Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Tiba


Demi mengantarkan bingkisan ini, kedamaian waktu soreku mau tak mau mesti jadi gantinya. Tapi untunglah, kali ini aku tidak sendirian. Bersamaku kini ada Ria, si cantik dan imut dari tanah Miyako.


Haha! Kebetulan sekali, baru saja hendak lepas landas dari rumah, Ria sudah ada di depan pintu rumah. Ternyata ia memang mau mampir ke rumah. Kedatangannya tersebut pun diketahui oleh kedua orang tuaku.


Terjadi perbincangan singkat antara aku, Ria, dan kedua orang tuaku ketika itu. Lalu pada akhirnya, ayahku dengan segala sifat untung-untungannya pun malah menyuruhnya untuk pergi menemaniku memberikan bingkisan ini. Ria, sebagai sahabat sekaligus adik-adikkanku yang penakut terhadap orang-orang berbadan kekar dan tegap, tentu dia tak bisa mengelak dari suruhan tersebut. Sehingga, singkat cerita, kini kami berdualah yang bertugas mengantarkan 'paket' ini.


Di tengah perjalanan, masih seperti Ria yang biasanya, ia terus-terusan mengoceh, bersenandung, serta bergembira melampiaskan rindunya padaku yang baru tertabung selama 3 hari itu.


"Waaah ... sudah lama banget kita gak ketemu, Kak." Ria menggenggam lenganku. Ia bersandar rindu.


Aku membalasnya dengan senyuman.


"Maaf ya, Kak. Belakangan kelasku sibuk mulu sama urusan festival. Kami emang gak sabar sih soalnya!" Ia melepas tanganku, berujar antusias.


"Apalagi karena aku ini bendahara kelas, jadi kehadiranku bener-bener diperlukan sama kelas. Aku jadi gak punya waktu untuk bersantai," lanjutnya menjelaskan.


Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya yang seakan merasa bersalah itu. Ayolah, bukan termasuk kesalahan jika yang kau maksudkan itu menelantarkanku pulang sendirian selama tiga hari berturut-turut.


"Hmm ...." Aku menggeleng pelan. "Kau tak perlu meminta maaf sebegitunya, Ria-chan. Aku paham, kok, akan posisimu,"


"Malah sebenarnya, aku yang merasa tidak enak padamu. Kau jadi harus menemaniku untuk memberikan bingkisan ini," lanjutku lesu, sembari menatap kemasan yang ada di genggamanku ini.


"Dan ..., kau juga sudah repot-repot membawakan parsel buah ke rumah. Terimakasih, ya," sambungku.


Ya, saat Ria berkunjung tadi, ia turut membawa segepok parsel di depan dirinya yang ia topang dengan kedua tangan. Ibuku dengan segala sifat untung-untungannya pun lekas menyambut berkah Tuhan tersebut sembari memuji-muji kecantikan sang 'kurir' seakan bicara dengan malaikat.


Hei, aku tidak iri, ya.


"Ahhh ..., parsel buah itu? Kakekku yang 'ngasih parsel itu. Dia terkenal punya kebun jeruk sama anggur yang lumayan luas di daerah Hachimantai."


Aku menyimak diam.


"Ngomong-ngomong kakekku tuh baik banget, loh. Bayangin aja, Kak, setiap panen, dia cuma memperjualkan setengah hasil panennya."


"Oh. Dan setengahnya lagi?" tanyaku.


"Dan setengahnya lagi beliau bagi-bagiin ke semua keluarga kami tanpa terkecuali."


Aku pun lantas terpukau mendengar hal tersebut. Seumur-umur aku punya kakek, paling cuma diberi nasehat.


"Mama juga sering banget ngerasain kalo pemberian kakek itu kebanyakan, jadi aku disuruh ngasih satu untuk kakak."


"Uwah ..., enaknya ...."


"Pantas saja kau pintar, Ria-chan. Asupan nutrisimu selalu terpenuhi, sih."


"Ehehehe .... Kakak bisa aja." Ria menyengir.


...----------------...


"Jadi, kue ulang tahun ini mau kita bawa ke vila Om Samada, ya?" Ria bertanya memastikan.


Aku melirik sekilas pada bingkisan di tanganku. "Aku kurang tahu kue jenis apa ini, tapi ya, begitulah. Vila Tuan Samada adalah tujuan kita," jawabku padanya.


"Astaga .... Kalo misalnya aku tadi gak datang ke rumah, apa kakak bakalan tetap disuruh pergi ke lorong sepi nan angker itu?"


"Sayangnya, iya." Aku menggangguk.


"Beneran?"


"Ah ...! Memangnya seberapa penting, sih, bingkisan itu?" ungkapnya protes.


Seandainya aku masih menjunjung tinggi sikap engganku sewaktu di rumah tadi, pastinya aku akan setuju dengan kata-kata Ria barusan.


Namun, kali ini aku tidak bisa memihak pada tanggapan seperti itu.


"Ini bukan soal isi bingkisan, Ria-chan. Tapi ini soal orangnya," sangkalku. Aku benci mengakui ini, tapi sepertinya karena pola pikir yang ku tanamkan sejak di rumah agar mempertimbangkan penolakan terhadap suruhan mengantar bingkisan ini, aku mulai sedikit berubah pandanganku terhadap pria di vila itu.


"Kenapa memang? Dia siapa memangnya?" Ria tampak semakin heran.


"Dia orang yang membantu ayahku saat pingsan di parkiran dermaga," ujarku perlahan tertunduk. Melalui kata-kata itu, lagi-lagi, aku teringat akan rupa pria itu. Terlebih, kini ingatanku terlempar pada momen di mana ia menghampiriku di teras rumah sakit malam itu. Aku ingat betul saat itu ia menuturkan bahwa dirinya mengenal ayahku. Juga, di samping itu turut ia sampikan permintaan maafnya padaku, yang sampai sekarang memang belum bisa begitu mudah kuterima.


Sementara aku melamun, sosok Ria bahkan masih tak paham siapa orang yang kumaksud.


"Siapa sih?"


"Aku rasa kau tidak melihatnya, bukan?" aku balik bertanya.


"Entah, ya .... Aku gak tahu soal itu. Soalnya 'kan, abis ngasih tau kalo ayah kakak pingsan, aku langsung pulang duluan malam itu," tutur Ria sembari mengingat-ingat.


"Hm .... Iya juga." Aku mengangguk kecil.


"Are? Tunggu dulu," ucap Ria. Kali ini membuat kedua langkahnya terhenti.


"KAKAK GAK NGASIH TAU SOAL ITU KE AKU!? PADAHAL HARI SENIN KEMARIN KITA ISTIRAHAT BARENG, LHO!" hardiknya mendadak cemberut.


Aku spontan menengok ke arahnya. Ketika itu aku pun tersadar, bahwa aku memang lupa memberitahunya sejak kejadian di dermaga.


"Kakak jahat banget ...! Udah lupa denganku mentang-mentang kutinggal 3 hari!" Ria semakin masam wajahnya. Ia melanjutkan langkahnya begitu saja setelah itu. Wajahnya turut ia palingkan menuju kiri, jauh dari arahku.


"Anu ..., Ria-chan .... Tidak begitu, kok," balasku, sembari menyusul dirinya. Ria tak menggubris.


Sesudah momen itu, langkah kaki kami tak sekalipun terhenti. Namun ruwetnya, kami pun hening seribu bahasa. Sepanjang jalan, Ria masih senantiasa memandang ke kejauhan kiri, sekalipun dirinya sedang berjalan di tepian kiri jalan. Ia sama sekali tak mengindah padaku.


Tetapi, tak lama setelah itu ....


"Ya sudahlah," ungkap Ria pasrah. Begitu pelan namun masih terdengar sebab heningnya sore.


Tentu saja ada rasa tidak enak dalam batinku ketika mendengar dirinya berkata demikian. Pun dalam situasi seperti ini, aku hanya bisa diam dan diam sejak tadi.


"Ria-chan ...,"


"Aku ..., aku betulan lupa, kok." Dalam ketertundukkanku, aku mencoba meluruskan padanya sekali lagi.


Terdengarlah suara napas panjang Ria hembuskan.


"Kakak, sudahlah. Aku gak marah. Gak perlu dibahas lagi." Ria membalasku, kini datar nyaris tak berintonasi. Tentu saja, sama sekali tak melihat ke arahku.


"Tidak marah? Benarkah?"


"Ya."


"Kalau begitu, kenapa kau menghadap ke arah sana terus, Ria-chan? Kau pasti marah, kan ...." Sedikit. Aku mohon, sedikittttt saja, aku coba menggodanya dengan nada ringan. Kecil harapan agar dirinya tertawa, besar harapan agar dirinya menoleh padaku.


"Tidak, kok."


"Sudah, lah, Ria-chan. Jujur saja ...."


Ria benar-benar kukuh untuk membatukan lehernya ke kiri. Aku sampai heran padanya. Agak lucu juga sih sebenarnya, melihat sosok centil sepertinya merajuk. Aura kekanak-kanakannya jadi semakin menonjol.


"Tidak menoleh bukan berarti marah, bukan?" Ria berujar. Kali ini agak belagu.


"Ya, aku tahu. Tapi alangkah lebih baiknya kita berjalan sambil menatap ke depan, bukan? Perhatikan jalanmu itu, lho, Ria-chan." himbauku. Ria tak menggubris.


Jika iming-iming keselamatan masih belum cukup kuat untuk meleburkan sendi lehernya yang seakan beku, aku tidak bisa apa-apa.


"Ya sudah kalau kau bersikeras. Kalau tersandung jangan salahkan aku, ya," kataku menantang keteguhannya untuk terakhir kali.


"Aku tidak akan tersandung." Ria benar-benar menyikapiku dengan tenang.


*TUKKKK


"Pfttt ...." Namun aku bukanlah seorang pejuang yang becus, sehingga kebocoran suara pun tak dapat terelakkan keluar dari bibirku.


"AHHHHHH ...!" Ria mendadak heboh sendiri karena kesal.


"AHAAHHAHAHAHA ...." Sementara aku terpingkal-pingkal di sebelahnya.


"Kakak, Udah ...!"


"Hahahahahahhaa ...."


"Aduh, Ria ... Ria ...."


"Udah, dong, Kak. Huhuhu ...." Ria spontan menutupi mukanya sebab kelewat malu.


"Iya, iya. Maaf, maaf."


Aku berhenti mengolok-oloknya, dan kemudian meminta maaf. Ria pun melepas kedua tangannya dari wajahnya, dan akhirnya tergerak untuk menoleh padaku lagi. Aku tidak bisa merespon apapun selain memasang senyumanku padanya. Aku tak tahu, aku spontan saja melakukan ini karena sudah merasa bersalah padanya.


"Ria-chan,"


"Maaf, ya. Aku lupa memberitahumu soal itu."


"Tapi jangan khawatir, Ria-chan. Itu murni karena lupa. Tak ada secuil pun aku melakukan itu secara sengaja dengan tujuan apapun."


Ria diam, tak membalas satu kata pun, dan lagi-lagi terpaku pada panorama yang ada di sebelah kirinya, yakni deretan bambu basah yang di selah-selahnya jauh terdapat rumah-rumah warga Miyako yang hanya tampak atap saja. Sebagian besar atap itu ditutup oleh putihnya salju, dan sebagiannya lagi masih tak tersentuh, sebab tertutup oleh bangunan yang lebih besar dan tinggi darinya.


"Ria-chan,"


"Aku akui, ini salahku. Aku memang agak kesulitan untuk mengingat sesuatu belakangan ini."


"Aku pun tak tahu pasti, perihal apa yang membuatku jadi begini."


"Aku ... Aku tak bisa memastikannya, Ria-chan, apakah ini tentang ayahku, tentang ibuku, atau justru tentang diriku sendiri."


"Pun belumlah lagi aku memperhitungkan hal-hal lain di luar itu, yang mungkin saja memengaruhiku jadi ... kurang konsentrasi begini."


"Namun, walaupun begitu, satu hal yang bisa kupastikan ..., semua ini bukanlah karenamu, Ria-chan."


"Ria-chan! Aku dan kau, kita adalah sahabat, betul? Kita telah melalui banyak hal bersama, bukan?"


"Selama kita berteman sejak kita kecil, saat aku punya cerita, entah itu hal gembira atau sekedar curhatan hatiku yang pilu, kaulah orang pertama yang kuajak untuk bicara!"


"Kau adalah orangnya!"


Mendengar segenap kata-kataku barusan, kembalilah Ria menoleh padaku. Ia jelas terpana akan ucapanku. Ia tampak begitu kaget.


Melihat dirinya yang luluh itu, aku pun berkata padanya dengan yakin.


"Dengar, ya. Setelah kita pulang dari pondok nanti, aku janji akan menceritakan seeeemuanya padamu, Ria-chan! Aku janji!"


Aku pun laju berdiri di hadapannya, dan memegang kedua pundak Ria. "Jadi tolong, jangan murung terus, ya," lanjutku dengan wajah yang begitu berseri padanya.


Ria berkedip sekali, namun ekspresinya kian berubah setelah itu. Ia melihatku dengan tatapan yang tenang, dengan senyum yang sendirinya terpancar dari bibirnya.


"Kakak ...."


Ia tertunduk sejenak saat itu.


"Kakak benar ... Kita adalah sahabat ...."


"Maafin aku, Kak. Aku udah salah paham padamu." Setelahnya, Ria melihatku kembali. Ia meminta maaf dengan begitu halusnya. Seketika saja batinku merasa damai saat mendengar suara Ria yang seperti itu.


Aku pun mengangguk. Tak lupa senyumku tidak pudar-pudar.


"Kakak, aku senang banget kakak mau menceritakannya padaku. Aku antusias banget. Kedengarannya, dari cara kakak ngomong, ceritanya bakal panjang, ya?"


"Hm. Kau tak pernah salah soal diriku, Ria-chan." Kami pun saling menatap. Tak ada lagi jiwa yang murung. Hanya bahagia yang tersisa.


...----------------...


...<3Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik<3...


...----------------...


"M..Mari kita kesampingkan itu untuk sejenak, ok? Ayo kembali ke hal yang menjadi tujuan utama kita!" ajakku padanya lantang.


"Haii! Siap, Kak!"


"Nah! Itu dia lorongnya. Panjang umur .... Ayo bergegas, Ria-chan!"


"Ah, iya kak. Itu dia lorongnya," sahut Ria.


Ternyata, tak terlalu lama setelah itu, lorong yang hendak kami tuju pun sudah terlihat di ujung pemandangan. Kini, yang tersisa bagi kami sebelum sampai ke rumah Mitsue-san hanyalah tanjakan sejauh 100 meter ini dan jalanan setapak 20 meter yang kelak akan kami lalui saat tiba di lorong.


Sesampainya, kami pun berjalan masuk ke lorong tersebut dengan begitu hati-hati. Perpaduan pelik antara jalan semi tanah dan iklim salju yang lembab membuat lorong itu sama licinnya dengan padang es. Belum lagi ditambah genangan air di atas salju pada beberapa titik di lorong, memicu masalah baru bagi alas kaki kami.


"Uekh! Apa-apaan nih? Becek banget." Ria berkeluh. Gadis ini tak berani berjalan sendiri. Ia hanya mengekor dari belakang, menapaki lintasan jejak yang kulalui.


"Yah, lorong ini memang lumayan menantang kalau sudah musim dingin. Tanahnya jadi basah, tertutup salju, dan akhirnya menggumpal seperti ini." Kepalaku tak kunjung berhenti merunduk, demi menatapi kemana perginya tiap-tiap langkahku di sepanjang lorong ini.


"Melihat lembabnya ranting dan batang pohon di kiri-kanan kita, kita bisa mengetahui kalau lorong tanah ini takkan kering dalam waktu sebulan ke depan." Aku lanjut menjelaskan. Kupegang sekilas batang pohon kecil yang tumbuh dekat dengan jalan.


"Ah, kakak bertingkah seperti orang pintar sekarang ...."


"Batang pohonnya ngomong sama kakak, ya?" sambung Ria. Terdengar jelas ia sedang menahan tawa di belakangku.


"Berisik."


"Hahahahahaha." Ia lepas.


Sebagian besar lorong telah kami lewati. Dalam menghabiskan sisanya, Ria kembali bertanya padaku. Teman ..., aku ingin semua ini berakhir, tapi sayangnya Ria selalu punya hal untuk dibicarakan.


"Anu, yang mau kita temuin ini orangnya 'gimana sih, Kak?" ucapnya penasaran.


"Oh? Kenapa tiba-tiba ingin tahu?" lantas aku bertanya balik.


"Tidak ada. Hanya kepo saja. Hehehehe ...."


"Kau akan tahu saat bertemu dengannya langsung, Ria-chan," ujarku.


"Kakak memang yakin pertemuan singkat ini bisa membuatku paham bagaimana orang itu?"


Aku menoleh padanya. Alisku sedikit kuturunkan. "Yah, kalau nanti kau tak menemukannya, satu-satunya jalan adalah menunggu semua ini kelar supaya aku bisa menceritakannya padamu."


"Sial."


Hahaha .... Dari caraku berbicara, seakan-akan aku ini hapal saja ya dengan watak pria bernama Mitsue itu. Padahal, yah ..., begitulah.


Tepat setelah itu, sesi jalanan menggumpal nan licin pun usai kami lalui seluruhnya. Kini, kami berdua pun tiba di pekarangan vila. Hal yang seketika membuat diriku tertegun, membuat jantungku berdegup semakin kencang.


Adrenalin begitu saja mengalir di sekujur lenganku, terus hingga berujung pada jari-jariku yang senantiasa menggenggam singset bingkisan ini.


Timbul bayang-bayang di kepalaku ... lagi-lagi ... akan ingatan pada masa itu. Akan laki-laki itu.


Dan akan pondok indah nan sederhana yang kini tak lebih 10 meter jaraknya dari tempatku berdiri ....


Setelah semua yang terjadi, apa memang semudah ini untukku bisa kembali ke tempat ini?


To be continued ....