
Keesokan harinya ....
Rabu, 11 Desember.
07:35 pagi.
"Hi-chan ...."
"Bangun sayang ...! Kau harus siap-siap ke sekolah."
*****TOK TOK TOK****
"Nara ...!"
Seseorang mengetuk pintu kamarku berkali-kali sejak tadi. Sudah pasti itu ibuku.
Awalnya memang tak kupedulikan sama sekali. Namun, semakin aku mengabaikannya, suara ketukan itu semakin terdengar begitu mengganggu di telingaku.
*TOK TOK TOK
Sangkin mengganggunya, rasa kantukku langsung lenyap seketika.
"Hi-chan ...."
"Iyaaaa ... Aku bangun ....!" sahutku parau, namun tetap kupaksakan keluar.
"Ya ampun, padahal ini belum akhir pekan, loh. Masih hari sekolah," celoteh ibu dari balik pintu. Tak lama langkahnya pun terdengar menjauh dari pintu kamarku.
"Hemmhh ... iya, iya. Aku bangun kok." Aku lantas bangkit dari kasur, lalu mengambil kunci pintu yang kusimpan di laci meja dengan langkah yang masih oleng.
Aku baru ingat ... ini masih hari Rabu. Karena kukira ini sudah akhir pekan.
Duh ... malas sekali rasanya. Maunya, sih, aku tak ingin pergi ke sekolah hari ini. Niat awalku sebenarnya adalah untuk bangun tidur pukul 10 siang. Sayang sekali mama membangunkanku jam 7 pagi.
Tapi sungguh, rasanya hari ini ingin sekali aku kembali membolos dan pergi menuju pondok itu. Namun aku seketika teringat kembali, kalau itu bukan pondokku lagi. Itu pondoknya, pria itu.
Apa boleh buat ....
Ah, bodohnya aku .... Bukannya kemarin aku janji untuk berubah ...?
...----------------...
...Happiness Is the Best Healer....
...----------------...
Dan seperti hari-hari lainnya, pagi ini begitu berat dan menjenuhkan bagiku.
"Hoamhhh ...."
"Ohayou, okka-san," ucapku dengan wajah yang masih lesu.
"Ohayou sayang," balas ibu. Derap kakinya sedang kulur-kilir meja makan mempersiapkan hidangan pagi untuk keluarga.
Ibu benar-benar hebat. Pagi ini dia tetap bersikap ramah padaku. Padahal kemarin, sungguh banyak hal terjadi. Soal aksi bolosku, soal ayah yang kemarin ....
Aku jadi tidak enak dengan ibu. Aku sungguh merasa bersalah.
"Nih. Sebelum ke sekolah, kau harus sarapan dulu, ya. Dan habiskan!" perintah ibu padaku sembari menyodorkan semangkuk sup miso yang ia sendokan.
"Semalam kau tidur dengan keadaan perut kosong, kan? Duduk." Aku tak punya pilihan lain selain menuruti ibu.
"Sup miso, tamago, dan ... natto?"
"Yah ... natto lagi, natto lagi..." aku berbisik lesu setelah melihat hidangan yang ibu masak. Tak cukup keras sampai ke telinganya, hanya kepada jejeran mangkuk.
...----------------...
...Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik....
...----------------...
Seketika aku teringat akan sesuatu. Sesuatu yang tak menarik sebenarnya, namun tetap harus kutanyakan.
"Ngomong-ngomong, ayah kemana, Okka-san?" aku mulai melahap sarapan yang tersaji.
Ibu lekas menoleh ke arahku. Ia tersenyum menyindir.
"Wah ... tumben sekali menanyakan ayah?"
"Apa kau khawatir dengannya?" sambung ibu tersimpul.
"Okka-san .... A..Aku hanya bertanya."
"L..Lagian siapa juga yang khawatir," dalihku.
"Hahaha .... Hi-chan ...."
"Ehm, ayahmu sudah pergi keluar sebelum dirimu bangun. Biasalah, mungkin ingin mencari udara segar atau memancing bersama komplotan bapak-bapaknya itu."
"Udara segar apanya? Di tengah musim dingin seperti ini?" balasku heran.
Ibu tak menggubris ucapanku barusan, melainkan tiba-tiba mendekatiku. Ia berdiri di belakangku, lalu merangkulku begitu mendadak.
"Nee ... Hi-chan,"
"Eh? A..Ada apa, Okka-san?" Aku menoleh, menatap ibuku penuh keheranan.
Ibu lantas mengelus pipiku.
"Kau yakin tidak apa-apa, Nara sayang?"
Ibu nampaknya begitu khawatir dengan kejadian antara kami kemarin. Ibu sampai mengelus bagian pipiku yang kemarin tertampar.
"Ahahah ..., tak perlu memikirkan soal pipiku, okka-san. Aku justru lebih mengkhawatirkanmu."
Ibu hanya tersenyum. Sambil mengelus pipiku, ia tersenyum padaku. Seperti sedang menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal, aku masih bisa melihat samar-samar bekas lebam di wajah ibu yang masih belum pudar sepenuhnya.
Ibu lalu berbisik pelan padaku, suasana begitu sunyi, rumput-rumput di halaman belakang berhenti berbicara.
Udara yang dingin namun terasa hangat ....
"Kau tahu, tentang ucapanmu kemarin, nampaknya hal itu sedikit mempengaruhinya."
"Egh? M..Mempengaruhi?"
"Hmm-mmh," angguk ibu.
"Anu, aku tidak mengerti, okka-san," ujarku kebingungan.
"Pagi ini, ayahmu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Dia tak terlihat begitu tempramental seperti biasanya. Bahkan dia tak memprotes mengenai dirimu yang bangun kesiangan ini, loh," tutur ibuku.
Hmm ... betul juga, ya. Biasanya kalau aku bangun kesiangan, ayah pasti selalu menyemburku dengan ceramah-no-jutsu-nya.
"Hahhhhh ...? B..Beneran, Okka-san? Tunggu, apa perkataanku sebegitunya hingga membuat ayah tiba-tiba seperti itu?" ujarku sambil berpikir-pikir.
"Sangat kuat, Hi-chan."
"Besar kemungkinan, ayahmu sudah sadar dengan bagaimana perlakuan yang diperbuatnya terhadapmu selama ini," perjelas ibu. Lagi-lagi dibarengi tawa kecilnya.
"Omong kosong. Mana mungkin dia-"
"Hisoka? Sudah bangun?"
A..Apa?
Ay..a..ay..a...a..a.a.a.a..ayah ...?
Seseorang tiba-tiba menyela pembicaraan kami berdua. Sosok pria tinggi tegap itu tiba-tiba menghampiri meja makan dengan pakaian training dan wajah yang bercucuran berkeringat.
Ayah baru saja tiba di rumah setelah sempat pergi sejak pagi tadi. Melihat pakaian dan keringatnya itu, nampaknya ia baru saja pulang dari jogging pagi. Ayah menghampiri meja makan dan menegurku dengan wajah datar seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya.
Karena kaget bukan main, nada bicaraku malah jadi grogi.
"Eh ... iy..iya begitu, lah, otto-san."
Ayahku lalu mengambil nasi dan ikut makan bersamaku.
Ada apa ini? Apa maksud ayah sebenarnya? Aku sama sekali tak paham.
Ibu yang melihat tingkah mengejutkan ayah hanya melempar senyum lebarnya padaku dari kejauhan. Ibu lalu pergi dari tempat kami makan menuju halaman belakang. Ia seperti memberi kode padaku untuk mulai bicara empat mata dengan ayah.
Alamak?! Apa-apaan coba iniiii ...? kenapa aku malah merasa canggung beginiiiii ...?
Sambil mengunyah makanan dengan tenang, ayah berujar padaku, "ini sudah siang, Nara. Bergegaslah habiskan sarapanmu! Kau bisa saja terlambat, lho," ujarnya penuh dengan keramahan dan perhatian layaknya seorang ayah.
"Ah ..., b..ba..baiklah, Otto-san."
Ada apa ini?! Apa aku benar-benar sedang bicara dengan ayah?
T..Tidak. Pasti ini saudara kembar ayah, a..atau mungkin adiknya yang kebetulan sedang mampir.
Tu..Tunggu, ayah kan anak tunggal.
Tidak mungkin. Bukannya aku tak menyukainya, tapi ....
Terasa aneh sekali ....
Aku ....
Kalau tiba-tiba seperti ini ....
Cukup sudah.
Aku ingin pergi dari sini.
"A..Anu ... kalau begitu, aku berangkat sekolah dulu."
"Oi, chotto. Sarapanmu belum habis."
Aku tak memperdulikan ucapannya tersebut. Dengan sigap, aku langsung mengambil ranselku, meninggalkan meja makan dan sarapanku yang masih belum habis seluruhnya.
"Tunggu! Hisoka, habiskan dulu sarapanmu ...!" pekik memanggil penuh keheranan akan tingkahku.
"Aku sudah kenyang, kok, Otto-san. Maaf!" jawabku sambil kemudian meninggalkan sosok ayahku, berlari menuju pintu depan.
Aku pun pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah. Aku masih setengah tidak percaya akan apa yang aku lihat dan aku dengar barusan.
"Ayah? Apa itu tadi memang dia?"
"Ya ampun ..., tolonglah hentikan kegilaan ini!" gumamku sambil berlari luntang lantung mengarah menuju sekolah.
Asal kau tahu, terakhir kali dia bicara seramah itu adalah di kala aku masih berada di taman kanak-kanak. Waktu itu tinggiku belum genap 130 sentimeter dan aku masih termakan puji-pujiannya mengenai dunia militer. Di saat itu aku masih mengatakan bahwa 'aku ingin menjadi tentara'.
Tapi sekarang, apa yang sebenarnya terjadi?
Apa benar ayah sudah berubah?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
^^^"BIARKAN AKU LEPAS DARI KEEGOISANMU..!"^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa dia sudah mengerti maksud dari ucapanku kemarin?
To be continued ....