Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Tak Perlu Jawaban


Tes?! Tes apa coba?!?!


ASTAGAAAAA!!!


Dan begitulah, hari-hari penuh kebahagiaan yang menjalin kasih dengan Hisoka, seakan-akan mereka adalah sejoli yang tak dapat dipisahkan.


...----------------...


^^^Happiness Is the Best Healer. ^^^


...----------------...


Sepulang sekolah ....


16:09 sore.


"Hisoka. Berikan surat ini pada orang tua atau walimu, ya."


"Maaf, i..ini surat apa, ya, Sensei?" tanyaku sembari menyambut surat yang diberikan oleh wali kelasku.


Sebelum pulang sekolah tadi, aku sempat diberitahu oleh wali kelasku agar langsung menghadap ke mejanya sepulang sekolah. Tak jelas tujuannya apa, tapi ketika melihat wajah sensei saat itu, intensinya serius sekali.


Ubaragasaki Yuki-sensei, beliau merupakan seorang guru fisika kelas 12 dan juga walikelasku. Ia sudah menjadi walikelasku semenjak tahun ajaran sebelumnya.


Aku tak tahu pasti, apakah mengulangi kelas dan berjumpa dengan walikelas yang sama itu sebuah keberuntungan atau justru sebuah kesialan. Tapi yang jelas, dikarenakan hal ini, aku yakin Yuki-sensei adalah guru yang paling mengenal diriku saat ini.


"Itu surat pernyataan. Dilayangkan atas sikapmu selama ini," jawabnya menatapku tajam.


Mendengarnya, aku lekas tersentak. "Apa ...? Surat pernyataan?"


"Tu..Tunggu, Sensei! Saya mohon ..., saya mohon ma-"


"Kamu sadar tidak, sih ... Kalau perilakumu ini tak ada untungnya sama sekali?" pintas walikelasku naik darah.


Duh ... nampaknya akan ada agenda penceramahan lagi ....


"Maafkan saya, Sensei. S..Saya sungguh insaf sepenuhnya atas perilaku saya," responku sembari membungkukkan badan penuh hormat pada beliau.


"Halahh ... maaf ... maaf ... Seribu maaf sudah terhaturkan olehmu, namun tetap saja kamu sama sekali tak pernah berubah," ungkap Yuki-Sensei semakin frustasi.


"Dulu, sewaktu kamu ditetapkan tinggal kelas, kamu sempat berjanji untuk berubah. Tapi apa ...? Nyatanya sama sekali tidak ada perubahan. Kebiasaanmu itu tetap berlangsung hingga sekarang," timpalnya keras.


"Apa kita sebegitu teganya melalaikan pelajaran hanya demi kesenangan sementara?"


Wajah Yuki-sensei terlihat semakin mengkhawatirkan seiring bertambahnya ucapan.


Aku sejenak merenung, kembali mengingat-ingat soal kejadian kemarin. Rasa-rasanya semalam aku sudah bertekad untuk mulai merefleksikan diriku menuju ke arah yang lebih baik. Pemikiran itu pun pada akhirnya memicu perasaan hatiku untuk membela diri.


"Sensei, saya juga sebenarnya kasi-"


"Cobalah kamu ingat kembali kala itu, ibumu datang ke meja sensei dengan wajah penuh rasa bersalah. Beliau meminta maaf atas perlakuan yang SAMA SEKALI bukan ulahnya itu. Hisoka-san ..., apa kamu sama sekali tak mengingat momen itu?"


"S..SAYA INGAT BETUL KEJADIAN ITU, SENSEI." Aku menyahut gamblang.


"Ha! Kalau benar masih ingat, ya seharusnya kamu juga ikut mengerti. Kamu ini bukan anak kecil lagi, loh. Umurmu sudah 19 tahun. Sudah saatnya kamu menata rencana masa depanmu."


"Sa..Saya mengerti, Sensei," jawabku. Sesal begitu jelas, tampak pada mukaku saat ini.


"Perhatikanlah! Teman seangkatanmu sudah pada kuliah dan mencari kerja. Tapi kamu? mau sampai kapan kamu akan bertingkah seperti ini?"


"S..SAMPAI KEMARIN, SENSEI!" Aku tiba-tiba lantang, Yuki-sensei tersentak kecil.


"Namun hari ini, anu ...."


Aku pun sontak bangkit dari kursi tempatku duduk.


"Ha..Hari ini saya sudah membulatkan tekad untuk berubah!"


Mendengar ucapanku barusan, Yuki-sensei tak melakukan apapun kecuali langsung ikut berdiri dan menepuk mejanya dengan cukup keras di hadapanku, membuat guru-guru yang masih tersisa di ruang majelis guru menoleh dengan panglingnya.


"Hisoka! Apa-apaan kau ini ...?!"


Melihat wajah sensei yang tersulut amarah kian membuat nada bicaraku makin gelagapan. Aku tidak mengerti mengapa Sensei seperti itu.


"Anu ..., S..Sensei ..., kenapa Sensei tiba-tiba ...."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Selepas penceramahan ....


"Adududuh ... sakit," keluhku sambil meraba-raba telinga kanan yang habis dijewer oleh Yuki-sensei habis-habisan.


Kini, aku sedang dalam perjalanan pulang kembali ke rumah. Hanya berselang beberapa menit selepas aku akhirnya diizinkan walikelasku untuk meninggalkan mejanya.


Sesuai prediksiku, topik ceramah dari beliau tak sarat jauh mengenai perangaiku. Semua yang ia lontarkan terhadapku memang benar adanya. Aku wajib iklas menerima segala ujarannya dengan sepenuh hati.


Lagian, memang, resiko sebagai seorang murid pembangkang, tuh, ya begini.


Tapi, kenapa sensei sampai menggebuk mejanya dengan begitu sangar dihadapanku? Apa aku tadi berbuat yang tidak-tidak padanya?


Ketidak-pahaman tersebut pun coba ku ungkapkan pada Ria. Juga tentang mengapa aku menerima jeweran ini. Namun di sisi lain, Ria yang sekarang sedang berjalan pulang bersamaku malah terlihat heran dengan pertanyaan yang baru saja kuucapkan padanya.


"Pakai ditanya segala ...."


"Laginya, dari yang kakak ceritakan, saat aku membandingkannya dengan sifat kakak sendiri, aku sudah bisa menebak letak permasalahanmu." Ria tak terlihat bingung sama sekali. Ia menjawab aku dengan mulus, benar-benar seakan tidak berpikir lagi.


"Kenapa kakak nyahut melulu?" Pertanyaan inti pun ia ujarkan dengan begitu heran.


"Lah ...? Memangnya kenapa? Sensei kan tadi bertanya, terus apa salahnya kalau aku menjawab?" balasku yakin.


"Ayo lah, Kak. Cerdik sedikit bisa tidak, sih?" keluhnya.


"Kenapa? Memangnya aku ada salah kata, ya?"


"Ini masih dugaan saja, sih, sebenarnya. Jadi, nampaknya kata-kata Yuki-Sensei tadi tak lain tak bukan hanyalah retoris," tuturnya.


"Halahhh ... apa lagi itu ...?" balasku kebingungan.


"Yah ... simpelnya, kalimat retorik merupakan kalimat yang di dalamnya terkandung sebuah nada bertanya yang ... ehm ... tak perlu dijawab. Sejenis majas, sih." perjelas Ria, senantiasa meladeni keluguanku.


"Haaaa...? Memang ada, ya, model yang seperti itu?"


"Tentu saja ada," angguknya.


"Sejak kapan?" Hisoka Inara, diriku ini tak jenuh-jenuhnya bertanya.


"Hah, hah! Sudahlah, sudah. Daripada sibuk mikir soal itu, mendingan kakak pertanyakan lagi keseriusanmu itu dalam hati. Sudah cukup kuatkah untuk mengubah diri kakak?"


"Ria-chan ...? Apa kau meragukan tekadku?" Aku menaikan sebelah alisku.


Ria menoleh. Beberapa saat kemudian membalas, "Tentu saja, Kak. Aku ini sudah mengenalmu sejak kecil. Dari dulu kau memang sudah gemar membangkang, bukan? Dan setahuku, sifat buruk yang telah terukir sejak lama pada diri seseorang pastinya akan sangat sulit untuk dihilangkan dalam semalam."


"T..Tapi kali ini berbeda, Ria-chan ...! Sekarang aku sungguh merasa harus berubah." Aku langsung menyambar Ria, berusaha meyakinkannya akan sisi serius ku guna mengubah diri.


"Iya, iya. Aku paham kok, kak."


"Lagian aku juga tidak akan kelewatan menuntutmu untuk berubah. Aku hanya akan senantiasa mengingatkan dan mengawasimu saja. Selebihnya, mengenai langkah tindakan yang akan kakak pilih kedepan, itu tergantung diri kakak sendiri. Itu di luar kewenanganku."


"K..Kau benar, Ria-chan."


Dengan begitu monoton, langkah kami masih dalam tempo yang sama sejak tadi.


Pandangan yang tertunduk, kadang memiliki seribu makna. Mata yang sayu adalah tanda dari insan manusia yang lelah. Kendati hampir putus tenaga 'tuk membelalak, pada pupil itu akan selalu ada jalur masuk untuk indahnya impian yang berada nan jauh di depan sana.


Hati bersungut berterimakasih, namun bibir hanya bisa berucap ....


"Ria-chan ..."


"Kenapa kau selalu saja baik padaku ...?"


Ria tak menoleh ke kiri, ke arahku.


"B..Bolehkah aku memelukmu sebagai tanda terima kasih?" Nadaku semakin parau, tak secuil pun berani aku menoleh ke arahnya guna menatapi respon yang akan ia tunjukkan.


Beratnya raga membuat derap langkahku semakin pelan, namun Ria tidak. Dari arah belakang, ku lirik ia yang mendahuluiku, sedang tertunduk persis seperti diriku.


Seketika itu juga aku merasa bersalah. Sekonyong-konyong aku merasakan aura pecundang yang mengitari kulitku, menusuk perlahan hingga ke jantung.


Apa yang sampah sepertiku bisa lakukan untuk membalas semua kebaikan anak pendek itu? Tidak tahu. Untuk melampaui kedewasaan dirinya pun aku sudah kalah. Astaga ....


"Nani-"


Eh?


"A..Are?"


Ria ... -chan?


...----------------...


...//HAPPINESS IS THE BEST HEALER//...


...----------------...


Tangan Ria ..., begitu lembut, begitu hangat mendekap punggungku.


Jariku bergemetar. Aku yang awalnya hendak tulus mengapresiasinya dengan pelukan, kini orang yang kutawari malah memeluk diriku lebih dulu. Tekad berubah jadi kepasrahan dalam dekapan. Tersenyum mungil menatap salju menjejak di jalan.


Hah ....


Sudah, lah .... Aku tidak mengerti lagi. Bahkan aku tak paham mengapa aku tersenyum begitu ayu saat ini. Batinku juga ringan bagaikan kapas yang berterbangan di musim panas daerah tropis. Apa ini yang selalu mereka sebut dengan bagian resolusi? Tentu tidak.


Dengan warna jingga dan biru muda yang bergradasi memecah di atas kami, helaian rambut kami benar-benar rahayu di bawah langit.


"Sudah saatnya bertiup .... Meninggalkan semua yang telah mati," begitu mungkin gumamnya.


"Aku tak menganggap ini sebagai hal yang perlu kakak ucapkan terimakasih." Ria melepas pelukannya.


"Aku adalah Fukaguchi Ria, orang yang paling mengerti dirimu sedunia. Atau seperti itu, lah, setidaknya harapanku sejak dulu," sambungnya menunjuk diri, begitu bangga diselingi senyum tersipu.


"Ria ...."


"Aku tidak tahu harus berlaku apa kepadamu. Semua yang kupunya tidaklah lebih dari dirimu."


"Manakala adik kecil ini meminta balasan? Meminta upah? Memangnya aku sedang bekerja?" balasnya. Mataku semakin berlinang dibuatnya.


"Yang kulakukan hanyalah sebagian bentuk dari rasa peduliku terhadapmu, Kak. Ini responsibility-ku!"


"Ria ...."


"Huaaaaa ....!" Aku begitu sangar balik memeluk Ria. Kesedihan yang indah melanda tiap senti diriku.


Beberapa detik kami lalui dalam dekapan, Ria kemudian memutuskan untuk melepas perlahan diriku dan lalu menatapku seakan tak ada hal lain di dunia ini.


Tatapan itu adalah cara Ria menutup momen hangat ini. Aku sendiri tak berkata-kata kala itu. Ya, begitulah kami mengakhirinya.


...----...


"Oh iya! Aku lupa."


Namun mengakhiri, topik pembicaraan takkan pernah sirna. Ria yang rambutnya mulai acak sebab tertiup angin tiba-tiba terhenti langkahnya. Dia seperti menyadari sesuatu. Sebagai giat menahan langkahku, ia menaruh sikunya di lenganku. Ia sangkutkan dengan tatapan kosong.


Aku menoleh padanya, heran.


"Ada apa, Ria-chan?"


"Kakak ..., aku baru ingat kalau besok adalah hari yang sangat spesial, loh ...!" cakap Ria.


Kini seluruh badanku menghadapnya. Semakin bingung.


"Spesial?"


"Masa? Memangnya ada apa besok?" jawabku bingung. Kepalaku miring.


"BESOK ADALA- t..tunggu ...."


"Kakak belum tau kabar soal festival itu?" balasnya heran. Merengut dahinya.


"Festival...? Ah ... maksudmu festival musim dingin itu, ya?"


"Yap, betul sekali!" Ria menyambar.


"Besok adalah hari di mana festival musim dingin Miyako akan diadakan. Event-nya akan diadakan di kawasan tepi pelabuhan," perjelasnya dengan telunjuk membidik jauh ke arah bentangan laut yang tampak samar dari lokasi kami berdiri.


Mendengar penjelasannya, aku pun kembali teringat. "Ohhh ... ya, ya, ya, aku ingat, aku ingat. Orang-orang di kelas juga sempat membicarakan festival itu kalau tidak salah."


"Nah ... kalau begitu, ayo kita pergi ke festival itu akhir pekan nanti, kak!" ajaknya penuh semangat.


"Eh ...? Ke festival bersama?"


"Iya, kakak mau, kan?" tanya Ria sekali lagi.


"Ehm ... bagaimana, ya ...."


Aku sungguh bingung ingin menerima ajakannya atau tidak.


Bukannya aku tidak mau, tapi ....


^^^"Tidak."^^^


^^^"Tidak boleh."^^^


^^^"Kau tak boleh keluar rumah malam-malam."^^^


^^^"Apa kau tidak dengar?!"^^^


Tapi ayah tak mungkin mengizinkannya.


"kak ...?"


Ria membisik pelan padaku. "Nee-chan ...."


"Ah! I..Iya, Ria?" sahutku kaget.


"Jadi, bagaimana, Kak?" tanyanya ulang.


"Ria-chan ... anu ..., bukannya aku menolak, ya. Tapi, kau tau sendiri, kan." Aku menunduk grogi. Rasanya tidak enak saat mau menjelaskan.


"Kenapa? Apa ini masih soal masalah perizinan dari ayahmu?"


"Benar sekali," ujarku singkat masih dengan pandangan tertuntuk. Kini mulai lesu.


"Hahaha ...! Ternyata punya ayah seorang veteran itu sesulit ini, ya." ungkap Ria bernada menyinggung.


"Anu ... tapi jangan khawatir, Ria-chan. Setidaknya aku akan berusaha untuk membujuk ayahku dulu."


"Kalau memang dia mau, ya syukur .... Tapi kalau dia enggan, aku-"


"Iya aku paham kok, Kak. Lagian aku tidak memaksa, kok. Datang saja kalau seandainya bisa," pintasnya, sedikit melapangkan hatiku.


"Baiklah ..., kalau begitu, nanti aku coba ajak mereka. Semoga saja diizinkan, walau kemungkinannya kecil, sih."


"Ahahaha ...."


"Ganbatte, Hisoka nee-chan ...!"


______


Happiness Is the Best Healer.


______


Extra


Beberapa saat kemudian ....


"Ria-chan, jujur ... aku sungguh iri dengan rambut coklatmu yang sungguh modis itu." ujarku sambil sedari tadi terus memperhatikan helai-demi-helai rambutnya yang terlihat begitu mempesona.


"Eh ...? Apa, kak? Iri?" sahut Ria.


"iya."


"Pfttt ...."


"Lho ...?"


"HAHAHAHA ... duh ... kenapa mesti iri, sih? bukankah rambutku ini biasa saja ...? Gayanya biasa, warnanya biasa, harumnya juga biasa-biasa saja, kok. Bahkan menurutku, gaya rambut natural milik kakak itu JAUH lebih mempesona dibandingkan rambutku! Warna hitamnya yang berkilau, belum lagi keanggunannya ..., lalu ...."


Hm. Merendahlah sepuasmu. Merendahlah kau sampai ke inti bumi.


^_^