mengobati luka beset yang ada di lengannya segera.


Aku sudah terlebih dahulu mengelap area lukanya dengan kain basah sebelumnya. Setelah cukup kering, aku memutuskan untuk kembali ke vila sejenak dan mengambil alkohol guna memaksimalkan proses penyembuhan lukanya.


Suatu titik di mana aku lengah,


"Di mana aku ...?"


Satu hal yang tidak kusadari, bahwasanya ia sempat mendesis pelan saat itu. Saat di mana aku tak berada di sampingnya.


Di lain sisi, alkohol sudah kugenggam beserta kapas tambahan, dan aku pun lekas kembali menuju pondok. Dan, baru saja aku hendak duduk di sebelah gadis itu, alangakah kagetnya aku setelah melihat jari kelingkingnya yang berdentik serta matanya yang kini sudah terbuka sedikit.


Penuh tanya ia membisik, "Di...Di mana aku ...?" Masih setengah sadar.


Aku spontan menunda niat untuk menangani lukanya. Aku bahkan belum sempat membuka tutup alkohol.


"Ara ...? Kau sudah sadar, ya," ungkapku lega.


Plong hatiku mendapati dirinya siuman. Nampaknya aku berhasil menyelamatkan dirinya. Meski kedengarannya berlebihan, hal yang terjadi memang seperti itulah adanya.


Dengan perlahan, aku duduk menyila, sedikit mundur dari dirinya, karena aku tahu, itu tidaklah sopan. Sambil menatap mukanya yang masih pucat sebagian, aku segera menanyakan kondisinya,


"Gadis, apa kau baik-baik saj-"


"HAAAAA ...!"


Dan seperti halnya kisah fiksi remaja pada umumnya, di mana sosok tak dikenal yang punya niat mulia, yang bahkan hati nuraninya sudah terekstrak esensial kebaikan sejak zaman baholak, pekikan khas gadis kena perkosa selalu muncul sebagai tanggapan. Lantas terpancar sore itu. Benar-benar majenun!


Selekasnya mendengar ucapanku, perempuan itu sontak terkejut dan lalu berusaha menggeliatkan badannya menjauh dariku ke sisi kanan pondok.


"AHHH ...! KAU ... SIAPA?!"


"Anu, te..tenang dulu," aku mencoba menenangkan dirinya. Jangan sampai ada kata yang tidak-tidak keluar dari ucapannya.


Aku paham betul betapa terkejutnya gadis itu. Setelah tercampak dari sepeda dengan sangat hebat, baru saja siuman, ia langsung berhadapan empat mata dengan pria berkumis tipis dan bau tengik, dengan jarak tak sampai se-meter dari lengannya, dalam kondisi tubuh yang sedang diselimuti! Aku tahu hal itu bisa saja jadi pengalaman traumatik.


"DI MANA AKU?!" Ia begitu gesit mengamati seisi pondok. "APA..APA AKU SEKARANG SUDAH DI SURGA?"


"Kau ... Apakah kau malaikat?" gadis itu menunjukku gemetar. Aku termangap.


"Ternyata surga tidak jauh berbeda dari tempat tinggalk-"


*PLAKKKK


Maafkan aku.


Ternyata kau belum sadar sepenuhnya.


"Jangan bicara seperti itu. Kau masih hidup, kok," ucapku persis setelah menampar wajahnya guna menyadarkan pikirannya. Setelah tamparan tadi, ia pun sempat terdiam sejenak.


"K..Kau .... Menamparku?" ia memandangiku begitu tajam.


"Maaf, ya. Aku terpaksa, agar kau sadar."


"Kau tiba-tiba berteriak dengan kencangnya sampai membuat jantungku rasanya mau copot. Gerakanmu yang tiba-tiba itu, membuat kompres yang belum lama kutaruh terjatuh begitu saja ke lantai pondok."


Aku lekas memungut selembar kain yang kujadikan kompres itu. "Nih, lihat." Kutunjukkan padanya hasil kerja sempurna low budged buatan seorang tenaga medis ini, berharap ia sadar akan peranku menyelematkannya. Atau minimal, agar aku tak dianggap mentah-mentah sebagai penjahat kelamin.


Ia pun kembali berkoar dengan telunjuk mengarah rancung padaku. "KAU! SEDANG APA KAU DI PONDOKKU?!?! DAN MAU APA KAU DEKAT-DEKAT?! KAU...KAU MAU MACAM-MACAM, HAH?!"


Halusinasi salah, sadar pun salah.


"Oi ... bukan begitu!" sahutku panik.


Dengan posisiku yang sedang bertumpu lutut di hadapannya, sementara ia masih setengah duduk ditutupi selimut, kaki kanannya lantas menerjang tepat ke arahku. Sangat tepat mengenai perutku.


Aku pun langsung membentaknya saat itu juga. "OI! KENAPA KAU INI?! TIBA-TIBA MENYEPAKKU SEPERTI ITU?!"


"SEDANG APA KAU DI SINI?! PERGI..! INI PONDOKKU." Ia menghardikku balik dengan nada yang tak kalah lantang.


"Hah? Pondokmu?" jawabku heran.


Ia terlihat semakin beringas dan nampak ingin segera bangkit berdiri. Namun sayangnya, tenaga yang ia miliki masih belum cukup kuat untuk membuatnya tegak.


"Hei, hei. Jangan paksakan dirimu. Tetaplah berbaring, kau masih perlu perawatan," ucapku risau sambil memegangi kedua pundaknya dan berusaha mendorongnya untuk kembali duduk.


"APAAN SIH, AKU TIDAK MAU...! MINGGIR KAU! MINGGIR!" gadis berambut panjang itu semakin histeris. Tangannya pun kian bergerak kesana-kemari tak karuan. Walau begitu, aku masih senantiasa berusaha mencegat tangannya agar ia dapat segera tenang.


"EGHH ... APA KAU TIDAK DENGAR!? SINGKIRKAN TANGANMU...!"


Bukannya anteng, gadis itu malah semakin bertindak tak karuan.


Orang seperti dia ini ... benar-benar susah diatur.


"HOI ...! APA KAU TIDAK DENGAR?!"


Merepotkan.


"LEPASSS ...!"


Tapi ..., tunggu, tunggu. Aku merasa ... ada yang salah dengan pundak anak ini.


"SINGKIRKAN TANGANMU ...!"


Ahh ... nampaknya ada yang sedikit tergeser di sini...


"KAU INI ... KUPINGMU PEKAK ATAU APA, SIH?!"


"Hei, kenapa aku harus menyingkir?" Aku tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam riuh teriakannya. Tenang, sembari terus memegangi pundaknya dengan erat.


"BERISIK!! INI PONDOKKU, KAU MESTINYA PERGI DARI SINI ...!"


"Kenapa, aku harus menyingkir?" tanyaku ulang dengan nada yang semakin pelan dan lembut.


"HIH ... AWAS, AWAS, AWAS ...! BRENGSEKKK...!"


Walau nada ucapannya semakin keras dan badannya semakin meronta, aku tetap memengangi pundaknya sekuat tenaga.


"Tolong jawab pertanyaanku dengan benar. Mengapa, aku, harus, menyingkir darimu?" ucapku dengan pertanyaan yang kian sama, semakin lembut dan lugas.


Mataku juga sengaja kubuat menatapnya begitu serius. Aku takkan membiarkan genggamanku lepas dari pundaknya. Bahkan demi itu, aku terpaksa sedikit menekan pundaknya dengan ujung-ujung jariku.


"LEPASKAN ..., hah ... lepas ...."


"Anu, jangan menekan pundakku seperti itu ... s..sakit sekali."


Ia tetap berusaha melawan walau rautnya terlihat menahan ngilu di pundaknya.


Kumohon! Tenang lah sedikit! Aku tidak bisa bersikap sok kalem terus-menerus begini sementara kau masih saja berusaha melawan.


"Lepas .... Kumohon ... lepaskan aku ...."


Badan dan kakinya yang sedari tadi terus bergerak dan menendangiku perlahan berhenti. Seluruh tubuhnya pun terlihat kembali lemas seperti saat sebelumnya.


Ia sempat terdiam sejenak menatapku dengan wajahnya yang begitu tampak kesakitan. Namun tak lama, ia lalu menundukkan kepalanya perlahan. Kuintip matanya mulai berkaca-kaca nyaris menangis.


Dengan terisak-isak, ia menjawabku. "Tolong ... hks ... lepaskan aku. Aku mohon ... aku mohon dengan sangat padamu ... tolong .... Aku-"


Baiklah, kurasa ini saatnya!


*TAKKKK


"AAAAAHAHAHAAA PUNDAKKU BAJINGAN...! JANGAN...! JANGAN PATAHKAN PUNDAKKU...!!! KU MOHON..."


Aku pun akhirnya melepaskan genggamanku dari pundaknya dengan santai.


"Sudah, sudah. Tak apa-apa, kok," aku coba menenangkannya, walau kutahu takkan berhasil.


Ia terlihat syok mengira aku sudah mematahkan bahunya. Tentu saja.


Selepas itu, aku langsung turun dari pondok dan kemudian memunguti barang-barang dari dalam kotak p3k milikku yang juga turut buyar akibat terjangan kakinya yang membabi-buta tadi.


Saat aku sedang memunguti barang, ia kembali bertanya sembari meraba-raba pundak kirinya. "A..Apa yang sudah kau lakukan pada pundakku?!"


Aku berpaling kearahnya sejenak tanpa menjawab sepatah kata apapun, lalu kembali fokus mengumpulkan barang-barang yang tercecer.


Aku sontak kembali menatapnya. Kini alisku sedikit kuturunkan. Membuat mimik wajahnya yang tadinya agresif, kini berubah gentar.


"Pertama-tama, berhentilah berteriak tidak jelas seperti itu! Di mana letak sopan santunmu?" ocehku tegas.


Ia tak menjawab lagi. Mulutnya bungkam hanya karena sekedar kubentak barusan.


Aku kembali berpaling dan lanjut merapikan barang-barang P3K-ku.


Sambil merapikan, aku menghela napas pasrah sembari kemudian kembali melanjutkan kata-kata. "Hah ... maaf jika kau mengira terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada pundakmu, ya."


"Pundakmu hanya sedikit salah tempat saja. Jadi aku barusan hanya ... kau tau, kan, memperbaiki posisinya saja," lanjutku dengan tangan yang seakan-akan ikut meragakan.


Wajahnya kembali terkejut. Lalu tak lama, perempuan itu kembali berucap, "K..Kau ... bagaimana kau mengetahuinya? Soal masalah yang ada di pundakku."


"Hm ... 'ntahlah. Aku rasa, aku hanya kebetulan saja sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu," gurauku.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanyanya datar.


Ia kemudian coba berdiri, matanya melirik kesana-kemari seakan mencari keberadaan sesuatu.


"Hei, di mana sepedaku???"


"Ah ... sepedamu? Tenang saja, sepedamu baik-baik saja." Aku menunjuk tepat kearah samping pondok. Tempat di mana aku sengaja menyenderkan sepedanya.


Setelah tau bahwa ternyata sepedanya dalam kondisi yang baik-baik saja, ia pun kembali duduk dan tatapannya terlihat semakin lesu.


Melihat mimiknya yang murung, aku lekas menghampirinya. Aku kembali naik ke pondok dan mengambil posisi duduk tepat di hadapannya.


Aku pun lantas bertanya, "Apa kau ingat? Apa yang terjadi sebelum kau pingsan?"


Ia hanya membalas dengan sedikit anggukan.


"Baguslah." Aku turut mengangguk.


"Kalau begitu, jika kau tidak keberatan, bolehkah aku lanjut mengobati lukamu itu?" lanjutku sembari menunjuk ke arah telapak tangannya yang masih terlihat mengeluarkan sedikit darah.


Ia tak menjawab maupun menerima tawaranku. Malah terlihat memalingkan kepalanya dariku.


Masih dengan wajah tertunduk, ia kembali berucap, "Aku tidak tahu siapa kau. Aku juga menghargai pertolongan yang sudah kau berikan padaku. T..Tapi, bisakah kau sekarang pergi dari sini?" ucap perempuan itu layaknya seorang yang putus asa.


"Hah?" aku sontak heran.


"Aku mohon..hks...tinggalkan aku sendirian. Aku akan memohon padamu jika perlu," sambungnya kembali terisak.


Ya ampun ... kenapa dia sebegininya menyuruhku pergi?


"Hei ...." aku menepuk pundaknya.


"Begini saja .... Izinkan aku sedikit bertanya sesuatu kepadamu. Dan aku janji, setelah kau menjawabnya, aku akan pergi dari sini," ucapku menenangkannya. Aku coba membuat kesepakatan.


Ia yang tadinya enggan menoleh kearahku, sekarang langsung menatap bola mataku serius.


"Benarkah?" tanyanya dengan raut penuh harapan.


Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Cepat tanyakan," tukasnya.


"Ok. Tapi aku mohon, jawab dengan sungguh-sungguh."


Aku kemudian berdiri, melangkah beberapa tapak menuju sudut pondok. Pandangan kucampakkan jauh menuju hamparan air laut yang terpampang jelas dari titikku berdiri.


"Kau tahu, sewaktu kau pingsan tadi, aku menyadari sesuatu tentangmu."


Wajahnya terlihat kebingungan akan pernyataanku.


"Maka dari itu, tolong jawab aku dengan jujur." Aku berucap masih dengan tatapan tertuju ke kejauhan lautan di depanku.


"Dari mana kau tau soal tempat ini?"


"Eh?!" sahutnya kaget.


"Uhmm .... S..Soal itu, itu b..bukan urusanmu." Kerisauan nampak jelas dari rautnya saat itu.


Nampaknya ia begitu terkejut dengan pertanyaanku, ya?


"Kita sudah sepakat, 'kan? Jadi tolong terus teranglah padaku."


Butuh beberapa saat hingga ia balik menjawab.


"Aku..Aku sudah mengetahui tempat ini ... ehm ... sejak masih kanak-kanak," jawabnya ragu-ragu.


"Benarkah ...? Terus, bagaimana bisa tahu?" tanyaku sekali lagi.


"Eh ... aku, aku sendiri yang menemukannya," balasnya kian tertunduk.


"Hah ... baiklah. Aku mengerti sekarang," ujarku singkat.


Aku pun lekas berdiri, bergegas membereskan barang-barang bawaanku, termasuk obat-obatan yang sama sekali belum terpakai.


"Tak heran kenapa kau bisa mengklaim bahwa pondok ini milikmu," tambahku sambil tersenyum.


"Lah ...? Pondok ini memang punyaku, kok," tak henti-henti celotehnya.


"Oh, sungguh?"


"Apa kau orang yang membuat pondok ini?" sindirku. Minyak rem ku mulai surut.


"S..Soal itu, ya bukan. Tapi, w..walau begitu, aku sudah begitu nyaman dengan pondok ini. Jadi aku ...."


Kata-katanya barusan membuatku menunduk. Aku sejenak berpikir.


Apa hubungannya dengan pondok ini lebih dari sekedar dugaanku, ya?


Aku kembali menoleh ke arahnya dan bertanya, "Maaf kalau aku tiba-tiba menanyakan ini."


"Apa kau sudah ... ehm ... menganggap pondok ini ... s..sebagai rumahmu?"


Wajahnya pun ragu. Ia melirik ke samping kiri, demikian pula ke kanan. Sejenak berpikir-pikir, atau mungkin memelas agar aku segera beralih pertanyaan.


"Ehm ... aku ...."


"Sudahlah. Jawab saja dengan jujur," pertegasku sambil berkacak pinggang.


Ia menghela napasnya dengan sangat jelas. Terdengar sama sekali tak longgar helaan itu. Benar-benar berat hati.


"I..Iya, seperti itu, lah. Menyedihkan, bukan?" gadis itu lesu. Ia pasrah mengakuinya.


"Hm ... begitu, ya ...."


Karena aku bukan sosok yang jahat, juga, aku adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kepatuhan terhadap janji, maka aku sudahilah pertanyaanku di detik itu juga.


Aku lalu berjalan menuruni pondok, menuju ke arah vilaku yang hanya beberapa langkah dari situ.


Sebelum memasuki teras, Aku sempat berbalik dan menatapnya.


"Baiklah. Nampaknya kita sekarang bertetangga, ya." Aku menyeringai.


 


Tanpa pikir panjang, aku lekas membuka pintu vilaku di hadapannya. Sangat jelas kedua mata itu menyaksikan.


Aku pun bisa melihat reaksinya saat itu. Ia terbelalak setelah melihatku membuka pintu vila di depan matanya.


Hahaha ... kau pikir karena vila ini sudah kosong selama berbulan-bulan, kau bisa seenaknya mengklaim properti orang?


"Ada apa? Heran? Baru tau? Hm???" Celotehku sambil tertawa kecil. Aku menyender santai di bingkai pintu sorong vila. Masih berhadapan langsung dengannya.


Ia yang menyadari bahwa kediamanku selama ini ada di sana langsung berdiri dalam sekejap mata dan kembali berteriak padaku.


"APA...KAU...J-JA-JADI, JADI K-KAU TINGGAL DI SITU?!?!" gadis itu histeris. Kedua tangannya spontan ia sembunyikan di balik pinggang. Mungkin sedang gemetar.


"Hahahaa ... ya, begitu, lah."


"Eh, kenapa? Bukankah sudah sesuai kesepakatan? Kau menjawab pertanyaan, aku pergi dari pondokmu. Begitu, kan?" balasku halus namun senantiasa meledek.


Tangannya langsung lemas. Pipinya pun ikut terlihat memerah.


Perempuan itu lekas turun dari pondok. Ia Memakai sepatunya dan kemudian mengambil sepedanya yang bersender di sebelah pondok. Semua itu ia lakukan terburu-buru setelah melihatku memasuki vila yang berada di hadapan pondok 'miliknya' itu.


Dengan tenaga yang belum pulih sepenuhnya, ia menggowes sepedanya kocar-kacir pergi dari kawasan vila.


Aku yang melihat tingkah gegabahnya itu hanya bisa terkekeh total.


Belum jauh ia menggowes pergi dari pondok, aku iseng memekik padanya. "HEI ...! KARENA INI PONDOKMU, KAU BISA DATANG LAGI KEMARI SESUKA HATIMU, YA ...!"


"BERISIKKK ...! ITU PONDOKMU, BUKAN PONDOKKU ...! BEDEBAH!" suarnya dari kejauhan.


"AWAS JATUH LAGI YA...!"


"AHHHHHH ...! BERISIKK ...!"


...----------------...


...Happiness Is the Best Healer....


...----------------...


Tapi aku serius. Datanglah lagi,


Narakawa Hisoka.


Setidaknya begitulah yang terbaca olehku di bordiran seragammu.


...----------------...


[ seorang perempuan. ]


...----------------...


To be continued ....