Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Aku Bahagia


Kamis, 19 Desember 2013.


Sepulang sekolah.


Hari-hari yang progresif namun tawar kembali berlalu, terus berlalu. Di tempat ini, lagi-lagi aku bersua dengan letih yang tiap sore mampir di sekujur badan. Lagi-lagi, sepulang sekolah, seorang diri.


Melangkah keluar kelas, untuk kesekian kalinya aku melintasi koridor ini sembari meresapi pemandangan di kananku. Jika ada yang bertanya padaku, ada apakah gerangan di sudut kanan, maka aku bisa bilang yang ada di lapangan saat ini adalah sekumpulan stand kecil, hias-hiasan berpita dan berwarna, spanduk-spanduk, dan satu gapura handmade yang semuanya sudah selesai dirancang, namun masih belum tersusun di tempat yang sebagaimana mestinya.


Di hari ini, mereka sudah menyiapkan semua properti di lapangan. Dan besok jadi hari terakhir buat menyusun semua hal sesuai dengan konsep yang sudah diusung oleh OSIS dan masing-masing kelas. Segala hal akan ditata rapi sedemikian rupa, sekaligus semenarik mungkin.


Sedikit beralih dari festival yang akan datang, mengenai murid yang pergi-pulang sekolah, selama musim dingin ini semuanya masih ditekankan untuk pergi-pulang sekolah dengan berjalan kaki ataupun angkutan umum. Alasannya tentu karena licinnya permukaan jalanan. Terlebih, Miyako memang merupakan tempat di mana kau bisa dengan mudah menemukan tanjakan berliku. Berbahaya.


Musim semi baru akan datang sekitar 3 bulan dari sekarang. Saat itulah aku baru bisa membawa sepeda lagi ke sekolah. Lamanya penantian, tentu membuatku merasa rindu akan sepedaku. Kubayangkan jika saja aku berangkat ke sekolah dengan sepeda, pasti kulit wajahku takkan kedinginan dalam waktu yang lama seperti kejadian tadi pagi. Namun apalah daya, menjaga nyawa memanglah lebih utama daripada sekedar menghindari dingin yang hanya menemani beberapa menit lebih lama.


Sembari melangkah keluar gerbang, senantiasa kugenggam tasku erat dengan tangan kanan, berusaha menjaga kehangatan yang terhasilkan dari tekanan yang ada di telapak tanganku, sementara lengan kiriku menutupi dengan lembut dari atasnya.


//


...******HAPPINESS IS THE BEST HEALER******....


^^^//^^^


Beberapa menit perjalanan kemudian ....


Ada kalanya ketika aku hampir sampai di rumah, mataku terpancing begitu saja untuk memandangi pucuk tanaman Fraxinus Lanuginosa yang tumbuh lebih tinggi dari pagar tembok rumahku. Terlintas di pikiranku saat memandanginya, ingatan akan masa lalu. Bahwa pohon gugur itu tumbuh di pekarangan rumah, tidak lain merupakan hasil kinerja tanganku sendiri. Ya, akulah yang menanam pohon itu.


Sedikit bercerita tentang ibu.


Ibuku sejak dulu sangat gemar menanam tanaman. Kecintaannya akan tumbuh-tumbuhan betul-betul tergambar dari wujud ibu yang baik hati dan penyabar. Selain itu, ibu juga punya sisi artistik. Ia sangat pandai dalam hal menata pekarangan rumah. Bahkan mau sekecil apapun halaman rumah, pasti akan terlihat asri di tangan ibu.


Sejak aku masih sekolah dasar, ketika aku pulang sekolah, aku kerap kali menjumpai ibuku ada di halaman depan. Kadang-kadang kulihat ibuku berlutut, menggerakan jari-jarinya kearah para tanaman itu dengan begitu telaten seakan mereka adalah juga anaknya.


Saat kuucapkan tadaima pada ibu, okaeri sambutnya, pelan dan halus. Salam singkat yang terjadi, selalu dengan mata ibu yang tetap fokus pada bunga-bunga cantik di depannya. Bunga peony pink keungu-unguan yang ia khususkan lahan tumbuhnya, ialah yang menjadi kesukaannya sepanjang masa.


Kadang aku heran dengan ibuku sendiri, kau tahu. Bagaimana ibu bisa betah di bawah sinar matahari terik, menyita waktu dengan mengutip-utip kelopak tua pada bunga sampai tuntas, maupun menata benda hijau di tiap sudut. Namun begitu, lama-kelamaan aku mengamati, aku pun tersadar. Ibu tidaklah menyita waktu untuk omong kosong dengan melakukan itu semua, melainkan ibuku justru berkontribusi untuk mempercantik kehidupan.


Lagi, ibuku tidaklah melakukan semua itu karena kehendak orang lain, melainkan karena dorongan dari hatinya sendiri. Oleh karena itu, walau beberapa orang menganggap ibuku hanya sedang melakukan hal sepele dengan mempertaruhkan cucuran keringat, jauh dibalik itu semua, satu yang mereka dan aku perlu tahu, ibu bahagia.


Pernah suatu ketika, di kala aku masih polos-polosnya, aku menghampiri ibu di pekarangan dari belakangnya. Wajahku nampak heran, dan hatiku haus akan jawaban perihal mengapa ibu bersikap sebegitunya pada tanaman. Saat itu aku turut jongkok di samping ibu, lalu kemudian berujar.


"Oka-san,"


"Apa bunga-bunga itu bisa ngobrol dengan ibu?"


Aku tak tahu mengapa, tapi pertanyaan itulah yang pertama kali keluar dari mulut Hisoka SD.


Ibu melihatku. Ia pun lantas tersenyum.


"Tentu."


"Tapi, Hi-chan ...." halus ibu.


"Untuk membuat bunga dan diri kita saling mengobrol, ada syaratnya, lho." Ibu melanjutkan.


Mataku melotot. Diriku yang polos itu beringkak girang dalam hati ketika menyadari bahwa mungkin saja untuk diriku bisa menambah teman bicara dari kalangan non-manusia.


"Apa yang harus kulakukan, Oka-san?" tanyaku penasaran. Betapa sungguh-sungguhnya diriku ingin tahu, sampai-sampai mau dianggap anak dengan wawasan paling minim di muka bumi pun aku akan terima. Ya, aku rela jika itu semua demi ilmu yang luar biasa. Pikirku begitu.


Ibu melepas sarung tangan kebunnya, dan menaruh benda itu rapi di atas plastik tanah gembur yang sudah kosong.


"Pertama-tama, jika kamu terbangun di pagi hari, buka pintu lebar-lebar, dan lihatlah tanaman-tanaman ini! Datanglah ke hadapannya, lalu senyumlah pada mereka! Pujilah kecantikan mereka! Maka dengan begitu, kalian akan menjadi teman."


Aku tak berkedip mendengar kata-kata ibu.


"Lalu, saat ingin pergi meninggalkannya, berilah ia minum! Tak perlu terlalu banyak. Agar bunga tidak lelah dan haus untuk menunjukkan pesonanya." Ibuku lantas mengambil penyiram tanaman kecil, mengguyur sekujur bunga di depan kami dengan air yang begitu jernih. Beberapa tetes air terciprat dari muka daun ke arah lenganku, membuatku saat itu spontan mengkhayal menjadi salah satu tumbuhan lainnya yang disayangi ibu. Wah ... luar biasa enaknya!


"Terakhir, perhatikan bunga bagus kita. Jangan biarkan ada sesuatu yang membuat dirinya lemah dan keberatan!"


"Keberatan?" Aku mengulang kebingungan.


"Bunga akan muncul menjadi besar, saat ia keluar dari kelopaknya yang hijau. Dan saat bunga sudah melebar, bantu dia untuk melepas kelopak tua di bawahnya!" Ibu menunjuk pada kelopak bunga, kepala kami menilik lewat bawah bunga.


"Kau melihatnya, kan, Hi-chan." Tak sampai 5 detik, ibu lantas menjulurkan tangannya kepadaku yang berisi serpihan hijau lunak yang sudah keriput.


"Wahhh, Oka-san benar! Bunga ini terlihat lebih indah saat ia terlepas dari kelopaknya!"


"Oka-san! Mulai besok aku ingin ngobrol dengan tanaman! Aku akan mengajak ngobrol bunga ibu juga, boleh ya!"


"Ara ..., tentu kamu boleh, Sayang."


"Yeay!"


Sejak gembiranya diriku saat itu, sampai sekarang pun aku senantiasa menjaga hal yang ibu ajarkan padaku. Sejak kala itu aku mencoba menanam bibit tanaman pertamaku, ia tumbuh begitu hebat, jauh lebih tinggi dari bunga peony ibu. Bertahun-tahun kulewati setelahnya, banyak tanaman yang kutanami, banyak pula ilmu serta filosofi yang aku resapi dari tumbuhnya mereka semua.


Melalui semuanya itu, sekarang aku pun merasakan betapa baiknya tanaman padaku.


Aku bahagia!


"Tadaima."


"Ah! Okaeri, Hi-chan."


...|HAPPINESS IS THE BEST HEALER.|...


To be continued ....