
"Dia" tampak wajah terkejut Nirwan melihat sosok gadis yang berdiri dihadapannya, bahkan menatapnya dengan sangat tajam.
Nirwan tampak mengusap kasar wajahnya.
Ia tak tau harus mengatakan apa saat ini.
"Jadi seperti ini sifat aslimu ? "
Tanya Dia dengan sinis.
"Seperti ini juga caramu memperlakukan orang yang sudah bekerja dan mengabdi padamu.. apa kau pikir kau bisa memperlakukan mereka seenakmu karena kau merasa sudah menggaji mereka ?"
Nirwan masih tetep membisu.
Dia masuk kembali ke kamarnya tanpa sepatah katapun.Dan berdiri di balik jendela kamarnya.
Menyandarkan keningnya sambil memejamkan matanya.
Dia berdiri di belakang Nirwan.
"Aku belum selesai bicara padamu " kata Dia dengan ketusnya
"Oh ya aku lupa. Kau tak ijinkan siapapun masuk ke rumah ini tanpa seijinmu."
Kata Andia lagi sambil berbalik
"Trimakasih untuk sambutanmu"
Andia melangkahkan kakinya pergi dari kamar Nirwan
"Jangan pergi"Kata Nirwan pelan
Dia menghentikan langkahnya.
"Kumohon jangan pergi. Aku membutuhkanmu."
kata nirwan lagi.Dan melangkah mendekati Dia yang sudah ada di bibir pintu.
Diraihnya bahu Andia
"jangan pergi dariku Dia.Jangan tinggalkan aku"
Diraihnya kedua bahu Andia kemudian.
"Kenapa?"Tanya Dia masih dingin
"Aku tak bisa tanpamu Dia."
"Aku membutuhkanmu" Suara Nirwan pelan sekali
Dirabanya wajah Dia.
"Dan bahkan aku mulai mencintaimu"
Kata Nirwan lagi .Suaranya hampir tak terdengar.
"Tapi aku tak mencintaimu. Kau tahu itu bukan ?"
Dia memberanikan diri menatap mata Nirwan, mencoba mencari jawaban
"Aku tak perduli. Bahkan meskipun kau membenciku,aku tak perduli Dia. Asalkan kau tak pergi dariku" Nirwan menjawab meyakinkan Dia.
"Kau gila" jawab Dia pendek
Nirwan mengguncang bahu Dia .Bahkan Dia mulai merasakan genggaman tangan Nirwan dibahunya bak sebuah cengkeraman.
"Kau menyakitiku" Rintih Dia pelan.
"Maafkan aku.."
Nirwan memeluk Dia kemudian
"Aku tak ingin kau pergi dariku Dia. Aku mencintaimu " Lirih suara Nirwan
"Lepaskan aku.Menyingkir dariku "
Dia berusaha melepaskan pelukan Nirwan
"Tidak Dia. Aku tak akan membiarkanmu pergi lagi" Nirwan makin erat memeluk Dia
"Apa kau tak sadar, kau menyiksaku dengar aroma di tubuhmu. " Dia tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan Nirwan sambil mengomel
"Maaf.."Nirwan melepaskan pelukannya sambil tersenyum malu.
Dia mengendus-endus lengannya sendiri sambil menggerutu.
"Mandilah segera. sebelum aku berubah fikiran"
katanya kemudian
"Iya.. " Nirwan segera masuk ke kamar mandi
Dia segera memanggil bibi untuk membantunya membersihkan dan merapikan kamar Nirwan.
Dibukanya jendela kamar Nirwan.Terasa lebih segar.
Tak lama kemudian Nirwan keluar dari kamar mandi.
Nirwan tersenyum memandang sekeliling kamarnya.
"Trimakasih.. Maaf merepotkanmu" Kata Nirwan kemudian.
"Berterima kasihlah sama bibik.. Jangan lupa juga untuk minta maaf.."
jawab Dia
"Tidak apa-apa nona.. sudah tugas bibik..
Sudah selesai non.Bibik ke belakang dulu, kalau non butuh bantuan non Dia bisa panggil saya."
pamit bibi
"Iya bik.. trimakasih..tolong buatkan teh hangat dan mie goreng telur ya bik" ucap dia sopan
"iya non..permisi tuan" bibik pamit keluar.
Dia beranjak ikut melangkah keluar
"Kau mau kemana Dia ?"
Tanya Nirwan buru-buru menyusul Dia.
"Aku takut berlama-lama berduaan denganmu di dalam kamar"Jawab Dia tanpa menoleh
Dalam hatinya tersenyum dengan Nirwan yang begitu kawatir dirinya pergi.