Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Terlukis Semakin Jelas


Semua telah berlalu. Semua telah usai. Begitulah kira-kira yang bisa kugambarkan mengenai festival hari ini.


Cahaya kembang api yang sedari tadi menghiasi angkasa sudah sirna seluruhnya. Tak ada lagi orang-orang yang terbelalak menghadap langit. Tak ada lagi sorak riuh dari atas panggung. Semuanya kembali biasa, dengan khalayak yang membangun langkah bersama kerabat menjauhi dermaga setelah pengumuman berakhirnya festival berkumandang sekitar satu jam yang lalu.


Langit yang jadi tempat persinggahanku ini pun kembali kelam seperti saat sebelum pertunjukkan diadakan. Awan-awan bak kapas yang hijrah di langit kota malam ini turut membuat cahaya bintang dan bulan terhalangi sebagian besarnya. Pun sesekali, suara guntur terdengar dari kejauhan awan mendung di barat. Ampuh dalam menambah kesan kelam pada kota ini.


Salju dengan curah yang tak terlalu lebat pun kembali turun menyusuri daerah ini. Karena sejak siang aku memakai jaket yang tak bertudung, mau tak mau rambut serta wajahku ini terus-menerus dijadikan tempat mendaratnya butiran-butiran salju putih tersebut.


Dingin, lembut, dan agak geli. Sekiranya begitulah yang sedang kulit wajahku rasakan sekarang.


Di atas bangku besi yang sama sekali tak terasa nyaman ini, kesunyian kembali melandaku. Malam ini berjalan semakin dalam, namun diriku masih saja belum menginjakkan kaki di vilaku.


Biasanya, di jam-jam segini, tubuhku sudah tergeletak pulas di atas kasur vila yang lembut dan hangat. Namun sayang, di malam kali ini, aku masih duduk di sebuah tempat sembari berusaha untuk tetap terjaga.


Sesuatu telah mencegatku untuk langsung pulang seusai festival.


...////...


...HAPPINESS IS THE BEST HEALER...


...////...


Kala itu, kurang lebih sekitar 1 jam yang lalu, pertunjukkan kembang api resmi usai. Jika diperkirakan, pertunjukkan apik tadi hanya berlangsung sekitar 10 menit saja. Lepas itu, kemeriahan pun usai dan banyak pengunjung berpulangan.


Tidak semua, sih, sebenarnya. Karena terdapat pula pengunjung yang aku pun heran mengapa masih betah untuk menghabiskan waktu di dermaga.


Yah ..., wajar saja kalau dermaga langsung sepi selekas kembang api habis. Sebab, pertunjukan langit itu termasuk ke dalam agenda penutupan festival. Jadi bisa kupastikan, tak ada lagi hal menarik seusai pertunjukkan itu. Itulah sebabnya mengapa lebih banyak orang yang memilih untuk pulang.


Awal sebelum pertunjukan dimulai, aku merasa antusias, dan aku kira itu akan berlangsung awet dalam sanubariku hingga masa liburku habis. Namun nyatanya, saat pertunjukkan usai saja, batinku seakan sudah mencuci bersih seluruh animo jiwaku terhadap festival tadi dan seperti menyuruhku untuk segera pulang dan beristirahat.


Aku pun memutuskan untuk bertindak demikian. Kiranya pertunjukkan usai, ada baiknya tubuh ini juga beristirahat. Karena jujur, semakin lama, udara dingin yang berhembus langsung dari muka laut semakin tak tertahankanku.


Dengan kedua tangan yang sengaja kumasukkan ke dalam saku jaket, aku lekas beranjak pergi dari tempatku berdiri. Melewati serangkaian anak tangga, menuju kios jajanan, serta menghadapi berbagai keramaian yang tersisa dengan arah langkah yang berbeda satu sama lain membuat kehati-hatianku bertambah seiring perjalanan. Semakin aku berjalan menjauhi zona festival, semakin sepi orang-orang yang kutemui di sepanjang jalan.


Demikian, merengganglah aku dari pusat lokasi festival, namun tak sepenuhnya lepas sebab nyatanya diriku hanya sedikit bergeser keluar di mana saat itu aku sedang melewati area parkir dermaga khusus roda empat. Dan, tak jauh dari garis jejak aku melintas, ada sepasang insan yang menarik perhatianku begitu saja.


Saat itu, mereka tampak sedang bercengkrama satu sama lain.


Sekilas, tanpa maksud jahat apapun, aku melirik ke kiri, ke arah mereka. Mereka terlihat mengobrol serius di sekitar mobil yang kemungkinan besar itu milik mereka. Walau tak terdengar begitu jelas, namun aku bisa mengetahui bahwa mereka sedang terlibat adu mulut kecil.


Seorang darinya merupakan ibu-ibu yang menurut dugaanku berumur 30-an tampak dari postur tubuhnya. Ia sedang berdiri bungkuk di samping pintu supir. Sementara lawan bicaranya adalah seorang lelaki yang ku yakin merupakan suami dari ibu tersebut.


Aku tak dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah mereka berdua. Ibu itu berdiri membelakangiku, sementara suaminya sedang duduk di kursi supir sehingga wajahnya terhalang kaca mobil.


Tapi, kalau aku perhatikan lagi, mobil tempat mereka mengobrol ini seakan tak asing bagiku. Rasa-rasanya aku kenal pemilik mobil ini. Aku sejenak coba mengingat ulang, namun tetap saja figur orang yang kumaksud masih nyangkut di ujung lidahku.


Tapi, terlepas dari mobil siapakah itu, kudengar nada bicara ibu itu semakin lantang bertanya-tanya pada suaminya.


Karena semakin lantang, beberapa kata yang terlontar dari mereka pun dapat kudengar.


"Sayang! Jawab aku," ujar ibu itu keras.


"Tak ada waktu, aku masih ada urusan." sang pria membalas dengan terburu-buru sambil mulai meng-starter mobilnya.


"Sayang ...? Ada apa denganmu? Kenapa belakangan kau terus bertingkah aneh seperti ini?" sahut ibu itu dengan tatapan penuh keheranan melihat tingkah suaminya.


"Aku tak bertingkah aneh! Sama sekali tidak! K..Kau tenang saja! Aku akan kembali ... secepatnya ke sini." tutur pria itu kembali. Kini intonasinya terdengar mulai sengal.


"Tapi kau mau kemana?! Kumohon beritahu aku! Kenapa? Apa ada masalah ...?"


"Aku ... aku ...." kini, suara pria itu terbata-bata. Tak lama, aku melihat salah satu tangannya berusaha meraih pegangan pintu dari dalam.


"Kumohon, tutup pintunya sekarang juga! Aku hanya akan mengambil alat mobil yang tertinggal di rumah Endo, lepas itu aku langsung ke sini." pinta suaminya dengan helah napas semakin tak karuan.


Tangan pria itu tampak berkali-kali menarik pintu mobil guna menutupnya rapat lalu kemudian pergi. Sayang istrinya berdiri menghalangi pintu, sehingga mustahil untuk bisa menutup pintu mobil tersebut.


"Kumohon! Jawab aku!" bentak sang istri.


Ibu itu kemudian terlihat memegangi pipi pria itu dan bertanya dengan wajah dipenuhi tanda tanya.


Tangan pria yang sebelumnya berusaha menggapai pintu mobil, kini berpindah tempat menggenggam kuat kedua lengan atas istrinya. Dengan begitu susah payah, kedua tangannya mencoba mendorong istrinya agar menjauh dari pintu mobil.


Dengan terengah-tengah, sang suami berkata pada istrinya. "Minggir ...! Kumohon ... maafkan aku ...."


"Tolong mengertilah! Aku harus—"


"AKU TAKKAN MENYINGKIR SEBELUM KAU MENJELASKANNYA PADAKU ...!" ujar sang istri penuh amarah. Kepalanya terlihat memanggut-manggut penuh kerisauan.


Dari kejauhan aku bisa merasakan, suasana jelas menegang begitu saja akibat nada naik pitam yang barusan dihaturkan oleh ibu tersebut. Beberapa orang yang berdiri tak jauh dari mereka, termasuk aku, bahkan sempat sejenak menoleh ke arah mereka sebab terkejut.


Usai lantangnya ucapan ibu itu barusan, suaminya tak menjawab. Sedikitpun tidak. Genggaman pria yang berada di lengan istrinya itu pun bahkan justru tampak perlahan terlepas dan akhirnya jatuh, terkulai menjuntai ke bawah.


Sang istri yang tadinya dipenuhi rasa kesal dan jengkel lantas berubah 180 derajat menjadi panik tak karuan.


"Eh?!"


"A..Anu, Sayang?"


Khawatir dengan kondisi lemas yang dialami pria itu, aku pun coba melangkah perlahan menuju ke arah mereka guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di samping itu, nampaknya aku memang mengenal pria itu.


Rasa penasaranku benar-benar memuncak saat ini.


Berdiri di balik sebuah mobil yang jaraknya tak terlalu jauh, aku dapat melihat pria malang tersebut nampak sedang berusaha mengangkat salah satu tangannya menuju dada. Ia nampak begitu kesusahan mengangkat tangannya sendiri akibat tenaganya yang terkuras habis.


Terbatah pria itu berucap, "ku ... aku ... d..dadaku ...."


"Ada apa sayang?! Ke..Kenapa dadamu?!" ujar sang istri histeris sembari meraba-raba dada suaminya.


Istrinya yang kian khawatir pun coba menampar-nampar kecil pipi pasangannya itu agar ia lekas menjawab pertanyaannya. Namun sia-sia, aku sama sekali tak mendengar ada tanda-tanda balasan apapun lagi dari pria itu.


Dan beberapa saat setelah sang suami tak kunjung menjawab, kulihat jelas wajah ibu berambut ikal tersebut semakin terlihat waswas dan matanya kian terbelalak menatap suaminya.


Ada apa? Kenapa tatapan ibu itu seakan sedang melihat sesuatu yang benar-benar mengerikan sedang terjadi?


Setelah beberapa saat tak ada kata yang terlontar dari keduanya, dapat terlihat dari titikku berdiri, raga pria tersebut nampak bergerak sedikit demi sedikit ke arah luar mobil, melewati pintu yang masih terbuka.


Istrinya sontak kaget bukan main karena tubuh pria tersebut tiba-tiba bergerak tumbang ke arahnya.


"AHKH! SAYANG, BERTAHANLAH ...!"


Dengan sekuat tenaga, sang istri menahan badan pria tersebut agar tak jatuh dari dalam mobil menuju luar.


Ibu itu pun kian berujar panik bukan main, "KE..KENAPA KAU TIBA-TIBA PINGSAN SEPERTI INI ...?!"


YA AMPUN! GAWAT!


Tanpa pikir panjang, aku yang sedari tadi hanya mengamati pun sontak berlari menuju mobil di mana mereka berdua berada. Dengan sigap, kedua tanganku menyambut dari sisi bawah tubuh pria itu dan ikut menopang tubuhnya.


Jelas kulalukan sebab kulihat ibu itu benar-benar tak kuat menahannya seorang diri. Kurasa karena badan suaminya yang begitu padat tersebut, membuat kekuatan topangan yang dimiliki ibu itu serasa tak sebanding sama sekali. Hal itu membuat tubuh suaminya barusan justru terlihat semakin tumbang menuju luar.


Di tambah lagi, ibu tersebut terus mengerang sekuat tenaga dan tangannya terlihat semakin gemetaran menahan tubuh suaminya.


Kulakukan juga setidaknya untuk mencegah agar pria itu tak sampai jatuh ke tanah. Karena kalau sampai hal itu terjadi, proses pengangkatannya pun akan semakin rumit nantinya. Bahkan lebih buruknya, ibu itu bisa saja ikut terjatuh dan meningkatkan resiko mengalami cidera serius.


Bermaksud ingin segera mengangkat tubuh pria ini kembali ke tempatnya, terlebih dahulu aku meminta ibu itu agar segera menyingkir.


"I..IBU ...! TOLONG MUNDUR SEDIKIT! BIAR SAYA ..., BIAR SAYA SAJA!" ujarku dengan gigi mendempet saling menekan pertanda sedang menahan beban berat.


"AH ... B..BAIK!" jawab beliau lugas sembari kemudian menyingkir dari sampingku.


Terlihat jelas saat ibu itu melangkah mundur, mimiknya seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.


Dengan susah payah dan perlahan, aku pun mulai menopang seonggok tubuh ini kembali masuk ke dalam mobil. Sedikit erangan terpaksa terlantur dari bibirku sangkin banyaknya tenaga yang terposir.


Kian cemas, ibu tadi menyahut dari arah belakangku. "Nak, pelan-pelan ...!"


"HAAAAAHHHH ...!"


Walau aku mesti mengangkatnya dengan segenap perjuangan dan pemaksaan kinerja otot lengan, pada akhirnya, aku berhasil membuat pria itu kembali bersender di kursi sopir.


"HAH ... HAH ... HAH ...." napasku benar-benar letih. Aku spontan menyenderkan diri di bodi samping mobil. Perutku kembang kempis.


Ibu itu pun sontak mendekat padaku dan bertanya, "Nak?! Kau tidak apa-apa?!"


"I..Iya, tak apa-apa kok, Bu." Butuh beberapa detik agar aku sanggup membalas.


"Ehm ... sebaiknya saya periksa beliau terlebih dahulu."


Masalah pertama pun selesai. Pria itu tak sampai terjatuh ke tanah beton ini. Namun begitu, wajib bagiku sebagai seorang tenaga medis untuk mengecek bagaimana kondisi pria ini dari berbagai aspek dasarnya. Karena itulah prosedur kewajiban yang sudah kupelajari, juga, sebagai bentuk pengabdianku dalam masyarakat.


Ibu itu tak henti-hatinya bergumam cemas sambil mengucap permohonan untuk keselamatan suaminya pada yang maha kuasa. Ibu itu memperhatikanku dalam proses pengecekan, namun di tengah proses, tiba-tiba ia bertanya gemetar.


"Nak, apa yang sebenarnya terjadi padanya?!" ucap ibu itu mengagetkanku.


Suaranya sontak membuatku menoleh ke belakang. "Ibu, harap tenang, ya. Saya sedang mengeceknya," jawabku.


"Lebih baik, sekarang Ibu telpon ambulans. Sebab suami Anda tetap harus ditindaklanjuti di rumah sakit." Aku menyuruh ibu itu dengan sigap.


"OH, B..BAIK, NAK." Ibu itu pun spontan mengeluarkan ponsel dari tas sandangnya.


"Kami-sama ... semoga dia baik-baik saja ...." ungkap ibu itu senantiasa mengharapkan kabar baik perihal kondisi suaminya.


Setelah mengecek nadi, hasilnya aman. Pria ini masih memiliki hayat. Tahap berikutnya, aku berencana mengecek suhu serta rona kulit pria ini. Mengingat kondisi lingkungan yang minim cahaya, terblok dari cahaya lampu jalan, akhirnya aku memutuskan untuk menghidupkan lampu yang berada di dalam mobil. Saat itu juga, kuamati kulit pria ini. Sang istri dari belakangku spontan menyahut, terheran sebab kulit suaminya benar-benar pucat. Dengan demikian, aku tak perlu menjelaskannya ulang.


Cahaya kuning dari lampu mobil, jatuh dengan rata menyinari wajah pria itu, membuat lengkung wajahnya terlukis semakin jelas, lebih jelas ketimbang saat aku menopangnya kembali ke dalam mobil. Detik itu juga, aku langsung menyadari, siapa sosok yang dari tadi kusebut 'pria itu' ini. Bayang-bayang figur yang sedari tadi coba kuingat pun langsung tergambar dengan begitu jelasnya dalam benakku.


Tanganku lanjut menepi ke dahi guna mengecek suhu, namun mataku tak secuil pun bergerak dari matanya yang tertutup itu. Walau suhu dahinya sudah tersalin di tangan, otak ini tak kunjung menyimpulkan. Sepenuhnya fokusku kini teralihkan pada kenyataan bahwa pria ini ....


Adalah Tuan Arashi.


"Tuan Arashi?!"


To be continued ....